
Seluruh pasukan pemberian Raja Ghanim sudah dalam penguasaan Pangeran Revan, yang ternyata juga terdiri dari pasukan laki-laki dan pasukan perempuan.
Di antaranya sekitar 14000-an personil pasukan laki-laki dengan 14 komandan perang, dan 6000-an personil pasukan perempuan dengan 6 komandan perang.
Di samping pasukan itu berserta para komandannya, juga terdapat sekitar 500-an jawara atau ksatria. Mereka adalah orang-orang pilihan di antara pasukan yang ada.
Perlu diketahui, kehebatan rata-rata pasukan itu berada di bawah 1 tingkat dari pasukan Istana Centauri. Itu artinya kehebatan mereka berada di atas pasukan Kerajaan Bentala. Belum lagi para ksatrianya.
Hal itu menandakan bahwa mereka digembleng demikian keras, tidak perduli laki-laki atau perempuan. Dan memang kehebatan yang mereka miliki Raja Ghanim persiapkan untuk mengalahkan pasukan Bunda Suri yang jumlahnya lebih banyak dari mereka.
Tidak ada kesulitan dalam acara serah terima pasukan. Semua pasukan tunduk pada surat perintah Raja Ghavin dan patuh pada Jenderal Zelyne yang bertindak sebagai wakil Raja Ghanim dalam penyerahan pasukan.
Dikarenakan pemberangkatan pasukan melalui jalur ghaib, yaitu melalui Gerbang Cahaya, maka tidak ada kesulitan dalam perjalanan, lancar dan cepat.
Adapun penempatan pasukan dibagi menjadi 2 tempat. Pasukan laki-laki yang berjumlah 14000-an serta 300-an ksatria beserta para komandannya langsung di tempatkan di markas militer Kota Nehan. Lebih tepatnya di markas pelatihan militer yang arealnya terbilang luas.
Sedangkan pasukan perempuan yang berjumlah 6000-an serta 200 ksatria wanita berserta para komandannya langsung di antar ke Negeri Tabir Ghaib. Lebih tepatnya di Istana Centauri.
Perlu diketahui, sebelum penaklukkan, masih ada sisa pasukan di markas pelatihan di Kota Nehan. Kira-kira berjumlah 5000-an personil.
Namun mereka dapat ditaklukkan oleh Dhafin dan rekan-rekannya. Lalu dikirim ke Negeri Tabir Ghaib biar diberi 'pencerahan' di sana agar benar-benar berpihak kepada Istana Centauri, pemerintahan tertinggi Negeri Tabir Ghaib.
Begitu pun di markas pelatihan di Kota Bahir, ada sekitar 3000-an prajurit yang masih dalam pelatihan. Namun dapat ditaklukkan oleh Pangeran Revan dan pasukannya. Dan juga langsung dikirim ke Negeri Tabir Ghaib.
Sedangkan di Kota Arthia dan 3 kota lainnya yang sudah ditaklukkan tidak ada markas pelatihan militer. Jadi tidak ada prajurit pelatihan.
Adapun Prajurit Keamanan Kota yang memang tetap setia kepada Bunda Suri, yang rela mati demi tetap berada di bawah telapak kaki Bunda Suri, semuanya dibasmi oleh Pangeran Revan dan para jawaranya serta pasukannya.
Singkat kata, 2 kota yang berada di wilayah barat dan utara serta 4 kota lainnya yang terhitung berada di wilayah keduanya sudah berada dalam kekuasaan Ratu Aurellia.
Kota Nehan dijadikan sebagai basis militer sementara. Sedangkan 5 kota lainnya cuma ditempatkan beberapa gelintir pasukan dari Markas Centaurus untuk memantau keamanan dan ketertiban kota.
Dengan kata lain, pusat komando kota-kota yang sudah ditaklukkan berada di Kota Nehan. Kebetulan kota itu memang lebih besar dari 5 kota lainnya.
Di samping itu juga cukup jauh jaraknya dari kotaraja sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Bentala.
Setelah semuanya rampung dan telah tertata seperti yang dirancangkan, Dhafin mengutarakan niatnya ingin ke kotaraja, lebih tepatnya ke kediaman Selir Ashana. Karena dia punya firasat buruk sesuatu terjadi di sana.
Pangeran Revan langsung menyarankan kalau mau ke sana jangan seorang diri. Setidaknya membawa pasukan atau beberapa ksatria. Karena keadaan kotaraja untuk saat-saat ini pasti tidak aman bagi mereka.
Maka Pangeran Revan menawarkan diri untuk ikut serta. Jessica ikut-ikutan ingin ikut. Dengan alasan ingin menengok ortunya yang sudah lama tidak bertemu.
Kalau Jessica ikut pasti Zelyne ikut juga. Kalau Zelyne ikut otomatis Zafer bersamanya.
Melihat Jessica ingin ikut bersama Dhafin, Ratu Aurellia jelas masih menaruh curiga terhadap gadis itu. Meski Pangeran Revan ingin ikut serta.
Maka dia harus mengambil tindakan. Tindakan yang tidak merendahkan kewibawaannya sebagai ratu meski dibalut kecemburuan.
"Kalau kalian berdua semua pergi, siapa yang menjaga Kota Nehan ini?" ucapnya sedikit meninggi tapi tidak mengurangi kewibawaan serta keanggunannya.
Dhafin dan Pangeran Revan lantas saling pandang. Terus sama-sama beralih memandang Ratu Aurellia. Sedangkan Jessica langsung menundukkan kepala. Zelyne ikut-ikutan pula.
Perbawa dan kewibawaan seorang pemimpin terpancar kuat dalam diri Ratu Aurellia. Sehingga membuat siapa saja akan segan dan tunduk padanya. Tidak terkecuali Zelyne sendiri.
"Apa kalian menyuruh aku yang menjaga kota ini, begitu?" kata Ratu Aurellia lagi penuh penekanan.
"Ampun, Yang Mulia," kata Pangeran Revan penuh hormat. "Hamba tidak memaksudkan demikian. Mohon pengampunannya atas kelancangan hamba."
Sedangkan Jessica dan Zelyne makin menunduk dalam. Sementara semua orang yang ada di sekitar situ tidak ada yang berani bersuara.
"Kalau begitu siapa yang akan ke sana, Yang Mulia?" tanya Dhafin tetap tenang tapi tidak menanggalkan sikap hormatnya kepada Ratu Aurellia di depan umum.
"Begini saja...."
Kemudian dia mengatur siapa-siapa yang ke kediaman Selir Ashana di kotaraja. Yang jelas, siapa pun yang pergi, yang penting Dhafin tidak boleh pergi.
__ADS_1
Sudah beberapa hari tidak bertemu. Ketika sudah bertemu akankah dia akan melepaskannya?
★☆★☆
Dhafin layaknya seorang peramal. Apa yang menjadi firasat bakal menimpa kediaman Selir Ashana berupa hal buruk ternyata terbukti. Kediaman itu ternyata sekarang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Sekitar 3000 prajurit militer serta puluhan jawara istana menyerang kediaman itu. Ikut juga menyerang Pejabat Choman, Pangeran Arzan dan Pangeran Cullen serta gurunya Pangeran Arzan, Guru Grayson dan murid seniornya.
Apa sebabnya terjadi penyerangan itu?
Tidak lain tidak bukan sebabnya adalah Bunda Suri menuduh Selir Ashana bersekongkol dengan pemberontak.
Apalagi keberadaan Jenderal Kenzie serta istrinya sebagai pasukan tersembunyinya Raja Ghanim sudah diketahui. Apalagi keterlibatan Guru Zeroun dalam masalah ini juga sudah diketahui.
Kini mereka semua berserta ratusan pasukan Raja Ghanim mati-matian melindungi Selir Ashana dari penyerangan pasukan istana.
Senja sudah tenggelam di ufuk barat. Malam mulai membungkus seantero mayapada dengan kegelapan. Seharusnya waktunya untuk beristirahat.
Namun pertempuran tidak kunjung pula berhenti. Pedang saling beradu memercikkan bunga api menyebar ke udara. Menciptakan suara yang begitu menggiriskan hati.
Sebentar saja sudah terdengar jeritan-jeritan kematian yang menyayat hati. Ditingkahi bertumbangannya tubuh-tubuh yang bersimbah darah.
Memang patut diakui kehebatan pasukan Raja Ghanim itu. Meski diserang oleh sekian banyak pasukan istana tidak membuat mereka gentar. Meski tidak sedikit dari sudah terkapar jadi mayat, tapi mereka juga cukup banyak menumbangkan pasukan istana.
Tampak Guru Zeroun bertarung sengit melawan Guru Grayson dan murid seniornya. Sedangkan Jenderal Kenzie bertarung mati-matian melawan Pejabat Choman.
Sementara Jenderal Elaina dan beberapa pasukan lainnya terus memepeti Selir Ashana dan Pelayan Galina yang sudah gemetar ketakutan.
Sedangkan berkali-kali Putri Lavina ingin terjun dalam pertempuran, saat itu juga kedua pengawalnya menghalangi.
Karena mereka berdua sudah diwanti-wanti oleh Jenderal Elaina untuk terus menjaga Putri Lavina, jangan dibiarkan ikut berperang.
Pertempuran terus saja berkecamuk seakan tidak mau berhenti. Tubuh-tubuh bersimbah darah terus saja berjatuhan saling susul menyusul.
Lama kelamaan jumlah mereka semakin berkurang. Sementara pasukan istana terus saja menyerang tanpa mau berbelas kasihan.
Tampak Guru Zeroun berjuang mati-matian melawan guru dan murid.
Melawan Guru Grayson saja belum tentu dia menang. Apalagi dibantu oleh muridnya yang terhebat. Dan sekarang dia mulai kewalahan menghadapi keduanya.
Sehingga lama kelamaan dia benar-benar kewalahan menghadapi keduanya. Hingga suatu ketika dia tidak bisa lagi menangkis serangan Guru Grayson.
Dia sibuk menangkis serangan pengawal Pangeran Arzan. Namun tanpa dia duga datang serangan Guru Grayson yang begitu tiba-tiba.
Cepat sekali telapak tangan kanan Guru Grayson bergerak, sulit bagi Guru Zeroun untuk menghindar. Maka keras dan telak sekali telapak tangan yang bersinar hitam yang berisi tenaga sakti tingkat tinggi itu menghantam dadanya.
Bughk!
"Aaa...!"
Guru Zeroun langsung terlempar ke balakang dengan deras sambil menjerit setinggi langit.
Belum puas dengan serangan itu, sang murid seketika mendorong telapak tangan kanannya ke depan. Maka melesatlah sinar hitam dari telapak tangannya dengan amat cepat dan telak menghantam tubuh Guru Zeroun hingga semakin terlontar jauh ke belakang.
"Guru Zeroun!" seru Jenderal Kenzie terkejut melihat orang tua itu terlempar jauh.
Saking terkejutnya sehingga konsentrasinya buyar menghadapi Pejabat Chomon.
Maka tanpa membuang waktu Pejabat Choman langsung menghantam dada Jenderal Kenzie dengan telapak tangan kanannya dengan telak tanpa dapat ditangkis.
Saking kerasnya pukulan itu membuat Jenderal Kenzie terlempar ke belakang sambil menjerit keras. Dan jatuh ke tanah berumput dengan keras. Untuk sejenak dia belum bisa bangkit berdiri.
Namun Pejabat Choman belum puas juga. Segera dia melesat ke tempat Jenderal Kenzie. Saking cepatnya tahu-tahu dia sudah dalam jangkauan serangan.
Lalu dengan cepat tombaknya diayunkan siap menusuk dada Jenderal Kenzie yang cuma bisa terkapar diam.
__ADS_1
★☆★☆
Sebentar lagi ujung tombak itu akan sampai ke dada Jenderal Kenzie. Namun seketika selarik sinar merah panas meluncur dengan deras dan amat cepat dari arah depan Pejabat Choman.
Saking cepatnya sinar merah itu datang, membuat Pejabat Choman tidak bisa menghindarinya. Maka dengan cepat tombak yang sedianya untuk menusuk dada Jenderal Kenzie disilangkan di depan dadanya menangkis sinar merah berhawa panas itu.
Dan dia memang berhasil menangkis serangan yang tiba-tiba itu sehingga sinar merah itu ambyar. Tapi tak urung dia terjajar ke belakang beberapa langkah.
Akan tetapi belum sempat memperbaiki posisi, sebuah pedang yang memancarkan sinar merah panas terayun hendak membelah kepalanya.
Maka dengan cepat meski tergesa-gesa diangkat tombaknya ke atas hendak menangkis pedang bersinar merah itu. Namun dia kecele.
Serangan pedang merah bara itu seketika ditarik. Lalu hampir bersamaan sebuah tendangan kaki kiri seketika menusuk dadanya yang terbuka dengan kuat dan keras. Dan Pejabat Choman tidak bisa berkutik lagi.
Dugh!
"Akh...!"
Saking kuatnya tendangan itu menghantam dadanya, membuat Pejabat Choman terlempar cukup jauh ke belakang sambil menjerit agak keras. Dan jatuh ke tanah berumput dengan keras.
Tapi tak lama, dia segera bangkit berdiri meski tubuhnya agak limbung dan dibantu oleh tombak panjangnya.
Lalu dia melihat sekitar 3 tombak di depannya seorang pemuda tampan berpakaian merah cukup mewah. Sebuah pedang bersinar merah tergenggam di tangan kanannya.
Dia tahu pemuda itu, karena sudah pernah melihatnya dan sudah mengetahui ciri-cirinya. Dialah Pangeran Revan.
"Ayah!"
Seorang gadis yang tidak lain Jessica yang seketika muncul di samping Jenderal Kenzie langsung memeluk ayahnya yang masih terkapar lemah. Tepatnya di belakang Pangeran Revan.
"Selamatkan ayahmu, Jessica!" perintah Pangeran Revan tanpa menoleh. "Cepat!"
"Baik, Pangeran."
Jessica langsung menghilang bersama ayahnya dengan ilmu teleportasi.
Sementara di tempat lain, sesosok bayangan menangkap tubuh Guru Zeroun yang masih melayang di udara. Kejap berikut hilang bagai ditelan malam.
Di dalam kediaman Selir Ashana, muncul secara tiba-tiba Brian, Ariesha, Keenan, Keysha, Zelyne, Zafer dan beberapa jawara Istana Centauri lainnya.
Tentu hal itu membuat terkejut Selir Ashana dan yang lainnya. Namun begitu Jenderal Elaina melihat putrinya, segera dia mengetahui kalau mereka semua adalah teman-teman putrinya.
Sedangkan Selir Ashana saat melihat Zafer, dia langsung terkejut. Karena wajah pemuda itu mirip dengan wajahnya. Namun dia tidak bisa lama melihat wajah pemuda itu, karena Zelyne sudah memberitahukan untuk bersiap-siap meninggalkan tempat ini.
"Ayahmu masih ada di luar, Zelyne," kata Jenderal Elaina mengingatkan.
"Ada Jessica dan Pangeran Revan yang menyelamatkan, Bunda," kata Zelyne memberi tahu.
"Jessica!" kejut Jenderal Elaina bernada gembira. "Di mana Jessica, Zelyne?"
"Ayolah, Bunda, bersiap-siap!" kata Zelyne mengingatkan. "Nanti kita terlambat."
"Oh, iya. Yang Mulia, bersiap-siaplah."
Selir Ashana cuma mengangguk saja dan bergumam kecil. Sementara dia masih memandang wajah Zafer. Apakah dia putranya yang hilang dulu?
Tak lama kemudian, Selir Ashana, Jenderal Elaina, Putri Lavina bersama 2 pengawalnya serta beberapa orang pelayan, termasuk Pelayan Galina dibawa pergi dari situ melalui Gerbang Cahaya yang dibuat oleh Keysha.
Ikut masuk juga dalam Gerbang Cahaya puluhan pasukan yang menjaga Selir Ashana. Yang tinggal cuma Brian, Keenan, Zafer, dan 5 jawara Istana Centauri.
Kemudian 8 pemuda itu segera melesat keluar dengan cepat dan langsung berposisi di dekat Pangeran Revan di samping kiri kanannya.
Sementara itu pertempuran sudah berhenti karena semua pasukan yang menjaga kediaman Selir Ashana sudah habis terbantai, kecuali yang diselamatkan tadi.
★☆★☆★
__ADS_1