Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 151 WAFATNYA GURU ZEROUN


__ADS_3

Mayat-mayat bergelimpangan ke segala arah, baik di halaman belakang, samping, maupun di halaman depan kediaman Selir Ashana.


Mayat-mayat itu kebanyakan dari prajurit militer dan beberapa jawara istana. Sedangkan dari pasukan penjaga kediaman Selir Ashana cuma sekitar 500-an. Meskipun mereka telah mati semua. Karena memang jumlah mereka cuma segitu.


Jadi, kalau secara jumlah dan kekuatan pasukan Raja Ghanim seimbang dengan pasukan istana, niscaya mereka bisa menang.


Sementara itu, sisa pasukan istana yang sudah kurang dari 2000 personil kini berkonsentrasi berada di halaman depan kediaman Selir Ashana, mengepung 9 pemuda yang tidak lain adalah Pangeran Revan dan rekan-rekannya.


Sedangkan para jawara istana yang sebagiannya murid-murid hebat Guru Grayson juga ikut mengepung. Bahkan mereka sudah siaga dengan pedang terhunus.


Sementara itu pula Pejabat Choman, Guru Grayson, Pangeran Arzan bersama pengawalnya, serta Pangeran Cullen yang ternyata juga bersama 2 pengawalnya kini tengah berhadapan dengan 9 pemuda itu berjarak sekitar 4 tombak.


Tampak Pejabat Choman menatap bengis bercampur sinis pada Pangeran Revan dan rekan-rekannya. Sedangkan Pangeran Cullen menatap angkuh penuh peremehan pada Pangeran Revan dan rekan-rekannya.


Sementara Pangeran Arzan menunjukkan ekspresi yang biasa serta sikap yang tenang. Tapi dalam hatinya memuji nyali mereka yang begitu berani datang ke mari cuma dalam jumlah seperti itu.


Dia menduga Selir Ashana sudah diselamatkan oleh rekan-rekan Pangeran Revan yang lain. Terbukti tidak ada lagi pasukan penjaga baik yang di depan pintu maupun di di dalam rumah. Sedangkan pintu masuk kediaman itu terbuka lebar-lebar.


Seharusnya juga Jenderal Kenzie terkapar di belakang Pangeran Revan akibat terkena serangan maut Pejabat Choman tadi. Tapi jenderal itu tidak ada di situ. Pasti juga sudah diselamatkan oleh rekan sang pangeran.


Sekali lagi dia memuji aksi penyelamatan yang dilakukan rekan-rekan Pangeran Revan yang begitu rapi. Tentu ditunjang dengan kehebatan yang benar-benar lihai.


Hal itu menandakan orang-orang yang bersama Pangeran Revan memiliki kehebatan di atas rata-rata.


"Rupanya besar juga nyalimu datang ke mari, Pangeran Revan," sapa Pejabat Choman penuh peremehan sambil tersenyum sinis. "Apa kamu sudah pikirkan bakal keluar hidup-hidup dari sini?"


"Apakah Tuan Pejabat tidak merasa kalau Yang Mulia Selir sudah kami keluarkan dari kepungan kalian?" kata Pangeran Revan bernada dingin seolah membalas sindiran Pejabat Choman.


Pejabat Choman sedikit terkejut juga mendengar ucapan Pangeran Revan barusan, meskipun sebenarnya dia sudah tahu kalau Selir Ashana sudah berhasil diselamatkan.


"Kami bisa mengeluarkan orang dari kepungan kalian," lanjut Pangeran Revan, "berarti kami bisa juga mengeluarkan diri sendiri."


"Jumawa!" dengus Pangeran Cullen seraya menggeram. "Aku mau lihat apakah ucapanmu itu benar atau tidak!"


Lalu dia bergerak melangkah hendak menyerang Pangeran Revan. Tapi baru satu langkah kakinya bergerak, Pangeran Arzan langsung mencegatnya dengan mencekal tangan kanannya.


"Kamu mau apa?" kata Pangeran Arzan, meski bernada tanya tapi mengandung pelarangan.


Pangeran Cullen menyentak tangan kanannya yang dicekal Pangeran Arzan, sehingga cekalan itu terlepas. Dia memandang sinis-dingin pangeran tenang itu seraya mendengus kecil.


Lalu dia kembali memandang Pangeran Revan dengan niat menyerangnya, tanpa menggubris tatapan kesal dari kakaknya itu.


Kejap berikut seketika tubuhnya lenyap bagai menghilang. Tahu-tahu dia sudah berada dekat di depan Pangeran Revan dengan pedang sudah terayun ke atas hendak membelah kepala Pangeran Revan.


Perlu diketahui, Pangeran Cullen memang terkenal dengan gerak kilatnya. Tubuhnya bisa bergerak cepat seperti menghilang. Seperti yang dia lakukan saat ini.


★☆★☆


Akan tetapi....

__ADS_1


Bruuuk!


"Ukh!"


Belum juga pedangnya sampai ke sasaran, tubuhnya tiba-tiba seperti menabrak tembok tak terlihat 1 langkah di depan Pangeran Revan.


Rupanya ada pagar ghaib yang melindungi Pangeran Revan dan semua rekannya dari serangan musuh. Dan yang membuat pagar pelindung itu tidak lain adalah Keenan.


Saking kuatnya tabrakan itu sehingga menimbulkan suara yang cukup keras, berikut suara keluhan tertahan Pangeran Cullen.


Saking kuatnya tabrakan itu sehingga membuat tubuh Pangeran Cullen terpental ke belakang. Namun dia masih bisa menguasai keseimbangan tubuhnya sehingga dia bisa mendarat di tanah tanpa jatuh. Meskipun begitu tubuhnya masih sedikit limbung.


Tampak wajah tampannya agak tegang karena terkejut. Dia tidak menyangka kalau ada pagar tidak terlihat yang melindungi Pangeran Revan.


Tentu saja kejadian singkat itu jelas mengagetkan semua orang yang melihatnya. Tidak terkecuali Pejabat Choman dan Guru Grayson yang juga tidak menyangka kalau 9 pemuda itu membuat pagar ghaib untuk melindungi mereka.


"Sayang sekali kedatangan kami di sini bukan untuk perang," kata Pangeran Revan kepada Pangeran Cullen tetap bersikap tenang. "Jadi nyawa busukmu masih terampuni saat ini."


Kejap berikut tubuh Pangeran Revan seketika lenyap dari pandangan bersama 8 rekannya bagai ditelan setan malam.


Dan tak lama setelah itu tahu-tahu mereka muncul di atas atap kediaman Selir Ashana bagian depan. Tampak telapak tangan Pangeran Revan, Brian dan Zafer sudah mengeluarkan kesaktian masing-masing berupa bola cahaya yang santer.


"Pejabat Choman!" seru Pangeran Revan dengan Sepertinya kalian tidak mengindahkan peringatan kami. Itu artinya kalian memang mengajak untuk perang...."


"Baik, kami ladeni permintaan kalian...!"


Setelah itu mereka lenyap lagi begitu saja.


Terang saja Pejabat Choman dan yang lainnya terkejut bukan main. Tapi dengan cepat Pejabat Choman bertetiak.


"Munduuur...!"


Kejap berikut tubuhnya langsung lenyap yang diikuti oleh Guru Grayson, Pangeran Arzan, Pangeran Cullen serta pengawal mereka.


Belum lama mereka kabur, terjadi ledakan amat dahsyat 3x berturut-turut....


Duuummm....!


Buuummm...!


Duaaarrr...!


Langit seakan mau runtuh, bumi berguncang hebat bagai terjadi gempa berkekuatan tinggi. Kotaraja sebelah barat bergetar dengan amat dahsyat.


Tiga bola cahaya seketika langsung membesar dengan cepat membetuk bagai tempurung raksasa yang terbalik. Menghantarkan gelombang ledakan yang amat dahsyat ke segala arah.


Memporak-porandakan apa saja yang dilalui cahaya besar yang berisikan gelombang ledakan itu.


Sementara prajurit militer dan para jawara sudah tidak ada kesempatan lagi melarikan diri.

__ADS_1


Seketika mereka semua berhamburan terpental ke udara sambil menjerit setinggi langit akibat terhantam gelombang ledakan itu.


Dari kejauhan tampak oleh para penduduk kotaraja areal kediaman Selir Ashana terbungkus oleh cahaya raksasa yang cekung yang amat terang benderang.


★☆★☆


Suasana berkabung telah menyelimuti para petinggi yang tengah mengitari sebuah pusara baru di pagi itu.


Tampak Ratu Aurellia menaburkan bunga di atas pusara itu bersama Selir Ashana. Diikuti oleh Jenderal Elaina beserta kedua putrinya yang sudah berderai air mata.


Tidak ketinggalan Putri Eveline dan Putri Lavina yang juga turut menangisi penghuni pusara itu.


Siapakah yang mendekam dalam pusara baru itu?


Dia tidak lain adalah Guru Zeroun. Ya, Guru Zeroun telah wafat akibat bertarung melawan Guru Grayson yang dibantu oleh murid seniornya tadi malam.


Nyawanya memang sudah tidak bisa diselamatkan akibat terkena pukulan sakti oleh kedua orang tersebut.


Perlu diketahui, Guru Zeroun merupakan guru beladiri sekaligus ilmu kesaktian bagi Putri Eveline dan Putri Lavina.


Dia juga merupakan salah satu guru Zelyne. Dan Jessica juga pernah belajar kepadanya.


Jadi adalah wajar kalau mereka amat bersedih atas kematian Guru Zeroun.


Selama hidupnya Guru Zeroun tidak pernah terlibat dalam kejahatan, apalagi pemberontakan.


Dulu, sebelum meletusnya pemberontakan yang dipimpin oleh Bunda Suri Hellen Gretha, Raja Ghanim dan Jenderal Kenzie membujuknya untuk ikut dalam aksi kudeta terhadap kekuasaan mendiang Raja Neshfal Abraham.


Akan tetapi Guru Zeroun tetap teguh hati dan tidak terbujuk untuk ikut memberontak. Karena sejak awal dia sudah tahu kalau hal itu adalah salah besar.


Bahkan dia menasehati kepada keduanya untuk tidak ikut-ikutan gila seperti Bunda Suri.


Akan tetapi meskipun 2 orang itu tidak mengindahkan nasehatnya, dia tidak membenci kepada keduanya. Bahkan merasa kasihan kepada keduanya yang terpengaruh oleh Bunda Suri dan Pejabat Choman.


Lebih khusus lagi dia merasa kasihan terhadap Raja Ghanim yang menurut saja kehendak Bunda Suri, bunda kandungnya.


Akan tetapi Guru Zeroun tidak bosan menasehati Raja Ghanim maupun Jenderal Kenzie. Yang pada akhirnya Raja Ghanim telah sadar dan menyesal akan perbuatan memberontaknya terhadap kekuasaan ayahandanya.


Sehingga ketika 2 tahun lebih Raja Ghanim menjadi raja, Guru Zeroun menyarankan untuk membentuk suatu pasukan yang akan menandingi kekuatan pasukan Bunda Suri Hellen Gretha.


Dan Raja Ghanim mengikuti saran tersebut. Maka bersama-sama Jenderal Kenzie berserta istrinya serta beberapa orang dia mulai merekrut pasukan sendiri.


Dan pada beberapa waktu belakangan ini Guru Zeroun sudah merasa bahwa pewaris sah Kerajaan Bentala sudah muncul. Dan keyakinannya bertambah saat melihat sekaligus bertemu dengan Dhafin.


Kuat dugaannya kalau Dhafin adalah Pangeran Agung Ghavin Aldebaran.


Kini Guru Zeroun telah wafat dengan tenang. Karena telah menyadarkan kembali Raja Ghanim dari sebuah kesalahan yang amat besar.


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2