Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 80 INTEROGASI DI WISMA CINTA : PURNAMA MERINDU


__ADS_3

Malam masih tenggelam di seantero kotaraja. Sementara langit nyaris tanpa awan dan tanpa bintang. Malam ini cuma ditemani rembulan yang sudah tak bulat lagi. Tapi sinar lembutnya masih tampak terang menyinari mayapada.


Di sebuah jalan cukup lebar masih diramaikan oleh lelaki tukang jajan wanita malam. Di kiri kanan jalan itu tampak berdiri kokoh 2 bangunan berhias indah yang cukup besar dan panjang. Dua bangunan indah itu tak lain adalah 2 Wisma Cinta.


Para lelaki hidung belang itu tampak tertawa-tawa gembira sambil merangkul kekasih cinta semalam-nya. Bahkan ada yang merangkul 2 gadis malam sekaligus.


Di antara mereka ada yang tidak sabaran, sambil berjalan menuju Wisma Cinta sambil memberondong ciuman mesum penuh nafsu gadis malam-nya. Membuat sang gadis terpekik manja, lalu melontarkan kata-kata manja yang mendayu-dayu membangkitkan gelora bercinta.


Macam-macam laki-laki brengsek yang datang di rumah cinta semalam itu. Bahkan ada di antara mereka dari kalangan pemerintahan. Baik itu prajurit militer, pejabat istana maupun pejabat militer.


Sementara itu Hendry, Aziel, dan Keenan terus melangkah menuju sebuah Wisma Cinta yang bernama Purnama Merindu. Wisma Cinta itu berada di sebelah kiri jalan.


Hendry sudah memberi tahu kepada Aziel dan Keenan kalau tugas yang akan mereka lakukan adalah hendak menangkap seorang Pejabat Militer Kerajaan, lalu mengorek informasi pemerintahan kepadanya.


Kebetulan sekali Hendry bertemu Aziel dan Keenan yang akan memperlancar tugasnya. Karena dia tahu kalau Keenan memiliki ilmu sihir. Untuk membuat orang terhipnotis amat mudah baginya.


Sebenarnya hampir sepanjang perjalanan ketiga pemuda tampan itu dihadang oleh para gadis malam sambil menebarkan senyum bercinta dan melontarkan kata-kata manja yang mampu membangkitkan hasrat menggelora.


Namun Aziel si muka dingin tidak menggubris mereka sedikit pun. Sedangkan Keenan dan Hendry cuma menanggapi dengan senyum tapi tidak meladeni rayuan mereka dan terus saja melangkah.


Kebanyakan gadis-gadis malam itu tidak memaksakan kehendak agar ditanggapi rayuannya atau dilayani kemauan manjanya.


Namun ternyata ada juga gadis-gadis dengan beraninya langsung memeluk mereka dengan sikap manja dan melontarkan rayuan-rayuan yang bisa membuat mabuk kepayang.


Tapi tetap ketiga pemuda tampan itu tidak menggubris godaan iblis gadis-gadis cinta semalam itu dengan mereka cara masing-masing.


Begitu mereka memasuki pintu yang cukup lebar dan besar, seorang wanita tua berdandan menor langsung menyambut mereka dengan sapaan dan senyum yang paling ramah dia miliki. Sepertinya wanita tua itu adalah Bunda Wisma Cinta-nya Purnama Merindu.


"Selamat datang di Purnama Merindu, Tuan-tuan Tampan. Silahkan masuk dan nikmati malam yang terindah di tempatku ini!"


Nada suara Bunda Wisma Cinta itu begitu lemah lembut dan mendayu-dayu seakan khusus dibuat agar pelanggan tertarik akan pelayanannya.


Begitu masuk Hendry dan Aziel langsung memandang seorang Pejabat Militer yang tengah duduk di kursi yang letaknya di tengah ruangan. Dia dikelilingi 5 gadis penebar cinta palsu yang terus memamerkan senyum manisnya.


Sedangkan Keenan yang memang sudah ditunjuk sebagai juru bicara meladeni sang muncikari.


"Oh, kami mau duduk-duduk dulu sebentar, Bunda, sambil melihat-lihat siapa gadis pencinta yang bisa memikat hati kami."


"Oh silahkan! Silahkan, Tuan-tuan Tampan!"


Setelah mempersilahkan ketiga pemuda itu, Bunda Wisma Cinta berlalu dan menghampiri tetamu lainnya.


★☆★☆


Ketiga pemuda tampan itu terus melangkah memasuki ruangan yang amat luas yang diisi oleh gadis-gadis malam dan lelaki hidung belang yang menebarkan tawa canda.


Kemudian mereka duduk di kursi kosong yang terletak di sudut ruangan. Dari situ mereka bisa mengawasi aktivitas Pejabat Militer yang mereka incar.


Untuk sementara Keenan maupun Hendry saling berbincang santai sambil itu memperhatikan seisi ruangan lantai pertama yang luas ini. Mereka melakukan itu agar tidak terlalu mencurigakan kalau sebenarnya mereka tengah mengincar Pejabat Militer itu.


Sedangkan Aziel tetap diam sambil menatap meja bundar yang berisikan teko dan gelas serta camilan ringan yang ada di depannya. Sepertinya dia tidak suka mengumbar matanya memandang gadis-gadis cantik penyebar senyum dan cinta palsu yang ada di ruangan besar ini.

__ADS_1


Sesekali dia memperhatikan Pejabat Militer yang menjadi incaran mereka yang masih bercanda ria dengan gadis-gadis malam-nya yang sesekali meminumkannya minuman yang memabukkan.


"Sekarang bagaimana?" tanya setelah agak lama membisu sambil kembali menatap Pejabat Militer itu.


"Kita pancing dia untuk segera masuk ke dalam kamarnya," kata Hendry seakan memberi instruksi, "lalu kita mengorek rahasia militer kerajaan darinya!"


"Serahkan padaku," kata Keenan menyanggupi.


Sejenak dia memperhatikan Pejabat Militer itu. Lalu dia berdiri dan terus melangkah ringan menuju kursi Pejabat Militer yang masih melakukan pemanasan dengan 5 gadis malam-nya.


Tampak sepasang bibirnya bergerak-gerak membaca sebuah mantra begitu hampir sampai di meja Pejabat Militer itu. Sedangkan matanya terus saja menatap sang pejabat seakan tidak mau lepas.


Begitu Keenan sudah sampai di depannya, Pejabat Militer seakan tak sengaja, malah memandang ke arah Keenan. Sementara Keenan terus menatapnya dengan tajam.


Baru beberapa kejapan Pejabat Militer saling bertatapan dengan Keenan, seketika dia merasakan suatu keanehan terjadi dalam dirinya. Lalu pandangan matanya tiba-tiba mengabur. Apa yang terlihat di depannya, termasuk Keenan, tidaklah jelas.


Tapi kejadian itu tidak lama. Begitu dia kembali melihat dengan jelas, apa yang terpampang di depannya langsung berubah.


Tadinya dia melihat Keenan sebagai seorang pemuda, kini yang berdiri di depannya adalah seorang gadis cantik laksana bidadari yang menebarkan senyum manis yang memikat hati.


"Selamat malam, Tuan Pejabat," kata Keenan dengan lembut. "Saya sudah memenuhi undangan, Tuan."


Saat mendengar ucapan Keenan, 5 gadis cantik yang masih bersama Pejabat Militer lantas memandang Keenan. Tapi tak lama mereka langsung terpesona akan ketampanan Keenan. Namun mereka tidak melakukan apa-apa selain menebar senyum pemikatnya.


Di telinga kelima gadis itu suara Keenan terdengar biasa, khas suara seorang pemuda yang santun. Tapi di telinga Pejabat Militer suara Keenan itu terdengar begitu merdu mendayu-dayu bak bulu perindu.


"Sebenarnya dari tadi aku menantimu," kata Pejabat Militer yang sudah terpengaruh ilmu sihir Keenan bernada penuh rayuan. "Rasanya aku tidak sabaran lagi."


"Sepertinya di sini tidak cocok untuk kita berbincang," kata Keenan masih bernada lembut sambil tersenyum. "Bisakah sekarang kita menuju ke kamar, Tuan Pejabat?"


Kelima gadis cantik itu langsung heran mendengar ucapan Pejabat Militer yang terdengar aneh itu. Ucapannya itu cocoknya dilontarkan kepada seorang gadis. Tapi sang pejabat malah melontarkannya kepala pemuda tampan di depan mereka. Mengapa Pejabat Militer tiba-tiba aneh begitu?


Namun Pejabat Militer yang sudah setengah mabuk, mabuk minuman dan mabuk kepayang tidak perduli dengan keheranan mereka. Dia langsung menghampiri Keenan dengan tergesa-gesa, lalu hendak menyosorkan bibirnya ke wajah tampan Keenan.


Kontan saja kelima gadis itu makin heran dengan tingkah Pejabat Militer yang tiba-tiba aneh. Tapi Keenan malah tampak santai saja. Namun jelas tetap dia tak biarkan bibir kotor pejabat brengsek itu menyosor di wajahnya.


Keenan langsung menahan dada sang pejabat sambil mendoyong sedikit kepalanya ke belakang. Sehingga ciuman sang pejabat tidak sampai.


"Jangan di sini, Tuan Pejabat," kata Keenan masih melakoni perannya dengan baik, "di kamar atas saja."


Hendry yang sedari tadi memperhatikan Keenan memainkan perannya, merasa lucu melihat semua adegan itu. Dan ketawanya hampir meledak saat melihat Keenan mau dicium oleh sang pejabat.


Apalagi saat mendengar kalimat penolakan Keenan yang seperti seorang gadis cantik yang malu-malu kucing.


Sedangkan Aziel si kaku dingin, melihat semua itu dengan datar, dingin, tanpa ekspresi.


Pejabat Militer lantas tertawa dengan nada memuakkan. Setelah merogoh sekantung uang ke balik bajunya dan terus melemparkan begitu saja pada kelima gadis itu, dia langsung memegang tangan kiri Keenan. Lantas membawanya naik ke lantai 2.


Kelima gadis cantik itu tidak menghiraukan lagi Pejabat Militer dengan tingkah anehnya, mereka menikmati uang pejabat itu tanpa harus bersusah payah. Karena memang uang yang mereka inginkan.


Sementara Pejabat Militer terus saja menarik tangan Keenan sambil melangkah lebar menuju lantai atas. Sedangkan Keenan terus saja membebek di belakang sang pejabat yang terus tertawa-tawa riang.

__ADS_1


Sedangkan Hendry dan Aziel, begitu melihat sang pejabat dan Keenan hampir mencapai lantai atas, mereka lantas bergerak mengikuti. Tapi tetap dengan mode biasa agar tindakan mereka tak ada yang mencurigai seorang pun.


★☆★☆


Pejabat Militer yang sudah sempoyongan telah berada di depan pintu sebuah kamar bersama Keenan. Sedangkan Hendry dan Aziel tak jauh dari mereka sambil mengamati keadaan lorong kamar yang sunyi.


Di lorong kamar memang sunyi. Tapi di dalam kamar sayup-sayup terdengar *******-******* lirih yang ditingkahi oleh jeritan-jeritan kenikmatan cukup ramai.


Suara-suara itu memang tidak bisa dibilang kegaduhan. Tapi cukup membuat Hendry terasa panas dingin. Entah kalau Aziel, apa yang tengah dia rasakan saat ini?


Pintu kamar yang tak terkunci dibuka begitu saja oleh sang pejabat dengan lebar. Terus masuk sambil terus memegang tangan Keenan. Dan Keenan otomatis ikut masuk pula. Tak lama Aziel dan Hendry ikut masuk. Lalu Hendry menutup pintu dan menguncinya.


Melihat 2 orang asing masuk tentu sang pejabat sempat terkejut heran. Dan Keenan melihat kesempatan untuk melumpuhkan sang pejabat tidak menyia-nyiakan begitu saja. Apalagi dia berada cukup dekat dengan target.


Dengan gerakan cepat dia menotok titik suara Pejabat Militer dan beberapa titik lainnya. Sang pejabat yang mulai curiga tapi tak sempat berbuat apa-apa, apalagi waspada. Sehingga dia langsung jatuh lemas ke lantai ruangan.


Sebenarnya dia hendak meneriakkan kemarahannya. Tapi tidak sampai keluar dari kerongkongannya. Karena titik suaranya sudah ditotok. Hanya matanya saja yang melotot garang menatap Keenan yang kini dilihatnya sudah dalam bentuk aslinya.


Sang pejabat benar-benar marah bercampur menyesal karena berhasil ditipu dengan begitu mudahnya.


Setelah Pejabat Militer dinaikkan ke tempat tidur, lalu Keenan membuatnya terhipnotis, maka ekspresinya yang tadinya garang kini seketika berubah menjadi seperti orang linglung dan tatapan matanya kosong.


Sekarang sang pejabat sudah tidak mengenal lagi kondisinya. Ditanya apa saja, kalau dia tahu, dia akan mengatakannya dengan jujur.


Sedangkan Keenan, agar pekerjaan menginterogasi sang pejabat bisa berjalan dengan mulus, agar orang di luar kamar tidak mendengar ucapan mereka dan tidak mengganggu, maka dia menyegel dulu ruangan ini dengan ilmu ghaibnya.


Setelah itu mulailah ketiga pemuda itu mengorek informasi penting dari Pejabat Militer itu.


Maka mulailah Pejabat Militer yang mengaku bernama Jenderal Eliot memuntahkan apa yang ada di kepalanya tentang Kerajaan Bentala, termasuk kekuatan militernya.


Berapa jumlah seluruh pasukan istana, pasukan apa saja yang ada di dalamnya, dan pasukan mana saja yang paling hebat, Jenderal Eliot menjawabnya dengan fasih. Karena dia memang Pejabat Militer Kerajaan yang pasti tahu akan semua itu.


Dia juga membeberkan kalau pasukan istana telah kalah melawan pasukan pemberontak di ujung utara Kota Bahir.


Lalu menginformasikan kalau pasukan istana akan mengirimkan sekitar 3000 pasukan untuk mengempur daerah itu 2 hari lagi.


Tidak lupa sang pejabat memberitahukan pasukan apa saja yang diikutsertakan.


Ada satu fakta yang dibeberkan oleh sang pejabat. Ternyata Raja Ghanim Altezza hanyalah raja boneka. Dia memang sebagai raja Kerajaan Bentala, tapi yang mengendalikan pemerintahan adalah Bunda Suri, Selir Hellen Gretha.


Raja Ghanim Altezza hanya sebagai pelaksana apa yang sudah diatur oleh Selir Hellen Gretha. Dia tidak boleh menurunkan sebuah titah, membuat atau memutuskan sebuah aturan tanpa persetujuan sang bunda.


Kalau demikian, bagaimanakah raja yang malang itu menjalani hari-harinya kalau selalu di bawah bayang-bayang sang bunda?


Ada satu fakta lagi, bahwa putra Selir Hellen Gretha yang kedua, adik kandung Raja Ghanim yang bernama Killian Ansel ternyata tidak bergabung dalam pemerintahan. Dia memilih hidup dengan anak istrinya sebagai orang biasa di sebuah kampung terpencil.


Sebabnya karena dia tidak setuju dengan pemerintahan yang tidak sah ini. Dia tidak mau ikut andil berbuat dosa menyengsarakan rakyat seperti yang telah diperbuat bundanya dan orang-orang setianya.


Ketiga pemuda itu juga bertanya tentang hal-hal lainnya. Tapi masih ada keterkaitannya dengan Kerajaan Bentala. Juga bertanya tentang keluarga istana.


Setelah puas mengorek keterangan dari Jenderal Eliot, Keenan mengembalikan keadaan Jenderal Eliot ke keadaan semula. Setelah itu dia mencabut ingatan sang jenderal tentang kejadian ini. Lalu menotok titik tidurnya.

__ADS_1


Setelah itu mereka meninggalkan kamar ini melalui teleportasi, menuju penginapan Hendry sesuai usulannya. Membiarkan Jenderal Eliot yang tertidur pulas tanpa melakukan percintaan malam ini.


★☆★☆★


__ADS_2