
Pergi ke Istana Kerajaan Bentala ibarat pergi menyetor nyawa di tempat pembantaian. Begitulah yang dirasa oleh Dhafin dan Brian.
Mereka dan yang lainnya sudah bisa memperkirakan apa yang bakal terjadi jika hendak memasuki istana atau sudah berhasil masuk.
Akan tetapi mereka sudah merencanakan dengan matang apa yang harus dilakukan. Sudah menghitung-hitung kemungkinan atau resiko yang bakal terjadi atau akan dihadapi.
Sementara itu pasukan Pangeran Revan dan pasukan Yang Mulia Ratu sudah bersiaga tidak terlalu jauh di sekitar Istana Kerajaan Bentala.
Waktu itu masih pagi hari. Langit tampak cerah, nyaris tak ada awan yang menggantung. Matahari masih bersinar lembut membelai kotaraja. Para penduduk melaksanakan aktivitas sebagaimana hari-hari mereka.
Ketika itu matahari sudah naik seperempat dari batas cakrawala.
Tampak Dhafin dan Brian melangkah menuju pintu gerbang istana yang tinggi dan kokoh. Begitu kira-kira 25-an tombak lagi jaraknya dari pintu gerbang mereka berhenti.
Dhafin dan Brian sudah memperkirakan kalau kedatangan mereka sudah dinanti-nanti. Buktinya sekitar 500 prajurit pemanah sudah bersiaga di atas gerbang dan di atas pagar tembok tebal. Panah sudah diacungkan ke arah kedua pemuda tampan itu.
Tidak lama kemudian terdengar bunyi gemuruh pintu gerbang dibuka. Begitu pintu gerbang telah utuh terbuka, muntahlah sekitar 2000-an prajurit militer dan jawara istana dari dalam pagar istana.
Ketika sudah keluar mereka langsung berjajar di depan pintu gerbang istana dan semuanya menghadap ke arah Dhafin dan Brian.
Tampak di antara mereka ada Pejabat Choman, Pangeran Marvin serta seorang pengawalnya, Pangeran Cullen serta seorang pengawalnya, dan 17 pendekar elit istana.
"Apa kamu sudah siap mati, Brian?" tanya Dhafin seolah bercanda sambil terus mengamati gerak-gerik Pejabat Choman.
"Ya belum siaplah," sahut Brian spontan. "Adikmu belum menerima cintaku. Kalau aku mati sekarang, jelas aku mati penasaran."
Dhafin hanya tersenyum mendengar candaan Brian itu. Dia menoleh sebentar pada Brian. Tampak mata pemuda berpakaian serba hitam itu tengah mengamati seluruh pasukan istana di depan sana.
Baru saja Dhafin hendak bertanya, terdengar suara tawa penuh peremehan Pejabat Choman. Lantas Dhafin kembali menoleh pada lelaki tua itu yang tengah melangkah .
Pejabat Choman diikuti oleh Pangeran Marvin dan Pangeran Cullen serta pengawal mereka masing-masing.
Pejabat Choman belum memiliki pengawal hingga saat ini setelah Dhafin membunuh mereka semua dia belum menemukan yang cocok baginya.
"Hahaha...! Rupanya kamu punya nyali besar juga," kata Pejabat Choman begitu berhenti yang diikuti oleh yang lain. "Aku kira kamu sudah takut."
Nada ucapannya jelas sekali meremehkan keberadaan Dhafin.
"Apa kamu berani karena membawa teman?" tanya Pejabat Choman jelas mengejek.
"Pejabat Choman! Apa kamu membiarkan kami membunuh semua prajuritmu itu atau membiarkan kami masuk?" tanya Dhafin tidak menggubris ucapan Pejabat Choman bernada datar bercampur dingin. Tapi sikapnya tetap tenang.
"Kemarin kamu boleh jumawa karena telah membunuh pasukanku serta 4 pengawalku," kata Pejabat Choman. "Sekarang jangan harap kamu pulang dengan nyawa busukmu!"
Brian mencabut pedangnya dengan agak cepat. Lalu tangan yang memegang gagang pedang diangkat ke depan cukup tinggi, sementara ujung pedang mengarah ke bawah.
Kemudian Brian melepas pedangnya begitu saja. Maka pedangnya jatuh ke bawah dengan ujung pedang tetap mengarah ke bawah.
Begitu ujung pedang sudah menyentuh tanah, pedang itu langsung masuk ke dalam tanah secara utuh dan tidak terlihat lagi. Pedang itu utuh amblas ke dalam tanah.
Jelas saja kejadian itu cukup mengagetkan Pejabat Choman dan seluruh orang-orangnya.
★☆★☆
Pada saat itu Raja Ghanim dan Jenderal Kenzie berserta puluhan Pengawal Khusus dengan mengendarai kuda tengah mendatangi istana. Ikut bersama mereka Putri Lavina dan 2 pengawalnya.
Sekarang jarak mereka dengan gerbang istana sudah kurang dari 100 tombak.
Dari jarak demikian mereka sudah melihat pasukan istana berjajar di depan gerbang. Mereka juga melihat Dhafin yang masih berdiri diam di tempatnya.
Sempat juga melihat aksi Brian yang membenamkan pedangnya secara aneh ke dalam tanah.
Sementara itu, Pejabat Choman yang melihat aksi aneh Brian itu, menjadikan sebuah tanda kalau Dhafin maupun Brian hendak melawan.
Maka dia langsung memerintahkan pasukan istana untuk membunuh mereka berdua.
Namun belum juga pasukan istana bergerak sudah terdengar teriakan Raja Ghanim yang cukup menggelegar.
__ADS_1
"Hentikaaan...!!!"
Begitu hebatnya teriakan Raja Ghanim itu sehingga membuat pasukan istana yang tadi hendak menyerang menjadi tidak jadi.
Tidak lama kemudian, Raja Ghanim beserta rombongan telah sampai di dekat Dhafin dan Brian. Membuat Pejabat Choman menggeram kesal bukan main. Tapi dia tidak berani tetap memerintahkan pasukan istana.
Raja Ghanim dan seluruh pengawalnya tetap berjalan mendekat ke pintu gerbang, Putri Lavina dan 2 pengawalnya segera turun dari kuda terus menghampiri Dhafin dengan cepat.
Tanpa menghiraukan keheranan Brian yang melihat sikapnya terhadap Dhafin, Putri Lavina langsung memegang kedua tangan Dhafin. Terus berkata setengah merengek.
"Kak, kumohon jangan masuk ke istana. Batalkan saja niatmu untuk mengadakan perundingan dengan orang istana. Amat berbahaya bagi keselamatanmu."
Brian sebenarnya makin heran melihat Putri Lavina yang seperti akrab dengan Dhafin. Tapi dia diam saja. Dia kembali memperhatikan Raja Ghanim yang sudah sampai di depan Pejabat Choman dan terlibat pembicaraan yang cukup menegangkan.
Sedangkan Dhafin memandang sejenak pada Putri Lavina dengan tatapan lembut, terus berkata dengan nada lembut pula.
"Kamu tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa."
"Aku tidak bisa tenang kalau kamu berada di dalam, Kak. Tidakkah kamu menyadari kalau bahaya besar menunggumu di dalam sana?"
Putri Lavina tetap berusaha membujuk Dhafin agar membatalkan niatnya dan memberitahukan kalau Raja Ghanim tidak bisa diandalkan untuk melindungi keselamatannya dan Brian.
Akan tetapi Dhafin tetap meyakinkan kalau dia dan Brian tidak bakalan kenapa-napa. Terus Dhafin berpesan agar jangan ikut masuk ke dalam istana. Yang lebih penting Dhafin berpesan agar jangan jauh-jauh dari ibunya.
Dengan terpaksa Putri Lavina membiarkan Dhafin masuk ke dalam gerbang istana setelah Raja Ghanim berhasil memenangkan perdebatan dengan pamannya.
Sepasang mata indahnya yang membinarkan kesedihan menghantar kepergian pemuda yang dicintainya itu.
Tanpa terasa air matanya menetes di pipi halus mulusnya. Dan air mata itu makin deras mana kala Dhafin sudah tidak terlihat lagi dari pandangannya. Terhalang oleh pasukan istana yang ikut masuk.
Hampir saja dia dia berlari masuk ke dalam istana saat pintu gerbang mulai ditutup. Tapi Anggie dan Fanny cepat mencegatnya. Lalu memberitahukan pesan Dhafin agar jangan ikut masuk.
Lalu Anggie dan Fanny terus membujuknya, menenangkan hatinya. Tapi Putri Lavina tetap tak bisa tenang. Dia sudah membayangkan yang tidak-tidak bakal terjadi pada Dhafin.
★☆★☆
Mereka mengadakan pertemuan di balairung istana. Peserta yang hadir dalam pertemuan itu bukanlah mayoritas pejabat pemerintahan. Selain Pejabat Choman tidak ada pejabat yang hadir dalam pertemuan itu.
Kebanyakan yang mengisi balairung istana adalah para jawara elit istana yang berjumlah hampir 300 orang. Dhafin dan Brian sudah mengetahui maksud keberadaan mereka di dalam balairung istana untuk apa.
Adapun yang lain selain Pejabat Choman yaitu Bunda Suri Hellen, Raja Ghavin serta pengawalnya.
Bunda Suri sudah mendapat laporan dari Pejabat Choman kalau Dhafin mirip dengan Pangeran Ghazam. Bahkan Pejabat Choman menduga kalau Dhafin adalah putra Pangeran Ghazam yang bernama Pangeran Ghavin.
Maka ketika melihat Dhafin secara seksama, Bunda Suri Hellen membenarkan dugaan Pejabat Choman. Namun Bunda Suri tidak mau membahas itu. Dia mau tahu dulu apa maksud Dhafin ingin mengadakan perundingan.
"Sebenarnya apa maksudmu mengadakan perundingan dengan kami, Anak Muda?" tanya Bunda Suri langsung.
Bukan Raja Ghanim yang bertanya, tapi dia. Raja Ghanim hanya sebagai boneka yang duduk di singgasana. Yang berkuasa sebenarnya adalah Bunda Suri.
Dhafin menatap sejenak wanita yang sebenarnya hampir berumur 70 tahun. Tapi karena perawatan dia masih seperti berumur 40-an. Wajahnya masih tampak cantik dan berkulit kencang.
Lalu beralih memandang puluhan jawara yang mengitari panggung singgasana. Posisi mereka menjaga 3 orang penting yang ada di panggung singgasana.
"Tentu Yang Mulia masih ingat pertempuran di dekat Kota Arthia," kata Dhafin setelah itu seakan mengingatkan.
"Apakah kamu ingin mengatakan kalau pemberontak yang melawan pasukanku adalah kalian?" tanya Bunda Suri bernada sinis menebak.
"Rupanya Yang Mulia pandai menebak," kata Dhafin seraya tersenyum.
Melihat senyum Dhafin itu Raja Ghanim terkenang kembali akan kakaknya yang dia bunuh, Pangeran Ghazam. Maka hatinya kembali bersedih dan menyesal tatkala teringat lagi peristiwa berdarah 20 tahun silam.
"Huh! Baru mengalahkan segelintir pasukan kami saja kalian sudah merasa hebat," dengus Pejabat Choman bernada sinis. "Pemberontak busuk seperti kalian tidak ada apa-apanya bagi kami."
"Berbicara tentang pemberontak," kata Dhafin menanggapi ucapan Pejabat Choman, "siapakah pemberontak yang sebenarnya?"
Tentu saja Raja Ghanim terkejut mendengar ucapan Dhafin barusan. Lebih terkejut lagi Bunda Suri Hellen dan Pejabat Choman. Bahkan pejabat Choman sudah menggeram marah.
__ADS_1
Mereka semua tahu ke mana arah pembicaraan Dhafin.
"Apa alasanmu menuduh kami sebagai pemberontak juga?" tanya Bunda Suri bernada tajam.
"Bukankah kita juga sebenarnya pemberontak, Bunda?" malah Raja Ghanim yang berkata. "Kita harus mengakui hal itu."
"Kamu dia saja, Ghanim!" kata Bunda Suri setengah membentak. "Tidak usah bicara kalau tidak disuruh!"
Raja Ghanim menatap tajam kepada bundanya. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya bungkam. Sementara Bunda Suri mengulangi pertanyaannya tadi.
"Kalian telah merampas sesuatu yang bukan hak kalian," sahut Dhafin bernada dingin tapi tetap tenang. "Kalianlah yang sebenarnya yang dikatakan pemberontak busuk."
"Keparat Busuk! Berani kamu menuduh kami yang bukan-bukan, Bocah Rendahan?" berang Pejabat Choman.
"Bukankah Yang Mulia Raja sudah mengakuinya?" kata Dhafin masih tetap tenang dan dingin. "Kenapa kamu tetap memungkiri, Tuan Pejabat?"
Pejabat Choman hendak bertindak terhadap Dhafin. Tapi Bunda Suri cepat mencegatnya. Tapi kalaupun Pejabat Choman tetap melaksanakan niatnya, Brian sudah siap beraksi.
★☆★☆
Kemudian Bunda Suri bertanya bernada sinis bercampur gerbang.
"Siapa sebenarnya pimpinan kalian hah?"
"Yang Mulia Selir Heliana," sahut Dhafin dengan berani, tanpa ada rasa takut sama sekali.
Semua pembesar istana itu jelas terkejut mendengar pengakuan Dhafin itu. Mereka tidak menyangka kalau pimpinan para pemberontak yang mengalahkan pasukan istana tempo hari adalah Selir Heliana.
"Selir Heliana tidak berhak atas Kerajaan Bentala," kata Bunda Suri bernada sinis dan tajam. "Akulah yang lebih berhak!"
"Yang Mulia juga tidak berhak atas kerajaan ini," bantah Dhafin dengan berani. "Yang lebih berhak adalah keturunan Yang Mulia Raja Neshfal dari jalur Yang Mulia Permaisuri Rosaline Olivia."
Kalau Dhafin tidak membicarakan tentang hal ini dengan Pangeran Revan tadi malam terlebih dahulu, tentu Brian akan heran dari mana Dhafin tahu tentang semua ini.
Sebenarnya Dhafin mengadakan pembicaraan kepada Pangeran Revan hanya basa basi saja. Agar nanti Brian tidak curiga Dhafin membahas tentang hal itu dalam perundingan.
"Kamu sudah membuang waktuku hanya untuk mendengar ocehan murahanmu itu, Anak Muda," dengus Bunda Suri mulai meledak amarahnya.
"Sekarang kamu dan temanmu tinggalkan tempat ini!" lanjutnya. "Katakan kepada Selir Heliana jangan pernah mimpi merebut sesuatu yang sudah kugapai."
"Tapi saya tidak akan pergi sebelum menyampaikan pesan penting Yang Mulia Selir Heliana," kata Dhafin dengan gaya kalem-tenangnya.
"Apa pesan Selir Heliana?" tanya Bunda Suri ingin tahu.
"Kalian kosongkan tahta dan tinggalkan istana sebelum kami membumi hanguskan kalian!" kata Dhafin bernada mantap.
Raja Ghanim tersenyum haru mendengar ucapan Dhafin. Hatinya amat senang sebentar lagi dia terbebas dari dosa yang berkepanjangan.
Dari perkataan Dhafin itu dia dapat memahami kalau masih ada keturunan kakaknya yang masih hidup yang nantinya akan menduduki tahta ini. Dan akan memerintah Kerajaan Bentala dengan adil sebagaiman ayahandanya waktu dahulu.
Sementara Bunda Suri amarahnya sudah sampai di ubun-ubun. Sedangkan Pejabat Choman matanya melotot besar seolah hampir copot saking marahnya.
Selir Heliana betul-betul menghina sekaligus meremehkan kekuatan mereka.
Penghinaan ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Mereka harus memberi pelajaran kepada Selir Heliana sekaligus memberi tahu kalau mereka tidak bisa dianggap enteng.
"Kami beri waktu 15 hari mulai dari sekarang untuk mengosongkan istana," kata Dhafin selanjutnya. "Jika kalian tidak menuruti permintaan kami, jangan salahkan kami bertindak lebih jauh."
"Keparat!" Bunda Suri tidak bisa lagi menahan amarah mendengar ucapan Dhafin yang jelas-jelas meremehkan kekuasaannya. "Kalian benar-benar tidak menyadari kalau sedang berhadapan dengan gunung yang kokoh!"
"Bunuh kedua bocah itu!"
Raja Ghanim tidak bisa lagi menghalangi kemarahan bundanya. Dia hanya bisa berdoa semoga kedua pemuda itu bisa mengatasi pasukan bundanya.
Sementara Pejabat Choman baru saja berdiri, seketika dia langsung terlilit oleh belitan mantra Dhafin. Meski tidak terlalu kuat tapi membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa selain hanya memaki-maki panjang pendek.
Yang maju menyerang Dhafin dan Brian hanyalah jawara elit istana yang berjumlah hampir 300 orang. Tapi apakah mereka mampu menghadapi kesaktian Dhafin dan Brian?
__ADS_1
★☆★☆★