Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 139 SAATNYA MELUPAKAN MASA LALU DAN MEMULAI DENGAN HARAPAN BARU


__ADS_3

Melepas untuk merelakan rasanya teramat sulit sekali. Tapi itulah yang dirasakan Jenderal Jessica saat ini.


Bertahun-tahun dia merawat ingatannya agar selalu mengingat akan orang yang dia temui cuma sekali waktu kecil dulu.


Bahkan orang yang dia temui itu berhasil dia bentuk dalam imajinasinya, terus dia ilustrasikan dalam bentuk lukisan. Dan lukisan itu tepat sekali, nyaris sama persis dengan orang yang selama ini selalu diingat-ingat ketika dia berjumpa dengan orang tersebut.


Orang yang dimaksud tidak lain adalah Dhafin. Ya, Dhafin yang selama ini selalu diingat-ingatnya.


Gadis cantik itu senantiasa memupuk benih cinta di dalam hatinya. Dan ketika bertemu Dhafin hasil pupukannya itu dia persembahkan langsung kepada Dhafin.


Akan tetapi khayalan tidak sesuai kenyataan. Dhafin tidak menerima cintanya, hasil pupukannya selama ini. Rasanya sungguh sakit sekali sampai ke tulang sum-sum.


Yang pada akhirnya dia harus melepas kepergian pujaan hatinya itu. Dan merelakan dia bersama Yang Mulia Ratu, junjungannya sendiri.


Dibandingkan dengan Yang Mulia Ratu, diri tidak ada apa-apanya, dia kalah segala-galanya. Kalah kedudukan, kalah kehebatan, dan yang terpenting dia kalah cantik dengan Yang Mulia Ratu.


Perlahan dia masukkan tangannya ke balik bajunya. Lalu mengambil lipatan kertas yang terlukis Dhafin di dalamnya. Dibukanya lipatan kertas itu, lalu ditatap lekat-lekat gambar Dhafin yang terlukis di situ.


Tampak air matanya mengalir membasahi pipi halus mulusnya. Jemarinya yang lentik membelai lembut gambar itu.


"Mungkin kita ditakdirkan tidak untuk bersama," gumamnya bernada lirih.


"Atau mungkin aku yang terlalu banyak berharap.... Mengharapkan sesuatu yang ternyata tidak mungkin aku gapai...."


Perlahan dia meremas kertas di tangannya itu sambil memejamkan matanya dengan perlahan pula.


"Sadarlah, Jessica, sadar!" gumamnya masih berbicara sendiri. "Kamu itu bukan siapa-siapa. Jangan terlalu banyak berharap. Karena yang kamu harapkan itu tidak mungkin kamu dapatkan...."


"Saatnya kamu melupakan semua kenangan masa lalu. Dan mulailah hidup dengan harapan yang baru...."


Sepasang mata indahnya yang tadi tertutup, kini perlahan kembali terbuka. Terus menatap kertas yang sudah diremas di telapak tangan kanannya.


Kemudian dia mengerahkan energi saktinya berhawa panas ke telapak tangannya yang masih menggenggam remasan kertas berlukiskan Dhafin.


Tak berapa lama kertas itu seketika hangus terbakar mengepulkan asap tipis. Hingga akhirnya kertas itu telah berubah menjadi abu.


Kemudian dihempaskan ke udara abu pembakaran kertas tadi hingga menjadi serpihan-serpihan kecil dan angin menerbangkannya.


"Saatnya melupakan masa lalu dan memulai hidup dengan harapan baru," gumamnya sambil tersenyum ceria.


Setelah itu dia balikkan badan, terus menggerakkan kaki hendak melangkah. Tapi baru satu langkah kakinya bergerak....


"Ah!"


Kontan saja dia terkejut bukan main hingga dia terlonjak selangkah ke belakang. Entah sejak kapan datangnya, tahu-tahu di depannya berjarak 5 langkah telah berdiri Pangeran Revan.


★☆★☆


Sejenak dia tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya terdiam sambil membulatkan mata serta membulatkan bibir legitnya.


Sedangkan pemuda berwajah dingin bercampur duka itu masih terdiam juga di tempatnya sambil menatap lembut Jessica yang masih terperangah.


"Saya mencari nona, tahu-tahu ada di sini," kata Pangeran Revan seolah menyapa. Nadanya kalem penuh tata krama.


"Sejak kapan Pangeran ada di sini?" tanya Jessica seakan tanpa sadar. Soalnya dia masih dalam mode terkejut.


"Sepertinya itu tidak penting, Nona Jessica," kata Pangeran Revan seakan mengabaikan pertanyaan Jessica, tapi masih bersikap sopan. "Yang terpenting adalah Nona harus bisa melupakan masa lalu, dan memulai hidup baru dengan harapan baru."


Jessica tercekat mendengar ucapan Pangeran Revan barusan. Dia menduga Pangeran Revan sepertinya sudah cukup lama berada di taman ini. Buktinya dia bisa menirukan gumamannya tadi.


Sejurus kemudian Jessica memasang wajah judes sambil melengos ke arah lain. Terus terdengar dia berkata dengan nada cemberut bercampur ketus.


"Rupanya Pangeran punya kebiasaan buruk juga ternyata. Diam-diam mengamati orang yang lagi sendirian. Apakah maksud Pangeran berbuat demikian?"


Pangeran Revan masih diam saja, tidak mengomentari omelan Jessica barusan. Sepasang mata datarnya masih menatap wajah yang walau tampak judes begitu masih saja cantik.


"Maaf, saya tidak bermaksud mengganggu Nona," kata Pangeran Revan bernada santun. "Saya tidak sengaja mendapati Nona dalam keadaan seperti tadi, dan juga tidak sengaja mendengar perkataan Nona."


"Tadi sepertinya Pangeran mengatakan sedang mencari saya," kata Jessica masih ketus. "Ada apakah?"

__ADS_1


"Yang lain sudah bersiap-siap," kata Pangeran Revan seolah Jessica sudah mengerti. "Tinggal Nona yang ditunggu."


"Maksudnya?" tanya Jessica seolah tidak mengerti.


"Apakah Nona lupa kalau hari ini kita melakukan pencegatan pasukan Kerajaan Bentala yang akan bergabung ke pusat?" kata Pasukan Revan seolah mengingatkan.


Ya ampun! Kenapa dia bisa lupa? Hari ini memang rencana pencegatan pasukan Kerajaan Bentala yang bermarkas di wilayah barat.


Keadaan perasaan yang kacau benar-benar melalaikannya dari tugas utamanya.


"Maaf, Pangeran, saya..., saya benar-benar lupa," ucapnya dengan wajah memelas. "Sekali lagi saya minta maaf."


Sikapnya yang tadi judes langsung berubah lunak, malah tampak memelas begitu. Seolah dia siap dihukum karena merasa bersalah.


Rupanya yang lain sudah siap. Tinggal dia yang ditunggu. Benar-benar konyol.


"Tidak mengapa, Nona," kata Pangeran bernada bijak. "Asalkan saja Nona tidak lalai ketika perang sedang berlangsung."


Mendengar ucapan itu Jessica hanya bisa tersenyum memelas. Ya, dia tidak boleh lalai dalam perang. Bisa-bisa nyawanya melayang.


"Benar semua sudah menunggu, Pangeran?" tanya Jessica ingin memastikan.


"Ya, semua sudah menunggu, termasuk Yang Mulia Ratu," sahut Pangeran Revan. "Pasukan tidak akan berangkat tanpa Nona. Karena Nona yang lebih paham peta lokasi wilayah barat."


"Aduh, Yang Mulia Ratu pasti marah kepada saya karena sempat lalai," kata Jessica bernada panik. "Bagaimana ini, Pangeran?"


"Tenang saja, Nona," kata Pangeran Revan menenangkan. "Saya rasa Yang Mulia Ratu bisa memaklumi keadaan perasaan Nona."


"Apakah benar begitu?" kata Jessica seakan bebicara pada dirinya sendiri.


"Daripada Nona banyak berpikir, mendingan sekarang kita bergabung bersama yang lain."


"Oh, iya. Mari, Pangeran!"


Jessica hendak melangkah. Tapi cepat dicegat oleh Pangeran Revan. Lantas Jessica bertanya heran.


"Ada apalagi, Pangeran?"


Sejenak Jessica tersenyum mendengar ucapan Pangeran Revan barusan yang seakan ucapan candaan. Lantas berkata bernada pelan bagai menggerutu, tapi Pangeran Revan sempat mendengar.


"Memang kamu sudah mengapa-apakan aku kok...."


"Maksud, Nona?" tanya Pangeran Revan heran.


"Oh tidak, tidak apa-apa, Pangeran," kilah Jessica tak berani memandang sang pangeran.


Setelah itu dia merapikan keadaan dirinya. Tanpa menghiraukan perasaan Pangeran Revan yang masih memikirkan ucapannya tadi.


Setelah merapikan keadaan dirinya yang sedikit kusut, terutama wajahnya yang ternyata masih menempel air mata, Jessica meninggalkan taman itu bersama Pangeran Revan.


★☆★☆


Adanya pergerakan pasukan Kerajaan Bentala ke kotaraja yang bermarkas di wilayah barat cepat diketahui oleh orang-orangnya Ratu Aurellia.


Karena memang Yang Mulia Ratu menyebar petugas rahasianya ke seluruh negeri Kerajaan Bentala.


Dan Yang Mulia Ratu beserta pasukannya sudah menyusun rencana untuk mencegat pasukan itu sampai ke kotaraja, pusat pemerintahan.


Menurut informasi pasukan kerajaan yang akan bertolak ke kotaraja berjumlah sekitar belasan ribu personil. Dan Ratu Aurellia beserta para ahli perangnya sudah mempersiapkan pasukan yang akan menghadapi mereka.


Sementara itu, langit pagi cukup cerah, sedikit awan yang menggantung. Matahari juga masih bersinar lembut.


Tampak prajurit militer dalam jumlah besar bergerak perlahan-lahan melintasi jalan lebar yang di kiri kanannya terdapat pepohonan yang agak rapat.


Pasukan militer itu terdiri dari pasukan infanteri, kavaleri, dan pasukan penembak atau pasukan panah. Komandan perangnya terdiri dari 10 perwira. Sedangkan kepala regu pasukan terdiri dari 100 personil.


Begitu pasukan yang paling depan, yaitu pasukan kavaleri sudah melintasi sebuah tanah lapang yang cukup luas, seketika muncul 12 sosok orang di hadapan mereka berjarak sekitar di bawah 15 tombak.


Sosok-sosok itu layaknya bagai muncul dari dalam tanah. Membuat siapa saja yang sempat melihatnya pasti terkejut.

__ADS_1


Mereka tidak lain adalah Pangeran Revan, Pangeran Pusat, Brian, Aziel, Gibson, Keenan, Kelvin, Hendry, Wilson, Orian, Gibran, dan Dwayne.


Tampak Pangeran Revan maju 2 langkah ke depan. Terus berteriak dengan keras begitu pasukan militer itu semakin mendekat.


"Berhentiii....!!!"


Teriakan itu demikian kerasnya disertai dengan tenaga dalam tinggi. Bumi bergetar cukup hebat, langit seakan hendak runtuh.


Saking hebatnya teriakan Pangeran Revan itu komandan pasukan segera menghentikan semua pasukannya.


"Siapa kalian?" teriak salah seorang komandan perang setelah semua pasukan militer berhenti. "Kenapa menghalangi jalan kami! Apa kalian sudah bosan hidup?"


"Aku akan memberi kepada kalian 2 pilihan," kata Pangeran Revan dengan suara keras tanpa menggubris ucapan sang komandan.


"Kalian memilih jalan terus berarti kalian memilih mati! Atau kalian kembali pulang, tidak bergabung dengan pusat yang berarti kalian memilih untuk hidup!"


"Siapa yang perduli ocehanmu, Bocah Ingusan?" kata sang komandan tidak mengindahkan ucapan Pangeran Revan.


"Pasukan Panah!" teriaknya memerintahkan pasukan panah untuk bersiap.


Pasukan kavaleri langsung membelah ke sisi kiri kanan. Kemudian sekitar 1000-an pasukan panah maju. Busur ditegakkan anak panah dipasang, siap melakukan penembakan tinggal menunggu perintah.


Sementara 12 pendekar hebat itu sudah mempersiapkan jikalau panah sudah diluncurkan.


"Tembaaak...!" teriak sang komandan memerintah.


Tanpa menunggu lama 1000-an anak panah langsung meluncur dengan cepat ke arah 12 pemuda itu.


Akan tetapi masing-masing mereka sudah mempersiapkan perisai tak terlihat di depan mereka.


Maka ketika 1000-an anak panah itu sampai di pagar pelindung di depan mereka, anak-anak panah itu langsung menancap di situ.


Dan kejap berikut masing-masing mereka mendorong kedua telapak tangan mereka ke depan dengan cepat dan kuat. Maka meluncurlah semua anak panah itu dengan amat cepat kembali ke pelontarnya.


Karena lesatan 1000-an anak panah itu amat cepat melebihi datangnya tadi, juga para pasukan tidak ada yang menyangka kalau akan terjadi seperti itu, maka semua anak panah itu menancap di tubuh mereka tanpa ampun.


"Aaa....!"


"Aaakh...!"


Sebentar saja sudah terdengar jeritan kematian saling sahut menyahut. Ditingkahi tumbangnya para pasukan pemanah.


Apakah aksi 12 pemuda tampan itu sampai di situ saja?


Rupanya tidak. Masing-masing mereka mengerahkan kesaktiannya ke telapak tangan mereka. Lalu bagai ada yang mengomando, mereka dengan cepat melontarkan tenaga sakti mereka ke arah pasukan militer itu.


Maka meluncurlah belasan bola cahaya warna-warni bagai meteor ke arah pasukan militer. Setelah itu 12 pemuda itu seketika lenyap bagai ditelan bumi.


Sementara belasan tenaga sakti itu terus meluncur dengan cepat tanpa dapat dibendung lagi. Maka ketika belasan bola cahaya panas itu menghantam pasukan militer....


Blaaar...! Duaaar...!


Duaar...! Duaaar...! Blaaar...!


Buuummm....!


Duuummm...! Duuummm...!


Buuummm...!


Pagi itu sudah dijadikan kiamat oleh 12 pemuda tadi. Langit seakan hendak runtuh. Bumi bergetar amat keras bagai terjadi lindu yang amat dahsyat.


Belasan tenaga sakti itu telah menggila, menggetarkan seantero tempat itu menghantarkan gelombang ledakan yang amat besar yang menyebar ke segala arah.


Debu tebal berterbangan ke udara. Batu kerikil-kerikil berhempasan ke segala penjuru.


Sementara ribuan pasukan militer terhempas bagai daun kering sambil menjerit keras seakan hendak mengalahkan suara ledakan belasan tenaga sakti.


Bukan saja pasukan militer itu yang terkena imbasnya. Kuda tunggangan mereka juga ikut terhempas melayang sambil meringkik menjerit menyedihkan.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2