Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 168 PERTEMUAN TIGA BIDADARI MILIK PANGERAN AGUNG Part. 2


__ADS_3

"Aku tidak menyangka kalau persoalan ini menyangkut tentang ramalan," gumam Ratu Aurellia sambil menatap ke arah pintu ruangan yang tertutup rapat. Nada suaranya terselip rasa pilu yang dalam.


"Kak Dhafin memang pernah bilang padaku," lanjutnya, "kalau hubungan cinta kami tidak bisa disatukan dalam pernikahan, karena menurut ramalan hal itu akan menyebabkan hancurnya 3 negeri...."


Ratu Aurellia menyebut Pangeran Ghavin dengan nama panggilan atau nama samarannya Putri Athalia maupun Putri Arcelia tidak heran lagi. Karena mereka memang sudah mengetahuinya.


"Apakah kalian mengetahui tentang hal ini juga?" Ratu Aurellia beralih memandang Putri Athalia dan Putri Arcelia.


Baik Putri Arcelia maupun Putri Athalia mengetahui tentang ramalan tersebut. Putri Arcelia mengetahuinya dari pendeta tua yang datang ke rumahnya waktu itu.


Sedangkan Putri Athalia, di samping sumbernya dari pendeta tua, juga bersumber dari Nenek Kaira. Jadi dia mengetahuinya dari 2 sumber terpercaya. Sehingga hatinya benar-benar kuat untuk percaya akan kebenaran tentang ramalan tersebut.


"Ya," sahut Putri Athalia seakan mewakili Putri Arcelia menjawab, "kami juga mengetahui tentang hal itu, Yang Mulia. Tapi apakah Yang Mulia Pangeran belum memberi tahu kepada Yang Mulia tentang syarat agar kalian bisa bersatu dalam pernikahan?"


"Kak Dhafin memang sudah memberi tahu padaku tentang hal itu," kata Yang Mulia Ratu mengaku. "Hanya saja...."


"Hanya saja apa, Ratu Aurellia?" tanya Putri Arcelia langsung karena Yang Mulia Ratu menggantung ucapannya. Nadanya masih datar.


Ratu Aurellia tidak lantas menjawab pertanyaan Putri Arcelia. Dia malah menatap gadis cantik itu cukup lama. Binar matanya menyorotkan keheranan atas sikap Putri Arcelia yang agak judes.


Apakah gadis itu membencinya? Kalau membenci, alasannya apa? Bukankah mereka baru bertemu?


Apakah Putri Arcelia tidak senang dengan pertemuan seperti ini?


Sedangkan Putri Athalia juga merasa heran dengan sikap judesnya Putri Arcelia terhadap Ratu Aurellia. Padahal dengannya baik-baik saja, tidak ada masalah. Gadis itu juga malah menghormatinya sebagai layaknya orang yang lebih tua umurnya.


Putri Arcelia juga tidak bersikap judes padanya, bahkan mau diajak bercanda.


Tapi kenapa sikapnya begitu kepada Ratu Aurellia? Apakah gadis cantik itu tidak suka terhadap sang ratu? Kalau tidak suka sebabnya apa?


"Hanya saja kamu belum bisa menerima kenyataan akan ramalan tersebut," kata Putri Arcelia menebak isi kepala Ratu Aurellia. "Apakah begitu, Ratu Aurellia?"


Bola mata Ratu Aurellia sedikit membesar pertanda terkejut atas ucapan Putri Arcelia yang tepat itu. Dia memang belum bisa menerima kenyataan kalau Dhafin ditakdirkan memiliki 3 istri.


"Aku tidak pernah berpikir kalau kekasihku kelak akan membagi cintanya kepada wanita lain," kata Ratu Aurellia mengungkapkan isi hatinya. "Akan tetapi orang yang amat aku cintai justru ditakdirkan memiliki lebih dari satu cinta. Bagaiman bisa secepat itu aku sanggup menerimanya?"


"Boleh hamba berbicara, Yang Mulia?" kata Putri Athalia penuh sikap hormat.


"Bicara saja, Putri Athalia, tidak usah sungkan," kata Ratu Aurellia berusaha bersikap bijak. "Kita sama-sama wanita di sini. Apa yang mau diutarakan, ungkapkan saja. Tidak usah ditahan-tahan."


Dalam hati Putri Arcelia tersenyum melihat sikap bijak sang ratu. Dia tahu suasana hati Ratu Aurellia dalam keadaan tidak baik-baik saja. Namun sang ratu masih mampu mengontrol sikapnya sebagai seorang ratu yang berhati mulia lagi bijaksana.


★☆★☆


"Pendirian Yang Mulia itu pada dasarnya tidak jauh beda dengan apa yang diinginkan oleh kebanyakan wanita pada umumnya," kata Putri Athalia berkomentar.

__ADS_1


"Sebentar, Putri Athalia," kata Ratu Aurellia menyela ucapan Putri Athalia. "Bisakah kamu bersikap biasa saja kepadaku dan memanggilku dengan sebutan nama, sebagaimana yang dilakukan Putri Arcelia?"


"Hamba tidak berani seperti itu, Yang Mulia," kata Putri Athalia tetap bersikap hormat.


"Kita hanyalah mitra, bukan antara junjungan dengan bawahan," kata Ratu Aurellia seolah mengingatkan.


"Tapi, Yang Mulia...."


"Tolonglah, Putri Athalia! Aku harap kamu tidak membantah permintaanku," kata Ratu Aurellia memaksa dengan halus.


Akhirnya Putri Athalia menyetujui permintaan sang ratu. Kemudian mereka saling menanyakan umur untuk menentukan siapa yang dipanggil kakak atau kanda.


Diketahui bahwa Putri Athalia berumur 20 tahun. Selisih 4 bulan lebih muda dari Dhafin. Sedangkan Ratu Aurellia sudah berumur 19 tahun lebih. Sementara Putri Arcelia genap 18 tahun bulan ini.


Dengan demikian Putri Athalia yang lebih kakak di antara mereka bertiga. Dan dia menyetujui Ratu Aurellia memanggilnya dengan sebutan kanda, sebagaimana yang sudah dipraktekkan oleh Putri Arcelia.


Setelah mereka saling bersepakat demikian, dan Putri Athalia mengulangi ucapannya yang tadi, lalu dia melanjutkan.


"Akan tetapi kalau sudah menyangkut tentang masalah takdir, prinsip pribadi dapat dikalahkan olehnya...."


"Dinda Ratu, takdir sudah menentukan kalau Yang Mulia Pangeran Ghavin adalah cinta sejatimu. Maka kamu harus menerima takdirmu tersebut," lanjut Putri Athalia, "meskipun kamu berpendirian kalau kekasihmu hanya mencintai kamu saja, tidak kepada wanita lain."


Ratu Aurellia terdiam sejenak memikirkan ucapan Putri Athalia yang penuh kebijaksanaan itu. Ucapan itu memanglah benar. Takdir langit memang sudah menentukan kalau dia mempunyai kekasih yang kelak akan beristri 3 wanita.


"Kamu mau tanya apa, Dinda Ratu?" tanya Putri Athalia ingin sekali tahu.


"Kalian pasti juga mencintai Kak Dhafin. Betul bukan?"


Tanpa berbasa-basi masing-masing kedua gadis cantik itu menjawab kalau mereka memang mencintai Pangeran Ghavin.


"Apakah kalian juga mengharap kalau Kak Dhafin akan membalas cinta kalian?"


"Ya," sahut Putri Athalia dengan mantap, tanpa berpikir lama, "dalam hati aku berharap Yang Mulia Pangeran juga mencintaiku...."


"Tapi aku tidak akan memaksa beliau untuk mencintaiku. Aku saja yang mencintainya itu sudah cukup."


Ratu Aurellia beralih menoleh pada Putri Arcelia, ingin tahu kejujuran hatinya. Sedangkan Putri Arcelia tidak biarkan sang ratu menunggu lama langsung menjawab.


"Aku melihat Yang Mulia Pangeran sudah begitu berat memikul beban takdirnya," kata Putri Arcelia yang kali ini tidak lagi bernada datar, tapi mengandung kepiluan yang mendalam. "Aku tidak mau lagi menambah beban yang dipikulnya...."


"Sudah cukup bagiku mencintainya saja, tanpa berharap Yang Mulia Pangeran akan membalas cintaku," lanjutnya.


"Aku pernah mengalami penderitaan akibat terkena penyakit sejenis korengan selama 8 tahun," lanjutnya mengungkap riwayat hidupnya kepada sang ratu.


Nada suaranya semakin pilu. Sepasang mata indahnya sudah berkaca-kaca. Dan sukses membuat perasaan Ratu Aurellia terbawa arus keharuan.

__ADS_1


"Aku hampir tidak pernah berpikir kalau penyakitku itu bakalan sembuh. Sedangkan percobaan bunuh diri sudah beberapa kali aku lakukan...."


"Namun aku masih bisa bertahan hidup dengan sebuah ramalan kalau kelak ada sorang pangeran yang bakalan menyembuhkan penyakitku...."


"Dan ramalan itu memang benar-benar terjadi. Seorang pangeran telah menyembuhkan penyakitku. Pangeran tersebut adalah Yang Mulia Pangeran Ghavin...."


"Bahkan Yang Mulia Pangeran tak hanya menyembuhkan penyakitku, melainkan telah menjadikan diriku ke dalam rupa yang baru, seperti yang kamu lihat sekarang ini, Ratu Aurellia...."


Ratu Aurellia sudah benar-benar hanyut dalam keharuan. Mata indahnya sudah berkaca-kaca pula. Kisah perjalanan hidupnya hampir tidak jauh beda dengan dirinya.


"Orang yang begitu berjasa besar terhadap diriku, bahkan mencintainya sebenarnya aku merasa berdosa. Pantaskah aku membebani dirinya untuk membalas cintaku?"


"Lebih dari itu aku ternyata diramalkan bagian dari jodoh Yang Mulia Pangeran Ghavin. Masih pantaskah aku meminta banyak dari beliau?"


Air mata Putri Arcelia yang tadi menggenang di kelopak matanya, kini telah bobol tertumpah mengalir di pipi putih halus nan mulusnya. Bahkan begitu banyak tertumpah.


Sedangkan Ratu Aurellia juga tidak tahan akan suasana haru seperti ini. Air matanya pula langsung tertumpah tanpa dapat dicegah.


Sementara Putri Athalia juga tidak menyangka kalau Putri Arcelia akan mengungkapkan isi hatinya yang terpendam selama ini di hadapan Ratu Aurellia.


Sebenarnya dia sudah mendengar Putri Arcelia berkisah tentang dirinya sewaktu mereka masih di rumah sang putri. Tapi tak urung hal itu masih juga berhasil menggugah keharuannya. Sehingga membuatnya meneteskan air mata.


Sementara pula, mungkin saking terharunya, baik Ratu Aurellia maupun Putri Athalia hanya mampu mendengar ungkapan perasaan Putri Arcelia yang terpendam di dalam hatinya.


★☆★☆


"Yang Mulia Pangeran Ghavin merupakan manusia istimewa yang tercipta di kolong langit ini, Ratu Aurellia," kata Putri Arcelia di tengah derai air matanya.


"Kamu ditakdirkan bakal menjadi permaisurinya adalah anugerah terindah dan terbesar sepanjang hidupmu kalau kamu mau merenungkannya. Kalau begitu, pantaskah kamu hanya mendominasi cinta seorang manusia seperti Yang Mulia Pangeran?"


"Seharusnya kamu merasa bersyukur, di samping kamu dianugerahi mencintai Yang Mulia Pangeran, ternyata Yang Mulia Pangeran juga mencintai dirimu. Bahkan kamu adalah cinta sejatinya."


"Dan asal kamu tahu, Dinda Ratu," kata Putri Athalia seakan menyambung penuturan Putri Arcelia, "tidak ada yang berebut cinta denganmu untuk mendapatkan cinta Yang Mulia Pangeran."


Mendengar semua penuturan Putri Arcelia, ditambah lagi mendengar ucapan Putri Athalia, membuat Ratu Aurellia merasa bersalah.


Merasa bersalah terhadap takdir yang coba dia tentang. Merasa bersalah terhadap anugerah yang begitu besar yang Penguasa Langit berikan padanya.


Terutama merasa bersalah terhadap Dhafin alias Pangeran Ghavin Aldebaran yang ternyata harus menjalani takdir yang begitu berat membebaninya hanya untuk mendapatkan cinta sejatinya.


"Maafkan aku, Kanda Ghavin, yang tidak berusaha memahami keadaan dirimu yang sebenarnya," gumamnya bernada lirih berbicara sendiri.


Putri Arcelia tersenyum haru saat mendengar ucapan tulus dari seorang ratu yang baik hati dan berhati mulia, yang semakin membuatnya kagum.


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2