Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 72 PERTEMUAN DENGAN 4 KEPALA KAMPUNG 2


__ADS_3

Melihat 3 kepala kampung yang sudah bersitegang begitu, Pangeran Revan berbicara lagi dengan sopan santun serta gaya bahasa yang indah dan bagus.


"Seharusnya Tuan-tuan semua tidak bisa menitikberatkan kesalahan pada seluruh penduduk Kampung Naraya melulu hanya lantaran mereka menolong seorang nyonya dan anak kecil."


"Tapi yang mereka tolong adalah pemberontak, Tuan Revan," kata Tetua Witton masih berusaha mencari pembenaran meski nada suaranya sedikit lunak dari ketiga kepala kampung lainnya. "Mana bisa hal itu tidak dikatakan sebuah kesalahan."


"Siapa yang menyatakan kalau bocah itu adalah pemberontak?" tanya Pangeran Revan masih bernada kalem dan sopan. "Apakah kalian yang menyatakannya atau pemerintah yang sekarang?"


Tiga kepala kampung itu terdiam sambil menatap Pangeran Revan dengan miris. Mereka tidak bisa menjawab pertanyaan itu tapi tahu jawabannya apa.


Pemerintah-lah yang menyatakan kalau keturunan Raja Neshfal Abraham sebagai pemberontak. Tapi mereka sebagai penduduk hanya bisa membeoi opini itu tanpa berani membantah.


Mereka tidak boleh mempunyai opini lain selain apa yang dilontarkan oleh penguasa kalau tidak mau urusan mereka akan berujung kematian.


"Sebenarnya kalian tahu kalau pemerintah-lah pemberontak yang sesungguhnya," kata Brian dengan santainya sekaligus memecah kebisuan beberapa saat. "Hanya saja kalian tidak berani mengungkapkan karena takut dengan pemerintahan sekarang. Iya 'kan?"


Semua kepala kampung yang ada di situ jelas terkejut mendengar ucapan Brian yang begitu berani itu. Tidak terkecuali Tetua Darius.


Meskipun mereka tahu apa yang terjadi sebenarnya pada hampir 20 tahun yang lalu, tapi mereka lebih memilih bungkam. Mereka rakyat kecil tidak bisa berbuat apa-apa melawan kekuasaan pemerintah yang begitu besar.


Tapi Brian yang notabene orang yang baru datang di daerah ini berani menyatakan secara terang-terangan akan hal itu. Apakah dia dan rekannya itu punya kekuatan yang bisa menandingi pemerintah?


"Saya harap kalian berdua jangan mempersulit keadaan kami di sini," kata Tetua Witton mengalihkan pembicaraan bernada datar. "Sebaiknya kalian tinggalkan saja daerah ini kalau tidak mau permasalahan akan bertambah runyam."


"Kami datang ke sini untuk menawarkan bantuan," kata Brian tidak tersinggung dengan ucapan tetua itu. "Kenapa malah kalian menganggap kami mempersulit keadaan kalian?"


"Asal kalian tahu," kata Tetua Simon bernada tajam dan sinis, "kedatangan kalian di sini bukannya membantu, malah membuat keadaan semakin runyam."


"Apa kalian pikir keberhasilan kalian mengalahkan prajurit istana membuat kami senang?" kata Tetua Carlos dengan nada sinis menyambung ucapan rekannya. "Perbuatan kalian yang sok hebat itu membuat kami makin resah."


"Jadi kalian tetap beranggapan," kata Pangeran Revan masih bernada kalem, "kalau membiarkan prajurit istana membantai habis seluruh penduduk Kampung Naraya akan menyelesaikan permasalahan? Masalah akan selesai sampai di situ?"


"Tuan benar," kata Tetua Simon dengan cepat tanpa berpikir dulu. "Bukankah itu solusi yang terbaik ketimbang harus mengorbankan 3 kampung lainnya yang tidak punya masalah dengan pemerintah?"


Ucapannya itu tidak disanggah oleh 2 tetua yang sehaluan dengannya seakan mereka satu pendapat.


Sedangkan Tetua Darius masih diam saja sedari tadi. Tapi bukan berarti dia setuju dengan pikiran picik dari ketiga kepala kampung itu. Sepertinya dia menanti momen berbicara yang paling tepat.


"Sayang sekali kami tidak sependapat dengan kalian yang hanya memikirkan diri sendiri," kata Pangeran Revan masih dengan kalem. "Kami tetap harus membantu penduduk Kampung Naraya dan penduduk manapun yang tertindas oleh pemerintah yang zolim."


"Musibah yang menimpa Kampung Naraya adalah hasil dosa mereka di masa silam, Tuan Revan," kata Tetua Carlos masih bersikukuh dengan pendapat mereka. "Lagi pula mereka sudah dicap sebagai pemberontak karena telah menolong pemberontak."


"Apakah karena mereka menolong seseorang yang dianggap pemberontak oleh pemerintah," kata Brian dengan nada tajam, "terus kalian ikut-ikutan juga menganggap penduduk Kampung Naraya sebagai pemberontak?"


"Terus kalian menanggalkan rasa kemanusiaan kalian," lanjutnya masih bernada tajam, "dan tidak mau menolong mereka."


"Atau jangan-jangan kalian semua punya dendam kepada penduduk Kampung Naraya?" kata Pangeran Revan meyelidik.


"Atau malah kalian sengaja melapor yang tidak-tidak kepada pihak istana seolah-olah di kampung ini adalah sarang pemberontak?" kata Brian menambahkan.


"Jaga bicara kalian!" bentak Tetua Simon yang memang tidak bisa menahan emosi dengan berang. "Jangan asal menuduh sembarangan!"

__ADS_1


"Kalau memang tidak benar, tidak usah sampai marah-marah begitu, Pak Tua," kata Brian sambil tersenyum santai. "Santai saja."


"Tetua Darius! Kenapa kamu dia saja dari tadi?" kata Tetua Witton beralih menatap tajam pada Tetua Darius. "Apa kami punya dendam dengan kalian?"


Meski Tetua Witton berkata dengan nada tajam dan datar, tapi dia tetap menjaga intonasi suaranya agar tetap lunak, tidak menampakkan kearoganan.


★☆★☆


Tetua Darius tidak lantas menjawab pertanyaan Tetua Witton. Sejenak dia menghela napas seolah hendak melonggarkan suaranya yang hendak berkata. Tak lama terdengar dia berucap dengan nada tenang dan santun.


"Sejak saya kecil sampai saya tua seperti sekarang ini, saya belum pernah mengetahui kalau penduduk Kampung Naraya punya masalah dengan penduduk kampung yang lain, apalagi dendam."


"Tapi entah kalau kalian punya dendam dengan kami atau tidak saya tidak tahu," lanjut Tetua Darius. "Kalian sendiri yang tahu."


"Apa kamu sependapat dengan pemuda bercamping hitam ini," tanya Tetua Simon bernada sinis, "yang menuduh kami melapor yang tidak-tidak ke istana sehingga Kampung Naraya dituduh sebagai sarang pemberontak?"


Mendengar ucapan kepala kampung itu Brian cuma tersenyum santai saja. Sedangkan Pangeran Revan masih pada mode tenang.


Melihat sikap peremehan yang ditujukan oleh 3 kepala kampung itu sebenarnya membuat hati panas dan emosi. Apalagi mereka meninggikan suara segala. Sikap mereka itu benar-benar tidak menganggap Pangeran Revan dan Brian, apalagi Tetua Darius.


"Bagi saya tidak ada lagi gunanya memikirkan hal itu," kata Tetua Darius dengan tenang. "Yang saya pikirkan sekarang bagaimana agar supaya penduduk Kampung Naraya yang tinggal sedikit itu bisa selamat dari incaran prajurit istana."


"Apakah itu berarti kamu menerima bantuan orang-orang asing ini, Tetua Darius?" tanya Tetua Carlos bernada tajam.


Pertanyaan itu sebenarnya mengandung intimidasi. Tapi Tetua Darius tidak perduli dan menjawab pertanyaan itu dengan tenang.


"Ada orang yang perduli terhadap nasib penduduk Kampung Naraya dan dengan sukarela menawarkan pertolongan, kenapa saya harus menolaknya?"


"Apa kamu sudah memikirkan keputusanmu itu, Tetua Darius?" tanya Tetua Witton mencoba mempengaruhi pendirian Tetua Darius. "Bagaimana jika mereka punya maksud terselubung di balik pertolongan mereka itu?"


"Menerima bantuan dari orang-orang yang baik kenapa harus pikir-pikir segala dan kenapa harus dicurigai?" kata Tetua Darius masih dengan sikap tenangnya. Menunjukkan kalau dia tidak terprovokasi.


"Rupanya kamu sudah teracuni oleh sikap baik mereka yang baru beberapa hari tinggal di kampungmu," dengus Tetua Carlos bernada sinis. "Dan kamu sudah menganggap mereka adalah orang-orang yang baik."


Pangeran Revan dan Brian masih diam, masih tenang. Tapi pandangan mata mereka terus mengamati ketiga kepala kampung itu yang terus berbicara seenak udel. Mereka biarkan dulu Tetua Darius yang bicara.


Saya bisa menyimpulkan dari semua ucapan kalian kalau kalian tidak mau menerima bantuan dari Tuan Revan, apalagi mau bekerja sama," kata Tetua Darius menebak. "Apa ucapan saya benar?"


"Apa perlunya kami bantuan mereka yang belum tentu nyata kehebatannya?" kata Tetua Carlos dengan nada meremehkan.


"Lagi pula kami yakin prajurit istana tidak bakalan menyerang kampung kami," kata Tetua Simon seakan menandaskan. "Jadi kami tidak butuh bantuan."


"Kalian terlalu berani mengambil sikap dan begitu percaya diri," kata Tetua Darius menyesalkan sikap keras kepala 3 kepala kampung itu. "Apa yang kalian andalkan sebenarnya?"


"Apakah yang kalian andalkan sebagian warga kalian yang pandai beladiri itu?" Pangeran Revan yang berkata dengan nada tanya.


Tetua Simon dan Tetua Carlos lantas terkejut mendengar ucapan Pangeran Revan. Tetua Witton sebenarnya juga terkejut, tapi tidak sekentara 2 kepala kampung itu.


Ketiga kepala kampung tidak menyangka kalau Pangeran Revan rupanya sudah tahu kalau sebagian warga mereka ada yang mempunyai ilmu beladiri. Padahal mereka sudah menyembunyikan identitas mereka serapat mungkin.


Pihak istana saja belum mengetahui sampai sekarang kalau sebagian warga mereka ada yang memiliki beladiri. Padahal keempat kampung di daerah ini tidak lepas dari pantauan prajurit keamanan Kota Bahir.

__ADS_1


Namun Pangeran Revan yang baru 8 hari berada di daerah ini sudah mengetahuinya dengan mudah.


"Ingatlah! Kalau sampai orang istana mengetahui hal tersebut, kalian bisa juga dituduh sebagai pemberontak," kata Pangeran Revan seakan mengintimidasi.


"Tidak perlu Tuan menggurui kami," kata Tetua Simon dengan kasar dan agak keras. "Kami tahu apa yang akan kami lakukan!"


Setelah itu dia berdiri dengan cepat, lalu mengajak kedua rekannya untuk tinggalkan kediaman Pangeran Revan.


"Ayo kita tinggalkan tempat ini! Pertemuan ini ternyata tidak ada artinya."


Tetua Carlos dan Tetua Witton lantas berdiri juga. Terus mereka melangkah keluar mengikuti Tetua Simon yang sudah melangkah terlebih dahulu.


Langkah mereka begitu tergesa-gesa dan lebar-lebar seolah ingin cepat-cepat meninggalkan kediaman sederhana ini.


★☆★☆


Tidak lama kemudian, setelah melakukan obrolan beberapa lama, Tetua Darius juga meninggalkan kediaman Pangeran Revan.


Yang tinggal hanya Pangeran Revan dan Brian. Tapi tak lama kemudian, 5 orang pemuda tampan masuk menemui kedua pangeran itu.


Kelima pemuda tampan itu tak lain adalah pendekar sakti Markas Centaurus. Mereka antara lain: Kelvin, Wilson, Dwayne, Orian, dan Gibran.


Sebenarnya para jawara Markas Centaurus yang sudah ditetapkan bertugas di daerah ini ada 8 orang. Yang 5-nya sudah disebutkan. Sedangkan yang 2-nya tidak lain adalah Gibson Kyler dan Hendry.


Namun kedua pemuda itu sudah ditugaskan keluar untuk menangani tugas rahasia.


"Kalian terlalu lembek menghadapi 3 kepala kampung brengsek itu!" dengus Kelvin mengomeli Pangeran Revan dan Brian. "Kenapa kalian tidak jitak saja kepala mereka yang dungu itu satu per satu?"


"Pangeran. Ketiga kepala kampung tadi jelas-jelas meremehkan kekuatan kita," kata Gibran bernada menegur. "Kenapa tidak dikasih sedikit pelajaran biar mereka bisa tahu diri?"


Si Gibran ini tidak mendengus atau mengomel. Tapi makna ucapannya sama dengan Kelvin.


"Sudahlah! Kalian duduk dulu!" pinta Pangeran Revan bernada memerintah.


Tidak lama kemudian, 9 pemuda tampan itu sudah terlibat dalam percakapan semacam rapat untuk membicarakan langkah-langkah apa yang akan dilakukan berikutnya.


Brian yang memiliki firasat tajam mengatakan kalau prajurit istana sudah bergerak menuju Kota Bahir. Entah kapan kepastian sampainya, menunggu kabar dari Hendry yang ditugaskan ke kotaraja memantau pergerakan pasukan istana.


Dalam rapat itu mereka menyepakati bahwa mereka akan tetap mengamankan seluruh penduduk kampung dari amukan prajurit istana.


Hanya saja bagaimana cara mengamankannya, mereka perlu berunding juga dengan pihak pasukan Istana Centauri yang sementara belum ada di daerah ini.


Berapa jumlah pasukan dari Markas Centaurus yang harus disiapkan di sini mereka bahas pula. Dan sementara jumlah Pasukan Jubah Merah yang sudah ada di sini sekitar 100 personil.


Sementara berapa jumlah pasukan yang dikerahkan oleh pihak istana menunggu kabar dari Hendry yang akan ke sini dalam satu dua hari ini.


Kesembilan pemuda tampan itu terus saja mengadakan rapat hingga larut malam. Mereka telah menyepakati poin-poin yang menjadi tugas di kesatuan mereka selaku Pasukan Jubah Merah.


Ada poin-poin lain yang juga mereka telah sepakati. Tapi poin-poin itu masih harus dibicarakan dengan pihak pasukan Istana Centauri selaku patner pasukan mereka.


Kesembilan pemuda itu tidak hanya berwajah tampan dan memiliki kesaktian yang tinggi. Akan tetapi mereka juga berotak jenius. Bayangkan saja mereka bisa mencetuskan ide-ide yang brilian.

__ADS_1


Terkadang mereka saling berselisih pendapat dalam mengajukan usulan. Sampai Pangeran Revan kadang bingung sendiri mau memutuskan yang mana dari pendapat mereka itu, karena pendapat masing-masing mereka merupakan pendapat yang bagus.


★☆★☆★


__ADS_2