
"Siapa kalian?" tanya Agam membentak bernada garang setelah agak lama masing-masing mereka bersitatap.
"Aku Pangeran Pusat," sahut Dhafin bernada kalem bersikap tenang. "Dan di sampingku ini adalah Tuan Putri Athalia."
Saat Dhafin menyebut nama Putri Athalia, kedua utusan itu saling melempat pandang sejenak. Beberapa kejap berikut mereka langsung terkejut bercampur heran karena tidak percaya.
Setelah itu mereka menunjukkan ekspresi girang yang amat sangat.
"Hahaha...! Ternyata dugaan Penyihir Hadara benar," kata Agam bernada bernada gembira sambil tertawa kegirangan. "Kamu memang masih hidup, Putri Athalia...."
"Kalau begitu sekarang kami akan membuatmu mampus benaran, Putri Athalia," kata lelaki baju hijau tidak kalah gembiranya.
Kedua lelaki bengis itu nampak senang sekali begitu mengetahui Putri Athalia ada di depan mereka. Seolahnya mereka baru menemukan sesuatu yang selama ini dicari-cari.
Hampir semua orang-orang istana Kerajaan Lengkara tahu kalau pada 2 tahun lebih yang lalu Putri Athalia bertarung melawan utusan Kerajaan Lengkara.
Hampir semua orang-orang istana meyakini kalau Putri Athalia sudah mati terkena pukulan beracun salah seorang utusan itu. Namun Penyihir Hadara meyakini kalau Putri Athalia belum benar-benar mati.
Maka sejak saat itu pemerintah Kerajaan Lengkara memerintahkan orang-orangnya mencari keberadaan Putri Athalia. Mereka menyebarkan orang-orangnya di mana-mana untuk mencari sang putri.
Tujuan pemerintah Kerajaan Lengkara membunuh Putri Athalia tidak jauh beda dengan tujuan mereka hendak membunuh Putri Arcelia.
Diramalkan bahwa keduanya merupakan ancaman bagi kejayaan Kerajaan Lengkara di masa depan. Terkhusus bagi kelanggengan kekuasaan sang perampok tahta, Raja Bastian Lamont.
Maka Raja Bastian memerintahkan orang-orangnya untuk membunuh keduanya.
"Bicaramu lagaknya kayak merasa paling hebat saja," kata Putri Athalia bernada ketus. "Apa kamu tidak lihat tadi temanmu itu mati dengan mudahnya oleh kawanku ini?"
Mendengar ucapan ketus bernada sindiran itu, kedua lelaki bengis itu terkejut kejut sebentar, seolah baru tersadar dari sesuatu yang luput.
Lalu hampir bersamaan mereka kembali menatap Dhafin dengan tajam. Dari gebrakan awalnya yang mengejutkan tadi, kedua utusan itu sudah bisa mereka-reka akan kehebatan Dhafin.
Dan mereka tidak mau menutup rasa kalau mereka mengakui kehebatan Dhafin. Tapi cuma dalam hati saja.
"Pangeran Pusat! Sebaiknya kamu menyingkir dari sini kalau kamu masih sayang nyawamu," kata Agam bernada dingin penuh ancaman.
"Yah, aku memang akan menyingkir dari sini," kata Dhafin bernada santai dan tenang, "tapi setelah menyingkirkan nyawa busuk kalian."
"Keparat! Kami sudah berbaik hati menyuruhmu meninggalkan tempat ini, Pangeran Pusat!" bentak lelaki baju hijau langsung meledak amarahnya. "Apa kamu sudah merasa hebat lantaran sudah membunuh kawan kami dengan mudah?"
"Bukannya yang merasa hebat itu kalian sendiri?" balas Putri Athalia ketus membalikkan ucapan lelaki baju hijau.
"Keparat! Kamu memang benar-benar minta dibikin mampus, Putri Athalia! Hiyaaa...!"
Lelaki baju hijau tidak bisa lagi menahan amarahnya. Berkawal teriakan keras dia langsung melesat ke arah Putri Athalia. Pedangnya yang sudah disarungkan kini dihunus kembali, lalu menyerang Putri Athalia dengan ganas.
Sedangkan Putri Athalia yang memang sudah bersiaga sejak tadi tidak mau kalah. Setelah menghunus pedang dia menyongsong serangan lelaki baju hijau.
Sementara Agam sepertinya tidak mau kalah pula. Dengan gerakan cepat dia melesat ke arah Dhafin sambil menghunus pedangnya kembali. Lalu diayunkan dengan sebat menyerang Dhafin secara beruntun.
Namun Dhafin yang juga memang sudah bersiaga dapat menghindari semua serangan Agam dengan mudah. Meskipun Dhafin belum menggunakan pedangnya.
Hingga akhirnya tidak butuh waktu lama, di awal waktu memasuki malam pertarungan antara Pangeran Pusat dan Putri Athalia melawan 2 utusan Kerajaan Lengkara telah tercipta.
★☆★☆
Malam telah merata membungkus seantero hutan itu dengan jubah kegelapan. Kabut setengah tebal bergelayut menebar hawa dingin meremangkan kuduk.
__ADS_1
Namun suasana yang kurang bersahabat itu tidak menjadi penghalang bagi jalannya pertarungan yang semakin seru.
Seakan bertarung di tempat terang masing-masing petarung dapat melihat serangan dan menangkisnya dengan tepat. Lalu menyerang ke sasaran yang dituju.
Akan tetapi sepertinya cukup bagi Agam maupun lelaki baju hijau meladeni pertarungan Dhafin maupun Putri Athalia. Pertarungan belum sampai 20 jurus Agam maupun lelaki baju hijau harus mengakui kehebatan Dhafin maupun Putri Athalia.
Tampak Putri Athalia membabatkan pedang ke pinggang lelaki baju hijau. Namun masih dapat ditangkis olehnya. Pedang itu kembali bergerak cepat menebas ke leher. Lagi-lagi masih dapat ditangkis. Tapi tangan lelaki baju hijau sudah kesemutan hebat.
Sedangkan pedang Putri Athalia kembali bergerak memutar dengan cepat memenggal tangan lelaki baju hijau yang memegang pedang.
Karena tangan lelaki bengis itu sudah kaku, lagipula gerakan pedang terlalu cepat, dia tidak bisa lagi menghindar. Maka tangannya tertebas pedang itu hingga putus.
Kontan saja dia menjerit kesakitan. Darah segar langsung keluar dari kutungan tangannya yang putus itu.
Sedangkan pedang Putri Athalia masih bergerak. Kali ini kembali mengincar leher lelaki baju hijau dari samping kanan.
Sebenarnya lelaki bengis itu masih saja merasakan sakit pada tangannya yang putus. Tapi dia masih sadar kalau pedang sang putri hendak menebas lehernya. Maka sedapat mungkin dibuang tubuhnya ke belakang.
Namun laju pedang Putri Athalia terlalu cepat. Meski tidak sampai menebas leher, tapi ujung pedangnya berhasil menggorok dalam leher lelaki baju hijau hingga tenggorokannya putus.
Kontan saja lelaki bengis itu melenguh keras bagai sapi digorok. Sedangkan tubuhnya terus meluncur jatuh ke tanah berumput yang sudah basah. Sebentar berkelejotan, lalu diam selamanya. Mampus!
Sementara itu, pertarungan antara Dhafin melawan Agam sepertinya juga sebentar lagi akan berakhir.
Meski Agam bertarung menggunakan pedang, namun pedangnya itu seakan mati kutu berhadapan dengan Dhafin. Pedang itu sama sekali tidak berhasil melukai Dhafin barang segores kecil pun.
Hingga suatu ketika Dhafin dengan berani dan mudah menangkap batang pedang Agam. Dan belum puas Agam terkejut, jemari Dhafin yang telah mengeras mengkeremus pedang itu hingga hancur remuk. Hingga Agam langsung terkejut-kejut.
Tapi belum hilang keterkejutan Agam, Dhafin kembali melancarkan serangan. Telapak tangan kanannya yang berisi tenaga dalam tinggi menggedor dada Agam dengan keras. Sehingga tubuhnya terlempar cukup jauh ke belakang sambil menjerit cukup keras.
Darah segar langsung muntah dari mulutnya yang menganga lebar dan langsung muncrat ke udara. Begitu tubuhnya jatuh di atas tanah berumput, terdengar suara gedebuk yang cukup keras.
★☆★☆
Namun tak lama dia bergerak bangkit. Meski dengan bersusah payah, meski sambil meringis karena dadanya amat sakit, dia paksakan untuk bangkit berdiri.
Hingga akhirnya dia bisa juga bangkit berdiri meski dengan sempoyongan. Pandangannya tampak nanar menatap Dhafin yang berdiri tegak di tempatnya.
Sebentar Agam menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghalau rasa pusing di kepalanya. Kemudian kedua kakinya yang sedikit gemetar direnggangkan ke samping.
Setelah itu Agam menggerak-gerakkan telapak tangan kanannya di depan dada dengan gerakan aneh dan tertentu. Maka tak lama telapak tangannya hingga siku terbungkus sinar hitam pekat. Lalu seketika telapak tangan itu didorong ke depan dengan kuat dan cepat.
Maka selarik sinar hitam berbentuk bulat sebesar kepala berhawa amat dingin meluncur dengan deras dan cepat ke arah Dhafin.
Namun Dhafin yang sudah mengantisipasi serangan jarak jauh itu, langsung mendorong pula telapak tangannya yang sudah terbungkus sinar merah dengan kuat dan cepat.
Maka meluncurlah sebentuk sinar merah bulat sebesar bola yang berkawal hawa panas dari telapak tangannya dengan amat cepat. Dan begitu kedua sinar berbeda jenis itu bertemu pada titik pertengahan....
Blaaarrr....!
Terdengar ledakan cukup keras seakan hendak memekakkan telinga saat kedua sinar itu bertemu pada satu titik tengah.
Begitu cahaya mereka bulat itu menghantam sinar bulat hitam milik Agam, lantas sinar hitam itu langsung pecah menebar ke segala arah.
Sedangkan sinar merah bulat milik Dhafin terus meluncur semakin cepat. Saking cepatnya sinar itu melesat, membuat Agam tidak bisa lagi menghindar. Sehingga bola cahaya merah langsung menghantam tubuhnya tanpa ampun.
Kembali Agam terlempar deras ke belakang sambil menjerit keras. Tapi belum juga tubuhnya jatuh ke tanah, keburu tubuhnya langsung meledak berantakan hingga menjadi serpihan kecil yang menebar ke segala arah.
__ADS_1
Sementara Dhafin, sebentar menengok nasib lawannya yang malang. Setelah itu menghampiri Putri Athalia yang sudah duduk melutut di samping kanan Putri Arcelia. Begitu sampai dia ikut duduk melutut di samping kiri Putri Arcelia.
Tampak Putri Athalia tengah membuka mantra pelindung yang dia pasang di sekujur tubuh Putri Arcelia. Setelah itu dengan tanpa jijik dan risih dia memeriksa keadaan Putri Arcelia.
"Bagaimana keadaannya, Athalia?" tanya Dhafin ketika melihat Putri Athalia sudah selesai memeriksa keadaan Putri Arcelia.
"Dia cuma pingsang, Yang Mulia," sahut Putri Athalia. "Tapi sepertinya dia terkena racun. Mungkin terkena pukulan beracun dari lawannya."
Dhafin tidak mengomentari dulu dugaan Putri Athalia. Dia juga memeriksa keadaan kulit telapak tangan Putri Arcelia yang berwarna merah kehitaman. Telapak tangan itu hampir dipenuhi luka korengan yang sudah kering.
Sebenarnya Dhafin ingin memeriksa wajah Putri Arcelia. Tapi karena tertutup cadar dia urungkan saja. Tidak sopan kalau dia lancang membuka cadar sang putri tanpa izin.
"Dugaanmu benar, Athalia," kata Dhafin seakan memberi tahu. "Dia terkena pukulan beracun."
"Racun apa, Yang Mulia?" tanya Putri Athalia ingin tahu.
"Racun Kelabang Merah," sahut Dhafin.
"Racun Kelabang Merah?!" kata Putri Athalia terkejut.
Kembali dia mengingat kalau pernah dia terkena Racun Kelabang Hitam. Dia jadi berpikir apa ada hubungannya Racun Kelabang Hitam dengan Racun Kelabang Merah?
"Apa 3 orang tadi merupakan salah satu lawanmu pada 2 tahun yang lalu?" tanya Dhafin sambil terus mengamati keadaan luka korengan Putri Arcelia.
"Tidak ada, Yang Mulia," sahut Putri Athalia mengaku. "Lagipula lawan hamba tempo hari lebih hebat dari 3 orang Kerajaan Lengkara tadi."
Setelah puas memeriksa Putri Arcelia, Dhafin mengangkat sang putri dan membawanya ke dalam bopongannya di depannya. Lalu membawanya masuk ke dalam rumah kecil namun bersih itu.
Sedangkan Putri Athalia, setelah memungut pedang Putri Athalia ikut masuk ke dalam rumah.
★☆★☆
"Seharusnya gadis ini sudah mati sajak tadi," kata Dhafin berkomentar setelah memeriksa lagi keadaan Putri Arcelia setelah dibaringkan di atas pembaringannya.
"Tapi karena ada energi pelindung di dalam tubuhnya," lanjutnya, "nyawanya masih bertahan. Tapi sepertinya tidak bisa lama kalau tidak cepat diurus."
"Apa Putri Arcelia masih bisa di selamatkan, Yang Mulia?" tanya Putri Athalia harap-harap cemas.
"Apa kamu yakin gadis ini adalah Putri Arcelia Caitlyne yang kita cari?" Dhafin malah balik bertanya.
Setelah penaklukan Kota Diandara Dhafin dan Putri Athalia sengaja pergi cuma berdua dalam rangka mencari Putri Arcelia.
Sebelumnya mereka pergi ke sebuah kampung terpencil yang masih dalam wilayah Kota Diandara. Menurut keterangan Nenek Kaira, Putri Arcelia tinggal di situ.
Namun begitu mereka ke sana, ternyata Putri Arcelia tidak ada di sana. Akhirnya mereka mencarinya dan menemukannya di tengah hutan ini yang hampir saja dibunuh oleh 3 utusan Kerajaan Lengkara kalau tidak cepat mereka datang.
"Dari ciri-ciri yang disebutkan oleh Nenek Kaira, ada pada gadis ini," kata Putri Athalia.
"Tapi kalau Yang Mulia masih ragu," lanjut Putri Athalia menyarankan, "silahkan Yang Mulia memeriksanya sendiri."
Dari hasil pemeriksaan Dhafin tadi, dia mengetahui bahwa di dalam tubuh Putri Arcelia ada energi sakti bawaan lahir.
"Kita sembuhkan dulu penyakit yang dideritanya," kata Dhafin seakan memutuskan. "Urusan siapa dia bisa belakangan."
Tidak lama kemudian, Dhafin membuat Putri Arcelia mendusin dari pingsannya. Tentu saja Putri Arcelia kaget mendapati orang asing di rumahnya.
Maka Putri Athalia menjelaskan sedikit kenapa mereka bisa berada di rumah sang putri. Lalu menjelaskan kalau Dhafin akan menyembuhkannya.
__ADS_1
Mau tidak mau Putri Arcelia percaya kepada mereka dan mau dengan antusias ingin disembuhkan penyakitnya.
★☆★☆