
Apakah yang terjadi dengan Keenan dan Aziel saat ini? Atau bagaimana kabar mereka dalam kurun 8 tahun ini?
Seperti telah diketahui sebelumnya, kalau kedua orang dan Dhafin itu telah berteleportasi di tempat yang berbeda.
(Untuk mengetahui kisa selengkapnya, silahkan menengok lagi BAB 61 TAHUN KEHILANGAN DAN TERPISAH-PISAH!)
Seharusnya mereka berteleportasi di tempat yang sama. Namun karena ilmu itu belum mereka kuasai secara penuh, akhirnya mereka berteleportasi di tempat yang berbeda-beda dan amat berjauhan.
Aziel berteleportasi di sebuah pulau kecil yang tidak ada penghuninya. Akhirnya dia memutuskan untuk tinggal di pulau kecil itu untuk lebih mendalami ilmu yang belum sempurna dia kuasai.
Perlu diketahui bahwa guru yang selama ini mengajarkan beladiri dan kesaktian kepadanya adalah seorang siluman perempuan yang berhati baik.
Namun anehnya sejak awal bertemu di usianya yang 5 tahun hingga sekarang, gurunya itu masih tampak muda terus seperti wanita berumur 30 tahun yang berwajah cantik rupawan.
Jadi kalau mereka berjalan bersama-sama di tempat umum, tampak seperti kakak beradik, bukan guru murid.
Singkat cerita, waktu sudah tepesat 8 tahun Aziel telah menguasai semua ilmu yang diajarkan gurunya dengan baik dan sempurna.
Sebagai hasil dari menamatkan pelajaran gurunya, maka sang guru cantiknya itu menghadiahkan sepasang pedang pusaka yang dinamakan SEPASANG PEDANG BULAN.
Sepasang pedang itu memang berbentuk melengkung seperti bulan sabit berwarna kuning keemasan.
Untuk memperoleh Sepasang Pedang Bulan tidaklah mudah. Aziel harus bersemedi selama 10 hari berturut-turut tanpa berhenti.
Namun berkat kegigihannya bersemedi, sang guru berubah menjadi sepasang pedang yang dinamakan Sepasang Pedang Bulan dan tergeletak di pangkuan Aziel di akhir waktu dia bersemedi.
Begitu selesai bersemedi dan memegang kedua pedang unik itu, tiba-tiba pedang itu bersuara seperti suara gurunya yang memberitahukan sebuh pesan.
Pesan itu adalah bahwa kedua pedang itu tidak boleh selalu tampak di permukaan. Harus selalu disembunyikan. Nanti ketika akan digunakan baru boleh ditampakkan.
Setelah itu sang guru melalui suara sepasang pedang itu memberitahukan menghilangkan dan memanggil sepasang pedang.
Singkat cerita, setelah merampungkan seluruh pelajarannya Aziel memutuskan untuk meninggalkan pulau kecil dan terpencil ini.
Bukan dengan membuat perahu atau rakit. Atau menunggu kapal lewat. Melainkan Aziel meninggalkan tempat itu dengan menggunakan ilmu teleportasi. Karena gurunya juga telah mengajarkan ilmu ghaib itu.
Dan dia akan berteleportasi ke tempat di mana dia hilang pertama kali waktu 8 tahun silam.
★☆★☆
Sementara hal yang sama pula pada Keenan. Dia juga memutuskan untuk tinggal di lembah yang amat dalam dan memutuskan untuk mempelajari ilmu sihirnya dan ilmu beladiri serta kesaktian yang belum rampung.
Selama berada di lembah dia tinggal di sebuah gua yang dia temukan di tempat itu. Mulailah di mengisi hari-harinya dengan mempelajari ilmu yang diajarkan oleh gurunya yang belum rampung di tempat itu selama 8 tahun.
Perlu diketahui pula bahwa gurunya juga berasal dari bangsa siluman yang baik. Yaitu siluman lelaki tua berambut putih kekuningan.
Setelah 8 tahun belajar akhirnya dia juga menamatkan pelajarannya dengan baik dan sempurna. Dan gurunya pula menghadiahi pedang pusaka kepadanya yang dinamakan PEDANG NAGA ES.
Untuk mendapatkan pedang pusaka itu, dia tidak perlu bersusah payah seperti halnya Dhafin dan Aziel yang memperoleh pedang pusaka.
Dia cukup memusatkan energi batinnya dengan bersemedi yang tidak sampai lama. Karena setelah memusatkan energi batinnya selama 2x penanakan, sang guru seketika berubah menjadi seekor naga berwarna putih bagai salju sebesar pohon kelapa.
Naga terbang itu sejenak berputar-putar di sekitar gua dan menebarkan hawa dingin bagai es yang memenuhi seluruh ruangan gua itu. Sementara Keenan sudah gemetar kedinginan.
Tak lama kemudian, naga putih itu berputar-putar di depan atas kepala Keenan. Setelah berputar beberapa kali, naga putih itu seketika berubah menjadi sinar memanjang warna putih terang berhawa dingin.
Beberapa kejap kemudian, sinar putih memanjang itu berubah menjadi sebuah pedang warna putih salju. Lalu perlahan-lahan pedang itu turun dan berhenti di depan Keenan.
Kemudian pedang itu bersuara seperti suara gurunya yang berpesan padanya agar tidak menampakkan pedang itu di permukaan. Melainkan dia harus menyembunyikannya. Kalau dia membutuhkan pedang itu baru dimunculkan.
Pesan gurunya itu sudah dipahami dan dia sudah mengetahui mantra cara menyembunyikan dan memunculkan pedang itu.
Singkat cerita, setelah merampungkan pelajarannya dia hendak keluar dari lembah itu. Dengan ilmu teleportasi yang sudah dikuasainya dia hendak berteleportasi ke tempat di mana 8 tahun yang lalu dia hilang.
★☆★☆
Siang itu matahari bersinar amat terik seolah hendak membakar mayapada. Sementara langit nyaris tanpa awan menggantung.
Kala itu di sebuah hutan yang sepi. Semilir angin berhembus menyegarkan suasana yang berhawa panas. Sayup-sayup terdengar kicau burung saling bersahutan.
Tak lama berselang, seketika membersit 2 buah sinar; sinar biru dan sinar putih, yang cukup berdekatan yang seolah muncul dari dalam tanah.
__ADS_1
Cuma 5 kejapan mata seketika 2 sinar itu berubah menjadi 2 sosok pemuda tampan dengan model pakaian yang berbeda.
Pemuda hasil jelmaan sinar biru tadi berpakaian biru gelap. Kepalanya tertutup tudung kain yang menyatu dengan baju panjangnya. Pemuda itu berumur kisaran 21 tahun. Dia tidak lain adalah Aziel.
Pemuda hasil jelmaan sinar putih tadi berpakaian rangkap dengan pakaian luar model memanjang warna putih. Rambutnya panjang sebahu dengan sebagian dikuncir di atas kepalanya.
Selembar kain agak tebal selebar 3 jari melingkari kepalanya. Sebagian anak rambut depannya sebelah kiri menjuntai di depan wajahnya. Umurnya kisaran 20 tahun. Dia tidak lain adalah Keenan.
Rupanya Tuhan, Sang Penguasa Langit memang Maha Adil dan Bijaksana. Pada waktu yang bersamaan 2 pemuda yang telah terpisah selama 8 tahun bertemu dan di tempat yang sama.
Tapi pada saat pertama kali muncul mereka saling membelakangi. Jadi mereka beberapa saat lamanya belum saling mengetahui.
Sejenak kedua pemuda tampan itu memindai apa yang ada di hadapan mereka. Tapi tak lama, masing-masing mereka seperti mengetahui kalau ada sesuatu atau orang di belakang mereka. Lalu dengan cepat mereka saling berbalik ke belakang.
Begitu sudah berbalik dan saling berhadapan, mereka sama-sama terkejut sampai terlonjak 2 langkah ke belakang. Kemudian sama-sama berseru.
"Siapa kamu?"
"Siapa kamu?"
Eh, tiba-tiba mereka sama-sama terkejut lagi. Sejenak mereka saling tatap satu sama lain. Tepatnya saling mengamati sambil menerka-nerka siapa di depan mereka ini? Apakah pernah bertemu?
"Keenan?!" kata Aziel menebak.
Kalau orang biasa ucapan itu akan disertai ekspresi terkejut heran bercampur gembira. Namun Aziel tampak datar dan dingin saja. Rupanya gayanya ini tidak berubah sedari kecil.
Dengan sikap tanpa ekspresi demikian, dengan sekejap mata Keenan langsung teringat akan seorang sahabat jangkung yang paling tua umurnya. Dia tak lain....
"Aziel?!"
"Ya benar, aku Aziel. Kamu Keenan 'kan?"
"Hahaha..., tidak disangka bisa bertemu kamu lagi, Aziel. Ya, aku memang Keenan."
Kemudian Keenan menghampiri Aziel, terus memeluknya penuh sukacita saking gembiranya karena bertemu kembali setelah 8 tahun terpisah.
Setelah puas memeluk Aziel yang ditanggapi dengan dingin saja, Keenan melepas rangkulannya dan berkata.
Aziel tidak terlalu menggubris ekspresi kegembiraan Keenan. Tidak terlalu banyak mikir kenapa mereka bisa muncul pada saat yang bersamaan dan di tempat yang sama. Yang dia pikir....
"Apa kamu masih ingat kita berada di mana sekarang?" tanyanya dengan nada dingin sambil kembali mengamati keadaan sekitar.
"Kalau tidak salah," sahut Keenan setelah berpikir sejenak, "kita berada cukup jauh di luar batas Kerajaan Amerta sebelah barat laut. Sebentar lagi kita akan memasuki wilayah Kerajaan Bentala."
"Apa menurutmu Gerombolan Pedang Tengkorak berada di wilayah ini?" lanjut Keenan bertanya.
"Bukankah Gerombolan Pedang Tengkorak termasuk orang-orangnya Bastian Lamont?" kata Aziel seakan mengingatkan. "Jadi tentu markas mereka berada tak jauh dari wilayahnya."
Bastian Lamont yang dimaksud Aziel adalah Raja Bastian yang sekarang memerintah Kerajaan Lengkara.
"Sebelah sana itu," kata Keenan menunjuk arah barat Kerajaan Amerta, "jalan menuju bekas kerajaan ayahmu, Kerajaan Lengkara. Kalau bukan di sekitar wilayah ini bisa jadi di wilayah sana itu."
"Saat ini memang masih dikatakan bekas kerajaan ayahku," kata Aziel makin dingin nada suaranya. "Tapi suatu saat aku akan merebutnya kembali."
"Ya, kamu tenang saja," kata Keenan menimpali, "pasti kita akan merebutnya kembali. Tapi sekarang kita mencari teman-teman dulu yang entah berada dimana sekarang."
"Ya, kita akan mencari mereka dulu," tandas Aziel.
"Sekarang kita akan ke mana?" tanya Keenan meminta pendapat. "Apa kita ke Amerta dulu atau bagaimana?"
Aziel tidak langsung menjawab. Sejenak dia menatap arah menuju Kerajaan Bentala. Lalu terdengar dia berkata.
"Aku rasa tidak ada lagi kawan-kawan kita di Amerta."
"Terus...."
"Kita ke Kerajaan Bentala."
"Menurutmu ada kawan kita di sana?"
"Entahlah. Tapi aku punya firasat akan terjadi hal besar di sana."
__ADS_1
"Kita akan langsung ke kotaraja saja."
Aziel tidak menanggapi tapi melangkah menuju Kerajaan Bentala. Sedangkan Keenan tanpa banyak kata, langsung mengikuti.
Tapi baru beberapa langkah mereka berjalan, seolah sudah bersepakat, mereka langsung melesat dengan cepat. Saking cepatnya seakan-akan mereka telah menghilang. Tahu-tahu mereka sudah lenyap seolah ditelan bumi.
★☆★☆
Di pusat kotaraja Kerajaan Bentala....
Kotaraja memang akan selalu ramai seperti pada hari-hari sebelumnya. Karena di sanalah pusat pemerintahan dan perekonomian Kerajaan Bentala.
Meskipun pemerintah yang berkuasa sekarang adalah pemerintah yang tirani, namun aktivitas keseharian tetaplah berjalan.
Pedagang tetaplah berdagang, peternak tetaplah beternak, petani tetaplah berladang. Dan segala aktivitas lainnya tetaplah berjalan.
Hanya saja dari kalangan rakyat biasa sama sekali tidak boleh mempelajari ilmu beladiri. Siapa saja yang kedapatan mempelajari ilmu beladiri, maka dicap sebagai pemberontak dan dibasmi oleh pemerintah.
Yang boleh mempelajari ilmu beladiri hanya dari kalangan bangsawan pemerintahan. Adapun bangsawan biasa, boleh mempelajari ilmu beladiri, tapi dengan pengawasan ketat oleh pemerintah.
Sementara dari kalangan pendekar, perguruan beladiri mereka tetap berjalan, tapi di bawah pengawasan ketat oleh pemerintah. Dan anak-anak dan murid-murid mereka wajib masuk militer. Sama halnya dengan bangsawan biasa.
Jadi jangan harap penduduk dari kalangan rakyat biasa diperbolehkan masuk dalam pemerintahan apalagi cuma prajurit biasa.
Malam sudah tenggelam di seluruh pelosok kotaraja. Tapi kotaraja sepertinya tidak pernah tidur. Ada saja kegiatan sebagian penduduk yang dilakukan agar malam tetap hidup.
Tampak 2 orang pemuda tampan tengah melangkah ringan menyusuri sebuah jalan yang cukup ramai oleh lalu lalang manusia. Yang berjalan sebelah kiri berpakaian serba putih. Yang sebelah kanan berbaju panjang warna biru gelap. Mereka tak lain adalah Keenan dan Aziel.
"Apa kamu yakin di tempat seperti ini ada kawan kita?" tanya Aziel sambil memperhatikan sekeliling mereka.
Di tempat ini banyak didatangi oleh pemuda maupun orang tua dari berbagai kalangan. Prajurit militer ada, pejabat pemerintahan ada, bahkan pejabat militer pun ada.
Tampak para lelaki yang berkunjung itu disambut oleh dua tiga orang gadis yang berdandan aduhai yang senantiasa menebarkan senyum yang memikat hati.
"Menurut Ilmu Pelacak Sukma-ku ya di sekitar sini," sahut Keenan sambil memperhatikan sekelilingnya pula.
"Apa kamu tidak salah melacak?" tanya Aziel masih tidak percaya. "Di sini daerah Wisma Cinta, Keenan. Yang benar saja kamu ini."
Wisma Cinta yang dimaksud Aziel adalah rumah wanita penghibur atau rumah wanita malam.
Kalau orang biasa, sebenarnya ucapannya itu kalimat ngedumel. Namun suaranya kedengaran dingin-dingin saja, tidak tampak kalau sebenarnya dia mengomel.
"Coba kita jalan ke situ lagi," kata Keenan sambil menunjuk sebuah bangunan. "Sepertinya itu kedai dan penginapan."
Bangunan yang ditunjuk Keenan memanglah sebuah kedai merangkap penginapan. Dan tak lama kemudian, kedua pemuda tampan itu telah sampai di depan bangunan itu.
Belum lama mereka sampai di depan kedai itu, keluar seorang pemuda tampan seusia mereka. Dia terus saja melangkah sambil terus memperhatikan Keenan dan Aziel. Pemuda itu baru berhenti di depan keduanya begitu sudah berjarak 3 langkah.
Pemuda itu berpakaian panjang warna coklat muda. Rambutnya panjang diikat ke belakang. Dia tidak lain adalah Hendry. Dia berada di kotaraja tidak lain dalam rangka tugas rahasia.
Untuk sementara antara kedua pemuda itu dengan Hendry saling bertatapan. Sorotan mata mereka masing-masing menyiratkan seakan-akan saling mengenal satu sama lain tapi masih mengira-ngira.
Tapi tak lama Hendry lantas bersikap biasa lagi, terlihat santai di depan Aziel dan Keenan. Dan bersikap seakan mereka saling mengobrol santai sambil berkata.
"Apakah kalian Aziel dan Keenan?"
Keenan dan Aziel seperti tahu gelagak kalau Hendry sedang melakukan penyamaran atau semisalnya. Hal itu terlihat dari nada bicara dan sikap yang dia tunjukkan.
Maka Keenan dan Aziel bersikap seperti biasa seperti orang yang sudah saling kenal yang saling ngobrol. Lalu Aziel bertanya.
"Di mana penginapanmu, Hendry?"
"Di belakangku ini. Tapi aku ingin mengajak kalian melakukan sebuah tugas penting," kata Hendry yang tahu maksud Aziel.
"Tugas apa?"
"Ikut aku!"
Lalu Hendry berjalan menuju Wisma Cinta yang bernama Purnama Merindu....
★☆★☆★
__ADS_1