
Ilmu Pelacak Cakra Sukma bisa digunakan pada 2 metode. Metode pertama yaitu bisa melacak sukma atau jiwa seseorang di manapun berada sepanjang dia berada dalam jangkauan radius 1 mil.
Metode kedua yaitu bisa melacak sukma seseorang yang pernah dikenal di manapun berada. Dan jangkauannya lebih luas dari metode pertama. Kalau si pemilik ilmu sudah mencapai level 12, ilmu itu bisa menjangkau 1 kota atau 1 kotaraja.
Akan tetapi ilmu aneh itu bisa berfungsi sepanjang orang yang sedang dilacak tidak menyegel cakra sukmanya. Atau jika yang dilacak menyegel sukmanya, tapi ilmunya lebih rendah dari orang yang melacak.
Atau orang yang mau dilacak berada di dalam pagar atau tirai pelindung. Atau orang yang memasang tirai pelindung lebih rendah kesaktiannya dari orang yang melacak.
Maka jika orang yang dilacak berada pada kondisi-kondisi seperti itu, dia tidak bisa dilacak.
Di samping itu pula ilmu aneh itu tidak sembarang orang yang bisa. Artinya cuma orang-orang yang tertentu yang bisa menguasai ilmu itu. Soalnya ilmu itu harus ditunjang oleh orang yang sudah sempurna energi ghaibnya.
Dan salah satu yang telah menguasai ilmu aneh itu adalah Dhafin Damian alias Ghavin Aldebaran. Dan dia sudah mencapai level 12.
Sementara itu, Dhafin dan Kayshila tengah berada di rumah Chafik yang sudah kosong. Karena Chafik ikut 'terculik' oleh Pasukan Jubah Merah yang senior.
Dhafin telah selesai mengerahkan Ilmu Pelacak Aura Sukma. Tidak lain yang dia cari adalah keluarganya dan keluarga Grania. Tak lupa juga dia melacak para petinggi Kerajaan Amerta yang pernah dia kenal.
Namun orang-orang yang ingin diketahui keberadaannya, baik keluarganya maupun yang lainnya tidak bisa dia ketahui secara pasti dengan ilmu itu. Seperti ada tabir atau tirai ghaib yang menghalangi tembusnya ilmu pelacaknya.
Dengan kata lain, semua orang-orang yang dikenalnya yang telah dilacaknya dengan menggunakan ilmu itu, berada di dalam tirai pelindung.
Meskipun Dhafin tidak bisa memastikan di mana semua orang-orang yang tengah dicarinya, namun berdasarkan ilmu pelacaknya, dia berhasil melacak sebuah tempat di sebelah timur pusat kotaraja.
Hal ini mengungkapkan suatu fakta bahwa orang yang memasang tirai pelindung ghaib itu ilmunya berimbang dengan Dhafin.
Ibarat angka 1 sampai 10, Dhafin sudah mendapatkan angka 5 dari kekuatan energi ghaib yang dipasang orang tersebut di sebelah timur itu.
Di lain pihak, saat menggunakan Ilmu Pelacak Cakra Sukma, ada 2 orang yang terdeteksi ilmunya tersebut tanpa dia inginkan. Namun bisa dipastikan kalau yang terlacak itu adalah orang yang dikenalnya. Letaknya di batas kotaraja sebelah barat.
Begitu Dhafin sudah selesai dari ritual penggunaan ilmu aneh itu, dia dan Kayshila memutuskan untuk memantau tempat yang berada di sebelah timur dahulu.
Ternyata di situ terdapat bangunan penjara cukup besar. Dhafin masih menghapal kalau di situlah letak penjara bawah tanah.
Bangunan itu memang tengah dipagari oleh tirai pelindung aneh. Maksudnya bangunannya tetap terlihat, tapi siapa yang menyangka kalau areal bangunan penjara bawah tanak itu telah terlingkupi tirai pelindung ghaib.
Tak ada penjaga seorang pun di pintu masuknya. Rupanya orang yang memasang tirai ghaib di situ merasa yakin kalau tidak ada yang bisa menembusnya.
Atau bisa jadi penjaga penjara bawah tanah itu tidak kelihatan secara kasat mata. Dengan kata lain bersembunyi di balik tirai pelindung.
Dhafin menduga kuat kalau Putri Rayna Cathrine yang memasang tirai pelindung ghaib di situ.
Setelah puas mengamati dari kejauhan penjara bawah tanah yang besar itu, Dhafin dan Kayshila beralih menuju ujung sebelah barat kotaraja.
★☆★☆
Mundur beberapa saat sebelum Dhafin melacak 2 orang yang dikenalnya di sebelah barat kotaraja....
Sesosok bayangan ungu berkelebat amat cepat laksana hantu kesiangan menuju ke sebuah rumah yang terletak di tengah hutan di ujung sebelah barat kotaraja.
Sebenarnya sosok bayangan itu bukan menuju ke rumah tersebut. Dia hanya numpang lewat saja dan hendak menuju ke suatu tempat. Atau lebih tepatnya sebenarnya dia tengah mengejar seseorang yang melintasi daerah ini.
Begitu sosok bayangan ungu itu sudah melintas di depan rumah kecil yang sudah reok itu, seketika terdengar suara lembut tapi jelas dari dalam rumah seperti menyapanya.
"Nona Cantik Berbaju Ungu...."
Sontak sosok bayangan itu berhenti di depan rumah reok itu. Maka terlihat jelaslah siapa sosok bayangan ungu itu.
__ADS_1
Ternyata dia adalah seorang gadis yang amat cantik berwajah oval. Rambutnya tebal panjang dan lurus yang sebagian ditata rapi dan indah di belakang atas kepalanya.
Dia memakai pakaian rangkap dengan baju luar berupa pakaian panjang dari sutra agak tebal warna ungu. Sebuah senjata pedang yang gagang dan warangkanya berwarna ungu tersampir di punggung kanannya.
Sabuk yang melilit pinggang rampingnya selebar telapak tangan terbuat dari plat logam berwarna kuning emas. Di tengahnya terdapat ukiran burung phoenix.
Sepasang matanya yang bulat indah menatap tak berkedip rumah reok itu. Tepatnya pintu rumah itu. Tapi belum lama gadis baju ungu itu menatap si pintu, seketika terdengar suara derik pintu. Bersamaan dengan terbukanya pintu itu.
Maka keluarlah dari balik pintu yang terbuka cukup lebar seorang pemuda berpakaian elegan warna putih bersih. Rambutnya panjang hitam kemerahan yang sebagian disanggul rapi dan indah di atas kepalanya.
Penampilan pemuda ini sungguh elegan. Dipadu dengan wajahnya yang tampan berkulit putih. Tapi sayang wajah tampannya itu menguarkan kemesuman yang menjijikkan.
Ditambah lagi sepasang mata kotornya yang menyorot liar seakan hendak melahap kecantikan nona serba ungu itu. Dipadu dengan senyum cabulnya yang sungguh kotor.
Pemuda berwajah mesum itu melangkah perlahan menghampiri nona baju ungu sembari senyum cabulnya terus terkembang. Sebuah kipas di telapak tangan kirinya tampak mengibas-ngibas pelan seolah mengiringi irama langkah kakinya.
"Siapa kamu?" tanya si gadis sedikit membentak bernada ketus begitu si pemuda mesum sudah berada 4 langkah di hadapannya. "Ada apa memanggilku?"
"Masih banyak waktu untuk saling mengenal, Wahai Bidadari...
Biarkan dulu aku puas menikmati cantikmu yang sudah meluruhkan semesta ini....
Biarkan dulu aku mengenang percintaan yang telah kulalui....
Nanti aku akan mengulang bersamamu melewati hari demi hari...."
Pemuda itu berbicara lembut dengan nada bersyair. Dan syair itu jelas menyiratkan kemesuman yang menjijikkan. Tapi bukan makna syairnya yang lebih dahsyat.
Ternyata pemuda itu menyusupkan gelombang ghaib yang aneh dari nada suaranya. Jelas gadis cantik berbaju ungu itu mendengar suara pemuda itu. Maka gelombang suara yang aneh itu merasuk ke dalam telinganya. Dan dengan cepat mempengaruhi pikirannya.
Namun dengan cepat si gadis mengerahkan energi batin ke dalam pikirannya. Tapi sayang dia sedikit terlambat. Gelombang suara syair itu sudah terlanjur mempengaruhi jalan pikirannya meskipun belum sepenuhnya.
Terdengar gadis itu berbicara seperti menekan sesuatu. Sesuatu yang membuat birahinya hendak berontak. Suaranya terdengar antara tecekat dan mendesah.
★☆★☆
Seakan tahu kalau pengaruh gelombang gahaibnya belum sepenuhnya menguasai pikiran gadis cantik itu, si pemuda mesum kembali melantunkan syair bergelombang anehnya. Dan kali ini gelombang suaranya lebih santer meski masih bernada lembut.
"Percayalah, wahai bidadariku....
Satu helaan napas pun aku tidak akan menyengsarakanmu....
Aku akan menghantarmu ke lembah surgawi nan syahdu....
Bersama kita mereguk cinta yang menggelora dan rindu yang menggebu...."
Kini pikiran gadis itu sudah terpengaruhi secara utuh. Wajahnya sudah tampak lain. Tadi wajahnya masih menegang berusaha sekuat tenaga menekan birahinya.
Kini wajah cantiknya yang memerah itu menyemburatkan nafsu ingin bercinta. Sepasang mata indahnya yang sayu memancarkan gelora birahi menggebu. Senyumnya terkembang melengkapi kesiapannya yang sebentar lagi hendak digarap pemuda mesum itu.
Melihat gadis itu sudah dalam mode nafsu birahi seperti itu membuat si pemuda menelan salivanya beberapa kali. Seolah dia tidak tahan lagi hendak menggarapnya.
Namun sepertinya dia tidak tergesa-gesa. Dan hal ini memang sudah terbiasa dia lakukan.
Perlahan kakinya melangkah sambil melantunkan lagi syair kotornya yang menjijikkan.
"Cantik, pesonamu membuatku ingin segera menggapai cintamu yang menggairahkan....
__ADS_1
Kemarilah! Kita akan segera mengarungi lembah cinta yang penuh kehangatan....
Kita akan menghabiskan hari ini hingga malam dengan penuh kebahagiaan...."
Begitu si pemuda sudah sampai tepat di depan si gadis yang sudah dalam mode birahi itu, telapak tangan kanannya terangkat hendak membelai pipi putih halus itu.
Tapi belum juga tangan setan itu sampai ke sasaran, seketika serangkum angin panas yang padat melesat ke arahnya dengan amat cepat dari samping kiri. Membuat tangan kotornya itu terpaksa menggantung di udara.
Wuuusss!!!
Serangan jarak jauh tanpa sinar itu demikian cepatnya melesat. Membuatnya terkejut bukan main. Tidak ada lagi kesempatan untuk menghindar.
Maka sambil menghadap ke samping, dengan cepat kipas di tangan kirinya yang sudah terbuka lebar dikibaskan dengan kuat menghalau serangan jarak jauh yang berbahaya itu. Tentunya dengan mengerahan tenaga dalam yang tinggi.
Plaaasss...!!!
Blaaarrr!!!
Kipas dari kertas yang sepertinya lemah itu rupanya dapat menghalau serangkum angin berhawa panas itu. Sehingga membuatnya berbelok arah dan langsung menghantam rumah kecil nan reok itu hingga hancur berantakan dan menimbulkan ledakan yang cukup dahsyat.
Sementara itu, kipas si pemuda mesum memang tidak kenapa-kenapa. Namun akibat hempasan gelombang serangan itu, kakinya terseret 2 langkah lalu terjajar 3 langkah ke belakang. Wajah mesumnya tampak menegang terkejut.
Sedangkan si gadis, meski cuma terkena gelombang kecil, tapi tak urung tubuhnya terjajar juga 4 langkah. Namun dia tidak jatuh. Kondisinya juga tidak berubah, wajah cantiknya masih tetap menerbitkan nafsu birahi.
Kini jarak si pemuda dengan gadis itu cukup jauh. Untuk menggapainya diperlukan kecepatan yang ekstra cepat. Jadi sementara dia tidak hiraukan dulu. Apalagi ilmu anehnya masih mempengaruhi gadis itu.
Kini wajahnya tidak lagi menegang. Malah menguarkan kemarahan yang sangat. Sepasang matanya yang menyotot tajam memandang ke satu arah di mana serangan gelap tadi datang.
Namun di situ tidak ada seorang pun. Yang terlihat olehnya hanyalah pepohonan.
Lalu sepasang mata kotornya yang menyorot tajam mengedar ke sekelilingnya, terus mencari siap yang menyerangnya sekaligus mengganggu keasyikannya.
Tapi yang dilihat hanyalah si gadis yang tetap berdiri bagai patung yang menggemaskan dan puing-puing rumah reok tadi yang telah hancur.
"Siapa bangsatnya yang sudah berani mengganggu kesenangan Penyair Pemetik Bunga?" ucapnya bernada cukup keras penuh kemarahan. "Keluarlah dengan penuh ketakutan!"
Tapi sampai gema suaranya sudah tertelan kesunyian, tidak ada seorang pun yang muncul di tempat itu. Dan kembali suasana tempat itu terbungkus sepi.
Sedangkan si pemuda yang ternyata berjuluk Penyair Pemetik Bunga semakin memerah wajahnya. Amarahnya sudah naik di ubun-ubun. Tampak gerahamnya bergerak-gerak pertanda menahan kedongkolan yang amat sangat.
Tampak penyair cabul yang juga berkarakter angkuh itu menajamkan pendengaran dan penglihatannya. Mencoba melacak di mana keberadaan orang yang sudah mempermainkannya.
Namun sudah capek dia berbuat demikian, tetap juga dia belum bisa melacak di mana keberadaan orang tersebut. Meskipun dia sudah menambah daya ketajaman pendengaran dan penglihatannya.
Satu hal yang dicatat dalam benaknya bahwa orang yang menyerangnya itu jelas memiliki kehebatan yang tinggi. Terbukti dia yang sudah sehebat ini tapi tetap juga belum bisa melacak di mana batang hidung orang yang menyerangnya itu.
Kembali dia menatap gadis yang masih tetap mematung di tempatnya. Bibirnya masih tetap menyunggingkan senyum binal seolah mengajak untuk bercinta.
Dia berniat mengurus gadis itu lagi daripada memikirkan yang lain. Lalu dia hendak melangkah mendekati si gadis dan membawanya pergi.
Tapi baru satu langkah kakinya bergerak, terdengar suara dari arah belakangnya bernada bernada dingin. Tidak terlalu keras tapi jelas mengejutkan.
"Berani kamu mendekatinya nyawamu lebih dekat lagi melayang!"
Penyair Pemetik Bunga tanpa banyak pikir lagi. Secepat dia berbalik ke belakang, secepat itu pula telapak tangan kanannya menyentak ke arah datangnya suara itu.
Wuuusss!
__ADS_1
Serangkum angin panas melesat dari telapak tangannya dengan kecepatan tinggi. Saking cepatnya sehingga jelas sulit untuk dihindari.
★☆★☆