Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 95 MEMBEBASKAN ROMBONGAN PANGERAN NEVAN


__ADS_3

Dua jawara dan dua prajurit penjaga terus saja melangkah cepat menyusuri lorong penjara. Tak berapa lama mereka sudah menyusuri undakan tangga yang menuju turun ke bawah.


Begitu sampai di depan pintu masuk kamar penjara pertama, mereka mulai curiga. Masalahnya tidak ada penjaga di depan pintu yang tak berdaun pintu itu.


Langsung saja mereka bergegas hendak masuk ke dalam. Namun begitu sudah sampai di ambang pintu 2 prajurit penjaga yang berjalan di depan seketika menabrak sesuatu bagai tembok tak berwujud.


Terang saja 2 prajurit penjaga itu terkejut bercampur heran. Sedangkan 2 jawara juga keheranan kenapa 2 prajurit penjaga tiba-tiba berhenti. Sehingga 2 jawara itu harus berhenti mendadak kalau tidak ingin menabrak mereka.


"Kenapa kalian berhenti?" tanya salah seorang jawara heran.


"Sepertinya ada tembok ghaib yang menutup pintu kamar penjara pertama ini," ungkap prajurit penjaga sebelah kanan. Namun suaranya masih terselimuti keterkejutan dan keheranan.


Jawara yang satu ingin membuktikan ucapan prajurit penjaga tadi. Dia segera maju lebih mendekat ke pintu. Sejenak dia memperhatikan keadaan di dalam yang tampak sunyi dan tak terlihat orang melintas.


Padahal waktu mereka berkumpul di ambang pintu, di dalam ruangan penjara sudah terjadi beberapa kejadian. 2 prajurit penjaga sudah dihabisi oleh Kayshila dan Fariza.


Kunci pintu kamar penjara sudah dihancurkan oleh Gibson. Terus Dhafin sudah masuk ke dalam kamar penjara.


Artinya di dalam ruangan penjara sudah ada aktivitas yang tidak bisa dilihat dari luar karena ada tembok ghaib yang dipasang oleh Dhafin, sehingga tidak dilihat oleh mereka.


Lalu jawara itu segera mengangkat tangan kanannya dan telapak tangannya lantas menyentuh tembok kaca yang tak berwujud. Setelah itu dia menyuruh 3 temannya untuk menyingkir agak menjauh dari pintu.


Kemudian kepalan tangan kanannya menghantam dengan kuat tembok ghaib itu. Namun tembok yang dihantam itu kerasnya minta ampun bagai tembok beton. Jangankan hancur malah tangannya yang terasa sakit.


Tapi si jawara sepertinya masih penasaran. Segera dikumpulkan seluruh tenaga dalamnya di kedua telapak tangannya. Lalu kedua telapak tangannya dihantamkan secara serempak ke tembok ghaib itu.


Namun tenaga dalamnya sudah penuh dia kerahkan. Tembok ghaib itu sepertinya makin keras saja. Sehingga tenaga dalamnya tak mampu menghancurkan. Malah dia terjajar ke belakang dengan dada terasa sesak dan kedua tangannya terasa kram bagai kesemutan.


Kemudian 3 orang lainnya ikut-ikutan menghantam tembok itu. Namun tembok ghaib itu tidak juga hancur. Hanya suara berisik saja yang terhasilkan akibat hantaman mereka.


Kemudian mereka memutuskan untuk memberitahukan kepada semua penjaga kalau ada penyusup yang masuk ke dalam penjara bawah tanah.


Dua prajurit penjaga naik ke atas guna memberitahukan kepada semua penjaga yang ada di luar. Sedangkan 2 jawara turun ke bawah untuk memberi tahu prajurit yang menjaga di penjara ke 2.


★☆★☆


Sementara itu, begitu selesai memindahkan semua tahanan yang ada di penjara ke Kampung Naraya, Dhafin dan Gibson segera keluar dari ruangan penjara pertama setelah membuka semau atribut penyamaran mereka.


Sedangkan di luar ruangan semakin berisik orang-orang menghantam tembok ghaib yang tak kunjung hancur. Menandakan di luar makin banyak orang berdatangan.


Begitu Dhafin dan Gibson sudah berada di dekat ambang pintu, mereka berhenti sejenak seraya memandang para prajurit dan jawara yang silih berganti hendak menghancurkan tembok ghaib yang dipasang Dhafin.


Setelah menyuruh Gibson menyingkir ke belakangnya, lalu Dhafin segera mendekat ke ambang pintu. Berhenti ketika tinggal selangkah lagi dengan ambang pintu.


Lalu sejenak dia melakukan gerakan telapak tangan tertentu. Kemudian tiba-tiba saja kedua telapak tangannya yang menguarkan hawa bening yang amat dingin menghantam tembok ghaib dengan kuat dan cepat.


Braaak!

__ADS_1


Bruuusss!


Seketika terdengar seperti tembok hancur berantakan. Menyusul gelombang kekuatan yang berhawa amat dingin menghempas keluar dengan santer. Sehingga sekitar 30-an penjaga yang ada di depan pintu terhempas ke belakang dengan kuat.


Tak ada seorang pun yang terkena gelombang berhawa dingin melainkan sekujur tubuhnya berubah menjadi beku. Sehingga ketika mereka semua terhempas ke tembok langsung hancur berkeping-keping.


Tak lama kemudian, Dhafin dan Gibson segera keluar dari ruangan penjara pertama. Begitu sampai di luar mereka masih dapati sekitar hampir 50 penjaga yang berdiri di undakan-undakan tangga turun.


Tampak mereka semua seperti masih terperangah menyaksikan teman-teman mereka yang mati secara tragis. Tapi begitu menyadari kehadiran Dhafin dan Gibson, dengan serempak mereka menyerang sambil mengayunkan pedang masing-masing.


Sementara Dhafin yang dikedua telapak tangannya masih teraliri tenaga sakti berhawa amat dingin tadi, tanpa menunggu lama segera mendorong kedua telapak tangannya ke para penjaga itu dengan cepat dan kuat.


Maka kembali gelombang kekuatan berhawa amat dingin menghantam para penjaga itu. Sehingga mereka semua terhempas ke belakang bagai daun kering terhempas angin kencang.


Dan tidak butuh waktu lama, selagi masih berada di udara sekujur tubuh mereka berubah menjadi beku bagai es. Sehingga begitu tubuh mereka terhempas ke anak tangga atau ke tembok langsung hancur berantakan.


Sementara itu, sekitar 20-an prajurit penjaga sudah muncul di ujung tangga yang menghubungkan ke penjara bawah.


"Kamu turun ke bawah, Gibson!" perintah Dhafin begitu para prajurit itu sudah menuju ke tempat mereka. "Aku akan naik ke atas dulu untuk menyegel pintu utama penjara."


"Baik, Tuan Muda."


Sambil melangkah cepat Gibson menghunus pedang rampasannya. Lalu melesat dengan cepat ke arah para prajurit penjaga itu seraya mengayun-ayunkan pedang di tangan kanannya.


Saking cepatnya gerakan Gibson, tidak ada dari seorang prajurit pun yang dapat membendungnya. Tahu-tahu pedangnya sudah memakan korban beberapa orang prajurit. Sehingga jeritan kematian sudah terdengar dalam waktu beberapa saat saja.


Sementara Dhafin segera melesat naik ke atas. Begitu telah sampai di pintu utama penjara, tenyata masih ada sekitar 50-an prajurit penjaga yang menjaga di luar.


Sementara Dhafin sepertinya tidak mau bertarung terlalu lama. Karena dia berpacu dengan waktu. Kembali dia mendorong kedua telapak tangannya ke arah para prajurit. Maka gelombang kekuatan berhawa amat dingin kembali berhembus kencang dan cepat ke depan.


Sehingga belum juga sampai ke Dhafin mereka sudah terhempas ke belakang dengan cepat dan kuat. Dan kembali tubuh-tubuh itu berubah menjadi beku sebelum jatuh ke halaman penjara yang keras hingga hancur.


Sementara Dhafin tidak menghiraukan lagi nasib mereka. Dia segera melakukan penyegelan pada pintu utama bangunan penjara bawah tanah ini.


Kali ini segel mantra yang dia gunakan lebih tinggi lagi kualitasnya dan lebih khusus.


Setelah melakukan penyegelan dia segera turun ke bawah menyusul Gibson.


★☆★☆


Sementara itu, Gibson sudah menghabisi semua penjaga yang menghalanginya. Saat ini dia tengah menyusuri lorong penjara ke 2. Begitu sampai di ruangan depan penjaga, tak ada lagi penjaga di ruangan itu.


Sementara di dalam penjara cuma dihuni oleh 4 orang pemuda. Seorang di antaranya adalah Pangeran Nevan Axel. Juga ada putra pertama Jenderal Myles, yaitu Dylan Ruben. Sedangkan yang 2 orang lainnya merupakan 2 putra Raja Darian Cashel yang lain.


Yang seorang adalah putra Selir Grizelle yang bernama Pangeran Ethan Gilber. Sedangkan yang satunya adalah putra Selir Zeline yang bernama Pangeran Farzan Ivander. Umur mereka hampir sama, sekitar 15 tahun.


Tampang mereka begitu mengenaskan. Sebagian wajah mereka tampak biru lebam bagai habis kena hantaman pukulan. Kondisi tubuh begitu lemah.

__ADS_1


Pakaian mereka sudah lusuh dan robek di sebagian tempat. Bagian yang robek itu tampak bebercak darah yang sudah mengering. Bahkan ada seorang yang punggungnya luka cukup panjang.


Ketika Gibson masuk ke ruangan depan penjara, 4 pemuda itu cuma menengok saja, tidak dapat melakukan apa-apa. Mereka terus saja duduk bersandar di tembok. Sedangkan Gibson segera mendekat ke jeruji penjara bagian depan.


Baru saja Gibson hendak menyapa Pangeran Nevan, Dhafin sudah masuk ruangan penjara dengan cepat. Empat pemuda yang tadinya masih memandang Gibson kini beralih memandang Dhafin yang baru masuk.


"Bagaimana keadaan Pangeran?" tanya Gibson yang langsung kenal akan Pangeran Nevan. "Apa baik-baik saja?"


Mendengar pertanyaan Gibson, Pangeran Nevan kembali memandang pada pemuda berkulit coklat terang itu. Lalu bertanya dengan nada menebak. Nada suaranya tampak begitu lemah.


"Apakah Kamu Gibson?"


"Benar, Pangeran, hamba Gibson."


"Dari mana saja kamu selama ini, Gibson?" tanya Pangeran Nevan penasaran. "Kenapa kamu bisa muncul di dalam penjara ini?"


"Ceritanya panjang, Pangeran," sahut Gibson seraya menoleh pada Dhafin.


"Maaf, Pangeran," kata Dhafin penuh penghormatan. "Sebaiknya bersiap-siap untuk keluar dari sini."


Pangeran Nevan beralih memandang Dhafin. Terus menatap beberapa saat seakan ingin memastikan penglihatannya. Setelah itu dia bertanya menebak.


"Apakah Tuan adalah Tuan Muda Dhafin?"


"Benar, Pangeran."


Pangeran Nevan seperti mau bicara lagi. Namun dengan sopan Dhafin memotongnya.


"Sebaiknya Pangeran dan 3 rekan Pangeran segera bersiap-siap, takutnya Raja Adrian sudah tiba ke sini."


"Kalian mau bawa kami ke mana?" tanya Pangeran Nevan seakan pesimis. "Apakah masih ada tempat aman di Kerajaan Amerta ini untuk kami sembunyi?"


"Kami sudah membawa rombongan Yang Mulia Permaisuri ke tempat yang kami akan bawa rombongan Pangeran ke situ."


Pangeran Nevan hendak berkata lagi, tapi segera dipotong oleh Gibson.


"Cepatlah bergegas, Pangeran! Tidak ada waktu lagi."


"Sebaiknya kita ikuti saja rencana Tuan Muda Dhafin dan Saudara Gibson, Pangeran," kata Dylan Ruben mendukung. "Aku yakin mereka pasti memilih tempat yang aman."


Akhirnya Pangeran Nevan setuju mau dibawa keluar dari dan langsung diberitahu caranya bagaimana.


Setelah kunci pintu penjara dirusaki, Dhafin dan Gibson segera masuk ke dalam penjara. Dan dengan segera Dhafin memulihkan kondisi 4 orang itu.


Bahkan sekalian menyembuhkan luka yang cukup parah di antara mereka dengan energi inti penyembuhnya.


Setelah memeriksa keadaan 4 penghuni penjara itu, Dhafin menduga kalau ilmu beladiri dan kesaktian mereka disegel. Tapi untuk membukanya, rasanya tidak cukup waktu untuk saat ini.

__ADS_1


Akhirnya setelah kondisi tubuh 4 orang itu cukup pulih, Dhafin dan Gibson membawa mereka ke Kampung Naraya melalui jalur teleportasi.


★☆★☆


__ADS_2