Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 148 PENAKLUKKAN KOTA NEHAN


__ADS_3

Ketika berada di Kota Nehan, belum juga mengetahui di mana Dhafin berada, Putri Eveline dikejutkan oleh keributan yang terjadi di pusat pemerintahan kota.


Untuk memperjelas apa yang terjadi dia naik di atas rumah penduduk di dekat kejadian. Dari situ dia cukup kelas melihat keributan itu.


Keributan itu ternyata sebuah pertempuran antara Prajurit Keamanan Kota melawan sekelompok orang yang berseragam jubah merah dan 5 orang lainnya.


Jumlah Prajurit Keamanan di Kota Nehan sekitar 5000 personel. Sedangkan jumlah lawan mereka Putri Eveline memperkirakan cuma di bawah 500 personel.


Akan tetapi Putri Eveline melihat jumlah Prajurit Keamanan sudah berkurang separuh. Sementara pasukan lawannya belum ada seorang pun yang mati.


Putri Eveline mencoba lebih fokus melihat 5 orang yang sepertinya pimpinan pasukan berjubah merah itu. Belum lama dia melihat 5 orang itu dia sudah terkejut.


Pasalnya, 5 orang itu dia mengetahui siapa mereka. Empat di antaranya adalah orang-orang yang bertarung melawan kakaknya beserta para jawara istana kemarin siang.


Sedangkan seorangnya, meski sudah diberitahu oleh ayahandanya, tapi masih juga membuatnya kaget. Seorang itu tidak lain adalah Zelyne.


Sempat terbetik pertanyaan dalam pikiran Putri Eveline, di mana pasukan militer yang masih tersisa? Putri Eveline memperkirakan mesti masih ada sisa pasukan militer di markas militer. Tapi kenapa tidak membantu?


Apakah sudah ditaklukkan juga?


Tapi Putri Eveline tidak mau terlalu jauh memikirkannya. Dia lebih fokus menyaksikan pertarungan Dhafin melawan Pejabat Kota.


Entah sudah berapa jurus mereka kerahkan tapi Putri Eveline melihat Dhafin belum menggunakan senjata. Sementara Pejabat Kota sudah menggunakan pedangnya.


Entah sudah berapa jurus yang dikerahkan, tapi tampak Pejabat Kota sudah terdesak hebat. Hal itu Putri Eveline tidak merasa kaget lagi.


Pejabat Kota Nehan memang terkenal memiliki beladiri dan tenaga dalam yang hebat. Namun kehebatannya itu belumlah cukup untuk mengalahkan seorang Dhafin.


Pukulan dan tendangan disarangkan bertubi-tubi di tubuh Pejabat Kota. Sehingga membuatnya terjajar ke belakang, lalu jatuh terguling.


Namun Pejabat Kota belum jera juga. Dengan susah payah dia bangkit. Mengambil pedangnya yang sempat terlepas dari genggaman. Lalu kembali menyerang Dhafin.


Sedangkan Dhafin masih diam di tempatnya seakan menanti serangan datang.


Begitu sudah dalam jangkauan serangan, Pejabat Kota langsung menebas leher Dhafin dari kiri ke kanan.


Namun dengan cepat Dhafin mundur 2 langkah sambil mendoyongkan tubuh ke belakang. Maka pedang sang pejabat hanya menebas angin.


Tapi Pejabat Kota tidak berhenti mengayunkan pedang.


Dengan cepat pedangnya digerakkan ke atas. Lalu diayunkan dengan sebat sambil maju selangkah hendak membelah dua kepala Dhafin.


Namun Dhafin yang bisa membaca gerakan lawan dengan cepat bergeser ke sebelah kiri. Lalu tangan kanannya lebih cepat lagi menangkap pergelangan tangan Pejabat Kota yang menggenggam pedang.


Sambil menarik sedikit Pejabat Kota ke belakang, Dhafin menaikkan lutut kanannya dan langsung menghantam lambung sang pejabat dengan kuat.


Menyusul telapak tangan kirinya menghantam belakang sang pejabat dengan telak pula. Hingga Pejabat Kota muntah darah.


Sedangkan genggaman pedangnya jadi kendur. Maka pedang itu terlepas. Tapi sebelum jatuh ke tanah Dhafin dengan cepat menangkap pedang itu.


Setelah itu apakah yang akan dilakukan Dhafin?


★☆★☆


Begitu berhasil menangkap pedang Pejabat Kota dan telah menggenggamnya dengan benar, pedang itu diayun dan dengan cepat menebas leher Pejabat Kota hingga putus.


Crasss!


"Ah!"


Pejabat Kota hanya bisa mendesah pendek. Lalu tubuh bongsornya rebah dengan leher terpisah.


Namun sebelum kepalanya jatuh menggelinding, dengan cepat Dhafin menangkapnya. Setelah itu dia berteriak dengan keras seolah hendak meruntuhkan langit.


"Berhenti...!"


Putri Eveline tertegun sejenak ketika mendengar teriakan keras yang hebat itu.

__ADS_1


Saking hebatnya pengaruh teriakan itu, membuat semua pasukan di kedua belah pihak segera berhenti mengayunkan senjata. Hingga tidak butuh waktu lama pertempuran berhenti sejenak.


Pasukan Jubah Merah segera mundur dengan cepat ke belakang Dhafin. Begitu juga dengan Aziel, Gibson, Zafer, dan Zelyne yang kini sudah berpihak pada Dhafin.


Sementara Putri Eveline tidak pernah lepas mengamati Dhafin. Dilihatnya pemuda tampan yang selalu memakai baju luar warna biru langit itu mengangkat kutungan kepala Pejabat Kota tinggi-tinggi. Lalu terdengar dia berteriak lagi dengan keras.


"Lihat! Pejabat Kota kalian sudah mati! Dan Kepala Keamanan Kota juga sudah mati! Kalian sudah tidak punya pemimpin lagi. Hendaknya kalian semua menyerah!"


Prajurit Keamanan Kota yang jumlahnya sudah kurang dari 2000 personel itu lantas memandang kutungan kepala Pejabat Kota yang di tangan Dhafin. Dan sebagian mereka juga sudah melihat mayat Kepala Keamanan Kota yang terkapar bersimbah darah.


Akankah mereka mau mendengar seruan Dhafin dan menyerah begitu saja?


Semua prajurit militer yang ada di Kerajaan Bentala sudah didoktrin keras oleh Bunda Suri Hellen Gretha agar tidak boleh takluk dan menyerah kepada musuh, bagaimanapun keadaannya. Maka....


"Dengar kalian semua!" seru salah seorang prajurit keamanan yang tiba-tiba maju ke depan. "Kita tidak boleh menyerah kepada musuh! Mereka adalah pemberontak hina yang harus dibasmi!"


"Seraaang... !" teriak prajurit itu memerintahkan seluruh rekannya untuk tetap menyerang.


"Bodoh!" desis Putri Eveline mendengus, menyayangkan perbuatan prajurit keamanan yang tidak mau menyerah.


"Apa boleh buat," kata Dhafin mendesah kesal. "Serang!"


Kutungan kepala Pejabat Kota masih menggantung di udara tubuh Dhafin sudah lenyap. Begitu juga dengan Gibson, Aziel, Zafer dan Zelyne. Menyusul kemudian Pasukan Jubah Merah.


Lalu kutungan kepala itu bergerak turun. Tapi belum juga jatuh menyentuh tanah, sudah terdengar jeritan-jeritan kematian saling susul Prajurit Keamanan Kota.


Demikian cepatnya penyerangan yang dilakukan Dhafin dan rekan-rekannya membuat para prajurit keamanan itu hampir tidak sempat balas menyerang. Dan pertempuran belum ada 1 peminum teh Prajurit Keamanan Kota sudah bertumbangan semuanya tanpa ada sisa.


Dengan tewasnya Pejabat Kota, Kepala Keamanan Kota, beserta seluruh prajurit keamanan, berarti saat itu juga Kota Nehan takluk di tangan Ratu Agung Aurellia, selaku penguasa tertinggi pasukan Markas Centaurus.


Setelah itu Dhafin menyuruh menulis di selembar kertas tebal tulisan:


KAMI SUDAH MENAKLUKKAN KOTA NEHAN


Pertanda


Lalu tulisan itu ditaruh di atas mayat Pejabat Kota. Setelah itu Dhafin mengirim Pejabat Kota ke istana melalui kekuatan ghaibnya.


Apa yang diperbuat Dhafin itu merupakan tindakan teror kepada Bunda Suri Hellen. Dengan begitu diharapkan dia diserang kepanikan dan mentalnya akan jatuh.


Atau, perbuatan itu akan membuat amarah dan emosi Bunda Suri makin memuncak. Dengan begitu dia akan bertindak tergesa-gesa dan melakukan kecerobohan.


★☆★☆


Ketika Putri Eveline muncul di hadapan Dhafin dan rekan-rekannya, dan karena saking gembiranya Zelyne memanggilnya Tuan Putri, maka semua Pasukan Jubah Merah langsung bersiaga.


"Tahan!" seru Dhafin cepat menegur sikap yang dilakukan pasukan Markas Centaurus terhadap Putri Eveline. "Tidak perlu kalian bersikap siaga terhadap Tuan Putri. Karena Tuan Putri datang dengan damai."


Mendengar seruan Dhafin itu, maka semua Pasukan Jubah Merah kembali bersikap biasa.


Sedangkan Putri Eveline berusaha bersikap tenang. Tidak menampakkan gelagat perlawanan. Tapi tidak juga menunjukkan sikap tunduk terhadap Dhafin. Sikapnya tampak datar saja.


"Apa kamu yakin aku datang dengan damai?" tanya Putri Eveline seolah memancing reaksi Dhafin. Nadanya ketus.


"Tidak mungkin kamu datang ke mari seorang diri kalau bukan karena yakin aku akan melindungimu," kata Dhafin bernada tenang sambil tersenyum.


Putri Eveline sempat terkejut di dalam hati mendengar perkataan Dhafin yang tepat itu. Dia memberanikan diri mendatangi Dhafin karena yakin Dhafin pasti melindunginya seperti yang ditunjukkan tadi.


Tapi dia tak mau menampakkannya. Yang dia tampakkan adalah sikap datar bercampur judesnya.


"Kamu pikir aku takut sehingga butuh perlindunganmu?" kata Putri Eveline masih ketus seolah dia serius.


Sehingga sikapnya itu membuat Zelyne khawatir sekaligus cemas. Untung saja sedikit banyak dia sudah memahami karakter rekan-rekan Dhafin. Dan mereka juga tunduk terhadap Dhafin.


"Tuan Putri," kata Zelyne mencoba membujuk, "sudahlah! Tidak usah bersikap seperti itu! Nanti bisa membahayakan dirimu."


"Aku tidak takut mati!" kata Putri Eveline seolah makin berani.

__ADS_1


Baik Dhafin, Gibson, Aziel, maupun Zafer cuma diam saja atas sikap yang ditunjukkan Putri Eveline itu. Zelyne yang makin cemas.


"Kamu tidak takut mati, tapi aku yang takut kalau kamu mati," kata Dhafin masih bersikap tenang. Senyumnya pun belum hilang. "Dan pastinya aku akan bersedih kalau kamu mati."


Sekuat tenaga Putri Eveline menahan perasaannya agar tidak terpengaruh dengan kalimat romantis itu. Saking menahan perasaannya dia tidak bisa berkata-kata.


Putri Eveline tidak gampang menyukai seorang pemuda, meskipun dia tampan setampan apapun. Tapi begitu pertama kali melihat Dhafin, hatinya yang beku itu sempat bergetar juga.


Dan belum juga jauh mengenal karakter Dhafin sudah membuatnya kagum terhadap pemuda tampan itu.


Sekarang dia melihat sosok Dhafin lebih dekat. Sikapnya yang begitu tenang serta gaya bahasa yang santun. Senyum yang begitu menawan.


Sekeras apapun atau sebeku bagaimanapun hati seorang gadis, ketika melihat kepribadian Dhafin yang mempesona pasti akan luluh juga. Tidak terkecuali dirinya.


Pantas saja Putri Lavina yang terkenal angkuh itu, yang juga tidak gampang menyukai lelaki bisa luluh kepada seorang Dhafin.


Ternyata pesona aura seorang Dhafin begitu kuat mempengaruhi perasaan seorang gadis.


Kalau lama-lama bersama Dhafin dia bakalan bisa luluh juga.


"Aku tidak memaksamu bergabung kepada kami," kata Dhafin bernada lembut. "Tapi setidaknya kamu mengikuti saranku untuk tidak terlibat dalam masalah."


Putri Eveline masih saja terdiam. Tidak menanggapi nasehat Dhafin. Dia masih berkutat dengan gejolak perasaannya.


Matanya pun tidak memandang Dhafin lagi atau pun rekan-rekannya, melainkan memandang ke arah lain.


Tapi tak lama kemudian, dia sedikit tersentak ketika mengingat ada dua surat dititipkan oleh ayahandanya untuk diserahkan kepada Zelyne.


Sebenarnya dia masih didera keheranan mengapa ayahandanya menulis surat khusus untuk Zelyne. Tapi dia tidak berani untuk membukanya ingin melihat isi surat itu.


Dikeluarkan dua amplot surat dari balik pakaiannya. Salah satunya dikasikan Zelyne.


Tentu saja Zelyne keheranan bukan main. Apalagi surat itu langsung dari Raja Ghanim. Namun untuk saat ini surat itu belum berani dibacanya. Karena pasti isi surat memang benar-benar penting.


Dia menunggu kota sudah benar-benar kondusif dulu baru dia membukanya. Maka dia simpan dulu di balik bajunya.


Sedangkan surat yang satu Putri Eveline menyerahkan kepada Dhafin. Surat itu sebenarnya tertuju untuk Pangeran Revan. Tapi Putri Eveline masih enggan bertemu muka dengan kakak sepupunya itu.


"Simpan dulu surat itu," kata Dhafin yang tahu surat itu ditujukan kepada siapa. "Nanti kamu serahkan sendiri kepada Pangeran Revan. Dia 'kan saudaramu juga."


Putri Eveline memasukkan kembali surat itu ke balik bajunya karena lagi tidak mau bertengkar atau berbicara banyak dengan Dhafin untuk saat ini.


Namun dia mengikuti juga Dhafin yang mengajaknya mengkondusifkan Kota Nehan.


★☆★☆


Perlu diketahui, peristiwa penaklukkan Kota Nehan ini tentu membuat para penduduk kota panik bercampur ketakutan.


Belum lama ini mereka digemparkan dengan pertempuran yang terjadi tidak jauh di batas Kota Nehan sebelah timur. Yang mana pertempuran itu menewaskan seluruh pasukan militer yang sedianya dikirim ke pusat pemerintahan.


Belum hilang ketakutan mereka, kini ditambah lagi dengan penaklukkan kota ini yang menewaskan seluruh prajurit keamanan. Semakin membuat mereka ketakutan.


Makanya Dhafin dan rekan-rekannya mencoba menjelaskan kepada para penduduk akan tujuan mulia mereka.


Berusaha memerangi kezaliman demi keamanan dan kenyamanan semua penduduk dalam menjalani kehidupan mereka.


Sementara di istana kembali terjadi kegemparan. Bagaimana mau tidak gempar dalam 2 hari ini 6 mayat Pejabat Kota dikirim secara ghaib ke istana.


Kematian mereka sungguh mengerikan. Bahkan ada yang kepalanya putus.


Tapi ada yang lebih mengerikan lagi. Setiap mayat Pejabat Kota dititipi pesan yang bertuliskan tertakluknya kota di masing-masing pejabat itu berkuasa.


Tentu saja peristiwa ini membuat Bunda Suri semakin emosi dan murkanya semakin menjadi-jadi. Dia tahu kalau perbuatan ini merupakan cara Selir Heliana menteror dirinya.


Namun sepertinya Selir Hellen tidak gentar menghadapi teror murahan itu. Dia tetap saja maju....


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2