
Waktu yang dijanjikan telah tiba.... Tim Dhafin dan Tim Brian akan bertemu di Bukit Kanaya....
Tanpa terasa sudah 25 hari lamanya Dhafin dan 9 ksatria elit berada di Kerajaan Amerta. Demi melaksanakan misi mulia sebagimana yang telah direncanakan Dhafin.
Yang pertama tiba di sana, tepatnya di tempat sunyi yang dulu menjadi tempat berlatih Brian waktu kecil adalah Tim Brian. Mereka antara lain: Brian, Aziel, Keenan, Kelvin, dan Wilson.
Ditambah 6 ksatria tangguh Ketua Anthoniel yang antara lain: Jarrel, Andro, Pedang Emas, dan Tiga Ksatria Hitam.
Julukan Tiga Ksatria Hitam merupakan julukan yang disematkan Brian kepada ketiga pemuda tangguh itu. Karena mereka memang selalu berpakaian warna hitam dengan model yang sama.
Dan ketiga pemuda itu setuju saja, bahkan merasa senang Brian memberikan julukan itu kepada mereka.
Tim Brian sampai di tempat itu saat matahari baru naik 1 tombak. Kedatangan mereka langsung disambut oleh suasana sejuk dan asri akan keadaan sekitar. Masih dipadu oleh merdunya berbagai kicauan burung pagi.
Awalnya mereka tidak gelisah kenapa Tim Dhafin belum juga tiba. Mungkin mereka datang terlalu dini pikir masing-masing mereka.
Namun sinar matahari sudah semakin redup, waktu sudah berada di penghujung sore, burung-burung mulai pada kembali ke sarangnya, Tim Dhafin belum juga muncul walau bayangannya.
Tentu saja Brian dan keempat ksatria Istana Centauri lainnya merasa gelisah dibuatnya. Jelas tergambar kekhawatiran di wajah tampan mereka.
Sedangkan Jarrel dan kelima rekannya, demi melihat kegelisahan yang melanda kelima pemuda itu, mereka sebenarnya juga merasa khawatir. Tapi tidak sekhawatir Brian dan keempat rekannya.
Malah Pedang Emas maupun Tiga Ksatria Hitam sedikit merasakan keanehan. Atau bisa dibilang merasa heran. Mereka berpikir, kalau begitu Dhafin ini memiliki kedudukan yang tinggi di mata kelima pemuda itu sampai sebegitu khawatirnya.
"Kenapa mereka lama sekali datang ke sini ya?" gumam Keenan seolah bicara sendiri.
Dia berusaha setenang mungkin, tapi nada suaranya tidak bisa menyembunyikan kecemasannya.
"Siapa tahu Yang Mulia bersama personil beliau masih dalam melaksanakan tugas," duga Jarrel.
Sampai saat ini Jarrel dan kelima rekannya masih meyakini kalau Dhafin adalah Raja Kerajaan Bentala. Dan Brian dan keempat rekannya masih tutup mulut akan hal yang sebenarnya.
"Apa kalian masih meyakini kalau Yang Mulia adalah Raja Kerajaan Bentala?" tanya Kelvin seolah hendak mengungkap sesuatu.
"Memang kenyataannya begitu 'kan?" kata Jarrel. "Beliau adalah pewaris tahta Kerajaan Bentala."
"Apa maksud ucapanmu, Kelvin?" tanya Pedang Emas menangkap maksud tertentu dari ucapan Kelvin.
"Jangan dulu sembarangan bicara sebelum Yang Mulia yang memberi tahu, Kelvin," kata Aziel bernada dingin, langsung mencegat Kelvin yang hedak ngomong.
Mendengar teguran Aziel barusan, Kelvin tidak jadi berbicara. Bahkan wajahnya langsung pucat dan merasa ketakutan karena bermulut lancang.
Namun ucapan Kelvin barusan sukses membuat Jarrel dan kelima rekannya penasaran. Sejenak mereka menatap Kelvin yang masih ketakutan.
Lalu beralih menatap Aziel yang tetap berdiri diam sambil bersedekap dan bersandar di batu besar.
Lalu hampir bersamaan mereka beralih menatap Brian. Tatapan mereka jelas menyiratkan agar Brian menjelaskan ucapan Kelvin barusan.
"Maaf, saya tidak bisa menjelaskan tanpa seizin Yang Mulia," kata Brian beralasan seolah tahu arti tatapan mereka.
Jarrel, Andro, Pedang Emas maupun Tiga Ksatria Hitam jelas semakin penasaran dibuatnya. Apa sebenarnya yang terjadi pikir mereka.
Tapi mereka jelas enggan memaksa Brian untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
★☆★☆
Selagi suasana masih terbungkam kebisuan, terpenjara dalam kungkungan kesunyian, semetara senja sudah menapakkan kakinya meninggalkan petang, tiba-tiba di suatu arah muncul sinar yang cukup menyilaukan.
Sinar atau cahaya terang itu berbentuk persegi panjang dan cukup besar, bagai membentuk pintu raksasa. Sisi bagian luar cahaya itu berwarna merah muda. Sedangkan di bagian dalamnya berwarna putih bercampur kuning.
Tentu saja kemunculan cahaya berbentuk pintu raksasa itu sukses mengejutkan 11 pemuda tampan itu. Namun tidak begitu lama Brian, Aziel, Keenan, Kelvin dan Wilson segera tahu cahaya apa itu.
"Gerbang Cahaya....!" desah mereka dalam kejutnya hampir bersamaan.
Belum lama kemunculan Gerbang Cahaya, dari dalam cahaya terang itu muncul Dhafin yang berkelebat dengan cepat. Menyusul di belakangnya 9 rekannya serta 10 tetua. Terus paling belakang 60 ksatria tangguh pasukannya.
__ADS_1
Setelah orang-orang muda itu telah muncul semua di tempat itu, tak lama Gerbang Cahaya menyusut, lalu lenyap.
Tapi rasa heran bercampur takjub pada Jarrel dan 5 rekannya belum juga hilang.
Mereka semua tidak mengenal siapa yang datang itu yang tengah berjalan mendekat. Mereka cuma mengenal Dhafin dan keempat ksatria elit Istana Centauri.
Sedangkan Brian dan keempat rekannya cuma mengenal 5 ksatria Istana Centauri. Selebihnya mereka juga belum kenal. Tapi sepertinya masing-masing mereka sudah bisa mengira-ngira siapa orang-orang muda itu.
"Siapa mereka, Tuan Muda?" tanya Brian langsung ketika rombongan itu sampai di tempat mereka berkumpul.
Dhafin segera menjelaskan secara singkat latar belakang orang-orang yang datang bersamanya selain 4 rekannya. Kemudian dia menghadap pada 10 tetua dan 50 ksatria tangguh. Lalu memperkenalkan Brian kepada mereka.
"Sepuluh tetua dan kalian semua, pemuda ini adalah Pangeran Brian Darel, Pangeran Ke 2 sekaligus putra Yang Mulia Raja Darian Cashel...."
Beberapa orang di antara ksatria tangguh tentu saja langsung cepat mengenal Brian, karena mereka pernah melihat Brian waktu kecil.
Sedangkan secara keseluruhan mereka, begitu mengetahui kalau pemuda yang diperkenalkan Dhafin itu adalah putra Raja Darian Cashel, mereka langsung menunjukkan sikap hormat.
Termasuk Marlon dan keempat rekannya. Karena memang mereka adalah warga Amerta.
"Sekarang...," lanjut Dhafin, "aku serahkan tampuk jabatan kepemimpinan atas kalian kepadanya. Sekarang Pangeran Brian adalah ketua kalian yang sesungguhnya."
Sebagian orang-orang yang ada di situ tentu saja terkejut heran mendengar ucapan Dhafin barusan.
Sedangkan Brian lebih kaget lagi, bahkan amat terkejut. Tanpa ada pendahuluan sebelumnya tiba-tiba saja Dhafin menyerahkan tampuk jabatan ketua kepadanya.
"Berikan penghormatan kalian atas ketua kalian yang sesungguhnya!" pinta Dhafin kepada 60 ksatria tangguh bagai memerintah.
"Suatu saat kelak," lanjutnya, "Pangeran Brian-lah yang akan menjadi raja kalian sesungguhnya, menggantikan Yang Mulia Raja Darian. Bukan Raja Adrian, meskipun dia adalah pewaris tahta."
Awalnya 60 ksatria tangguh sempat bingung menentukan sikap, siapa yang pantas menjadi ketua mereka.
Bukan mereka meragukan akan kepemimpinan Pangeran Brian. Dan 10 tetua pula bisa menilai kalau Pangeran Brian memang pantas menjadi seorang pemimpin.
Namun di sisi lain, mereka telah disadarkan akan posisi Pangeran Brian di mata mereka. Sebenarnya Pangeran Brian memang pantas menjadi ketua mereka. Apalagi Dhafin telah menyadarkan mereka kalau Pangeran Brian kelak akan menjadi raja mereka. Tapi....
★☆★☆
"Kenapa kalian tidak segera memberikan penghormatan kepada ketua kalian?" kata Dhafin bernada kalem, tapi jelas menegur. "Apa kalian ragu akan kepemimpinan calon raja kalian ini?"
Teguran Dhafin barusan sukses membangkitkan kesadaran 60 ksatria tangguh yang sempat terlelap dalam kebingungan. Maka dengan segera 10 tetua bersiap-siap memberikan penghormatan kepada Brian. Ksatria tangguh yang lainnya mengikuti pula.
"Tunggu!"
Seketika Brian cepat mencegat 60 ksatria tangguh yang siap berlutut di hadapannya.
Terang saja, mendengar seruan bernada pelarangan itu, 60 ksatria tangguh langsung mengurungkan niat. Namun mereka serentak memandang Brian dengan tatapan keheranan.
Sedangkan Dhafin juga menatap Brian dengan keheranan. Tapi baru saja dia hendak bertanya akan alasan Brian, pemuda itu sudah berkata duluan.
"Kenapa Yang Mulia tiba-tiba menyerahkan tampuk jabatan ketua atas mereka kepada saya? Bukankah mereka sudah menunjuk Yang Mulia?"
Dhafin tidak langsung menjawab pertanyaan Brian, karena dia sempat terkejut Brian tiba-tiba memanggilnya 'Yang Mulia'. Padahal tadi dia masih memanggilnya 'Tuan Muda'.
Tapi dia langsung cepat berpikir kalau Brian pasti punya maksud di balik panggilan tersebut.
"Kamu sudah tahu sendiri kalau aku bukan asli orang Amerta," kata Dhafin beralasan. "Jadi aku tidak pantas menjadi ketua mereka yang mana mereka adalah warga Kerajaan Amerta...."
"Lagipula aku sudah memberitahu kepada mereka," lanjut Dhafin, "kalau aku hanya menjadi ketua sementara. Sampai mereka bertemu dengan ketua yang lebih pantas, yaitu kamu, Pangeran."
Orang-orang yang ada di situ selain Tim Dhafin, menyaksikan adegan ini jelas membuat mereka merasa heran sekaligus cukup bingung. Baru saja rombongan itu datang sudah membahas masalah ketua.
Belum lagi Jarrel dan kelima rekannya masih dibuat penasaran akan ucapan Kelvin tadi.
Adapun 5 ksatria elit Ketua Carolus, jelas dibuat terkejut saat Brian memanggil Dhafin dengan sebutan 'Yang Mulia'. Kalau begitu Dhafin ini memiliki kedudukan istimewa dan tinggi pikir mereka.
__ADS_1
Sudah sekian lama mereka bersama-sama, belum ada dari keempat ksatria Istana Centauri memanggil dengan sebutan itu.
"Apakah Yang Mulia sudah memberi tahu kepada mereka siapa Yang Mulia sebenarnya?" makin tampak apa maksud Brian menyebut Dhafin dengan 'Yang Mulia'.
"Rasanya hal itu tidak terlalu penting, Pangeran," elak Dhafin. "Yang penting mereka sudah mengetahui kamu sebagai pemimpin yang sebenarnya."
"Bagi mereka penting mengetahui siapa Yang Mulia," kata Brian bernada tegas seolah membantah. "Dan semua orang yang ada di sini berhak mengetahui siap junjungan tertinggi mereka, Yang Mulia."
Semua orang yang ada di situ adalah orang-orang yang cerdas. Dan tidak butuh waktu lama mereka segera tahu apa maksud perkataan Brian itu. Junjungan mereka yang paling tinggi adalah Dhafin!
Kenapa bisa demikian? Tentu pertanyaan itu akan terlintas dalam benak semua orang yang ada di situ kecuali 10 Tim Dhafin yang awal.
Sementara Jarrel dan kelima rekannya sampai di sini masih meyakini kalau Dhafin adalah Raja Kerajaan Bentala. Apalagi ditambah dengan ucapan Brian.
Itulah makanya Dhafin menolak menjadi ketua atas 60 ksatria tangguh itu, karena dia seorang raja di Kerajaan Bentala. Sedangkan Brian adalah calon rajanya Kerajaan Amerta. Jadi, Brian lebih pantas menjadi ketua atas 60 ksatria tangguh.
Itu menurut pikiran mereka.
★☆★☆
"Baik, aku akan menerangkan siapa diriku," kata Dhafin seolah mengalah.
"Sebenarnya aku adalah seorang warga Kerajaan Bentala yang bernama asli Ghavin Aldebaran," ungkap Dhafin menerangkan tentang dirinya. "Nama Dhafin adalah nama samaran bagiku...."
"Aku pernah tinggal di kotaraja Kerajaan Amerta dan diangkat anak oleh Tuan Jenderal Felix Damian," lanjutnya. "Tentu sebagian besar kalian sudah mengetahuinya. Aku rasa itu sudah cukup."
"Belum, Yang Mulia," kata Brian seperti belum puas.
Sebagian besar orang yang ada di tempat itu lantas memandang Brian dengan keheranan. Apa yang belum cukup?
Sedangkan Dhafin menatap Brian dengan sorotan mengandung arti tertentu.
"Perlu hadirin semua ketahui," kata Brian seakan melanjutkan ucapannya yang seperti terputus, "bahwa beliau adalah Pangeran Agung, Pangeran Ghavin Aldebaran, putra Yang Mulia Pangeran Ghazam Aldari...."
"Calon penguasa Kerajaan Negeri Tabir Ghaib, kerajaan yang kelak akan mengepalai 3 kerajaan; Kerajaan Bentala, Kerajaan Amerta, dan Kerajaan Lengkara."
Maka jelaslah apa maksud Brian memanggil Dhafin dengan sebutan 'Yang Mulia'. Rupanya dia hendak memproklamirkan Dhafin sebagai penguasa tertinggi kepada semua hadirin.
Namun pernyataan itu sukses membuat Jarrel Cs terkejut. Ternyata Dhafin bukanlah sebagai Raja Kerajaan Bentala, melainkan calon Raja Kerajaan Negeri Tabir Ghaib.
Lalu siapa yang menjadi raja di Kerajaan Bentala? Apakah Pangeran Revan yang menjadi rajanya?
Ternyata juga sukses membuat Marlon terkejut. Mereka tidak menyangka kalau Dhafin adalah seorang Pangeran Agung yang bernama asli Pangeran Ghavin Aldebaran. Lebih terkejut lagi ternyata dia adalah calon penguasa 3 kerajaan.
"Kamu terlalu berlebihan memberitahukan siapa diriku, Pangeran," kata Dhafin seperti masih mengelak.
"Yang Mulia," Gibson yang berkata, "izinkan hamba bertanya, dan mohon dijawab dengan terus terang."
"Silahkan, Gibson!" Dhafin seraya menoleh pada Gibson.
"Yang Mulia telah menanggalkan hak Yang Mulia sebagai ahli waris Kerajaan Bentala. Apakah Yang Mulia akan menanggalkan pula sebagai calon penguasa 3 kerajaan?"
Jelas Dhafin tidak bisa langsung menjawab pertanyaan Gibson. Tapi pertanyaan itu tepat mengenai sasaran.
Dia tidak pernah menyinggung kalau tidak bersedia menjadi penguasa di Istana Centauri. Tapi sepertinya Gibson, Brian, dan semua rekannya dari Istana Centauri sudah bisa membaca niatnya itu.
"Aku harus menjawab bagaimana kalau kalian sudah tahu?" kata Dhafin seperti bingung harus bicara apa.
Seketika Gibson langsung tersungkur berlutut. Diikuti oleh Brian, Aziel, Zafer, dan ksatria elit Istana Centauri lainnya.
Melihat fenomena itu, Jarrel Cs ikut berlutut pula tanpa banyak pikir. Diikuti oleh Marlon Cs dan 60 ksatria tangguh.
Terang saja membuat Dhafin langsung terkejut bukan main melihat perbuatan semua orang yang ada di situ.
★☆★☆★
__ADS_1