
Dengan sekali ayunan pedang dua prajurit penjaga yang berada di kiri kanan kereta barang langsung memutuskan tali pengikat bungkusan barang yang melintang ke samping.
Seeet! Seeet!
Tesss! Tesss!
Sedangkan prajurit penjaga yang ada di belakang kereta dua kali mengayunkan pedang, maka dua tali pengikat yang membujur dari depan ke belakang langsung putus.
Seeet! Seeet!
Tesss! Tesss!
Sementara Dhafin langsung panik melihat ketiga prajurit penjaga itu sudah bersiap-siap menarik kain mota tebal pembungkus barang. Tepatnya berlagak panik.
"Tuan-tuan! Jangan!" cegah Dhafin berlagak ribut. Padahal dia tahu kalau tiga prajurit penjaga itu pasti tidak bisa membuka kain mota tebal itu.
"Diam!" bentak prajurit penjaga itu yang sepertinya ketua regu jaga. "Kalau kamu tidak mau diam, pedangku ini yang akan menyuruhmu diam!"
"Ta-tapi..., Tuan...."
Sraaakh...! Sret!
Tangan kiri ketua regu jaga itu memegang kasar warangka pedangnya sehingga menimbulkan bunyi mendebarkan jantung. Ditambah lagi tangan kanannya mencabut pedang sedikit, menimbulkan bunyi menggidikkan kuduk.
Dhafin langsung mengkeret ketakutan sambil duduk kembali. Sedangkan Brian tampak gemetar. Bukan karena ketakutan, tapi menahan tawa melihat lagak Dhafin.
Sementara dua prajurit penjaga yang di samping sudah siap membuka pembungkus barang. Telapak tangan mereka sudah di atas kain mota. Lalu keempat telapak tangan mereka tampak mencengkeram siap menarik kain mota ke belakang.
Tapi apa lacur. Jangankan bisa menarik penutup paket khusus itu, mencengkeramnya saja tidak bisa. Jeriji tangan mereka bukannya menyentuh kain mota tebal itu, tapi seperti menyentuh sesuatu yang licin dan alot. Berkali-kali mereka melakukan pekerjaan mereka, pembungkus barang juga tidak bisa terbuka.
Sedangkan prajurit penjaga yang ada di belakang amat penasaran akan perbuatan tiga rekannya. Kemudian melakukan hal yang sama. Tapi hasilnya juga sama.
"Ada apa?" tanya ketua regu heran melihat ketiga rekannya belum juga berhasil membuka kain mota tebal itu.
"Penutupnya tidak bisa dibuka," sahut prajurit penjaga yang di samping kanan.
Ketua regu jaga menjadi heran. Keheranannya langsung berubah menjadi penasaran, penutup barang cuma dari kain mota tebal kenapa susah dibuka. Padahal tidak ada sesuatu yang berarti yang menjadikan penutup kereta barang itu susah untuk dibuka.
Akhirnya dia sendiri juga yang turun tangan. Namun dia mendapati kenyataan penutup atau pembungkus barang itu tidak bisa ditarik atau dibuka.
"Kenapa pembungkus barang kalian tidak bisa dibuka?" tanya ketua regu mendelik geram.
"Maaf, Tuan, kami tidak tahu apa-apa," sahut Dhafin masih berlagak takut. "Kami hanya disuruh majikan kami mengantarnya ke Tuan Pejabat. Katanya hanya Tuan Pejabat yang boleh membukanya."
"Omong kosong!" bentak ketua regu sudah memuncak amarahnya. "Tangkap mereka!"
Dua prajurit penjaga yang ada di kiri kanan kereta langsung mendatangi Dhafin dan Brian. Lalu mereka mencekal tangan Dhafin dan Brian terus menarik mereka turun dari kereta dengan kasar.
Brian tidak melakukan apa-apa prajurit penjaga mencekal kedua tangannya. Dia diam saja. Sedangkan Dhafin juga tidak melakukan perlawanan. Hanya mulutnya saja yang ribut menyuarakan pembelaan diri.
"Kenapa kami ditangkap, Tuan? Apa salah kami? Kami hanya kurir...."
Selagi Dhafin ribut meminta belas kasihan dan pengertian para prajurit penjaga, Kepala Keamanan Kotaraja datang dengan mengendarai kuda. Ikut bersamanya prajurit penjaga yang melapor tadi.
★☆★☆
Begitu turun dari kuda Kepala Keamanan langsung menghampiri Dhafin dan Brian yang masih dicekal oleh dua prajurit penjaga. Dan kali ini Dhafin tidak ribut lagi.
__ADS_1
Kepala Keamanan yang berwajah licik itu menatap Dhafin dan Brian bergantian dengan sinis. Sorot matanya begitu menyiratkan kebencian dan kemarahan.
Dia sudah tahu siapa kedua bocah itu, meski wajah mereka tersamarkan debu. Dan kuat dugaannya di dalam kereta barang itu tentunya berisi empat pejabat yang mereka bekuk.
"Sekap mereka di gardu jaga dulu!" perintah Kepala Keamanan bernada datar. "Kemudian bawa ke markas pakai kereta penumpang."
Dhafin dan Brian saling melirik sejenak. Dan lirikan itu sebagai isyarat kalau saatnya beraksi.
Baru saja prajurit yang mencekal Brian hendak menyeret anak itu, seketika Brian menyentak kedua tangannya dengan kuat dan keras. Maka cekalan pada kedua tangannya terlepas dengan mudah.
Terang saja prajurit itu terkejut bukan main. Tapi keterkejutannya itu harus terbayar dengan mahal. Karena dengan cepat Brian berbalik menghadapnya sambil melayangkan telapak tangan kanannya.
Karena si prajurit masih terkejut dan belum siap, apalagi serangan itu begitu mendadak, maka telapak tangan kanan Brian yang berisi tenaga dalam tinggi serta energi kesaktian berhawa dingin dengan telak menghantam dadanya.
Bughk!
"Akh...!"
Prajurit itu langsung terjajar limbung ke belakang sambil mengeluh tertahan. Hawa yang cukup dingin langsung menyerang rongga dadanya yang terasa sakit dan sesak. Kemudian hawa dingin itu menyebar ke seluruh tubuhnya dengan cepat, hingga seluruh tubuhnya lumpuh. Dan akhirnya dia tersungkur jatuh begitu saja tanpa daya.
Sementara Dhafin segera mengerahkan energi panas ke kedua tangannya, sehingga kedua tangannya menjadi panas seperti bara. Membuat prajurit yang mencekal tangannya langsung terkejut bukan main.
Buru-buru cekalannya dilepas sambil mundur satu tindak ke belakang. Kedua telapak tangannya begitu panas seolah baru memegang bara api.
Sedangkan Dhafin tidak tinggal diam. Tanpa berbalik dia melompat sedikit. Bersamaan kaki kanannya melayang melakukan tendangan memutar yang mengarah ke leher prajurit itu sebelah kanan.
Karena prajurit itu masih terkejut dengan keanehan yang terjadi padanya sehingga tidak melakukan persiapan, maka tendangan yang berisi tenaga dalam tinggi itu dengan telak, kuat, dan keras menghantam leher kanannya.
Deghk!
"Hagh...!"
Semua prajurit penjaga yang menyaksikan kejadian yang tidak disangka-sangka itu masih terkesima di tempat mereka masing-masing. Mereka tidak menyangka dua anak kecil melumpuhkan dua prajurit dengan begitu mudahnya.
Sedangkan Kepala Keamanan seakan baru tersadar kalau kedua anak ini memang memiliki kehebatan yang tidak bisa dianggap remeh. Kenapa dia terlambat menyadarinya?
"Tangkap mereka!" perintahnya kepada seluruh prajuritnya.
Delapan prajurit segera bangun dari keterkesimaan. Tanpa menunggu perintah dua kali mereka langsung mengepung dua bocah itu seraya menghunus pedang.
Empat prajurit mengepung Dhafin yang berada agak jauh di kiri kereta. Sedangkan empat lainnya mengepung Brian yang juga berada agak jauh dari kanan kereta.
★☆★☆
Kali ini Brian benar-benar mengeluarkan kehebatannya yang akan membuat empat pengepungnya jera menghadapinya.
Digeser kaki kirinya ke belakang. Lutut kanan sedikit ditekuk. Kedua tangannya bergerak ke samping agak ke depan setengah merentang. Kedua telapak tangannya terbuka menghadap ke langit dengan jeriji terkembang. Tak lama energi batin berikut kesaktiannya menguar.
Seketika hawa bening berputar-putar di sekelilingnya. Ketika telapak tangannya diangkat sedikit, maka belasan batu kerikil sebesar jempol yang ada di sekitar lingkaran hawa bening secara aneh terangkat ke udara.
Sedangkan keempat prajurit pengepung, seolah tidak menghiraukan keanehan yang diciptakan Brian, langsung menyerang secara bersamaan seraya mengayunkan pedang.
Hampir bersamaan Brian mendorong kedua telapak tangannya ke samping dengan kuat. Maka hawa bening yang berputar-putar di sekelilingnya tadi seketika berpencar menghantar belasan batu menuju ke empat pengepungnya.
Dan hasilnya sudah bisa dibayangkan. Belasan batu kerikil itu langsung menghantam tubuh empat prajurit itu dengan kuat dan keras bersama hempasan energi hawa bening. Sehingga membuat keempat prajurit itu terlempar ke belakang, lalu jatuh sambil mengerang kesakitan.
Sejurus lamanya mereka tidak bisa bangun lagi. Bukan berarti mati. Hanya saja serangan aneh itu membuat sekujur tubuh mereka amat kesakitan sehingga tidak bisa bangkit.
__ADS_1
Semetara itu, Dhafin juga melakukan aksi yang tidak kalah hebatnya. Dengan cepat dan kuat didorong kedua telapak tangannya kesamping. Maka dua gelombang sinar putih bening keluar dari kedua telapak tangannya.
Dengan mengawal hawa amat dingin dua gelombang sinar itu melesat dengan cepat dan menghantam dada prajurit yang mengepung dari samping dengan telak. Maka tanpa ampun tubuh mereka langsung terlontar ke belakang, terus jatuh tidak bangun lagi.
Sekujur tubuh mereka langsung dingin dan kaku, susah untuk bergerak, apalagi bangun.
Sementara itu pengepung bagian belakang sudah menyabetkan pedangnya siap menebas leher kanan Dhafin. Sedangkan pengepung bagian depan sudah menusukkan pedangnya siap menohok dada Dhafin. Dua serangan mematikan itu datang secara bersamaan.
Dengan kecepatan yang mengagumkan Dhafin bergerak ke depan sebelah kiri. Maka sabetan pedang prajurit bagian belakang cuma menebas angin. Dan ujung pedang prajurit bagian depan cuma menusuk angin pula.
Sementara Dhafin dengan cepat mengangkat telapak tangan kanannya yang masih teraliri energi kesaktian berhawa dingin. Lalu dengan cepat pula telapak tangan kanan itu menghantam dada prajurit di depannya dengan kuat.
Bughk!
"Aaakh...!"
Dan tanpa ampun lagi prajurit itu terlempar ke belakang, lalu jatuh tanpa bangkit. Sekujur tubuhnya langsung dingin dan kaku, tak bisa bergerak tapi tidak mati.
Sedangkan prajurit yang ada di belakang tadi, gagal menebas leher Dhafin, tanpa menarik pedang, dia mengayunkan pedangnya ke bawah hendak menebas pinggang kiri Dhafin seraya maju selangkah.
Dhafin yang mengetahui serangan itu, tanpa berbalik dilentingkan tubuhnya sedikit ke belakang dengan cepat. Sehingga sabetan pedang itu cuma lewat di bawah kaki kirinya yang ditekuk ke dalam.
Sedangkan kaki kanan Dhafin melayang memutar ke belakang dan dengan cepat, keras, dan kuat menyabet leher kanan prajurit itu dengan tenaga dalam tinggi.
Deghk!
"Hagh!"
Prajurit itu kontan terjajar limbung ke samping kiri tiga langkah dengan kepala miring. Lalu jatuh tersungkur ke bawah begitu saja. Rupanya tendangan Dhafin itu mengenai titik tidur si prajurit.
Sungguh, melihat aksi kedua bocah itu melumpuhkan semua anak buahnya dengan mudah dan cepat, Kepala Keamanan benar-benar dibuat terkejut bukan main.
Menurut perhitungannya dikeroyok oleh semua prajuritnya kedua bocah itu bakalan bisa dilumpuhkan. Namun kenyataan tidak sesuai perkiraan. Perkiraannya ternyata belum menjangkau kehebatan mereka.
Entah mereka masih menyimpan kehebatan aneh apa lagi? Dia menyesal kenapa tadi tidak membawa banyak prajurit kalau kenyataannya sepuluh prajuritnya dapat dilumpuhkan dengan mudah.
★☆★☆
Dhafin melangkah menuju tempat Kepala Keamanan yang masih berdiri diam. Begitupun juga Brian. Mereka baru berhenti ketika berjarak dua tombak dengan lelaki muda berwajah licik itu.
"Sekarang apa yang hendak kamu lakukan, Kapten Chris?" tanya Dhafin bernada dingin. Tadi sebelum berbicara kepada Kepala Keamanan itu, dia tanyakan dulu namanya kepada Brian. "Semua anak buahmu sudah kami lumpuhkan."
"Apa kamu hendak melawan kami juga?" sambung Brian. Tapi nadanya seperti mengejek. "Atau salah seorang di antara kami?"
Kepala Keamanan yang ternyata bernama Kapten Chris bangun dari keterkejutannya. Terus menatap kedua bocah itu dengan penuh kebencian. Sifat liciknya segera bekerja.
Kalau dia melawan dua bocah itu, bisa jadi dia akan kalah. Karena dia belum bisa menjangkau sampai di mana kehebatan mereka. Jangan-jangan masih ada ilmu-ilmu aneh yang mereka masih simpan.
Olehnya itu, dia memutuskan untuk meninggalkan tempat ini saja, tidak mau berurusan dengan dua bocah aneh itu. Namun baru saja hal itu terbetik dalam pikirannya....
"Kamu mau pergi, Kapten Chris?" ejek Brian seolah tahu isi kepala Kapten Chris. "Apa kamu biarkan para prajuritmu tidur di jalan di terik matahari seperti itu? Tega sekali kamu!"
Kapten Chris langsung terkejut, tidak menyangka Brian bisa membaca pikirannya. Kalau begitu dia putuskan untuk melawan mereka saja. Maka segera dia mencabut pedangnya hendak menyerang duluan.
Tapi belum juga kakinya bergerak melangkah maju, seketika di sekelilingnya dia merasakan ada sesuatu tak terlihat yang berputar-putar. Bukan saja tidak jadi menyerang, malah dia terkejut bukan main.
Belum hilang rasa terkejutnya, sesuatu itu langsung melingkari sekujur tubuhnya dari kaki hingga badannya. Baru saja dia hendak bergerak meronta, sesuatu yang melingkar bagai ular besar itu semakin erat dan kuat melilit sekujur tubuhnya. Sehingga bukan saja tidak bisa bergerak, seluruh tubuhnya bagai remuk dan sakitnya bukan main.
__ADS_1
Wajahnya langsung pucat. Kedua matanya yang menyorotkan ketakutan, menatap kedua bocah itu. Entah ilmu aneh apalagi yang mereka keluarkan?
★☆★☆★