
Matahari semakin menggelinding ke ufuk barat, kira-kira sudah mencapai sepertiga. Dan panasnya, yang tadinya terik lambat laun berubah menjadi hangat.
Sementara itu pertempuran antara pasukan Bunda Suri Hellen melawan pasukan Ratu Aurellia masih terus berkecamuk.
Akan tetapi pasukan Bunda Suri, baik pasukan infanteri, kavaleri maupun jawara istana yang masih hidup cuma tinggal segelintir saja. Itupun sebenarnya mereka cuma menanti giliran mati saja.
Sedang Gibson, Zafer dan Aziel sudah menghabisi lawan mereka masing-masing. Aziel menebaskan Sepasang Pedang Bulan-nya ke tubuh lawannya hingga terpisah tiga bagian.
Sedangkan Zafer merobek dada dan perut lawannya dengan ujung pedangnya. Hingga luka di dada lawan menganga lebar dan panjang. Hingga isi perut lawan membusai keluar.
Sedangkan Gibson saling mengadu kesaktian dengan sang lawan. Hingga lawannya terlontar jauh ke belakang sambil muntah darah, sambil menjerit keras. Adapun Gibson cuma terseret 2 langkah ke belakang.
Sementara itu, lelaki baju abu-abu lawan Kelvin melenting agak jauh ke belakang, menghindari tebasan pedang Kelvin. Begitu kedua kakinya telah mendarat manis di atas tanah, dengan cepat dihentak tangan kirinya ke depan.
Maka melesatlah dengan amat cepat beberapa belati putih ke arah Kelvin. Dan semua senjata rahasia itu menarget ke bagaian mematikan dari tubuh Kelvin; 1 belati menarget jidat, 2 menarget tenggorokan, 3 menarget dada, 2 menarget rusuk, dan 1 menarget lambung.
Menyaksikan serangan senjata rahasia yang amat mematikan itu, apakah yang akan dilakukan Kelvin?
Pemuda konyol itu tidak melakukan apa-apa atau menghindari serangan itu. Dia malah memasang tubuhnya dengan merentangkan kedua tangan ke samping. Kedua mata terpejam sambil bibir tersenyum dan kepala sedikit mendongak ke langit.
Maka tidak butuh waktu lama 9 belati itu langsung menghantam ke sasaran yang ditargetnya pada tubuh Kelvin. Namun ujung 9 belati itu sama sekali tidak menancap di tubuh Kelvin. Hanya seperti menempel saja.
Malah lelaki tua berbaju abu-abu itu yang menerima akibat dari ketajaman 9 belatinya sendiri secara aneh.
Semua belati itu memang terhantam pada Kelvin. Namun malah beberapa tubuh lelaki tua itu yang seperti tertancapi belati-belatinya sendiri. Tampak pada bagian yang terkena itu mengeluarkan darah segar.
Sedangkan lelaki tua itu menjerit keras setinggi langit. Tak lama kemudian, tubuhnya rebah ke belakang dengan sudah tanpa nyawa. Dalam waktu singkat tubuhnya sudah berubah menjadi warna biru kehitaman.
Rupanya belati-belatinya itu mengandung racun.
Kini tersisa pertarungan antara Dhafin melawan Komandan Perang dan Pangeran Revan melawan Guru Grayson. Tapi tampak Guru Grayson sudah mulai terdesak hebat. Dia sudah tidak menggenggam pedang lagi karena pedangnya sudah hancur.
Guru Grayson memang hebat. Dia merupakan salah satu yang terhebat di jajaran Bunda Suri Hellen. Namun kehebatannya itu belum cukup untuk mengalahkan kehebatan Pangeran Revan.
Tampak mata pedang Pangeran Revan mengiris lengan kiri Guru Grayson cukup lebar membuat sang guru meringis kesakitan.
Sedangkan Pedang Naga Langit itu kembali bergerak menyilang merobek dada sang guru hingga ke rusuk cukup panjang dan menganga lebar. Membuat Guru Grayson terjajar ke belakang.
Sementara Pedang Naga Langit kembali bergerak. Kali ini hendak menebas leher sang guru dari kanan. Tetapi Guru Grayson masih dapat menghindar dengan memanfaatkan tubuhnya yang masih terjajar ke belakang.
Namun tak urung ujung pedang Pangeran Revan masih dapat menggorok setengah leher Guru Grayson. Sehingga sang guru bukan lagi terjajar, tapi jatuh terkapar ke belakang. Sejenak dia meregang nyawa, setelah itu mati.
★☆★☆
Sementara itu tidak ada lagi pasukan Bunda Suri Hellen yang masih tegak di atas tanah. Semuanya sudah binasa, terkapar bergelimpangan bersimbah darah, baik pasukan infanteri, pasukan kavaleri maupun pasukan jawara.
Areal di gerbang sebelah barat itu sekarang benar-benar mengerikan. Pelatarannya kini sudah berlapiskan ribuan mayat yang terbujur tak tentu arah. Darah menggenang di mana-mana. Sementara bau amis semakin santer.
Tampak sebagian besar pasukan Ratu Aurellia kembali ke basecamp dengan dipimpin oleh kepala dan komandan pasukannya. Sebagiannya menggotong pasukan yang telah gugur, sebagiannya menggotong pasukan yang terluka cukup parah.
Yang tinggal cuma beberapa gelintir ksatria elit. Termasuk yang masih tinggal yaitu 3 calon istri Pangeran Ghavin. Mereka semua kini tengah menyaksikan pertarungan Dhafin melawan Komandan Perang.
Sekarang cuma bersisa satu pertarungan. Yaitu Pangeran Ghavin melawan Komandan Perang.
Hingga saat ini belum ketahuan siapa yang menang atau siapa yang kalah di antara mereka. Karena pertarungan di antara kedua orang itu masih sama-sama berimbang. Sementara itu senja sudah mulai menyapa.
Sampai suatu ketika pedang pusaka mereka saling baku hantam di udara dengan amat kuat dan keras yang berisi tenaga sakti yang tinggi.
Sehingga menimbulkan ledakan yang cukup memekakkan telinga dan memercikkan aliran energi sakti yang menyebar ke segala arah.
Akibat dari bentrok 2 tenaga sakti itu, pedang Komandan Perang langsung hancur berantakan. Sedangkan dia terlempar ke belakang hampir 4 tombak.
Sedangkan Pangeran Ghavin cuma terlempar sejauh satu tombak. Dan Pedang Akhirat miliknya tidak mengalami kerusakan sedikitpun.
__ADS_1
Akan tetapi masing-masing kedua orang itu masih dapat menguasai keseimbangan tubuh mereka, sehingga kedua kaki mereka dapat mendarat di tanah dengan baik.
Namun dari bentrokan tenaga sakti itu sudah bisa dilihat siapa yang tenaga saktinya paling tinggi.
Sementara itu, Komandan Perang melirik sejenak pedangnya yang tinggal gagangnya. Lalu membuang begitu saja ke tanah. Terus menatap Dhafin dengan amat tajam seakan hendak menelan pemuda itu bulat-bulat.
"Siapa nama julukanmu, Pangeran?" tanya Komandan Perang bernada dingin. "Boleh aku tahu?"
"Kamu bisa menyebutku Pangeran Pusat, Tuan Komandan," sahut Dhafin dengan tenang.
"Aku akui tenaga saktimu memang hebat, Pangeran Pusat," kata Komandan Perang seakan memuji. "Tapi kamu jangan senang dulu. Aku belum mengeluarkan tenaga saktiku yang paling dahsyat."
"Kalau begitu kenapa kamu mesti sungkan, Komandan?" kata Dhafin seolah menantang. "Keluarkan saja semua yang kamu punya. Aku akan meladenimu dengan senang hati."
"Hahaha..., ternyata kamu pongah juga, Pangeran Pusat," kata Komandan Perang bernada meremehkan. Apa kamu sudah siap menyusul wanita yang mengasuhmu selama lima tahu?"
"Bahkan nyawamu aku persembahkan kepada bibimu yang telah kalian bunuh dengan sadis," kata Dhafin meski masih tenang, tapi bernada dingin.
"Baiklah! Kalau begitu kita akan melihat siapa yang akan menyusul wanita malang itu? Bersiaplah, Pangeran Pusat!"
Kemudian Komandan Perang memainkan gerakan kedua telapak tangan dengan aneh di depan dadanya. Tak lama kemudian, kedua tangannya dari ujung telapak tangan hingga ke siku memancarkan sinar biru pekat. Dan menguarkan hawa yang amat panas.
Melihat lawan mengerahkan tenaga saktinya yang sepertinya tingkat akhir, Dhafin tidak mau bertindak ayal. Setelah menyimpan pedangnya dengan cara aneh, dengan cepat dia juga langsung mengerahkan tenaga saktinya yang bernama Bulan Neraka.
Seluruh kedua tangannya hingga sebatas siku memancarkan sinar merah kehitaman. Dan juga menguarkan hawa yang amat panas.
★☆★☆
"Hiyaaat...!"
Bekawal teriakan yang menggelegar Komandan Perang mendorong kedua telapak tangannya yang terbuka lebar ke depan dengan cepat dan kuat.
Maka melesatlah dengan amat cepat sebentuk sinar bulat sebesar anak kambing berwarna biru pekat. Hawa panas menghantar lesatan sinar itu. Membuat rumput yang dilaluinya langsung mengering.
Maka melesatlah dengan amat cepat sebentuk sinar bulat yang besarnya tidak jauh beda dengan milik Komandan Perang berwarna merah kehitaman. Menghantar hawa yang amat panas yang langsung mengeringkan rumput yang dilintasi sinar itu.
Dan begitu kedua sinar panas itu bertemu pada satu titik pertengahan, maka....
Blaaarrr...!
Seketika terdengar suara ledakan yang amat keras dan dahsyat. Langit seakan hendak runtuh, bumi seketika langsung dilanda lindu yang cukup hebat.
Kedua sinar bulat itu, saat beradu pada satu titik tengah langsung hancur berantakan dan menyebar ke segala arah. Dimulai dengan hancurnya sinar biru, lalu menyusul sinar merah kehitaman.
Tanah di sekitar pertemuan kedua kekuatan itu langsung terbongkar menciptakan kubangan yang cukup besar. Sedangkan debunya langsung membumbung tinggi menyebar ke segala arah.
Akibat dari bertemunya dua energi sakti itu Komandan Perang langsung terlempar deras ke belakang. Mulutnya yang menjerit menganga lebar memuntahkan darah cukup banyak dan menjiptat ke udara.
Begitu jatuh di tumpukan mayat, sebentar meregang nyawa, lalu dia selamanya. Mampus!
Sedangkan Dhafin sempat terseret 3 langkah ke belakang, lalu terjajar 5 langkah. Begitu kedua kakinya berhenti dia langsung jatuh terduduk dengan salah satu lututnya bertumpu di tanah.
Tampak sudut bibir sebelah kirinya meneteskan darah. Pertanda kalau dia juga tengah terluka dalam meski tidak begitu parah. Ditambah lagi wajah tampannya yang tampak sedikit pucat.
"Kanda...!" jerit kecil Ratu Aurellia, Putri Kayshila dan Ariesha yang hampir bersamaan.
"Yang Mulia...!" Putri Athalia dan Putri Arcelia juga menjerit kecil melihat kondisi sang pujaan hati.
Kelima gadis cantik itu tidak tahan mengekspresikan kekhawatiran mereka melihat Dhafin terjatuh, meski tidak parah. Tanpa menunggu lama mereka langsung bergegas ke tempat Dhafin berada.
Sedangkan yang lain sebenarnya ikut merasa khawatir juga. Dan mereka langsung bergegas ke tempat Dhafin, mengikuti kelima gadis tadi.
Sementara Dhafin langsung duduk bersila, melakukan ritual penyembuhan. Melakukan gerakan kedua telapak tangan di depannya. Terus kedua telapak tangan yang sudah memancarkan energi penyembuh itu ditempelkan di dadanya dengan posisi menyilang.
__ADS_1
Sedangkan Putri Aurellia, begitu sampai di tempat Dhafin, dia langsung duduk di belakang pemuda itu. Lalu menyalurkan energi penyembuh dari kedua telapak tangannya melalui kedua punggung Dhafin.
Tidak lama kemudian, ritual penyembuhan telah selesai. Dhafin segera berdiri yang diikuti oleh Ratu Aurellia. Tampak wajah tampan Dhafin sudah kembali segar, tidak pucat lagi seperti tadi.
"Terima kasih, Yang Mulia," kata Dhafin seraya tersenyum manis.
"Kamu sudah tidak apa-apa 'kan, Kanda?" meski dia melihat wajah Dhafin sudah segar, tapi tak urung dia masih khawatir juga.
"Aku sudah tidak apa-apa," kata Dhafin lembut seraya masih tersenyum menenangkan, "kamu tenang saja."
Ratu Aurellia melihat 'kecap asin' masih menempel di sudut bibir Dhafin. Maka dia menggerakkan tangan kanannya hendak menghapus darah yang masih menempel itu.
Jovita yang melihat gelagat ratunya hendak melakukan tindakan tidak sopan di depan umum seperti ini, dengan cepat menangkap tangan Ratu Aurellia.
"Yang Mulia Ratu, sebaiknya kita segera kembali ke basecamp," ucapnya cepat. "Hari sudah hampir malam."
"Bukan begitu, Yang Mulia Pangeran?" dia lalu menoleh pada Dhafin yang tampak tenang-tenang saja.
"Sepertinya begitu," kata Dhafin. "Kita harus istirahat dulu untuk persiapan besok."
"Tapi, ada darah menetes di bibirmu," kata Ratu Aurellia mengingatkan. "Aku hendak...."
"Tidak mengapa, Yang Mulia," kata Jovita langsung memotong ucapan ratunya. "Yang Mulia Pangeran bisa mengatasinya sendiri."
"Jovita, Jovita!" kata Kelvin seolah menegur, "Yang Mulia Ratu hendak melakukan adegan romantis, kenapa kamu menghalanginya?"
Jovita tidak perduli dengan ocehan Kelvin itu. Dia langsung membawa Ratu Aurellia untuk meninggalkan tempat itu. Walaupun sang ratu tampak sedikit protes. Namun Jovita juga tidak perduli.
Sementara 3 pengawal cantik sang ratu dan 100 Pengawal Khusus-nya juga mengikuti sang ratu meninggalkan tempat itu.
Yang lain ikut menyusul, termasuk Dhafin yang tampak mengelap darah di sudah bibirnya itu.
"Kenapa kamu tidak menyuruh salah satu pengawal cantikmu di belakang itu melap kecap asinmu itu?" goda Brian yang berjalan di samping Dhafin sambil tersenyum. "Tentu akan lebih berkesan...."
"Apaan sih kamu," gerutu Dhafin pelan seolah kesal dengan godaan Brian.
Dia kini sudah selesai mengelap darah di sudut bibirnya. Dan dia merasa sudah bersih. Tapi Brian masih menggodanya lagi.
"Seberapapun usahamu melap kecap asin itu, tetap tidak akan bersih. Karena kamu mengelap tanpa melihat."
"Bagian mana yang belum bersih?" tanya Dhafin termakan oleh godaan Brian.
"Ih, kenapa kamu menyuruh aku?" Brian berlagak kesal. "Suruh tuh kedua pengawal cantikmu!"
Lalu Brian melenggang tinggalkan tempat itu dengan cepat. Sedangkan Dhafin langsung berhenti melangkah, lalu menghadap ke kedua pengawal cantiknya.
"Apakah sudah bersih darahnya?"
Putri Athalia yang hendak melakukan adegan romantis mengangkat tangannya hendak mengelap darah yang sebenarnya sudah bersih, sambil berkata.
"Belum, Yang Mulia."
Tapi tangannya cepat ditangkap oleh Putri Arcelia yang tidak suka melihat adegan norak itu di depan umum, lalu berkata.
"Sudah, Yang Mulia, sudah bersih."
Sejenak Dhafin mengernyit heran melihat perselisihan dari kedua gadis itu. Tapi segera dia berpikir kalau Putri Arcelia tidak suka basa-basi. Apa yang dia lihat, itu yang akan dia katakan.
Lalu dia berbalik kembali setelah mengajak kedua gadis itu meninggalkan tempat ini. Sementara Dhafin tersenyum sambil berjalan di depan. Sedangkan kedua gadis cantik itu diam-diaman saja.
Namun tampak Putri Athalia tersenyum penuh arti. Sedangkan Putri Arcelia wajah cantiknya tampak datar saja. Seolah tidak suka adegan romantis-romantis segala. Atau malah mungkin dia tidak tahu melakukannya.
Sepeninggal pasukan Ratu Aurellia, tempat itu menjadi sunyi. Namun menampakkan fenomena yang menyeramkan. Bayangkan saja pelataran tempat itu berlapiskan ribuan mayat.
__ADS_1
★☆★☆