Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 28 PERTEMUAN DI GERBANG SELATAN KOTARAJA


__ADS_3

Tangan kanan Dhafin yang telapaknya terbuka dengan jeriji agak renggang yang terentang ke depan diangkat sedikit. Maka tubuh Kapten Chris yang terlilit kekuatan batin dan kekuatan ghaibnya terangkat ke atas setinggi empat hasta.


Terang saja Kapten Chris makin ketakutan sampai dia menjerit-jerit histeris. Belum lagi sekujur tubuhnya yang makin terasa sakit. Tulang-tulangnya sekarang terasa remuk.


"Aku tahu kamu pasti mencari kami dan empat pejabat yang kami sudah bekuk," kata Dhafin yang sudah menguarkan aura dingin yang menyeramkan. "Betul tidak?"


"Kenapa kalian begitu lancangnya menghina para pejabat?" kata Kapten Chris di tengah rasa takut dan rasa sakitnya. "Menaruhnya ke dalam kereta barang seperti barang dagangan! Sungguh kalian amat lancang! Aaakh...!"


Dari firasat menjadi sebuah keyakinan.


Ucapan Kapten Chris barusan sudah membuktikan kalau memang ada mata-mata yang melihat mereka membekuk empat pejabat tadi malam, lalu memberitahukan kepada antek-antek pejabat itu apa yang dia lihat semalam.


Lalu Kapten Chris selaku bagian dari antek-antek dalang pemberontak langsung melaksanakan tugas pencarian. Mencari mereka untuk dilenyapkan sekaligus mencari empat dalang pemberontak untuk diselamatkan.


"Adakah harganya para tikus pengkhianat seperti kalian, Kapten Chris?" sarkas Brian. "Bahkan barang dagangan lebih berharga daripada kalian."


"Siapa yang kalian tuduh sebagai peng.... Hegh!"


Ucapan Kapten Chris yang sudah sampai di kerongkongan tiba-tiba berhenti karena lehernya tercekik oleh sesuatu yang tak terlihat. Membuat tenggorokannya tercekat dan sakitnya bukan main hingga membuat wajahnya memerah bagai kepiting rebus.


Sementara itu, tampak sebuah kereta berukir indah bercat merah terang berukuran agak besar tengah berjalan menyusuri jalan lintas antar kota. Kereta mewah itu beroda empat dan ditarik oleh dua ekor kuda.


Kereta indah itu dikawal oleh 10 Pengawal Putri Raja dengan formasi dua di depan, empat di kiri kanan dan empat di belakang. Rombongan kecil itu datang dari arah luar.


Sementara itu pula, dari dalam pintu gerbang Jenderal Felix dan Pejabat Militer Kerajaan, Jenderal Lyman serta 10 Pasukan Penyelidik Rahasia dan 15 Prajurit Militer Kerajaan. Semua rombongan kecil itu mengendarai kuda.


Dan dua rombongan yang datang dari arah yang berbeda itu hampir bersamaan berhenti ketika melihat pemandangan yang amat mengagetkan di sekitar gerbang masuk di mana 10 Prajurit Keamanan tergeletak di sekitar pintu gerbang.


Rombongan kereta putri raja berhenti di belakang kereta barang Dhafin dan Brian yang masih diam di tempatnya. Sedangkan rombongan Jenderal Felix berhenti tak jauh dari pintu gerbang.


Di kereta indah itu tampak sebuah kepala muncul dari balik jendela kereta sebelah kiri. Kepala itu bertudung kain merah muda tipis. Setengah wajah sosok bertudung merah muda itu tertutup cadar juga warna merah muda.


Yang tampak hanyalah sepasang mata bening nan indah yang tengah menatap heran perlakuan Dhafin yang aneh terhadap Kapten Chris.


★☆★☆


"Siapa yang kalian tuduh sebagai peng.... Hegh!"


Itu yang didengar secara jelas oleh dua rombongan itu bersama mereka melihat apa yang terjadi begitu mereka berhenti.


"Kamu masih mau memungkiri kebusukanmu hah?" ucapan Dhafin semakin dingin dan seram.


Sikap Dhafin seolah belum menyadari kalau ada rombongan ayah angkatnya dan rombongan putri raja di gerbang selatan ini. Sedangkan Brian bukan cuma sudah menyadari, bahkan sudah memandang mereka semua.


Lalu Dhafin memutar sedikit telapak tangannya. Maka Kapten Chris semakin kesakitan sambil menjerit-jerit dengan suara tercekat di tenggorokan.


"A-ampun... a-ampun.... To-tolong... lepas-kan...!"


Dhafin merenggangkan sedikit cekikan pada leher Kapten Chris. Lalu berkata dengan suara masih bernada dingin.


"Siapa yang mau mengampuni pengkhianat busuk sepertimu hah? Aku bisa membuatmu mati tersiksa ketimbang kamu mati di pedang algojo."


"Tolong lepaskan aku! Aku sudah punya anak istri...."


Manusia licik seperti Kapten Chris pada saat terjepit, keluar sifat pengecutnya.


"Kenapa saat mengikuti para pengkhianat, kamu seakan tidak mengingat anak istrimu?" kata Dhafin masih mengintimidasi. "Sekarang, sudah di ambang kematian kamu baru mengingat mereka?"

__ADS_1


"Tolong berbaik hatilah kepadaku," tanpa malu Kapten Chris memohon dengan nada memelas, karena sudah terjepit dan semakin ketakutan. "Kalian sudah mendapat empat pejabat yang merupakan dalangnya. Aku bukanlah apa-apa. Jadi, tolong lepaskanlah aku!"


Bersamaan dengan itu, melesat dua buah anak panah dengan kecepatan tinggi dari arah belakang sebelah kanan. Satu anak panah mengarah ke leher Kapten Chris. Sedangkan yang satu mengarah ke belakang kepala Dhafin bagian sebelah kanan.


Anak panah yang duluan sampai adalah anak panah yang mengarah ke leher Kapten Chris. Tapi panah itu jangankan menembus lehernya, menusuk pun tidak. Bahkan tidak menyentuh lehernya sama sekali.


Panah itu seperti mengenai sesuatu yang padat dan keras tak terlihat. Lalu jatuh ke tanah begitu saja karena tidak tertancap. Sungguh mengherankan!


Sedang panah yang terakhir sampai tidak mengenai sasaran. Karena secepat panah itu melesat, lebih cepat lagi tangan kiri Brian yang berada di samping kanan Dhafin menangkap panah itu.


Tapi sesungguhnya panah itu tidak mengenai sasaran juga. Karena meskipun Brian tidak berhasil menangkapnya, Dhafin sudah memiringkan kepalanya ke kiri dengan cepat, sebelum panah itu sampai berjarak satu jengkal.


Sehingga panah itu kecele dua kali. Sudah ditangkap oleh Brian. Dhafin juga sudah menjauhkan target sasarannya karena sudah menyadari kehadirannya yang tak diundang. Sungguh anak panah yang malang! Kasihan...! Kasihan...!


Jelas saja kedua rombongan yang melihat kejadian itu terkejut bukan main. Sungguh kejadian itu merupakan pemandangan yang menegangkan, mengerikan, mengherankan, sekaligus mengagumkan.


Sedangkan pemilik mata indah di atas kereta menatap kejadian itu dengan menunjukkan tiga sorotan mata. Bayangkan saja dalam tiga helaan napas dia menunjukkan tiga ekspresi berturut-turut.


Bermula dari keterkejutan, lalu berubah menjadi rasa ngeri, terus terakhir menjadi amat kagum. Entah dia kagum sama siapa? Kalau tidak mengenakan cadar pasti terlihat senyumnya. Tapi apakah senyumnya menawan?


Sedangkan Jenderal Felix dan Jenderal Lyman yang sudah turun dari kudanya cepat menyadari keadaan. Seolah tahu dari mana kedua anak panah itu datang, seketika mereka langsung berkelebat dengan cepat ke satu arah.


Saking cepatnya gerakan lesatan kedua jenderal itu, seolah tubuh mereka bagai lenyap. Tahu-tahu sudah berada di satu tempat, lalu hilang di balik kerimbunan pohon.


Tidak lama kemudian, dua perwira tinggi itu tadi kembali dengan tanpa hasil. Rupanya dua pemanah tadi lebih cepat lagi melarikan diri setelah gagal membidik target.


Begitu kembali ke pintu gerbang, Jenderal Felix langsung menghampiri Dhafin dan Brian. Sedangkan Jenderal Lyman menyusul setelah memerintahkan beberapa prajurit untuk membawa 10 prajurit penjaga ke gedung Jawatan Keamanan Kerajaan.


★☆★☆


Sementara itu, Dhafin mengibas tangan kanannya ke samping kanan. Maka hawa udara padat yang membelit sekujur tubuh dan leher Kapten Chris langsung buyar dan lenyap. Bersamaan dengan itu dia jatuh ke tanah dengan keras sambil mengerang kesakitan.


Sepertinya Dhafin sudah menyadari kalau ada orang lain selain dia dan Brian di sini. Belum lama hal itu terpikirkan olehnya, Jenderal Felix dan Jenderal Lyman sudah datang menghampiri.


Sementara itu, sepasang mata bening di kereta indah tidak pernah berkedip memandang Dhafin. Sepasang mata indah itu baru sedikit berkedip ketika menyadari kehadiran Jenderal Felix dan Jenderal Lyman yang menghapiri Dhafin dan Brian.


"Apa sebenarnya yang terjadi di sini, Dhafin?" tanya Jenderal Felix begitu telah mengetahui kedua bocah itu.


"Panjang ceritanya, Ayah," sahu Dhafin yang sudah bersuara lunak. "Nanti aku ceritakan. Yang jelas Kapten Chris termasuk antek-antek pemberontak. Dan yang lebih penting ayah amankan dulu isi kereta barang itu."


Jenderal Felix memandang kereta barang yang ditunjuk Dhafin yang diikuti Jenderal Lyman. Tempat mereka berdiri berada di tentangan rombongan kereta berukir indah itu. Dan kereta barang milik Dhafin dan Brian berada di tangah-tengah.


Maka kedua perwira tinggi itu jelas melihat kereta itu yang dikawal oleh 10 Pengawal Putri Raja. Juga melihat sesosok kecil bertudung kain yang nongol dari balik jendela sebelah kiri yang juga melihat ke tempat mereka.


"Tuan Putri Aurellia Claretta sudah pulang rupanya," gumam Jenderal Lyman seakan bicara sendiri.


Seolah tidak menghiraukan gumaman sahabatnya, Jenderal Felix kembali bertanya kepada kedua bocah itu.


"Memangnya apa yang ada di dalam kereta barang itu? Apakah kalian membawa barang-barang yang penting?"


"Apakah paman tidak mendengar ucapan Kapten Chris tadi?" Brian malah bertanya.


"Ucapan yang mana?" Jenderal Lyman yang bertanya sedikit bingung.


"Siapa yang dia sebut sebelum dipanah tadi, Paman Lyman?" tanya Dhafin yang bermakna jawaban.


"Empat pejabat...," kata dua jenderal itu hampir bersamaan setelah berpikir sejenak.

__ADS_1


"Apakah Pejabat Keegen dan tiga temannya?" tebak Jenderal Felix kaget sekaligus cemas.


Kedua bocah itu cuma mengangguk sambil tersenyum. Tapi jawaban itu membuat kedua jenderal itu tambah terkejut. Dan kecemasan semakin mewarnai wajah mereka.


"Tenang saja, Ayah, Paman Lyman," kata Dhafin seolah tahu yang dicemaskan kedua perwira tinggi itu. "Mereka masih dalam keadaan hidup. Hanya pingsan saja."


"Kalau mereka sudah jadi mayat," sambung Brian, "buat apa capek-capek kami bawa kemari."


"Apakah ayah dan paman sempat melihat dua pemanah tadi?" tanya Dhafin ingin tahu.


"Mereka begitu cepat melarikan diri," sahut Jenderal Felix. "Aku hanya melihat pakaian mereka yang serba hitam."


"Sepertinya mereka juga bertopeng hitam," tambah Jenderal Lyman.


Mendengar keterangan yang tidak lengkap itu, Dhafin dan Brian hanya saling memandang sambil menduga-duga siapa kedua pemanah misterius itu.


Tidak lama kemudian, setelah kedua jenderal maupun kedua bocah itu memastikan kalau empat pejabat yang masih di dalam kereta barang masih hidup, lalu Jenderal Felix memerintahkan sisa prajurit yang ada untuk membawa Kapten Chris dan kereta barang ke gedung Jawatan Keamanan Kerajaan.


Tidak lupa memerintahkan salah seorang untuk melapor ke gedung Jawatan Ketertiban Umum untuk memberitahukan kalau pintu gerbang selatan agar diganti prajurit penjaganya.


Kemudian kedua jenderal itu menemui Putri Aurellia Claretta di kereta. Dan putri kecil bercadar itu masih di dalam kereta yang sekarang sudah memasukkan kepalanya, karena melihat dua jenderal menghampirinya.


Setelah memberikan penghormatan, berbasa-basi sebentar, lalu kedua jenderal itu meninggalkan pintu gerbang selatan. Sebelumnya Jenderal Felix menawarkan kepada Dhafin apa mau ikut dengan dia atau tidak.


Dhafin mengatakan kalau masih mau bersama Pangeran Brian. Tapi Jenderal Felix berpesan kalau Dhafin dan Brian siap-siap menghadap Yang Mulia untuk memberitahukan tentang peristiwa pembekukan empat pejabat dan pertarungan di gerbang selatan ini.


★☆★☆


Brian melangkah menuju kereta berukir indah yang diikuti Dhafin. Begitu sampai mereka berhenti di samping kereta sebelah kiri. Belum juga Brian berbicara, sudah terdengar Putri Aurellia berbicara dari dalam dengan bertanya. Suaranya begitu tenang dan merdu.


"Apa sebenarnya yang terjadi, Kanda Brian? Kenapa tadi banyak prajurit penjaga tergeletak di pintu gerbang? Apa kamu dan temanmu itu yang melumpuhkan mereka? Dengan sebab apa?"


"Hahaha... kenapa tiba-tiba sekarang kamu lancar berbicara, Aurellia?" kata Brian sambil tertawa kecil. "Apa ini hasil dari bepergianmu yang cukup lama ini?"


"Kamu tahu sendiri kalau hanya pada kamu aku bisa banyak dan bebas berbicara," ungkap Putri Aurellia seakan mengeluhkan perasaannya.


"Kamu tenang saja," kata Brian penuh kasih sayang layaknya seorang kakak. "Aku pasti akan selalu mendengar ceritamu. Tapi aku perkenalkan dulu teman baruku ini."


"Eh, tadi aku sempat mendengar kalau teman barumu itu memanggil 'ayah' pada Paman Felix...," kata Aurellia masih dalam kereta.


"Ya benar," kata Brian yang tahu kelanjutan ucapan Aurellia. "Ini adalah Tuan Muda Dhafin, Putra Pertama Jenderal Felix Damian."


Setelah itu Dhafin mengunjuk hormat pada Putri Aurellia yang masih di dalam kereta. Telapak tangan kanan merapat di dada, tangan kiri agak merentang ke samping, kepala berikut badan sedikit merunduk, lalu berkata.


"Terimalah salam hormat dari hamba, Tuan Putri."


"Bukankah Paman Felix...," kata Aurellia seolah tidak perduli penghormatan Dhafin padanya.


"Nanti dulu, Aurellia," Brian cepat memotong ucapan adiknya itu. "Kami mau menumpang di keretamu. Apakah boleh?"


"Apakah temanmu sudi satu kereta denganku?" kata Aurellia bernada minder. "Sedangkan kamu tahu sendiri aku orang yang berpenyakit kulit."


"Asal Tuan Putri mengijinkan hamba untuk menumpang," kata Dhafin lembut penuh kesopanan dan ketulusan, "bagi hamba tidak menjadi permasalah."


"Kanda Brian! Kamu memang punya teman sedikit," kata Aurellia mengungkapkan keterkesanannya. "Tapi semua temanmu adalah orang-orang yang berhati mulia...."


Pada akhirnya Brian dan Dhafin pulang dengan menumpang di kereta indah dan cukup mewah itu. Tidak lama kemudian, kereta indah itu kembali berjalan.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2