Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 107 TERUNGKAPNYA CINTA PUTRI FANIZA ELVIRA YANG TERSEMBUNYI


__ADS_3

Beberapa saat lamanya Dhafin memandang Putri Faniza yang masih diam di pembaringannya. Lalu dia menoleh pada Permaisuri Chalinda yang duduk di seberang dekat pinggir pembaringan. Wajah wanita yang masih cantik itu tampak begitu sedih melihat nasib putrinya itu.


"Yang Mulia Permaisuri...."


"Anakku," kata Permaisuri Chalinda langsung memotong ucapan Dhafin, "aku lebih senang kamu memanggilku Bibi Chalinda daripada panggilan seperti itu."


Dhafin beralih menoleh pada Nyonya Carissa yang duduk di samping Permaisuri Chalinda seolah meminta perijinan ibunya akan kebolehannya.


"Turuti saja permintaan bibimu ini, Dhafin!" kata Nyonya Carissa tahu arti pandangan Dhafin. "Tidak perlu kamu terlalu sungkan begitu."


"Baik, Bunda."


"Bibi Chalinda, mohon ijin untuk memeriksa Tuan Putri Faniza," kata Dhafin melanjutkan ucapannya yang sempat terputus tadi.


"Silahkan!"


Sekali lagi dia mengamati Putri Faniza sebentar. Lalu dia menoleh pada Yang Mulia Ratu yang ternyata masih terus memandangnya.


Sebenarnya hatinya sempat bertanya-tanya tentang siapa wanita anggun yang penuh wibawa itu. Tapi dia tidak mau dulu terlalu memikirkan hal itu. Dia harus fokus dulu menyembuhkan Putri Faniza.


"Ampun, Yang Mulia," ucapnya bernada penuh takzim. "Mohon ijinnya untuk meminta bantuan Tuan Putri Kayshila."


Sebenarnya baik Selir Heliana, Putri Clarabelle maupun Putri Richelle sedikit merasa heran Dhafin memanggil Kayshila dengan sebutan Tuan Putri. Karena menurut pengakuan Kayshila bahwa dia mengangkat Dhafin sebagai kakak angkatnya.


Tapi melihat pembawaan Dhafin yang begitu santun dan penuh rasa hormat, mereka menganggap panggilan Dhafin itu adalah wajar. Karena Dhafin jelas sudah mengetahui siapa Kayshila sebenarnya.


Sedangkan Yang Mulia Ratu yang tahu hubungan spesial antara Dhafin dengan Kayshila memilih diam saja. Karena dia juga menyembunyikan perasaan spesialnya terhadap Dhafin kepada mereka.


Jadi antara Yang Mulia Ratu dengan Putri Kayshila saling menyembunyikan sesuatu kepada pencetus Istana Centauri terkait hubungan mereka terhadap Dhafin.


"Silahkan!" kata Yang Mulia Ratu masih tetap menjaga keanggunan dan sifat elegannya. Nada suaranya tetap dijaga agar tetap stabil.


"Tuan mau minta bantuan kepada siapa saja," lanjutnya, "silahkan saja, tidak perlu sungkan atau minta ijin segala."


Karena Yang Mulia Ratu masih menyembunyikan perasaan spesialnya, maka jelas belum ada seorang pun dari penghuni Istana Centauri kalau dia pernah mengenal Dhafin secara pribadi.


Mereka tahunya kalau Yang Mulia Ratu cuma pernah mengenal Dhafin secara umum, bukan secara pribadi.


Adapun terhadap 4 pengawalnya, Yang Mulia Ratu sudah mewanti-wanti kepada mereka agar tetap merahasiakan kalau dia pernah mengenal Dhafin secara pribadi.


Sedangkan Putri Kayshila sempat heran Yang Mulia Ratu bersikap seperti tidak terlalu mengenal Dhafin. Tapi mengingat kalau ratu cantik itu menyembunyikan sesuatu dia maklum saja.


Putri Kayshila melangkah menghampiri Dhafin tanpa perlu dipanggil lagi. Begitu sampai dia duduk di tepi pembaringan di samping kiri Dhafin.


"Sejak kapan Tuan Putri Faniza pingsan, Tuan Putri?" tanya Dhafin memanggil Kayshila dengan Tuan Putri.


"Kamu kalau memanggil Dinda Ariesha dengan sebutan Nona Ariesha atau Ariesha saja?"


Kayshila malah bertanya yang membuat semua orang yang mendengarnya merasa heran. Tapi Selir Heliana, Putri Clarabelle, Putri Richelle, dan Yang Mulia Ratu lekas paham apa maksud ucapan Putri Kayshila.


Sedangkan Nyonya Carissa dan Ariesha juga paham akan ucapan Putri Kayshila dan mereka cuma tersenyum saja. Sementara yang lain mencoba memahami dengan persepsi mereka masing-masing.


★☆★☆


Sementara Dhafin sebenarnya sedikit terkejut atas ucapan Kayshila barusan. Tapi dia berusaha tetap tenang. Dia yang lebih paham apa maksud Kayshila berkata begitu.


"Bukan waktunya bergurau, Tuan Putri," kata Dhafin tetap bernada tenang. "Saya bertanya dengan serius."


Orang mendengar ucapan Dhafin ini seperti menegur Kayshila. Tapi sebenarnya maksud Dhafin agar orang tidak curiga yang macam-macam akan kedekatannya dengan Kayshila.


Makanya dia memanggil Kayshila dengan sebutan Tuan Putri untuk menghilangkan kesan kalau dia tidak mentang-mentang terhadap Kayshila.


Dan supaya Kayshila juga mengerti kalau harus ada jarak antara mereka berdua agar tidak cepat orang curiga.


"Kamu pikir aku bergurau, Kanda?" kata malah makin jadi, bagai tidak perduli dengan maksud Dhafin. "Aku serius tahu."


Yang Mulia Ratu sempat tersenyum melihat adegan itu. Sedangkan Ariesha tersenyum geli dan hampir tertawa.

__ADS_1


"Baiklah," akhirnya Dhafin mengalah. Pikirnya kalau Kayshila terus diladeni, urusannya bakal panjang.


"Sejak kapan Tuan Putri Faniza pingsan, Kayshila?" Dhafin mengulangi pertanyaannya tadi dengan nada yang sama.


Kayshila tersenyum dulu baru menjawab pertanyaan itu.


"Sejak subuh tadi. Tapi baru satu kali ini dia pingsan."


"Sejak kapan Tuan Putri terkena gejala seperti ini, apa kamu tahu?" tanya Dhafin setelah berdiri dari kursinya dan duduk di tepi pembaringan.


"Ketika aku tanya Putri Faniza saat aku periksa pertama kali, dia malah tidak tahu," sahut Kayshila menjelaskan. "Dia hanya bilang kalau akhir-akhir ini dia sering sakit kepala dan dadanya sakit."


Kayshila berusaha mengatur agar nada suaranya tetap santai sebagaimana biasa dia berbincang-bincang dengan Dhafin. Meskipun perasaannya masih canggung dan gugup karena mengetahui kalau sekarang Dhafin bukan lagi kekasihnya melainkan kakaknya.


Dhafin tidak bertanya lagi. Membuka kisutnya dan naik di tempat tidur, terus duduk melutut di samping kiri Putri Faniza. Membuka sedikit selimut yang menutupi tubuh Putri Faniza. Lalu meraih tangannya dan memeriksa denyut nadinya.


Setelah itu menggulung sedikit lengan bajunya. Lalu mengamati bintik-bintik hitam dan kuning pucat sebesar gandum yang sudah mencapai pertengahan lengan bawah. Kayshila ikut mengamati pula.


Meski 2 bintik-bintik itu timbul jarang-jarang, tapi cukup memperburuk penampilan dan terkesan menakutkan.


"Apa di kedua kakinya juga sudah ada?" tanya Dhafin setelah menurunkan lagi lengan baju Putri Faniza.


"Ya," sahut Kayshila. "Tapi baru sampai atas lutut."


"Leher?"


"Belum sampai. Baru sampai atas dada."


Kemudian Dhafin meletakkan telapak tangan kanannya di kening Putri Faniza. Beberapa kejap berikut telapak tangan Dhafin mengeluarkan sinar kuning bening. Terus sinar kuning bening itu merambat membungkus seluruh permukaan kepala dan wajah Putri Faniza.


Semua orang di ruangan itu memperhatikan apa yang diperbuat Dhafin tanpa berkedip, termasuk Selir Heliana. Dan dia semakin penasaran akan diri seorang Dhafin.


Kejadian itu berlangsung sekitar sepeminum teh. Begitu sinar kuning bening itu lenyap dan Dhafin telah mengangkat telapak tangannya dari kening Tuan Putri, seketika mata Putri Faniza mengerjap-ngerjap.


Tak lama sepasang matanya terbuka lebar dan terus menatap langit-langit ruangan. Dan untuk sesaat dia terdiam seakan tengah mengumpulkan ingatannya.


"Kamu sudah siuman, Putriku?"


Putri Faniza segera tersadar kalau ternyata dia tidak sendiri di ruangan ini. Dia sebenarnya hendak menoleh ke bundanya. Tapi sudut mata kirinya sempat melihat Dhafin yang duduk di samping kirinya. Maka dia langsung mengarahkan matanya ke Dhafin.


★☆★☆


Sejenak dia menatap Dhafin lekat-lekat. Ingatannya langsung terkoneksi tentang seseorang yang sudah mengisi relung hatinya. Seseorang yang selama ini dia rindukan. Dialah sang pujaan hatinya....


"Kak Dhafin?" cetusnya saat mengingat nama itu. "Kamukah itu, Kak Dhafin?"


"Benar, Tuan Putri," sahut Dhafin sambil tersenyum ramah.


Seolah tidak perduli akan rasa malu kalau banyak orang di ruangan ini, atau memang tidak menyadari, Putri Faniza langsung bangun terus memeluk Dhafin erat-erat. Tidak butuh waktu lama air matanya langsung tertumpah.


"Kemana saja kamu selama ini, Kak?" isak Putri Faniza di tengah derai tangisnya. "Kenapa kamu pergi begitu lama seolah tidak menghiraukan aku lagi?"


Tentu saja semua orang yang ada si situ terkejut heran melihat Putri Faniza memeluk Dhafin dengan begitu eratnya. Seolah-olah pelukan kerinduan seorang gadis kepada kekasihnya yang sudah lama tak jumpa.


Ditambah lagi ucapan lirihnya yang begitu menyedihkan.


"Kenapa kamu meninggalkan aku begitu lama, Kak?" racaunya terus memuntahkan segala isi hatinya. "Apakah kamu tidak menyukaiku? Apakah kamu tidak mencintaiku? Apakah aku begitu buruk bagimu, Kak?"


"Jawablah, Kak! Huuu... huuu...huuu...!"


Permaisuri Chalinda jelas terkejut tidak percaya akan apa yang dia lihat itu. Selama ini dia tidak pernah tahu putrinya mengungkapkan tentang siapa yang dia sukai.


Dia mengetahui kalau Putri Faniza adalah gadis yang bertabiat pemalu, pendiam, dan penyendiri.


Segala perasaan yang dialaminya dipendam sendiri. Hampir tidak pernah mengungkapkan apa yang diinginkan atau apa yang dirasakan.


Tapi sekarang dia mendengar putrinya mengucapkan sesuatu yang membuatnya terkejut bukan main. Sejak kapan putrinya menyukai Dhafin? Berjumpa dengan Dhafin pun cuma sekali.

__ADS_1


Sementara Kayshila yang masih berada di dekat Dhafin langsung membulatkan matanya karena terkejut melihat pelukan Putri Faniza yang begitu intim. Ditambah lagi ucapan-ucapan Putri Faniza yang membuat jantungnya hampir copot.


Sejak kapan mereka berkenalan? Kapan ada hubungan di antara mereka? Kok Dhafin tidak pernah cerita padanya?


Sedangkan Yang Mulia Ratu hampir saja pingsan melihat adegan yang bermain di depan matanya. Mendengar ucapan yang amat menyakitkan hatinya.


Belum selesai urusan sakit hatinya atas pengakuan Kayshila. Kini adiknya lagi mengucapkan suatu ucapan yang amat menyakitkan.


Kenapa dia selalu harus bersaing cinta dengan keluarganya? Kenapakah takdir begitu pilih kasih padanya?


Kalau gadis lain dia mungkin akan berkompetisi untuk merebut cinta Dhafin. Tapi sekarang kenapa harus bersaing cinta dengan kedua adiknya sendiri?


Sementara Dhafin jelas terkejut karena tiba-tiba Putri Faniza memeluknya. Tapi dia langsung berpikir positif kalau apa yang dilakukan gadis itu di luar kesadarannya. Maka dia biarkan saja gadis itu memeluknya.


Dia mengenal gadis itu adalah gadis pemalu dan pendiam. Dalam kondisi sadar mana mungkin dia berani mengungkapkan kalimat sakral itu di depan banyak orang.


Hal ini tentulah karena pengaruh racun yang bereaksi di dalam tubuh Putri Faniza. Dan dia semakin mendekati keyakinan akan racun yang diidap Putri Faniza.


"Putriku!" panggil Permaisuri Chalinda.


Dhafin segera mengangkat tangannya mencegat agar Permaisuri Chalinda tidak bicara dulu dengan putrinya. Dan permaisuri yang mengerti akan isyarat Dhafin tidak jadi melanjutkan ucapannya.


★☆★☆


Namun telinga Putri Faniza sudah mendengar ucapan bundanya itu. Kemudian dia mendongakkan sedikit kepalanya, lantas melihat orang-orang yang ada di belakang Dhafin.


Sontak dia melepas pelukannya pada Dhafin. Lalu memandang sekelilingnya dan menyadari kalau bukan hanya dia dan Dhafin yang berada di ruangan ini.


Tak butuh waktu lama wajahnya langsung menjadi panik dan ketakutan. Lalu tak lama terdengar dia mengerang sambil memegang kepalanya karena terasa sakit sekali.


"Kak, kepalaku sakit sekali!" keluhnya di tengah erangan rasa sakitnya. "Tolong, Kak! Sakit sekali! Aaakh...!"


Terang saja semua terkejut panik melihat kondisi Putri Faniza yang memegang-megang kepalanya sambil menjerit-jerit kesakitan. Yang lebih terkejut lagi adalah Permaisuri Chalinda.


Hampir saja dia menghambur ke putrinya ingin memeluknya. Namun cepat dicegat oleh Nyonya Carissa dan menasehatinya agar bersabar saja. Serahkan semuanya pada Dhafin.


"Tenangkan dirimu, Tuan Putri! Berbaringlah!" kata Dhafin membujuk sambil membantu membaringkan Putri Faniza.


Belum lama Putri Faniza berbaring tampak dadanya naik turun karena berdegup kencang. Dan tangan satunya langsung memegang dadanya karena terasa sakit juga. Kini dia semakin menjerit-jerit kesakitan.


Melihat nasib adiknya yang ternyata begitu mengenaskan Yang Mulia Ratu bersedih pula. Lebih bersedih lagi Permaisuri Chalinda. Dia langsung menangis dalam pelukan Nyonya Carissa yang terus menenangkannya.


Sementara itu Dhafin langsung menyalurkan tenaga ghaibnya agar Putri Faniza bisa tenang. Setelah itu dia meminta Kayshila memasukkan pil penahan rasa sakit 2 butir ke mulut Putri Faniza.


Tidak butuh waktu lama setelah Putri Faniza meminum pil penahan rasa sakit, gadis cantik berkukit putih pucat itu tidak menjerit-jerit lagi. Untuk sementara dia bisa menahan rasa sakit di kepala dan dadanya.


"Tuan Putri, apa masih terasa sakit di kepala dan di dada?" tanya Dhafin ingin meyakinkan.


"Tidak lagi, Kak," sahutnya dengan nada sedikit tenang. "Terima kasih, Kak."


"Kamu jangan meninggalkanku ya, Kak!" pintanya amat memelas.


"Ya, saya masih di samping Tuan Putri," sahut Dhafin menenangkan kejiwaan Putri Faniza. "Tidak akan meninggalkan Tuan Putri."


"Kak, sebenarnya aku ini sakit apa?" tanyanya bernada sedih. Kembali air matanya mengalir menangis lirih. "Aku amat tersiksa sekali."


"Tuan Putri tenang saja, tidak akan apa-apa," Dhafin terus menenangkan dan membujuk Putri Faniza agar bisa tenang. "Dengan ijin Penguasa Langit Tuan Putri akan sembuh."


"Benarkah aku bisa sembuh, Kak?"


"Ya, benar."


Permaisuri Chalinda semakin trenyuh akan penyakit yang diderita putrinya. Namun dia sedikit legah karena tidak mendengar putrinya menjerit-jerit kesakitan lagi.


Sementara itu, Kayshila maupun Yang Muda Ratu bisa tenang. Kayshila tenang karena mengetahui kalau segala apa yang dilakukan Putri Faniza di luar kesadarannya.


Yang Mulia Ratu tenang karena tidak mendengar adiknya menjerit-jerit kesakitan lagi.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2