
Sepasang mata Aurellia yang masih berlinang air mata masih memandang pintu kamar yang tertutup rapat. Di balik pintu itulah terakhir dia melihat Dhafin menghilang.
Tapi kenapa anak muda itu masih berada disini, di dalam pikirannya?
Perlahan dia tertunduk kembali. Meresapi kesedihannya seorang diri. Sementara semua orang yang ada di ruang pribadinya yang tinggal perempuan semakin merasakan keharuan melihatnya semakin sedih.
Bahkan Namira, si pelayan cantik kini pula berlinang air mata sambil tertunduk dalam. Kesedihan Tuan Putri merupakan kesedihannya pula.
Sudah sekian tahun dia bersama Aurellia bagaimana dia tidak tahu beban batin yang diderita Aurellia. Semua beban batin yang dirasakan Aurellia dicurahkan semuanya kepadanya dan kepada Naifa.
Tapi apa daya dia maupun Naifa? Mereka cuma pelayan yang tidak punya daya apa-apa. Sementara sumber penderitaan terbesar Tuan Putri disebabkan oleh Yang Mulia.
Oh..., kenapa takdir ini begitu tidak adil terhadap Putri Aurellia? Yang Mulia sampai sekarang tidak memperdulikannya, bahkan terkesan membencinya.
"Tuan Putri!"
Aurellia sedikit tersentak mendengar panggilan Ariesha. Meski pelan tapi jelas. Baru dia sadari kalau ternyata di ruangan ini masih ada Ariesha dan Grania.
Buru-buru dia menyeka air matanya dengan ujung bajunya yang berlengan panjang. Kemudian segera menoleh pada Ariesha yang ternyata sudah berdiri dari kursinya bersama Grania. Mereka sudah bersiap-siap untuk pamit.
"Kalian juga hendak meninggalkanku?"
Suaranya sedikit serak bagai mau menangis. Dan air matanya kembali berlinang di pipi halusnya. Sepasang matanya yang tergenang air mata menatap kedua gadis kecil itu seolah tak merelakan mereka untuk pergi dulu.
"Kami juga hendak mohon diri, Tuan Putri," sahut Ariesha dengan berat hati.
"Tidak bisakah kalian menemaniku dulu barang sehari saja?" Suaranya yang bernada memohon itu bagai tak tahan lagi menahan tangis.
Ariesha dan Grania hanya saling pandang saja mendengar permintaan Aurellia. Bukan mereka tidak perduli akan permintaan Aurellia. Tapi mereka juga ada urusan.
Tinggal beberapa hari lagi acara penerimaan dan seleksi calon prajurit militer. Mereka juga perlu persiapan lebih dini. Namun kalau Aurellia sudah memohon begini....
"Aku tahu tinggal beberapa hari lagi penerimaan calon prajurit militer," kata Aurellia seakan tahu apa yang dipikirkan oleh kedua teman barunya itu. "Dan tentunya kalian butuh mempersiapkan diri lebih awal...."
"...Aku tidak bermaksud menghalangi kalian, tapi...."
Ariesha melangkah menghampiri Aurellia yang masih duduk bersandar di tepi pembaringan. Sedangkan Aurellia terus memperhatikannya hingga duduk di dekatnya.
Ariesha kemudian meraih kedua telapak tangan Aurellia, lalu menggenggamnya erat-erat dengan lembut. Terus berkata dengan penuh kelembutan dan ketulusan sambil tersenyum.
"Tuan Putri! Aku dan Grania akan tetap menjadi temanmu hingga akhir hayat, baik di kala senang maupun duka...."
Aurellia tak kuasa lagi menahan tangisnya. Tangisan terharu akibat ucapan Ariesha yang begitu tulus itu. Lantas merengkuh Ariesha dan memeluknya erat-erat.
"Terima kasih, Ariesha, terima kasih...."
"Aku akan menceritakan semuanya pada kalian, tanpa aku sembunyi sedikitpun...."
★☆★☆
Tinggal tiga hari acara penerimaan sekaligus seleksi calon prajurit militer. Setelah acara itu selesai, hari berikutnya dilanjutkan dengan salah satu acara bergengsi. Yaitu Turnamen Beladiri Anak Bangsawan.
Sebelum acara itu dimulai Brian hendak menemui dulu empat orang temannya di tempat mereka biasa bertemu, yaitu di pinggir kotaraja sebelah barat. Tentunya Brian mengajak Dhafin ikut serta.
Perjalanan dari pusat kota ke tempat tujuan memakan waktu kurang lebih empat kali penanakan nasi dengan berkuda. Mereka berangkat pukul tujuh sampai pukul sembilan lebih sedikit.
Begitu Dhafin dan Brian sepuluh tombak lagi sampai di sebuah rumah agak kecil yang bersendiri, mereka memperlambat laju kudanya.
Tidak lama kemudian, kuda coklat tua yang dikendarai Dhafin dan kuda hitam yang dikendarai Brian sudah memasuki halaman tak berpagar rumah papan itu. Dan mereka langsung menuju samping kanan rumah, tempat penambatan kuda.
Begitu sampai di tempat penambatan kuda, Dhafin dan Brian langsung turun dari kuda mereka dengan mudah. Saat kedua telapak kaki mereka jatuh ke tanah, tampak ringan dan lunak, nyaris tak terdengar. Menandakan ilmu peringan tubuh mereka hampir sempurna.
__ADS_1
Ketika Brian dan Dhafin menambatkan kudanya, di situ sudah ada tiga kuda tertambat. Brian memperhatikan tiga kuda itu seraya memikirkan sesuatu. Lalu melangkah.
"Ada apa?" tanya Dhafin mensejajari langkah Brian menuju depan rumah. "Kamu sepertinya memikirkan sesuatu."
"Seharusnya mereka sudah terkumpul empat orang," kata Brian bernada heran. "Kenapa baru terkumpul tiga orang?"
"Barangkali terlambat."
Brian tidak menanggapi ucapan Dhafin sampai mereka tiba di depan pintu masuk.
Ternyata di situ sudah berdiri tiga orang anak lelaki. Model dan warna pakaian mereka berbeda-beda. Kecuali wajah mereka yang sama, yaitu tampan.
"Selamat berjumpa kembali, Pangeran Brian," sapa anak lelaki berpakaian rangkap sambil tersenyum penuh persahabatan.
Pakaian luar anak itu panjang hingga ke betis dan berlengan panjang agak lebar berwana putih. Penampilannya begitu rapi dengan tatanan rambut panjang yang juga rapi dan indah.
"Hei, kamu membawa orang?" tanya anak berambut tidak terlalu pendek sambil memandang Dhafin. "Kawan baru atau anggota baru?"
Dia berpenampilan dan berumur mirip Brian. Berpakaian ringkas dengan baju warna hijau.
Sedangkan anak yang sepertinya berumur paling tua, yaitu 12 tahun diam saja. Tapi sepasang matanya yang menyorot tajam menatap Dhafin agak lama. Lalu kembali tertunduk sambil bersedekap.
Dia berbaju sebatas setengah paha warna biru gelap. Baju itu dibungkus kain jubah hitam bertudung sebatas bawah lutut warna hitam. Kasutnya dari karet dan tinggi sebatas lutut warna hitam. Posturnya lumayan jangkung.
Dhafin memandang tiga anak itu dengan sikap tenang, tak ada gelagat permusuhan. Beberapa saat saja mengamati dia sudah tahu ketiga anak itu semuanya memiliki ilmu kesaktian yang cukup hebat.
"Dimana Hendry?" baru datang Brian langsung menanyakan anak yang belum datang. "Kenapa dia belum datang?"
"Kamu ini bagaimana, Brian?" sungut anak berbaju hijau. "Ada orang baru tidak diperkenalkan dulu."
"Oh iya, perkenalkan ini Dhafin, teman baru kita," kata Brian seolah baru tersadar. Lalu dia memperkenalkan ketiga nama anak itu kepada Dhafin. Setelah itu dia mengulangi pertanyaannya tadi.
"Takdir itu sesuatu yang unik, Brian," kata bocah berpakaian putih berusia 11 tahun dengan sikap bijak. Namanya Keenan. "Siapa yang menyangka dia datang terlambat."
"Kamu 'kan tahu sendiri kami datang dari berbagai penjuru," kata bocah berbaju hijau bernama Kelvin. "Mana kami tahu kenapa dia terlambat."
"Pangeran! Tidak usah lagi memikirkan bocah itu," kata anak berjubah hitam seakan memberi saran. Suaranya bernada dingin. "Aku menduga dia tidak datang sebelum pertandingan dimulai."
"Kamu tahu kenapa dia telat, Aziel?"
"Aku akan cari gantinya, Pangeran," kata Aziel tanpa menjawab pertanyaan Brian.
★☆★☆
Tentu saja Brian heran mendengar ucapan Aziel. Tidak terkecuali Keenan dan Kelvin. Mereka bertiga lantas menatap Aziel secara bersamaan. Bukannya menjawab pertanyaan, malah mau cari gantinya Hendry. Maksudnya apa?
Sedangkan Aziel yang ditatap mengangkat kepalanya dan kembali menatap Dhafin dengan tajam seolah hendak menerkamnya.
Sementara Dhafin tidak ikut heran mendengar ucapan Aziel, juga tidak mengerti maksudnya apa. Lebih tidak mengerti lagi kenapa baru ketemu bocah jangkung itu sudah mengajaknya bertarung.
Dari gelagat dan sorot mata Aziel, Dhafin tahu bocah itu hendak menyerangnya. Namun belum sempat dia berpikir banyak, Aziel sudah melesat dengan cepat. Tahu-tahu tendangan kaki kanan si bocah sudah melayang ke arah muka dengan cepat, keras, kuat.
Tidak mau mengambil risiko, dengan cepat Dhafin melenting ke belakang sejauh dua tombak lebih. Tiga kali berjumpalitan di udara, lalu sepasang kakinya mendarat lunak di tanah.
Menyadari kalau Aziel tiba-tiba menyerang Dhafin, bukan saja Brian yang tadi berada di samping Dhafin yang tercengang hebat, Keenan dan Kelvin tidak terkecuali.
Sementara tendangan Aziel yang berisi tenaga dalam tinggi cuma mengena angin. Tendangan itu tiba cuma dua helaan napas lebih setelah Dhafin menghindari serangan.
"Aziel! Apa yang kamu lakukan?" sentak Kelvin di sela keterkejutannya.
Aziel tidak perduli dengan sentakan Kelvin. Begitu selesai memperbaiki posisi, kembali dia melesat ke depan dengan cepat melakukan serangan berikut kepada Dhafin.
__ADS_1
Sementara Dhafin sebenarnya hendak berseru mencegat serangan Aziel. Tapi sepertinya tak ada kesempatan lagi. Gerakan Aziel demikian cepat, tahu-tahu sudah ada di depannya kurang dari tiga langkah.
Sedangkan Aziel, begitu Dhafin sudah berada dalam jangkauan serangannya, dengan cepat dilentingkan sedikit tubuhnya ke udara. Lalu memutar badannya ke kiri seraya kaki kanannya yang sudah melayang ikut terputar.
Tendangan terputar Aziel demikian cepat dan kuat, siap menghantam samping kepala Dhafin sebelah kanan.
Tak ada lagi kesempatan bagi Dhafin untuk menangkis karena demikian cepatnya serangan datang. Terpaksa dimiringkan kepalanya ke belakang dengan cepat seraya kaki kanannya mundur satu langkah ke belakang pula.
Maka kaki kanan Aziel cuma lewat di depan wajah Dhafin cuma berjarak tiga jari. Tapi angin serangan itu menerpa wajahnya hingga mengibarkan anak rambut depannya yang menjuntai di depan wajahnya sebelah kanan.
Sementara Aziel rupanya tidak kehilangan jurus ketika serangan ke duanya gagal lagi. Dengan tubuh masih berada di udara, dengan cepat kaki kirinya yang juga masih melayang ditohokkan ke dada Dhafin.
Sedangkan Dhafin yang sudah tahu akan datangnya serangan itu, dengan cepat menaikkan tangan kanannya menangkis serangan sambil menggeser kaki kiri ke belakang dan memiringkan badan ke kanan.
Sementara itu, di luar pertarungan Kelvin tampak hendak menghentikan pertarungan. Tapi dicegat oleh Keenan.
"Apa-apaan kamu, Keenan?" delik Kelvin gusar. "Kamu biarkan saja anak baru itu bertarung dengan bocah gila tarung itu?"
"Apa kamu atau aku bisa menahan kegilaan Aziel kalau sudah kambuh?" kata Keenan seakan menyadarkan.
Kelvin beralih memandang Brian. Dia berharap pangeran itu bisa melerai pertarungan. Namun dilihatnya Brian diam saja di tempatnya sambil menyaksikan pertarungan. Seakan pangeran itu menikmati.
★☆★☆
Sementara itu pertarungan antara Dhafin dengan Aziel masih tetap berlangsung. Bahkan semakin seru.
Si bocah jangkung Aziel, setelah gagal melakukan serangan tidak lantas berputus asa. Kembali dia melancarkan serangan berikutnya. Kali ini ritme serangan ditambah kecepatannya.
Sedangkan Dhafin seperti biasa pada jurus-jurus awal belum balas menyerang. Dia hanya menghindar atau menangkis semua serangan Aziel yang datang meski bertubi-tubi.
Dia ingin mengukur dulu sampai dimana kehebatan Aziel. Merasakan kecepatan dan kekuatan setiap serangan. Mempelajari semua jurus-jurus yang digunakan. Merasakan sampai dimana tingkat tenaga dalamnya.
Pada jurus pertama hingga jurus ke 2 Dhafin baru bisa mengambil kesimpulan kalau kehebatan ilmu bela diri dan tenaga dalam Aziel ternyata masih unggul setingkat di atas Pangeran Adrian Carel.
(jika ingin menyaksikan kembali pertarungan antara Dhafin melawan Pangeran Adrian Carel, silahkan baca lagi BAB 17 MENGHADAP RAJA Part.4: PERTARUNGAN DI BALAIRUNG ISTANA!)
Dan pola serangan mereka berdua juga berbeda. Pola serangan Pangeran Adrian Carel ganas lagi brutal. Dan energi yang terkandung dalam tenaga dalamnya hanyalah energi panas.
Sedangkan Aziel meskipun semua serangannya bersifat keras dan kuat, tapi tidak brutal. Semua serangannya dilakukan dengan tenang, namun mematikan.
Dan Dhafin dapat merasakan kalau Aziel punya dua energi; energi panas dan energi dingin. Meskipun belum sempurna, namun dia sudah dikatakan hebat pada tingkat umur anak-anak.
Begitu melangkah pada jurus ke 3, Dhafin mulai membalas serangan. Dan semua serangan yang dilancarkan awalnya sama dengan sistem serangan Aziel. Baik kecepatan, kekuatan, kerasnya serangan, serta pengerahan tenaga dalam.
Hasilnya Aziel amat mampu menangkal semua sistem serangannya sendiri. Bahkan mampu membalas serangan pula. Sehingga pada jurus ke 3 ini membuat pertarungan semakin memukau.
Sementara Brian, Keenan, dan Kelvin terus mengamati jalannya pertarungan tanpa berkedip. Sesekali mereka mengobrol mengomentari kedua petarung itu.
Sementara itu mereka sudah memahami apa maksud perkataan Aziel hendak mencari pengganti Hendry. Yaitu Aziel mengajak bertarung Dhafin untuk menguji, apakah Dhafin pantas mengganti Hendry atau tidak.
"Aku rasa Saudara Dhafin ini lebih hebat dari Aziel," gumam Keenan berkomentar.
"Bahkan menurutku lebih hebat dari si Brian ini," cetus Keenan tanpa bergeming dari pertarungan.
"Ucapanmu benar, Kelvin," kata Brian mengakui tanpa sungkan. "Bahkan dia sudah mengalahkan si Angkuh Adrian dengan amat telak sekali."
Keenan dan Kelvin rela bergeming dari pertarungan hebat itu demi melihat Brian. Sepasang mata mereka membulat lebar saking tercengangnya mendengar berita tidak masuk akal ini.
Sepasang mata mereka yang menatap Brian sudah memendarkan rasa ingin tahu yang sangat akan berita ini. Namun Brian, seakan tahu pandangan sorot mata mereka cuma berkata.
"Nanti aku akan ceritakan."
__ADS_1
Sepertinya ucapan itu malah membuat kedua anak itu semakin penasaran ingin mengetahui jalan ceritanya bagaimana bisa Dhafin dapat mengalahkan juara bertahan Turnamen Beladiri Anak Bangsawan.
★☆★☆★