
Istana Kristal Ungu di Istana Kerajaan Amerta....
Tampak salah seorang prajurit penjaga penjara bawah tanah melangkah tergopoh-gopoh menuju Istana Kristal Ungu yang sudah dekat di depan matanya.
Begitu sampai di depan pintu masuk yang tertutup rapat, dia langsung dihadang oleh 6 prajurit penjaga Istana Kristal Ungu.
"Mau apa tuan datang malam-malam begini di kediaman Yang Mulia Raja?" tanya salah seorang penjaga.
"Saya mau melaporkan peristiwa yang terjadi di penjara bawah tanah malam ini," sahut prajurit itu.
"Memang ada peristiwa apa di sana?" tanya penjaga yang lain.
"Ada 4 orang penyusup masuk ke dalam penjara...."
Lalu dia menceritakan secara singkat apa yang terjadi tadi di penjara bawah tanah.
"Tuan sudah melaporkan kejadian ini kepada Yang Mulia Bunda Suri?" tanya penjaga yang pertama setelah prajurit itu selesai menuturkan laporannya.
"Belum, Tuan. Dari penjara saya langsung ke sini."
"Sebenarnya Yang Mulia masih belum bisa diganggu," kata penjaga pertama. "Begini saja. Biar kami yang melaporkan kejadian ini kepada Yang Mulia. Tuan silahkan melaporkan pula kepada Yang Mulia Bunda Suri."
Prajurit penjaga itu menyetujui. Dan tanpa berlama-lama dia langsung meninggalkan Istana Kristal Ungu menuju Istana Teratai Emas, kediaman Yang Mulia Bunda Suri alias Putri Rayna Cathrine.
Sedangkan penjaga pertama tadi masuk ke dalam setelah membuka pintu. Lalu dia langsung menuju kamar pribadi Yang Mulia Raja Adrian Carel.
Belum juga dia sampai di depan pintu kamar telinganya sudah mendengar suara riuh rendah *******-******* lirih penuh nafsu dari dalam kamar. Belum lagi ditingkahi oleh suara-suara erangan kenikmatan.
Suara-suara bising yang membuat jakun turun naik itu seakan saling sahut-sahutan sekaligus saling berlomba. Begitu ditelisik jumlah orang yang bertempur memperebutkan kenikmatan itu lebih dari 2 orang. Atau lebih tepatnya 3 orang.
Yang suara laki-laki jelas itu adalah Raja Adrian Carel. Karena arena pertempuran mereguk kenikmatan itu di kamar pribadinya.
Sedangkan 2 suara wanita yang terus mengerang mencelotehkan kenikmatan tidak lain adalah 2 lawan tanding sang raja. Bayangkan! Dalam satu kali pertandingan dia mampu melayani 2 wanita sekaligus.
Sementara penjaga yang hendak melapor hanya bisa terpaku diam di tempat berdirinya bagai patung. Sudah beberapa kali dia menelan salivanya membuat jakunnya turun naik.
Dia serba salah saat ini. Mau mengetuk pintu jelas mengganggu pertarungan yang sedang asyik-asyiknya itu. Tapi kalau dia menunda melaporkan peristiwa penting ini bisa fatal akibatnya.
Sementara itu, Putri Rayna Cathrine juga tengah bertarung saling mereguk kenikmatan dengan salah seorang pemuda tampan di kamar pribadinya.
Sepertinya malam ini wanita berumur 50-an namun tampak seperti gadis 30 tahun itu luput dari memantau bangunan penjara bawah tanah.
Dengan mantra ghaib melalui cermin ajaibnya sebenarnya dia bisa memantau dari kediamannya keadaan penjara bawah tanah.
Namun sepertinya malam yang dingin ini dia lebih memilih mereguk kenikmatan bersama pemudanya yang diketahui adalah salah satu Pengawal Pribadi-nya.
Kenikmatan bercinta yang dia rasakan malam ini seolah begitu istimewa baginya dari malam-malam sebelumnya. Sehingga kewaspadaannya hilang yang akhirnya dia kecolongan.
Ritme pertarungan semakin memanas, semakin cepat seolah kuda liar yang berpacu dengan kencang. Peluh seakan tidak mau habis, terus saja bercucuran membasahi 2 tubuh bugil di atas pembaringan yang panas. Hingga akhirnya....
"Aaa...."
"Aaahhh...."
Terdengar 2 erangan kenikmatan yang hampir bersamaan begitu 2 tubuh bugil itu mencapai puncak kenikmatan bercinta. Setelah itu mereka langsung lemas terkulai di atas pembaringan....
★☆★☆
Sementara di pembaringan Raja Adrian masih terjadi pergumulan mesum 1 vs 2. Tampak Raja Adrian semakin brinagas, semakin cepat ritme pertempurannya. Hingga akhirnya lawannya langsung menjerit ketika mencapai puncak kenikmatannya.
Tanpa perduli gadis bugil lawannya yang sudah terkapar, dia beralih ke lawan yang di sebelah gadis yang sudah mencapai puncak itu. Setelah membenamkan pusakanya ke dalam liang kenikmatan gadis bugil lawannya, dia kembali berpacu bagai kuda liar.
Dan kali ini Raja Adrian semakin menggila. Sepertinya dia sebentar lagi akan mencapai puncak kenikmatannya. Dan baru saja hal itu terbetik sudah terdengar erangannya yang menggila bersama gadis bugil di bawahnya itu.
"Aaakh...."
__ADS_1
"Aaahhh...."
Sementara itu, di luar kamar prajurit penjaga masih setia mematung di tempatnya. Namun begitu beberapa saat berlalu setelah junjungannya selesai bertempur, dia baru berani mengetuk pintu.
"Ada apa?" bentak Raja Adrian dengan kasar.
"Ampun Yang Mulia, ada penyusup masuk di penjara bawah tanah," lapor penjaga itu sambil mengkeret ketakutan.
"Keparat!" maki Raja Adrian dengan keras memuntahkan kemarahannya. "Kenapa bisa sampai terjadi begitu hah?"
"Ampun, Yang Mulia, hamba tidak tahu secara pasti," kata penjaga itu makin ketakutan. "Hamba cuma mendapat laporan dari prajurit penjaga penjara."
"Apa Bunda Suri sudah tahu?" tanya Raja Adrian masih dalam mode murka.
"Prajurit penjaga tadi hamba suruh untuk melapor ke kediaman Yang Mulia Bunda Suri."
"Keparat! Seharusnya perempuan tua itu tahu kalau ada penyusup," gerutunya dengan geram dan kesal.
Lalu cepat-cepat dia memakai bajunya sambil memerintahkan kedua wanita bugil yang masih terbaring di pembaringan untuk mengenakan pakaian mereka.
"Cepat kalian berpakaian! Lalu ikut aku ke penjara!"
Tanpa membantah kedua gadis yang sebenarnya masih lelah itu segera mengenakan seragam pengawal. Rupanya 2 gadis itu adalah 2 Pengawal Pribadi Raja Adrian.
Ya, memang mereka Pengawal Pribadi merangkap sebagai gundik pemuas nafsu.
Setelah mengenakan pakaian kebesarannya, Raja Adrian keluar kamar bersama 2 Pengawal Pribadi-nya yang juga sudah selesai berpakaian.
Begitu telah keluar dari bekas istana ayahnya, dia langsung memerintahkan para komandannya mengatur pasukan untuk menuju ke penjara bawah tanah.
Sementara Putri Rayna, setelah mendapat laporan bahwa ada penyusup masuk di penjara bawah tanah, dia langsung melacak melalui cermin ajaibnya.
Dan betapa kagetnya dia kalau penjara pertama dan penjara ke 2 sudah kosong. Sementara sebagian besar penjaga entah ke mana. Dia cuma melihat sebagian kecil prajurit penjaga yang tewas.
Sementara siapa yang berbuat onar di dalam penjara bawah tanah tidak dapat dilacak melalui cermin ajaibnya meski bekali-kali dia mencoba melacaknya.
Terang saja dia tidak bisa melacak Aura Sukma Dhafin karena dia menyegelnya. Sedangkan Gibson juga sudah disegel Aura Sukma-nya oleh Dhafin. Jadi alat pelacak Putri Rayna Cathrine tidak dapat melacak pula.
★☆★☆
Sementara itu di dalam penjara bawah tanah....
Dhafin dan Gibson sudah masuk ke ruangan depan penjara ke 3. Rupanya ruangan penjara itu cukup luas dan besar. Kamar penjaranya ada 2; di kiri dan kanan ruangan. Tapi cuma 1 kamar penjara yang terisi, yaitu yang sebelah kanan.
Namun di dalam ruangan penjara besar itu cuma dihuni oleh 5 orang tokoh penting di Kerajaan Amerta; Raja Darian Cashel, Pendeta Noman, Jenderal Myles, Jenderal Felix dan Jenderal Lyman.
Entah ke mana para pejabat lainnya? Apakah sudah mati saat bertempur melawan para pemberontak yang dipimpin oleh Putri Rayna yang kini mengangkat dirinya sebagai Bunda Suri?
Ataukah sudah mati karena tidak sanggup menahan siksaan?
Kondisi kelima tokoh Kerajaan Amerta itu amat mengenaskan. Penampilannya tak sedap dipandang mata. Pakaian yang mereka kenakan sudah sobek sana sini. Dan masing-masing mereka terdapat beberapa luka sayatan di tubuh yang tidak ringan.
Sedangkan Raja Darian terdapat luka tusukan di dada kanannya di samping luka-luka lainnya. Sementara mereka semua tengah duduk bersemedi sambil bersandar di dinding penjara.
Dhafin dan Gibson yang melihat keadaan 5 petinggi Kerajaan Amerta itu seketika terharu. Sungguh kedua pemuda itu tidak menyangka kalau mereka sampai mengalami nasib buruk seperti itu.
"Yang Mulia," tegur Dhafin dengan suara agak pelan dan santun menyapa.
Bukan cuma Raja Darian yang membuka matanya ketika mendengar suara lembut itu. Semua penghuni penjara segera membuka mata dan langsung memandang ke sumber suara.
Sejenak mereka menatap lekat-lekat kedua pemuda itu. Seakan ingin memperjelas akan siapa gerangan mereka.
Sedangkan kedua pemuda itu, begitu Raja Darian menatap ke arah mereka, keduanya langsung menyembah hormat dengan berlutut di lantai penjara.
Lutut sebelah kiri rapat di lantai, sedangkan lutut kanan menghadap ke atas. Tangan kanan mencengkeram lutut kanan, tangan kiri rapat di lantai di samping lutut.
__ADS_1
"Bangunlah!" titah Raja Darian meski dengan suara agak lemas, tapi kewibawaannya masih tampak. "Aku bukan lagi seorang raja."
Setelah disuruh bangun, Dhafin dan Gibson segera bangun dari menyembah hormat.
"Siapa kalian?" tanya Raja Darian masih belum tahu siapa kedua pemuda itu. Mungkin lantaran padangan matanya tampak nanar.
"Apakah Yang Mulia sudah lupa dengan 2 pemuda sebagai peserta terbaik Turnamen Beladiri Anak Bangsawan?" kata Pendeta Noman seakan mengingatkan Raja Darian.
"Dhafin! Gibson!"
Bukan cuma Raja Darian yang terkejut saat menyebut 2 nama itu. Tiga pejabat lainnya pula ikut terkejut. Sepasang bola mata mereka membulat seakan tidak percaya akan apa yang mereka lihat.
Sedangkan Jenderal Felix, begitu melihat kembali anak angkatnya, hatinya amat senang bukan main.
Setelah 8 tahun Dhafin menghilang. Kini muncul kembali di hadapannya dengan sosok yang begitu gagah. Mana dia tidak senang kalau begitu?
"Ampun, Yang Mulia," masih dengan sikap takzim. "Hamba mengharapkan Yang Mulia dan 4 pejabat lainnya untuk segera bersiap-siap. Kami akan mengeluarkan rombongan Yang Mulia dari penjara."
"Tidak perlu, Anakku," kata Raja Darian penuh wibawa. "Kalian selamatkan saja penghuni penjara pertama dan penjara ke 2."
"Mereka sudah kami keluarkan semuanya ke tempat yang aman, Yang Mulia," kata Dhafin seolah melaporkan. "Tinggal rombongan Yang Mulia belum keluar."
"Kapan kalian keluarkan?" tanya Jenderal Myles heran. "Kok bisa secepat itu?"
"Barusan saja, Tuan Jenderal," sahut Dhafin bernada hormat.
"Barusan!"
Bukan main terkejutnya Yang Mulia dan 3 pejabatnya mendengar laporan Dhafin itu. Begitu cepat mereka keluarkan tahanan. Dengan cara bagaimana dan lewat mana? Apakah mereka sudah melumpuhkan para penjaga semuanya?
"Mereka menyelamatkan para penghuni penjara pertama dan penjara ke 2 melalui jalur teleportasi, Yang Mulia," kata Pendeta Noman yang tahu kebingungan dsn keheranan mereka menerangkan.
"Apakah begitu Dhafin?" tanya Yang Mulia ingi kejelasan.
"Benar, Yang Mulia."
"Apakah kalian bisa meretas mantra ghaib yang menempel di jeruji penjara?" tanya Pendeta Noman seolah menguji.
"Oh, penjara ini dipasang matra ghaib?" kejut Dhafin. "Apakah paman tahu jenis mantra apa yang dipasang?"
"Aku tidak tahu pasti, Tuan Muda," kata Pendeta Noman mengaku. "Tapi yang memasang matra ghaib adalah Putri Rayna. Dia memasangnya melalui jarak jauh."
"Memasang dari jarak jauh," gumam Dhafin mengulangi ucapan Pendeta Noman kalimat yang terakhir.
"Jaring Langit," cetusnya menyebut jenis mantra penyegel yang dipasang Putri Rayna.
"Apa itu jenis mantra yang dipasang di penjara ini?" tanya Raja Darian ingin tahu.
"Benar, Yang Mulia," sahut Dhafin. "Tapi mantra penyegel itu tidak bisa dibuka di mana dia dipasang. Cara membukanya harus memutus buhul yang ada di sisi orang yang memasang."
"Berarti kamu harus berhadapan depan Putri Rayna," kata Raja Darian seolah mengingatkan.
"Apa boleh buat, Yang Mulia," kata Dhafin penuh optimis.
"Kalian harus memikirkan matang-matang dulu kalau ingin melawan Putri Rayna," kata Raja Darian menasihatkan.
"Jika kalian ragu akan keberhasilan usaha kalian," lanjut Raja Darian, "sebaiknya kalian tidak perlu menyelamatkan kami."
"Yang Mulia tenang saja," kata Dhafin tak lepas akan sikap santunnya. "Kami akan mendaya upayakan agar rombongan Yang Mulia bisa keluar dari penjara."
Tak lama kemudian, karena Dhafin maupun Gibson belum bisa mengeluarkan rombongan Raja Darian dari dalam penjara, akhirnya mereka pamitan keluar untuk megatur rencana selanjutnya.
Tak lupa Dhafin dan Gibson memberikan semuanya obat pil mereka kepada Jenderal Felix agar mereka bisa mengobati luka-luka mereka.
★☆★☆★
__ADS_1