Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 152 SIDANG PENGHUKUMAN 10 GURU BESAR


__ADS_3

Atas kebijaksanaan Ratu Agung, Selir Ashana dibawa ke Negeri Tabir Ghaib. Lebih khusus lagi ke Istana Centauri.


Tentu bersama pengawalnya yang masih tampak cantik, Jenderal Elaina, putrinya, Putri Lavina serta Pelayan Galina beserta 5 pelayan yang berhasil diselamatkan.


Putri Eveline juga diikut sertakan. Di samping demi untuk keselamatannya, juga biar dia tenang di sana memikirkan tentang permasalahan yang tengah dihadapi.


Sementara Jenderal Kenzie yang sudah sembuh dari luka dalam masih berada di Kota Nehan menunggu 10 Guru Besar.


Perlu diketahui bahwa di balik kesuksesan pasukan yang direkrut Raja Ghanim, tentu ada orang-orang hebat yang menggembleng mereka sehingga menjadi prajurit perang yang tangguh.


Nah, 10 Guru Besar itulah tenaga inti yang melatih pasukan itu sampai menjadi hebat begitu. Di samping ada sekitar 50 orang, laki-laki dan perempuan sebagai tenaga pembantu.


Di samping pula ada mendiang Guru Zeroun yang andilnya tidak sedikit yang juga merupakan Guru Besar.


Perlu diketahui pula bahwa 10 Guru Besar dan 50 orang itu merupakan eks pemberontak sewaktu penggulingan kekuasaan mendiang Raja Neshfal yang dipimpin oleh Bunda Suri pada 20 tahun yang lalu.


Akan tetapi mereka berhasil disadarkan oleh Guru Zeroun atas perbuatan dosa yang mereka lakukan.


Dan untuk menebus dosanya itu, mereka bersama Guru Zeroun melatih ribuan bocah-bocah untuk dijadikan pasukan yang akan melawan pasukan Bunda Suri.


Adapun 10 Guru Besar itu terdiri dari 5 lelaki dan 5 wanita yang masing-masing mereka pasangan suami istri. Sedangkan umur mereka kisaran 55-an hingga 60-an ke atas.


Begitu 10 Guru Besar itu sudah tiba di Kota Nehan, dan setelah bersembahyang dan mendoakan Guru Zeroun, maka Jenderal Kenzie mengajak mereka ke Istana Centauri di Negeri Tabir Ghaib.


Tentu diantar oleh Pangeran Revan dan beberapa jawaranya. Sedangkan yang menjaga Kota Nehan diserahkan kepada Dhafin yang ditemani oleh Aziel, Gibson, dan Zafer.


Maksud Jenderal Kenzie mengajak mereka ke sana yaitu untuk bertemu dengan Selir Heliana serta keturunan mendiang Raja Neshfal yang lain.


Tujuannya tidak lain tidak bukan dalam rangka pengakuan dosa dan kesalahan yang mereka perbuat di mana lalu di hadapan Selir Heliana.


Dan ternyata 10 Guru Besar itu amat setuju sekali. Mereka merasa inilah momen yang tepat bagi mereka untuk melakukan hal itu.


Merasa sudah berhasil menggembleng 20000 lebih pasukan seperti yang dimaukan Raja Ghanim. Dan semua pasukan itu sudah diserahkan kepada keturunan Pangeran Ghazam Aldari.


★☆★☆


Ada momen yang cukup mengharukan mengenai kisah cinta antara Pangeran Revan dengan Jessica yang mungkin perlu dicuplik sedikit.


Sebelum pergi ke Negeri Tabir Ghaib, Jessica mengajak Pangeran Revan ketemuan di Taman Kota Nehan. Hanya mereka berdua, tanpa diikuti oleh orang lain.


Memang enaknya kalau membicarakan tentang hal-hal pribadi atau hal-hal yang berbau percintaan atau romantis, enaknya membicarakannya di taman. Karena tempat itu sangat cocok untuk hal-hal yang seperti itu.


"Ada apa kamu mengajakku ke sini, Jessica?" tanya Pangeran Revan untuk ke sekian kali tapi belum dijawab oleh Jessica.


Pangeran Revan tidak lagi memanggil Jessica dengan sebutan nona karena belakangan ini mereka sudah terbilang akrab. Dan Jessica juga memintanya untuk memanggil namanya saja.


Meskipun belum ada pernyataan resmi kalau mereka sudah jadian. Karena Jessica belum mengatakan secara jelas kalau dia menerima cinta Pangeran Revan.


Saat ini mereka tengah duduk-duduk santai di salah satu gazebo Taman Kota.


"Apa kamu sudah mau mengatakan kalau kamu menerima cintaku?" lanjutnya sambil memandang bunga-bunga yang ada di sekitar gazebo.


"Bu... bukan soal itu," sahut Jessica seperti ragu untuk mengatakannya.


"Lantas soal apa?" tanya Pangeran Revan sambil beralih menatap Jessica. Jelas sekali nada suaranya seperti penasaran.


"Aku harap kamu berhenti mencintaiku," kata Jessica bernada pilu. "Aku harap kamu bisa melupakan aku."


"Apakah hanya untuk mengatakan ucapan yang tidak berguna itu kamu mengajakku ke sini, Jessica?" kata Pangeran Revan berusaha kalem dan bersikap tenang.

__ADS_1


"Sebenarnya aku masih bingung," kata Jessica masih bernada pilu, "apa yang kamu suka dari gadis seperti aku ini yang ayahnya adalah seorang pemberontak?"


"Hati-hati kamu berkata tentang ayahmu," kata Pangeran Revan menegur tapi dengan lembut. "Dia adalah seorang pejuang, bukan lagi seorang pemberontak."


"Apakah itu artinya kamu memaafkan kesalahan ayahku yang pernah membantu menggulingkan kekuasaan leluhurmu?" tanya Jessica ingin tahu.


"Tidak ada seorang pun yang bisa lepas dari dosa dan kesalahan, Jessica," kata Pangeran Revan bernada bijak.


"Adapun ayahmu," lanjutnya, "dia sudah menebus dosa dan kesalahannya di masa lalu dengan perbuatan mulia."


Jessica terdiam sejenak meresapi ucapan Pangeran Revan barusan sambil menatapnya. Dia dapat merasakan kalau Pangeran Revan memang berkata sejujurnya.


Bukan sekedar untuk menyenangkannya atau menggait hatinya biar bersimpati padanya yang akhirnya menerima cintanya.


"Tapi aku tetap tidak pantas untuk kamu cintai," kata Jessica seolah masih menghindar seraya menunduk perlahan. "Masih banyak gadis bangsawan lainnya yang lebih cantik dan lebih baik dari aku."


"Tapi sayangnya yang lebih cantik dan lebih baik di hatiku cuma Nona Jessica seorang," tangkis Pangeran Revan seakan mematahkan alasan Jessica.


Mendengar ucapan itu lantas Jessica kembali menatap Pangeran Revan. Dilihatnya sang pangeran seperti menarik senyum kecil sambil tetap menatapnya. Lalu tak lama dia kembali menunduk dengan perlahan.


"Atau jangan-jangan kamu masih ada rasa dengan Pangeran Pusat?" kata Pangeran Revan penuh selidik.


"Tidak, aku sudah tidak ada rasa lagi dengannya," kata Jessica seolah mengungkapkan kejujurannya. "Aku tidak mau lancang mengganggu pemuda yang sudah disukai Yang Mulia Ratu."


"Biarlah Kak Dhafin bersama Yang Mulia," lanjutnya makin terasa pilu ucapannya. "Sementara aku...."


"Sementara kamu bersama Pangeran Revan," kata Pangeran Revan memotong ucapan Jessica. "Bukankah kamu pantas bersamanya?"


"Apakah kamu memang benar-benar mencintaiku," tanya Jessica seolah mematri sebuah janji sambil menatap kembali sang pangeran, "dan akan mencintai selamanya?"


Pangeran Revan menggenggam jemari lentik putih nan halus Jessica. Mengecupnya dengan perlahan penuh penghayatan. Setelah itu dia berkata dengan lembut tapi penuh kejujuran.


"Aku memang benar-benar mencintaimu," kata Pangeran Revan bernada mantap, "dan akan mencintaimu selamanya."


"Aku juga akan mencintaimu selamanya, Pangeran," kata Jessica juga bernada mantap.


"Itu artinya kamu menerima cintaku?" tanya Pangeran Revan seakan ingin memastikan sambil tersenyum lebar.


"Ya," sahut Jessica sambil mengangguk agak kencang.


Pangeran Revan langsung membawa sang bidadarinya ke dalam pelukan hangatnya. Memeluknya dengan erat namun lembut penuh kasih sayang.


Sedangkan Jessica benar-benar menghayati pelukan pangerannya sambil memejamkan matanya. Senyum bahagia masih terkembang di bibir merahnya.


★☆★☆


Sementara itu di gedung balairung Istana Centauri telah berkumpul para petinggi Istana Centauri.


Yang Mulia Ratu Agung sudah duduk di singgasananya yang megah. Di samping kiri kanannya duduk 4 pengawal cantiknya.


Di samping kanan duduk Selir Heliana Arawinda. Terus di sebelahnya duduk Pangeran Nelson Adelard dan istrinya yang merupakan salah satu 12 Tetua Istana Centauri.


Di samping kiri duduk Putri Kayshila. Terus di sebelahnya duduk Putri Clarabelle dan Putri Richelle.


Sedangkan di bawah panggung singgasana agak jauh dari depan singgasana berjarak 8-9 tombak duduk di kursi masing-masing 11 Tetua Istana Centauri serta beberapa petinggi Istana Centauri.


Sementara di depan di tempat persembahan hormat terhadap Ratu Aurellia berdiri melutut 10 Guru Besar serta Jenderal Kenzie dan istrinya. Masing-masing mereka menodongkan pedang di leher kiri.


Mereka semua tampak menundukkan kepala dalam-dalam. Keadaan mereka saat ini bagai pesakitan yang siap menerima hukuman mati.

__ADS_1


Sekali mereka diperintahkan menggerakkan pedang, maka mereka menggorok leher mereka sendiri. Bunuh diri!


Sementara Zelyne dan Jessica yang melihat kedua orang tua mereka tentu saja bersedih hati. Air mata jelas telah berderai membasahi pipi halus mereka.


Kalau Jessica terus berada di samping Pangeran Revan yang berusaha menenangkannya. Sedangkan Zelyne berada di samping Putri Eveline yang juga membujuknya agar tabah menerima kenyataan ini.


Sepertinya 10 Guru Besar serta Jenderal Kenzie dan istrinya tidak bisa dimaafkan oleh Dewan Istana Centauri atas dosa yang mereka perbuat di masa lalu. Lebih khusus Selir Heliana.


"Nenenda, apakah tidak ada pengampunan bagi mereka atas dosa yang mereka lakukan di masa lalu?" tanya Ratu Aurellia sambil memandang pada Selir Heliana.


"Mengingat kalau mereka sudah bertobat dari kesalahan mereka dan berkontribusi besar demi membina sebuah pasukan agar menjadi tangguh yang sekarang sudah bergabung dengan kita."


"Hhh...! Baiklah," kata Selir Heliana seraya menghela napas. "Aku ampuni kesalahan Jenderal Kenzie dan istrinya."


"Paman Kenzie! Bibi Elaina! Silahkan kalian mundur!" titah Ratu Aurellia penuh keanggunan. "Nenenda Selir telah mengampuni kalian berdua."


"Kami menghanturkan rasa terima kasih yang mendalam atas pengampunan yang telah diberikan kepada kami," kata Jenderal Kenzie penuh sikap takzim.


Lalu mereka sama-sama mengucap doa penghormatan untuk Ratu Aurellia.


"Semoga keselamatan dan kesejahteraan terlimpah atas Yang Mulia."


Juga mereka menyembah hormat kepada Ratu Aurellia dan Selir Heliana. Setelah itu mereka mundur agak cepat ke belakang. Kemudian mereka beranjak ke kursi dan duduk di itu.


Mereka sama sekali tidak menengok ke 10 Guru Besar yang masih melutut diam di depan panggung singgasana. Dan 10 Guru Besar juga sama sekali tidak menggerakkan kepala mereka.


Sementara Jessica dan Zelyne amat bahagia mendengar pengampunan yang diberikan kepada kedua orang tua mereka. Sehingga Jessica tidak lagi bersedih.


Sedangkan Zelyne meski bahagia orang tuanya selamat dari hukuman, namun kesedihan masih juga menyelimutinya. Karena salah seorang dari 10 Guru Besar itu ada gurunya.


"Bagaimana dengan 10 Guru Besar, Nenenda?" tanya Ratu Aurellia lagi. "Apakah tidak ada pengampunan lagi terhadap mereka?"


"Sepuluh Guru Besar begitu besar andilnya dalam penggulingan kekuasaan mendiang suamiku, Ananda Yang Mulia," kata Selir Heliana seperti berat mengatakan. "Sulit bagiku untuk bisa mengampuni mereka."


"Apalagi mereka semua orang-orangnya mendiang Yang Mulia Raja Neshfal waktu dulu," lanjutnya. "Pengkhianatan yang mereka lakukan tidak bisa aku ampuni."


Lalu Ratu Aurellia memandang pada Pangeran Nelson, Putri Clarabelle serta Putri Richelle, berharap mereka membujuk Selir Heliana agar bisa mengampuni 10 Guru Besar itu.


★☆★☆


Akan tetapi tidak ada di antara mereka yang mau membujuk Selir Heliana atau mengajukan pengampunan terhadap para guru besar itu.


Hanya Pangeran Revan seorang yang memohonkan ampun untuk 10 Guru Besar itu. Atau kalau tidak hukumannya diringankan. Yang penting selain hukum bunuh diri.


Namun Selir Heliana tetap tidak memberi pengampunan. Hukuman bunuh diri tetap dijalankan. Meskipun sebenarnya berat juga bagi Selir Heliana memberi hukuman seperti itu.


"Aku minta maaf kepada kalian semua," kata Yang Mulia Ratu kepada 10 Guru Besar, "karena tidak bisa membujuk Nenenda Selir untuk mengampuni kalian."


"Dengan terpaksa hukuman tetap dijalankan," lanjutnya. "Semoga dengan itu dosa kalian benar-benar terampuni secara sempurna."


"Sekarang, bersiaplah menjalankan hukuman!" titah Yang Mulia Ratu.


Tampak 10 Guru Besar memegang erat pedang di tangan kanan mereka. Lalu membenarkan letak atau posisi mata pedang agar benar-benar menggorok leher mereka masing-masing.


Sementara suasana sunyi menyelimuti seluruh gedung balairung Istana Centauri. Semua mata tertuju pada 10 Guru Besar. Sedangkan wajah-wajah mereka begitu tegang merasakan suasana mengerikan seperti ini.


"Besiaplah!"


Seketika Ratu Aurellia berseru agak keras sehingga mengejutkan hampir seluruh orang-orang yang ada di ruangan yang lumayan luas itu.

__ADS_1


"Laksanakan!"


★☆★☆★


__ADS_2