Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 76 KEMATIAN TRAGIS 3 KEPALA KAMPUNG


__ADS_3

Hati Brian seketika terkejut mendengar ucapan Ariesha barusan. Perlahan kedua tangannya melepaskan genggamannya pada kedua lengan atas Ariesha.


Sejenak kedua matanya masih menatap wajah Ariesha yang sudah melengos ke arah lain. Lalu perlahan wajah tampannya berputar seiring tubuhnya, kembali menghadap ke ufuk barat.


Dia berusaha menekan kekecewaan dalam hatinya atas ucapan Ariesha tadi. Ucapan itu memang bernada lembut, namun sangat menusuk ke dalam hati hingga terasa perih meski tak berdarah.


Baginya lebih baik Ariesha menolaknya secara terang-terangan, meski dia akan kecewa dan hatinya pun juga sakit. Tapi setidaknya dia sudah mendapat kejelasan.


Daripada Ariesha menggantung perasaannya dengan ucapan seperti itu. Yang ternyata lebih membuatnya kecewa dan lebih membuat hatinya sakit.


Dia bisa membaca pikiran Ariesha, namun tidak bisa membaca apa yang ada di dalam hatinya. Apalagi Ariesha pandai menyembunyikan perasaannya.


Dia tidak bisa menebak apakah ucapan Ariesha tadi merupakan penolakan secara halus? Karena merasa tidak pantas menjadi kekasihnya seperti ucapannya tadi.


Atau memang Ariesha benar-benar belum siap menerima cintanya? Nanti kalau sudah siap dia akan menjawab kalau dia menerima cintanya.


Sementara itu Ariesha yang merasa kalau Brian tidak menatapnya lagi, lantas menatapnya kembali. Segera dia menangkap kekecewaan di wajah tampan itu.


Dia merasa menyesal juga telah membuat teman waktu kecilnya itu kecewa. Tapi terus terang dia masih bingung, haruskah dia menerima cinta Brian secepat itu? Ariesha benar-benar masih bingung menjawabnya.


Setelah sekian lama berpisah, ketika berjumpa tiba-tiba Brian langsung menyatakan cintanya. Tentu saja dia kaget dan jelas belum siap. Apalagi dia belum pernah memikirkan tentang asmara.


Apalagi hingga sekarang dia masih memikirkan kakak angkatnya yang entah di mana sekarang berada. Apakah kandanya dalam keadaan sehat-sehat saja atau sedang kenapa-kenapa.


"Kak. Aku minta maaf kalau ucapanku telah membuatmu kecewa," kata Ariesha bernada mendesah. Kini dia sudah menghadap ke ufuk barat seraya menatap jingga senja.


Brian diam saja, tidak menanggapi ucapan Ariesha. Dia masih saja menatap senja yang mulai menua.


"Aku mohon padamu untuk memberi aku waktu," Ariesha berkata lagi. "Kamu menyatakan cintamu padaku di saat aku belum siap. Kasih aku waktu untuk berpikir, Kak."


Brian masih diam saja, seakan masih enggan untuk bicara. Dia masih saja sibuk dengan pekerjaan dan pikirannya.


Menyadari tidak ada tanggapan dari Brian, Ariesha lantas memandangnya kembali. Dan semakin merasa bersalah melihat sikap Brian itu. Lantas dia berkata.


"Kak, kok kamu diam saja? Bicaralah, Kak!"


"Apa yang harus aku katakan, Ariesha?" kata Brian akhirnya meski masih menatap senja. Nadanya masih membiaskan kekecewaan.


"Ya... ngomong apa kek, jangan diam saja."


"Aku tidak bisa bicara apa-apa kalau kamu memutuskan begitu, Ariesha," kata Brian seolah pasrah. "Aku juga tidak bisa memaksamu untuk menerima cintaku...."


"Tapi setidaknya aku sudah mengungkapkan perasaanku padamu. Urusan diterima atau tidak itu terserah kamu."


"Aku tidak mengatakan kalau aku menolakmu, Kak," kata Ariesha seolah menegaskan ucapannya tadi. "Aku hanya minta padamu agar memberi aku waktu."


"Karena terus terang aku belum pernah memikirkan soal asmara," lanjutnya. "Belum lama bertemu denganmu, tiba-tiba kamu langsung menodongku soal asmara. Mana aku siap langsung menjawabnya."


"Hahaha...," seketika Brian tertawa selepas mendengar uraian Ariesha barusan meskipun tidak keras.


"Kenapa kamu tertawa?" tanya Ariesha heran juga.


"Aku menertawakan kekonyolanku," sahut Brian sambil tersenyum lucu.


"Maksudmu?" Ariesha masih tidak mengerti.


"Kamu tidak pernah memikirkan soal asmara, tapi aku tiba-tiba menodongmu soal asmara. Bukankah tindakanku itu sungguh konyol?"


Ariesha seketika tersenyum mendengar ucapan Brian yang seolah berkelakar itu. Dan kini dia melihat wajah Brian sudah kembali seperti biasa, wajah yang santai. Itu artinya perasaannya tidak galau lagi.


"Ah, sudahlah. Memang ada baiknya kita tidak memikirkan hal itu dulu," kata Brian seolah menghibur hatinya sendiri. "Bagusnya kita memikirkan tentang perang yang sebentar lagi akan terjadi."


"Ya memang ada baiknya memang begitu, Kak," kata Ariesha mendukung.


Setelah ngobrol barang beberapa saat, mereka putuskan untuk kembali ke Kampung Naraya. Meninggalkan tepi jurang yang membisu melihat kepergian mereka. Meninggalkan jingga senja yang semakin menua.


★☆★☆

__ADS_1


Pasukan istana telah tiba di daerah utara Kota Bahir tadi malam. Kini mereka tengah berkonsentrasi kira-kira 4 mil di luar batas Kampung Caraya sebelah selatan.


Waktu itu masih terhitung pagi kira-kira pukul 8.


Tampak sekitar 200 prajurit bertolak dari perkemahan pasukan istana menuju kampung terdekat yang tak lain Kampung Caraya. Ikut bersama prajurit itu 4 Kepala Regu dan 24 jawara istana.


Sementara para penduduk Kampung Caraya, begitu melihat pasukan istana sudah dekat dengan batas kampung, mereka langsung masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu.


Jadi, tidak ada yang berkeliaran di luar barang seorang pun. Sampai pun yang tadi masih berada di ladang, segera pulang ke rumah dengan tergesa-gesa.


Sementara itu, para prajurit istana terus saja bergerak memasuki Kampung Caraya dengan langkah cepat. Begitu telah sampai di pertengahan kampung, serempak mereka berhenti.


Empat orang kepala regu dan 4 jawara istana yang berkuda, segera turun ke tunggangan masing-masing. Belum lama kaki mereka menapak tanah 8 orang prajurit sudah mengambil alih kuda mereka.


Sejenak para kepala regu dan jawara istana yang berwajah garang dan bengis itu mengamati keadaan kampung yang sunyi ini. Sepanjang mata mereka melihat, tidak ada secuil pun manusia mereka lihat.


Tak lama, salah seorang kepala regu berseru dengan suara cukup keras.


"Mana kepala kampung di sini? Keluar!"


Tetua Witton bersama istrinya dan 2 anak gadisnya yang tengah berada di dalam rumah terkejut ngeri mendengar teriakan yang menggelegar itu.


Sejenak mereka saling melempar pandang. Sedangkan Tetua Witton tampak bingung bercampur ketakutan. Dia tidak segera keluar memenuhi panggilan itu.


"Kalau sampai terjadi apa-apa di kampung ini," kata sang istri bernada tajam, "kamu harus menanggung akibatnya!"


"Kalian tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa," kata Tetua Witton mencoba menenangkan. Tapi suaranya sedikit gemetar pertanda ketakutan.


"Kamu bilang tidak akan terjadi apa-apa?" kata sang istri masih bernada tajam. "Apa kamu pikir prajurit istana berhenti di kampung ini dengan percuma?"


Baru saja Tetua Witton hendak menyanggah ucapan sang istri, terdengar lagi teriakan dari luar.


"Kepala Kampung! Keluar kalau tidak mau kampungmu rata dengan cepat!"


Tetua Witton makin ketakutan mendengar teriakan bernada ancaman itu. Akhirnya mau tidak mau dia keluar juga dengan desakan istrinya.


Kepalanya tertunduk tak sanggup menatap wajah-wajah garang di depannya. Sementara tubuhnya semakin gemetar ketakutan.


"Kamu kepala kampung di sini?" tanya salah seorang kepala regu yang berkumis tebal. Nadanya begitu datar dan kasar.


"Benar, Tuan, saya kepala kampung di sini," kata Tetua Witton dengan suara gemetar.


"Mana wargamu semua?" tanyanya lagi.


"Ada, Tuan, di dalam rumah," sahut Tetua Witton takut-takut.


"Suruh mereka keluar semua!"


"Tuan, di sini bukan sarang pemberontak," kata Tetua Witton menerangkan dengan takut-takut. "Di kampung ini cuma penduduk biasa."


"Aku menyuruh wargamu keluar, bukan menyuruhmu bicara, Keparat!" kata kepala regu itu lagi dengan berang.


"Tapi, Tuan, di sini...."


Craaasss!


Belum lengkap Tetua Witton bicara, sebuah pedang yang mengayun dengan cepat seketika menebas lehernya hingga putus. Tak ada jeritan terdengar dari mulutnya yang sedikit terbuka. Hanya ******* pelan.


Kemudian tubuhnya jatuh tersungkur ke depan dengan kepala terpisah. Dan kepala itu langsung menggelinding ke samping. Seketika darah mengucur dengan deras dari kutungan lehernya.


Sungguh mengerikan kematian kepala kampung itu!


"Phuiiihhh! Dasar kepala kampung tidak berguna!" maki salah seorang jawara istana sambil meludahi mayat Tetua Witton dengan penuh penghinaan.


Rupanya dialah yang mengesekusi mati Tetua Witton. Sedangkan rekan-rekannya cuma menatap perbuatannya dengan dingin.


Kemudian setelah menyarungkan pedangnya, jawara itu berkata kepada kepala regu berkumis tebal mengusulkan.

__ADS_1


"Sebaiknya kita melanjutkan dulu memeriksa 3 kampung yang lain, Kepala Regu. Kampung ini biar terakhir kita ratakan."


"Kamu yakin di kampung ini tidak ada pemberontak?" tanya si kumis tebal.


"Aku rasa ucapan mayat itu tadi adalah benar," sahut jawara itu sambil menunjuk mayat Tetua Witton dengan ujung warangka pedangnya.


Si kumis tebal memandang sinis sejenak kepada mayat Tetua Witton. Tak lama kemudian dia menyuruh seluruh prajurit kembali berjalan.


Begitu semua prajurit sudah jauh meninggalkan rumah penduduk, istri Tetua Witton dan kedua putrinya keluar dengan tergopoh-gopoh dan langsung menghambur ke Tetua Witton.


Tanpa menunggu lama kedua putri sang tetua langsung menangis meraung-raung meratapi mayat sang ayah. Sedangkan sang istri cuma menatap sedih pada suaminya yang mati dengan tragis.


"Sebentar lagi semua wargamu akan menyusulmu karena kebodohanmu," kata sang istri bernada lirih.


★☆★☆


Begitu sampai di persimpangan, para prajurit dibagi menjadi 2 kelompok. Seratus prajurit mendatangi Kampung Urdha. Seratus yang lain mendatangi Kampung Adya. Masing-masing di pimpin oleh 2 kepala regu dan 12 jawara istana.


Tak lama kemudian, prajurit istana telah sampai di kampung yang mereka tuju masing-masing.


Awalnya para penduduk di Kampung Urdha maupun di Kampung Adya semuanya telah masuk ke dalam rumah mereka. Tapi begitu kepala kampung masing-masing menyuruh keluar, mereka menurutinya. Mereka berkumpul di tengah kampung.


Cuma melihat beberapa saat, sebagian jawara istana mengetahui kalau Kepala Kampung Urdha dan Kepala Kampung Adya serta sebagian warganya mempunyai ilmu beladiri dan tenaga dalam.


"Kamu punya ilmu beladiri untuk apa, Kepala Kampung?" tanya jawara yang mengesekusi Tetua Witton kepala Tetua Simon.


Pertanyaan senada pula ditanyakan kepada Tetua Carlos oleh salah seorang jawara yang berambut ikal keriting.


"Hanya untuk berjaga-jaga, Tuan," sahut Tetua Simon berusaha tetap tenang, tidak gemetar ketakutan.


Jawaban yang semakna juga dijawab oleh Tetua Carlos.


"Sebagian wargamu juga punya beladiri," kata jawara rambut keriting kepada Tetua Carlos bernada dingin campur sinis. "Untuk berjaga-jaga juga atau untuk memberontak?"


Pertanyaan semisal itu juga ditanyakan oleh si kumis tebal kepada Tetua Simon. Dan, baik jawaban Tetua Simon maupun jawaban Tetua Carlos hampir sama, yaitu mereka belajar beladiri hanya untuk perlindungan diri. Tak ada maksud lain apalagi untuk memberontak.


"Apa kamu pikir kami percaya begitu saja bualanmu?" kata jawara pembunuh Tetua Witton.


Dia tidak menunggu tanggapan Tetua Simon. Tanpa banyak cakap lagi dia langsung menyerang Tetua Simon dengan ganas.


Awalnya Tetua Simon masih bisa membendung serangan jawara itu. Sehingga untuk beberapa saat lamanya mereka telah terlibat dalam pertarungan.


Sedangkan jawara rambut keriting mengajak bertarung Tetua Carlos dengan metode lain.


"Kalau begitu aku menantangmu bertarung," katanya sekedar basa-basi. "Kalau kamu kalah wargamu akan kami bantai semua. Tapi jika kamu menang, wargamu selamat."


Tanpa menunggu persetujuan sang tetua, jawara itu langsung menyerang Tetua Carlos. Sehingga tak lama mereka sudah terlibat dalam pertarungang yang cukup sengit.


Namun tak sampai 3 jurus, baik Tetua Simon maupun Tetua Carlos dapat dikalahkan oleh lawan mereka.


Bahkan Tetua Simon belum begitu lama bertarung, dia sudah ditumbangkan oleh jawara istana lawannya. Perut dan dadanya tampak robek besar, hingga isi perutnya membusai keluar.


Lalu terakhir sang jawara menusuk leher Tetua Simon hingga tembus ke tengkuk. Sang tetua langsung menjerit seperti sapi tengah disembelih.


Begitu pedang si jawara ditarik, Tetua Simon langsung mengelosor jatuh. Darah langsung mengucur di luka-lukanya yang parah.


Sedangkan Tetua Carlos mati dengan kepala terpisah dari badan. Begitu jatuh tersungkur di tanah, darah langsung mengucur deras dari kutungan lehernya.


Menyaksikan kepala kampung mereka mati dengan amat tragis, para penduduk melihatnya dengan ngeri ketakutan. Tapi mereka cuma bisa diam di tempat masing-masing. Tidak bisa melakukan apa-apa.


Belum lama kematian kedua kepala kampung, kepala regu di masing-masing kampung langsung memerintahkan seluruh prajurit dan jawara untuk membantai seluruh penduduk kampung.


"Bunuh semua warga!"


Semua prajurit yang berada di kampung masing-masing langsung menghunus pedang, dan terus menyerang para penduduk dengan brutal.


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2