
Kini Putri Aurellia telah tahu siapa pembunuh bundanya yang sebenarnya. Maka dia bertekad membalas dendam atas kematian bundanya yang tragis itu. Apalagi sekarang dia sudah mempunyai kesaktian.
Sedangkan kedua pelayan setianya itu siap membantu perjuangan Putri Aurellia. Mereka sudah lama bersama-sama dengan Putri Aurellia. Jadi mereka seakan-akan sudah satu hati.
Sementara Brian dan Keenan juga tidak tinggal diam. Mereka juga bertekad akan membantu perjuangan Aurellia dalam membalaskan dendam atas kematian Permaisuri Michella yang dibunuh secara tidak adil.
Sedangkan Dhafin juga bertekad akan membantu perjuangan Putri Aurellia. Tapi niatnya bukan membantu membalas dendam, tapi dia membantu dalam rangka menegakkan keadilan.
Tadi dia sudah mendengar keterangan dari Aurellia kalau bundanya adalah sosok permaisuri yang baik. Ditambah keterangan Brian yang mengungkapkan pengakuan permaisuri yang sekarang dan bundanya Brian bahwa Permaisuri Michella memang sosok wanita yang baik.
Hanya yang menjadi pertanyaan sekarang kenapa Putri Rayna membunuh permaisuri yang dulu?
Perlu diketahui, Putri Rayna Cathrine dikenal wanita yang berperangai baik. Meski dia sebagai kakak, tapi dia merestui Darian Cashel sebagai raja Kerajaan Amerta.
Namun 3 tahun yang lalu Putri Rayna memutuskan untuk meninggalkan istana. Alasannya ingin menjauhi keramaian dan kemewahan. Dia memutuskan untuk tinggal di perkampungan yang sederhana dan sunyi.
Siapa sangka di balik kesederhanaannya itu ternyata dia seorang wanita yang berhati jahat. Dhafin melihat dalam cermin ajaib tadi kalau Putri Rayna telah menguasai kekuatan ghaib.
Sementara Brian tidak terlalu memahami apa yang terjadi di lingkungan istana semasa Permaisuri Michella masih hidup. Waktu itu dia masih kecil, belum terlalu paham banyak hal.
Apalagi setelah kematian Permaisuri Michella, tidak ada seorang pun yang menyinggung-nyinggung peristiwa itu hingga sekarang. Karena Yang Mulia melarang untuk membicarakannya.
Saat Permaisuri Michella terbunuh, semua orang seolah sepakat bahwa pembunuhnya adalah Aurellia. Tidak ada seorang pun yang curiga bahwa pembunuh sebenarnya adalah Putri Rayna Cathrine. Padahal wanita itu masih ada di istana waktu itu.
Kalau mau dipikir sebenarnya tuduhan bahwa Putri Aurellia sebagai pembunuhnya adalah tuduhan konyol.
Kenapa Yang Mulia tidak memerintahkan untuk menyelidiki secara jelas peristiwa itu? Malah ikut larut dalam kekonyolan. Akibat dari kekonyolan itu Aurellia terusir dari istana.
Namun mengenai peristiwa ini Putri Aurellia tidak mau terlalu larut memikirkannya. Baginya cukup dia tahu siapa pembunuh bundanya. Kelak kalau dia sudah dewasa akan menuntut balas.
Yang masih mengganjal dalam pikirannya kenapa di dalam dirinya bisa tertanam banyak energi sakti? Hal itu ditanyakan langsung kepada Dhafin.
"Hal itu merupakan anugerah dari Penguasa Langit bagi orang yang istimewa," sahut Dhafin bijaksana.
"Apakah aku termasuk orang yang istimewa?" tanya Aurellia seperti meragukan akan dirinya sendiri.
"Bisa jadi. Buktinya kamu sudah memiliki energi sakti sejak lahir."
Namun Aurellia sepertinya masih kurang percaya diri. Dia merasa tidak ada perangainya yang istimewa. Sifat baik yang dimiliki sama seperti orang kebanyakan pada umumnya.
"Keputusan Penguasa Langit tidak pernah salah, Tuan Putri," kata Keenan seakan menyambung ucapan bijak Dhafin. "Kalau Dia sudah memilih hamba-Nya sebagai manusia istimewa, maka itu adalah keputusan yang hak."
"Apa yang dikatakan Tuan Muda Dhafin dan Tuan Muda Keenan adalah benar, Tuan Putri," kata Namira menguatkan. "Mungkin saat ini kamu belum memahami. Siapa tahu saat kamu sudah dewasa kelak kamu sudah bisa memahaminya."
"Kalau aku sudah yakin kalau kamu adalah gadis yang istimewa, Tuan Putri," kata Naifa yakin dan mantap.
Aurellia segera memandang gadis kecil berwajah imut di samping kirinya itu. Senyumnya langsung mengembang di bibir merahnya.
Dia sangat bersyukur mempunyai 2 pelayan yang sudah dianggap saudara itu. Mereka selalu ada di sisinya saat senang maupun sedih. Kini mereka telah memiliki energi sakti yang berasal darinya. Kelak mereka pasti akan membantu perjuangannya dengan energi sakti itu.
★☆★☆
Turnamen Beladiri Anak Bangsawan periode ke 2 telah dimulai. Tempat pelaksanaannya di alun-alun pusat kotaraja, sekitar 1 mil lebih di depan istana. Dan sudah disiapkan 8 panggung pertandingan.
Ketentuan yang berlaku dalam turnamen ini yaitu umur peserta dibatasi; 10-12 tahun. Dalam bertarung peserta tidak boleh memakai senjata apa pun. Juga tidak boleh menggunakan kesaktian bagi yang memilki kesaktian.
Jadi, peserta yang bertarung hanya menggunakan tangan kosong. Dan cuma diperkenankan menggunakan tenaga dalam.
__ADS_1
Pada turnamen periode ke 2 ini pertarungan sistim individu tidak diberlakukan lagi. Peraturan baru yang berlaku sekarang adalah pertarungan antar tim. Maksudnya peserta tergabung dalam 1 tim, dan tim tersebut duel dengan tim lainnya.
Setiap tim terdiri dari 5 anak. Boleh anak lelaki semua, boleh anak perempuan semua, dan boleh campuran. Tidak dipersyaratkan dalam 1 tim harus melulu bangsawan. Setidaknya harus ada 2 bangsawan dalam 1 tim.
Itulah makanya kebijakan pada periode ke 2 ini dirubah. Agar anak dari kalangan pendekar ataupun dari kalangan biasa yang punya bakat bisa ikut serta dalam turnamen. Kebijakan yang bijaksana.
Adapun peserta pada turnamen ini berjumlah 32 tim. Dari 32 tim itu dibagi menjadi 8 kelompok. Dan tiap kelompok terdiri dari 4 tim. Maka masing-masing dari keempat tim itu akan saling bertarung untuk memperebutkan juara 1 dan 2 pada tiap kelompok.
Ada satu fakta menarik yang perlu diketahui di sini. Yang Mulia Darian Cashel memiliki 4 istri; permaisuri, Selir Agung, dan 2 selir. Dan ternyata masing-masing anak dari keempat istri Yang Mulia ikut dalam turnamen kali ini.
Pada salah satu tim di kelompok 1 terdapat putra Permaisuri Chalinda, yaitu Pangeran Adrian Carel. Pada kelompok 6 terdapat putra Selir Agung Cassiopea, yaitu Pangeran Brian Darel.
Pada kelompok 8 terdapat putri Selir Grizelle, yaitu Putri Raisha Arabelle. Dan pada kelompok 4 terdapat putra Selir Caitline, yaitu Pangeran Nevan Axel.
Seperti sudah disinggung di atas bahwa panggung arena pertarungan dibuat 8 buah. Disusun secara berjajar dari utara ke selatan. Sedangkan di sebelah timur dan barat tempat camp peserta; 4 kelompok di sebelah timur dan 4 kelompok di sebelah barat.
Di depan camp peserta bagian barat terdapat camp para hakim juri. Sedangkan di belakangnya terdapat panggung cukup besar, tempat Yang Mulia dan keluarga istana serta beberapa pejabat tinggi kerajaan menonton pertandingan.
Sedangkan di kiri kanan panggung besar itu juga terdapat masing-masing 2 panggung berukuran sedikit lebih kecil dari panggung yang terletak di tengah itu. Di panggung itu tempat para pejabat yang lain serta para bangsawan.
Sementara di luar areal turnamen tempat para penduduk menonton. Dan sekarang, pertandingan belum dimulai mereka sudah berjubel di situ.
★☆★☆
Untuk nomor panggungnya dihitung dari tengah. Arena 1, 3, 5, dan arena 7 sebelah selatan. Sedangkan arena 2, 4, 6, dan arena 8 sebelah utara. Dan babak penyisihan ini semua 8 panggung arena itu dipakai.
Sebelum pertandingan dimulai, Yang Mulia Darian Cashel memberikan kata sambutan atas terselenggaranya Turnamen Beladiri Anak Bangsawan.
Memberikan semangat dan motivasi kepada seluruh peserta dalam bertanding. Juga memberikan arahan dan wejangan dalam bertanding. Tidak lupa pula menyapa rakyatnya serta mendokan kebaikan kepada mereka.
Ini kali yang pertama dia melihat kembali ayahandanya sejak 5 tahun yang lalu tidak bertemu. Seharusnya di dalam hatinya ada perasaan rindu karena sudah lama tidak bertemu.
Namun mana kala dia mengingat perbuatan orang tua itu yang tidak adil terhadapnya, perasaan itu seolah sirna ditelan rasa benci. Ya, di dalam hatinya kini cuma ada rasa benci terhadap ayahandanya.
"Bagaimana perasaanmu saat melihat Yang Mulia lagi, Aurellia?" tanya Brian sambil melirik Aurellia yang duduk di deretan kursi bagian belakang nomor 2.
"Maaf, Kanda, aku malas membicarakan orang itu," kata Aurellia bernada agak datar. Sikapnya seolah-olah enggan untuk membicarakan tentang sang raja.
Ariesha yang duduk di samping kanan Aurellia dan Namira yang duduk di samping kiri hampir bersamaan menoleh pada Aurellia. Begitu pula dengan Grania dan Naifa yang duduk paling ujung deretan kursi nomor 2 itu. Mereka menatap gadis yang tetap bercadar itu dengan trenyuh.
Seharusnya anak yang sudah sekian lama tak berjumpa dengan orang tuanya rasa rindu tentunya tak tertahankan lagi. Namun dari sorot mata Aurellia yang tajam, mereka tahu kalau Aurellia amat membenci Yang Mulia. Di mana ada rasa rindu kalau begitu?
Rupanya Ariesha dan Grania belum masuk asrama pelatihan. Katanya nanti setelah turnamen ini selesai baru mereka diperkenankan masuk asrama.
Sementara di deretan kursi nomor 3 dan 4 yang berjumlah 10 anak yang semuanya anak biasa cuma melirik sebentar pada Aurellia. Kejap berikut mereka kembali khidmat mendengarkan pidato Yang Mulia. Di antara 10 anak biasa itu ada Chafik.
Rupanya Brian sepertinya lebih senang berteman dengan anak-anak biasa daripada anak bangsawan. Sampai-sampai dia mengisi kursi pendukungnya kebanyakan anak-anak biasa.
Tapi jangan salah mereka semua punya beladiri dan semangat untuk belajar beladiri. Jadi teman-teman Brian dari kalangan anak biasa bukan teman yang kosong.
Sedangkan Dhafin, Aziel, Keenan dan Kelvin yang duduk sederetan dengan Brian tidak bergeming sedikit pun. Tampak mereka seakan khidmat mendengarkan pidato. Tapi entah dalam benak mereka memikirkan apa?
Ada Dhafin di Tim Brian Darel? Rupanya dia mau juga dibujuk untuk ikut turnamen. Apalagi sampai sekarang Hendry belum muncul batang hidungnya.
Setelah Yang Mulia selesai berpidato, turun dari panggung arena 1 bersama Jendral Myles, terus duduk di kursinya, barulah terdengar Dhafin berkata tanpa menoleh.
"Aku harap kamu tidak menyimpan kebencian pada Yang Mulia, Tuan Putri."
__ADS_1
Nada suaranya kalem dan santun, tapi jelas mengandung teguran.
"Aku sudah berusaha, tapi aku belum bisa," kata Aurellia bernada agak mendesah. Matanya terpejam rapat-rapat untuk menekan perasaan bencinya.
"Yah, kamu harus berusaha agar kemurnian kesaktianmu tidak tercemari oleh sifat-sifat yang buruk."
"Akan aku usahakan, Kak."
★☆★☆
Pertandingan putaran pertama babak penyisihan sudah dimulai....
Dalam 1 putaran berlangsung 8 pertandingan sekaligus. Dan pada putaran pertama 16 tim yang bertanding duluan adalah 16 tim yang tergabung dalam 4 kelompok yang berada di sebelah barat.
Karena dalam 1 tim terdiri dari 5 peserta, maka kesempatan bertanding pada tiap tim 5x pertandingan.
Tampak 16 peserta dari masing-masing tim sudah bertarung di atas panggung. Meskipun mereka masih anak-anak, tapi sudah bisa menampilkan beladiri yang membuat penonton bukan saja merasa puas, bahkan mereka terpukau.
Tampak Pangeran Adrian Carel menyaksikan pertandingan di arena 1. Wajah tampan tapi angkuh dan sorot mata yang meremehkan tidak pernah lepas dari Putra Mahkota ini. Di arena 1 itu salah satu anggotanya tengah bertarung.
Perlu diketahui semua anggota timnya, Tim Pangeran Adrian dari kalangan bangsawan dan semua anak lelaki. Dia yang berwatak angkuh mana mau menerima anggota dari kalangan rakyat rendahan.
Sementara Pangeran Nevan Axel juga menyaksikan salah satu timnya yang bertarung di arena 8. Pangeran tampan yang satu ini berpembawaan tenang. Umurnya sekitar 10 tahun lebih tapi masih di bawah Putri Aurellia.
Anggota timnya tidak melulu bangsawan, bahkan cuma 2 anak; dia dan putra tertua Jendral Lyman yang bernama Dareen Ardiaz. Yang lainnya 2 dari keluarga pendekar dan 1 dari rakyat biasa. Dan anggota yang terakhir ini yang paling dia jagokan. Namanya Gibson Kyler.
Sementara itu, Yang Mulia Darian Cashel juga tengah asyik menonton pertandingan. Begitu selesai pertandingan putaran pertama dia bertanya kepada Jendral Lyman yang duduk di samping kiri Pendeta Noman yang duduk di samping kirinya.
"Siapa yang menang di arena 8, Jendral Lyman?"
Yang Mulia memang tidak terlalu memperhatikan pertandingan di arena 8 karena letaknya paling ujung sebelah utara.
"Tim Pangeran Nevan, Yang Mulia," sahut Jendral Lyman dengan takzim sambil sedikit menoleh pada Yang Mulia.
Lalu Yang Mulia menoleh pada Jendral Myles yang duduk di samping kanannya, dan bertanya.
"Siapa yang menang di arena 7, Jendral Myles?"
"Tim Dylan Ruben," sahut Jendral Myles dengan takzim. Dylan Ruben adalah putranya.
Yang Mulia tidak memberi komentar apa-apa terhadap 2 jawaban pertanyaannya tadi. Kini dia kembali menyaksikan pertandingan putaran ke 2.
Matanya tampak memandang arena 2. Di arena itu tampak Kelvin bertanding melawan peserta salah satu tim di kelompok 6. Saat melihat Kelvin seketika di benaknya teringat seseorang.
"Jendral Myles! Apa kamu tahu siapa gadis kecil bercadar yang ada di tim kelompok 6?" tanya Yang Mulia. Dia tadi sempat melihat Aurellia saat berpidato.
"Maaf, Yang Mulia, hamba memang sempat melihatnya," kata Jendral Myles mengaku. "Tapi hamba tidak mengetahuinya. Mungkin Pedeta Noman mengetahui."
"Dia duduk dengan siapa, Jendral Myles?" tanya Pendeta Noman.
"Dia duduk di tim Pangeran Brian dan Dhafin."
Yang Mulia menoleh pada Pendeta Noman seolah meminta jawaban. Namun Pendeta Noman terdiam cukup lama seolah memikirkan siapa yang dimaksud Yang Mulia.
"Tuan Putri Aurellia Claretta, Yang Mulia," yang menjawab malah Jendral Felix yang duduk di samping kanan Jendral Myles.
★☆★☆★
__ADS_1