Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 132 PERTARUNGAN DI HALAMAN KEDIAMAN SELIR ASHANA Bag. 2


__ADS_3

Pejabat Choman menatap terperangah semua jawara anak buahnya yang sudah terkapar jadi mayat. Benaknya masih sulit mempercayai puluhan jawara istana mati dengan begitu mudahnya hanya melawan 1 orang.


Padahal semua jawara itu memiliki kehebatan di atas rata-rata. Tapi nyatanya mereka semua tidak ada apa-apanya berhadapan dengan Dhafin.


Sampai saat ini dia belum bisa mengukur sampai di mana kehebatan Dhafin. Sementara pemuda itu sepertinya sudah tahu sampai di mana kehebatannya.


Lalu seketika sepasang matanya beralih menatap Dhafin yang datang menghampirinya. Tampak pemuda itu melangkah ringan dengan wajah yang tenang. Pedang Akhirat sudah tidak terlihat di tangannya lagi.


Pejabat Choman masih menatap Dhafin dengan tajam. Sedangkan pemuda itu sudah berdiri sekitar 4 langkah di depannya.


"Bagaimana, Tuan Pejabat?" kata Dhafin sambil tersenyum kecil. "Apakah sudah cukup bagimu untuk mengetahui akan kehebatanku sebelum aku membunuhmu?"


"Apakah kamu putra Pangeran Ghazam, Pangeran Ghavin, Anak Muda?" tanya Pejabat Choman langsung, tidak menggubris ejekan Dhafin. Nadanya begitu tajam seolah hendak mengintimidasi Dhafin.


Pejabat Choman hampir yakin kalau di depannya ini adalah Ghavin Aldebaran, putra Pangeran Ghazam Aldari. Karena melihat wajah mereka yang begitu mirip.


"Apakah karena wajahku mirip dengan Pangeran Ghazam, lantas kamu menduga kalau aku adalah putranya?" kata Dhafin tetap tenang.


"Aku yakin kamu pasti Pangeran Ghavin," kata Pejabat Choman yang kini malah yakin dengan dugaannya.


"Kalau kamu meyakini aku adalah Pangeran Ghavin, sama halnya kamu meyakini orang yang sudah mati bisa hidup kembali. Aku rasa hal itu mustahil bukan?"


"Kamu belum mati meski telah terjatuh ke dalam jurang," kata Pejabat Choman menggeram.


"Aku rasa otakmu sudah miring, Tuan Pejabat," kata Dhafin masih tenang, berusaha tidak terpengaruh atas ucapan Pejabat Choman. "Orang yang sudah mati kamu paksakan hidup untuk membenarkan dugaanmu."


Sedikit saja dia menunjukkan gelagat yang mencurigakan, bisa jadi Pejabat Choman yang pintar dan licik itu akan mengetahuinya. Dan menjadikan penguat kalau dugaannya benar.


"Keparat! Kamu berani mengataiku hah?" Pejabat Choman makin berang karena sikap Dhafin seolah makin melecehkannya.


"Baru mempunyai ilmu secuil kamu sudah berlaku sombong," lanjutnya makin menggeram marah.


"Sepertinya kamu ingin melihat ilmuku lagi."


Lalu Dhafin menyentuh 2 pengawal sekaligus yang ada di dekatnya. Kemudian dia melenting indah cukup jauh ke belakang.


Hampir bersamaan kedua pengawal itu terbebas dari belitan mantra. Sehingga mereka dapat bebas bergerak lagi. Tapi siapa sangka Dhafin sengaja melepas mereka bertujuan untuk melawannya.


Benar saja. Ketika Pejabat Choman melihat 2 pengawal itu sudah terbebas, dia langsung memerintahkan mereka untuk melawan Dhafin.


Sedangkan 2 pengawal itu yang memang kemarahannya sudah meledak langsung mencabut pedang mereka. Terus secara bersamaan dengan cepat melesat menyerang Dhafin sambil mengayunkan pedang.


Sementara Dhafin yang sudah mendarat kembali di tanah, kini di tangan kanannya sudah tergenggam lagi Pedang Akhirat-nya.


Begitu dua serangan dari 2 pengawal itu sudah hampir sampai, dengan cepat Dhafin menghalaunya. Sehingga gagallah serangan awal mereka.


Namun mereka bukan tipe orang yang cepat putus asa. Begitu menyadari serangan pertama gagal, kembali mereka melancarkan serangan-serangan berikutnya yang dahsyat sekaligus mematikan.


Dan Dhafin melayani serangan mereka dengan jurus-jurus yang tidak kalah dahsyatnya. Sehingga tidak butuh waktu lama pertarungan kembali tercipta di halaman kediaman Selir Ashana.


★☆★☆


Sementara itu, Raja Ghanim dan istrinya masih bisa menyaksikan pertarungan yang berlangsung di halaman dari ambang pintu.


Sedangkan Jenderal Kenzie dan istrinya tetap berjaga tidak jauh dari kedua junjungan mereka itu. Namun mereka juga sepertinya asyik menyaksikan jalannya pertarungan.


Sementara tidak jauh dari pintu tampak Guru Zeroun dan Putri Lavina, muridnya juga ikut menyaksikan pertarungan yang amat menarik itu.


Setelah mereka semua sebelumnya menyaksikan Dhafin membantai habis puluhan jawara istana.


Sungguh Selir Ashana tidak menyangka kalau Dhafin mempunyai kehebatan yang tinggi. Seorang diri melawan puluhan jawara tanpa mengalami kesulitan yang berarti. Bahkan Dhafin menghabisi mereka semua.


Dan sekarang Dhafin melawan 2 pengawal hebat milik Pejabat Choman. Pikirannya dihantui rasa cemas. Akankah Dhafin bisa mengalahkan mereka pikirnya.


Sementara Raja Ghanim, Jenderal Kenzie dan istrinya, serta Guru Zeroun serta muridnya semakin merasa kagum akan kehebatan Dhafin. Namun mereka belum bisa memastikan apakah Dhafin bisa mengalahkan mereka?


Mereka semua mengetahui bagaimana kehebatan 4 pengawal Pejabat Choman yang melebihi perwira tinggi istana. Di samping itu pula sifat mereka amat brutal. Tidak jauh beda sifatnya dengan majikannya.


Namun Putri Lavina amat berharap kalau yang memenangkan pertarungan adalah Dhafin.


Sementara itu senja semakin menua. Sedangkan pertarungan yang cukup seru masih terus berlangsung.


Traaang...!


Traaang...!

__ADS_1


Traaang...!


Dentang suara senjata pedang beradu di atas udara. Kedengarannya begitu nyaring hingga sedikit mengganggu pendengaran.


Entah sudah berapa jurus dikerahkan pertarungan masih berimbang. Belum bisa ditentukan siapa yang bakal menuai kemenangan. Sementara pertarungan sudah berlangsung 1x penanakan nasi.


Melihat kenyataan itu, Dhafin mulai meningkatkan pola serangan. Mengubah jurus pedangnya ketingkat yang lebih tinggi. Meningkatkan tenaga dalam dan menambah kecepatan laju serangan.


Mulanya perubahan strategi Dhafin dalam menyerang hasilnya belum langsung terlihat. Namun semakin lama pertarungan berlangsung semakin terlihat kalau Dhafin mulai menguasai pertarungan.


Ketika pertarungan sudah menghabiskan sepeminum teh siapa saja sudah bisa melihat kalau Dhafin sudah menguasai pertarungan.


Serangan kedua pengawal itu sudah tidak segencar di awal-awal pertarungan. Bahkan sekarang serangan Dhafin semakin gencar dan hebat. Membuat mereka cukup kewalahan menangkis serangan Dhafin.


Akhirnya menjelang sepeminum teh berikutnya Dhafin benar-benar menguasai pertarungan. Dua pengawal itu tidak ada kesempatan lagi untuk menyerang.


Bahkan sekarang mereka mati-matian mempertahankan nyawanya dengan terus menangkis serangan hebat dari Dhafin. Hingga suatu ketika....


Traaang...!


"Akh!"


Traaang...!


"Akh!"


Bughk!


"Ugh...!"


Pedang Akhirat mengayun dengan sebat, menghantam dengan kuat pedang salah seorang pengawal. Hingga pemiliknya meringis kesakitan.


Sementara pedangnya terhempas ke samping tapi masih mampu dipegang.


Sedangkan Pedang Akhirat kembali bergerak menghantam pedang pengawal ke 2, hingga pedang itu terlepas dari genggaman dan terlempar jauh. Sedangkan pemiliknya meringis kesakitan.


Belum sempat pengawal itu menetralkan kondisinya, Dhafin memutar badan dengan cepat. Tahu-tahu tendangan kaki kirinya telak menghantam dada si pengawal hingga dia terjajar beberapa langkah ke belakang sambil mengeluh tertahan.


Kembali Dhafin mengayunkan Pedang Akhirat ke pinggang pengawal pertama tadi. Tapi sekuat tenaga si pengawal berusaha keras menangkisnya.


Namun dia kecele. Pedang Akhirat seketika dengan cepat meliuk ke atas. Dan dengan cepat pula menebas leher si pengawal. Karena pengawal itu sudah mati kutu, pedang Dhafin dengan mudah menebas lehernya.


"Ah!"


Si pengawal hanya bisa mendesah pendek keburu lehernya sudah putus. Tak lama tubuhnya tumbang ke belakang bersama kepalanya yang lepas menggelinding.


★☆★☆


Dhafin tidak menghiraukan nasib pengawal itu. Dia kembali melakukan serangan pada pengawal ke 2.


Dengan cepat dan kuat didorong telapak tangan kirinya ke pengawal itu. Maka melesatlah dari telapak tangannya selarik sinar putih yang amat panas.


Lesatan sinar putih itu amat cepat, pengawal itu tidak bisa lagi menghindarinya. Apalagi dia masih terjajar. Sehingga sinar putih itu menghantam dadanya dengan telak.


Desss!


"Aaa...!"


Kontan saja pengawal itu terlontar ke belakang dengan deras sambil menjerit setinggi langit. Tampak sekujur tubuhnya gosong dan mengeluarkan asap tipis.


Dan lagi-lagi Dhafin tidak menghiraukan nasib pengawal yang gosong.


Bahkan seakan tidak perduli perasaan Pejabat Choman yang semakin menggeram melihat 2 pengawalnya mati dengan mengenaskan.


Pemuda itu membuka lagi belitan mantra seorang pengawalnya. Tidak lama mereka juga sudah terlibat dalam pertarungan yang sengit.


Akan tetapi karena Dhafin sudah mengetahui pola serangan si pengawal, tidak sulit baginya melumpuhkan pengawal itu.


Sehingga belum ada sepenanakan nasi Dhafin sudah menguasai pengawal itu.


Sedangkan si pengawal pedangnya sudah terlepas dari genggaman dan terlempar entah ke mana. Dan Dhafin juga melawannya tidak menggunakan senjata.


Namun karena si pengawal sudah kena mental, dia kini jadi bulan-bulanan Dhafin. Pukulan dan tendangan Dhafin tak terhitung lagi bersarang di tubuhnya. Sehingga si pengawal tampangnya sudah babak belur.


Tampak si pengawal jatuh dengan keras ke tanah saat terkena tendangan keras kaki kanan Dhafin. Tubuhnya terkapar begitu saja seolah sudah tidak sanggup bangun lagi. Dadanya yang terasa amat sakit turun naik dengan amat kencang.

__ADS_1


Dengan cepat menghampiri pengawal itu dan berhenti selangkah di ujung kaki si pengawal. Kemudian dia mengangsutkan tangan kanannya ke depan setengah merentang.


Tak lama kemudian si pengawal yang sudah tak berdaya terangkat naik begitu Dhafin mengangkat tangannya sedikit ke atas.


Pengawal itu terus terangkat naik hingga dia tegak di depan Dhafin. Tapi kedua kakinya seperti tidak menapak tanah. Sedangkan telapak tangan kanan Dhafin menempel di dadanya.


Sejurus Dhafin menatap dingin si pengawal yang juga menatapnya dengan sayu. Kemudian Dhafin melangkah menuju Pejabat Choman dengan langkah kilat. Sehingga dalam sekejap dia sudah dekat di depan pejabat itu.


Lalu Dhafin berhenti 3 langkah di depan Pejabat Choman. Sementara si pengawal ikut terbawa dan telapak tangan Dhafin yang terentang masih menempel di dadanya.


Sementara pengawal yang masih terlilit belitan mantra, melihat temannya yang bernasib malang membuatnya semakin kena mental.


Entah apa yang hendak diperbuat Dhafin dia tidak bisa menduga-duga. Yang jelas nasih kawannya itu pasti lebih mengerikan dari 2 pengawal yang sudah mati. Setelah itu gilirannya bukan?


Sejenak antara Pejabat Choman dengan Dhafin saling tatap.


Pejabat Choman menatap Dhafin dengan penuh amarah dan dendam. Sedangkan Dhafin menatap si pejabat dengan datar campur dingin.


"Tuan Pejabat! Perhatikan baik-baik bagaimana aku menghantar pengawalmu ini ke akhirat dengan nyaman," kata Dhafin cukup pelan dan bernada dingin.


"Apa yang akan kamu lakukan, Keparat?" bentak Pejabat Choman cukup keras.


"Ho ho ho..., jangan keras-keras kalau berbicara!" kata Dhafin bernada kalem tapi jelas mengejek. "Nanti pengawalmu ini tidak tenang dalam kepergiannya."


Tampak telapak tangan Dhafin yang menempel di dada si pengawal seketika mengeluarkan sinar merah yang panas luar biasa. Lalu sinar itu menjalar ke tubuh si pengawal dengan cukup cepat. Tak lama kemudian....


★☆★☆


"Aaa...!"


Si pengawal langsung menjerit kesakitan sejadi-jadinya dengan amat keras. Seluruh tubuhnya kini terasa panas bagai dipanggang di atas tungku. Sedangkan sinar merah berhawa amat panas sudah membalut seluruh tubuhnya dari kepala hingga kaki.


Sementara pengawal yang masih terbelit mantra semakin kena mental melihat ketersiksaan temannya itu.


Si pengawal terus saja menjerit-jerit kesakitan yang membuat Pejabat Choman semakin geram, semakin murka, semakin dendam pada Dhafin.


Bersamaan dengan itu batinnya semakin tersiksa melihat pengawalnya disiksa seperti itu. Dhafin benar-benar melakukan suatu aksi agar mentalnya gemetar.


Matanya melotot besar seolah hendak mencuat keluar mana kala terus menatap nasib malang pengawalnya. Sedangkan si pengawal terus saja menjerit-jerit yang memilukan hati.


Tidak lama kemudian, suara jeritan si pengawal seketika hilang. Sedangkan tubuhnya kini berubah menjadi merah dan beku bagai patung batu warna merah.


Begitu Dhafin menghentak sedikit telapak tangannya, si pengawal yang sudah menjadi patung batu seketika terhempas.


Belum juga jatuh ke tanah, tubuh yang beku itu langsung hancur menjadi debu warna merah.


"Bagaimana, Tuan Pejabat?" kata Dhafin sambil tersenyum dingin. "Apa kamu sudah puas dengan pertunjukkan yang aku mainkan?"


Pejabat Choman diam saja. Tapi matanya melotot buas pada Dhafin.


"Sepertinya kamu belum puas aku lihat," kata Dhafin masih kakem tapi mengejek.


Lalu Dhafin membawa pengawal yang sudah pucat itu ke hadapan Pejabat Choman. Lalu Dhafin mengangsurkan telapak tangan sedikit ke depan.


Kemudian telapak tangannya yang terkembang menekuk itu diputar ke dalam sedikit. Maka hawa padat yang membelit sekujur tubuhnya seketika mengencang dengan kuat. Sehingga membuatnya menjerit kesakitan.


Tapi jeritannya tidak lama terdengar. Karena hawa padat itu naik melilit wajah hingga kepala. Sehingga dia cuma bisa menjerit di dalam hati.


Begitu Dhafin menekuk perlahan-lahan jerijinya, maka terdengar suara tulang-tulang si pengawal yang remuk. Seolah ikut meremukkan mental Pejabat Choman yang sudah mulai gemetar.


Belitan mantra semakin kencang dan kuat melilit tubuh si pengawal. Darah sudah keluar dari mulut, telinga dan kepala yang remuk.


Begitu jeriji Dhafin mengepal dengan kuat, maka tubuh si pengawal langsung hancur seperti bubur. Dan ketika jatuh ke tanah langsung terhambur menjijikkan.


"Bagaimana pertunjukkanku, Tuan Pejabat?" tanya Dhafin masih kalem, tapi dingin. "Apa kamu sudah puas?"


Pejabat Choman tidak menyahuti ucapan Dhafin. Matanya masih menatap horor pengawalnya yang sudah jadi bubur daging. Kini hatinya semakin gemetar. Wajahnya sudah berubah pias. Setelah ini pasti gilirannya.


Dhafin sukses membuatnya kena mental.


"Sekarang giliranmu, Tuan Pejabat. Apa kamu sudah siap?"


Baru saja terlintas di benaknya Dhafin sudah mengatakannya. Hatinya langsung tersentak kaget. Nyawanya serasa sudah melayang sebelum terlepas.


Tapi belum hilang suara Dhafin, seketika dari samping kiri Dhafin meluncur sebentuk cahaya berbentuk bola sebesar kepala bayi warna hitam menyasar ke arahnya.

__ADS_1


Lesatan bola cahaya itu demikian cepat dan tiba-tiba, sangat sukar bagi Dhafin untuk menghindari. Sehingga....


★☆★☆★


__ADS_2