Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 110 RACUN CANDU KALA DAN RACUN MADU KALA


__ADS_3

Putri Clarabelle sebenarnya ingin bertanya lagi atau berkata menanggapi jawaban Dhafin itu, tapi Selir Heliana cepat mendahului berkata sambil menatap Permaisuri Chalinda.


"Tidak ada lagi yang hendak kamu katakan, Chalinda?"


"Sudah cukup, Bibi," sahut Permaisuri Chalinda.


"Pilihanmu itu sudah benar-benar mantap?"


"Sudah, sudah mantap, Bibi."


"Dhafin," Selir Heliana beralih memandang Dhafin. "Masih ada yang ingin kamu tanyakan atau ingin menjelaskan?"


"Tidak ada lagi, Yang Mulia," sahut Dhafin setelah menghadap dan menyembah hormat. "Kalau diperkenankan hamba akan memulai melakukan pengobatan."


"Ya, silahkan!"


Kemudian Dhafin kembali berbalik menghadap di sisi kiri Putri Faniza. Sejenak dia mengamati dulu keadaan Putri Faniza. Setelah itu dia berkata pada Kayshila.


"Siapkan bokor dulu, Kayshila!"


Kayshila yang masih bengong akan jawaban Dhafin tadi antara dengar dan tidak perintah Dhafin itu. Jadi dia tidak langsung bergerak.


"Biar aku saja, Kanda," malah Ariesha yang bersedia melaksanakan perintah itu.


Setelah itu dia menuju sebuah sudut ruangan untuk mengambil sebuah bokor di atas meja cukup lebar.


Sedangkan ucapan Ariesha tadi sukses membangunkan Kayshila dari lamunannya. Terus dia bertanya.


"Tadi kamu suruh apa?"


"Biar Ariesha saja," kata Dhafin seakan tidak menggubris pertanyaan Kayshila. "Kamu bantu aku mendudukkan Tuan Putri."


"Apa susahnya sih mengaku kalau kamu memang mencintai teman kecilmu itu," sungut Kayshila rupanya masih mengingat jawaban Dhafin.


Yang Mulia Ratu langsung menatap terkejut ke arah Kayshila. Dia tahu gadis itu sudah lama bersama-sama Dhafin. Pastinya sudah banyak hal yang mereka bicarakan.


Sedangkan Selir Heliana maupun 2 Bunda Istana, melihat keakraban antara Dhafin dengan Kayshila semakin curiga akan hubungan keakraban itu.


"Bukan saatnya membahas tentang itu, Tuan Putri Kayshila Dellia," kata Dhafin bernada kalem tapi datar. Matanya menatap tajam gadis cantik bak bidadari itu.


Siapa yang sudah mengenal Dhafin bakalan tahu jika Dhafin sudah dalam mode begitu, menandakan dia tidak bisa diajak bercanda atau membicarakan soal lain. Artinya dia sudah dalam mode serius.


Yang Mulia Ratu sempat tersenyum mendengar ucapan Dhafin itu. Kembali dia mengenang waktu mereka berdua di Istana Kejora.


"Iya, Tuan Tabib," kata Kayshila bernada seolah mematuhi. Tapi sebenarnya dia masih agak kesal Dhafin tidak mau berterus terang.


Dhafin tidak menghiraukan apa yang dipikirkan Kayshila. Dia menyuruh Kayshila membuka setengah baju luar Putri Faniza. Setelah itu Kayshila membangunkan badan Putri Faniza dengan posisi duduk. Lalu memegang kedua pundak Putri Faniza, sementara dia berada di depannya.


Hampir bersamaan Ariesha datang dengan membawa bokor. Lalu berkata kepada Dhafin.


"Taruh di mana bokor ini, Kanda?"


"Taruh di samping Kayshila!" kata Dhafin seraya beringsut ke belakang Kayshila.


Setelah Ariesha meletakkan bokor itu di samping Kayshila, dia kembali ke tempat duduknya tadi, di samping kanan Yang Mulia Ratu.


Sementara Dhafin kini sudah duduk bersila di belakang Putri Faniza. Kemudian dia memandang sejenak adiknya itu dari balik punggung Putri Faniza.


Dilihatnya Kayshila seperti masih memikirkan pertanyaan Putri Clarabelle yang belum dijawabnya tadi. Tampaknya Kayshila masih penasaran.


★☆★☆


Setelah memerintahkan Kayshila agar tetap memegang kedua bahu Putri Faniza, Dhafin memulai proses pengobatan dengan menggunakan energi batin yang dipadu dengan energi ghaib dan energi inti penyembuh.


Segera di rentangkan kedua tangannya ke samping dengan telapak terbuka dan menghadap ke samping. Lalu kedua telapak tangannya digerakkan agak naik sambil dikumpul ke tengah.


Setelah kedua telapak tangan itu menyatu di depan atas kepalanya, lalu diturunkan perlahan-lahan hingga ujung jarinya sejajar mulut.

__ADS_1


Belum lama hal itu terjadi seketika kedua telapak tangan Dhafin langsung terbungkus sinar putih bening berpadu sinar kuning dan kuning bening.


Setelah itu Dhafin langsung menempelkan kedua telapak tangannya di kedua punggung Putri Faniza. Tak butuh waktu lama sinar perpaduan itu menjalar ke seluruh permukaan tubuh Putri Faniza dengan cukup cepat.


Hingga akhirnya seluruh permukaan tubuh Putri Faniza, dari kepala hingga ujung kaki diselubungi oleh sinar perpaduan.


"Lepaskan tanganmu, Kayshila!" perintah Dhafin setelah sepeminum teh berlalu. "Setelah itu letalkan bokor di dekat kakinya!"


Kayshila segera melepaskan tangannya yang memegang kedua bahu Putri Faniza. Setelah itu dia letakkan bokor perak itu ke dekat kaki Putri Faniza. Kemudian dia beringsut ke samping kanan Putri Faniza.


Sementara itu Dhafin masih menempelkan kedua telapak tangannya di kedua bahu Putri Faniza. Tampak kedua matanya terpejam rapat. Sementara sinar perpaduan masih tetap menyelubungi seluruh tubuh Putri Faniza.


Sementara itu, kesunyian membungkus ruangan rawat itu. Kebisuan masih membungkam suasana. Semua orang tampak mencurahkan semua perhatian mereka demi menyaksikan proses pengobatan yang dilakukan Dhafin.


Tanpa terasa proses pengobatan sudah berjalan 2x penanakan nasi. Sementara sinar putri bening yang berpadu dengan sinar kuning masih membungkus seluruh permukaan tubuh Putri Faniza.


Tak berapa lama tampak bintik-bintik hitam dan kuning di sebagian tubuh Putri Faniza lenyap sedikit demi sedikit. Bintik-bintik itu lenyap bagai merasuk ke dalam tubuh sang putri.


Hingga proses pengobatan sudah menghabiskan waktu 3x penanakan nasi seluruh bintik-bintik sebagai efek dari Racun Candu Kala telah lenyap.


Tidak lama kemudian, seluruh tubuh Putri Faniza bergetar. Mulanya bergetar halus, makin lama makin kencang. Hingga akhirnya....


"Hoeekh! Hoeeekh!"


Putri Faniza seketika muntah 2x berturut-turut. Dan muntahan itu langsung jatuh ke dalam bokor. Sedangkan tubuh bagian atasnya hampir jatuh kalau Dhafin tidak cepat memegang kedua bahunya.


Muntahan itu berupa cairan keruh agak kental warna hitam bercampur kuning pucat.


Kira-kira sepeminum teh lamanya Putri Faniza kembali memuntahkan cairan agak kental dan langsung masuk ke dalam bokor. Tapi kali ini bukan berwarna hitam-kuning, melainkan berwarna merah. Itulah darah segar.


"Warna apa muntahan ke 3, Kayshila?" tanya Dhafin.


"Warna merah," sahut Kayshila setelah menengok ke dalam bokor.


Setelah mendengar jawaban Kayshila, tampak Dhafin seperti mengubah tekanan energi kesaktiannya. Terbukti sinar perpaduan seketika merasuk ke dalam tubuh Putri Faniza, hingga akhirnya sinar itu lenyap. Dan tubuh Putri Faniza berhenti bergetar.


Setelah itu perlahan-lahan Dhafin membaringkan kembali tubuh Faniza yang masih terkulai pingsan. Melap sisa muntahan yang sedikit menempel di dekat bibir gadis itu dengan ujung lengan bajunya.


Melihat hal itu Dhafin tampak tersenyum sedikit dan kecil. Kayshila tidak sempat melihat, karena dia juga memperhatikan lengan Putri Faniza yang di singkap sedikit oleh Dhafin.


Setelah membenarkan lagi lengan baju Putri Faniza, Dhafin lalu memerintahkan Kayshila meminumkan 2 pil obat pemulihan tenaga. Sementara dia bersemedi untuk mengembalikan kekuatan tenaga dalamnya yang hampir terkuras di sisi kiri Putri Faniza beberapa saat lamanya.


Sedangkan Kayshila, setelah menyelimuti kembali Putri Faniza dengan selimut gadis itu tadi, dia beringsut turun dari pembaringan. Lalu melangkah menuju kursinya tadi yang berada tepat di samping kanan Selir Heliana.


Sementara Dhafin setelah merasa cukup bersemedi, dia beringsut turun dari pembaringan. Lalu melangkah menuju sebuah kursi kosong tak jauh di samping Kayshila.


Sebelum duduk dia menjurah hormat dulu kepada wanita itu. Setelah itu dia duduk dengan tenang bagai tidak ada beban sama sekali dalam hidupnya.


★☆★☆


"Bagaimana keadaan cucuku, Dhafin?" tanya Selir Heliana langsung. "Apa sekarang dia sudah sembuh."


"Berkat pertolongan dari Yang Maha Kuasa," sahut Dhafin, "Racun Candu Kala tidak ada lagi di dalam tubuh Tuan Putri. Dengan kata lain dia sudah sembuh."


Mendengar ucapan Dhafin itu semua tampak senang gembira. Akhirnya Putri Faniza telah sembuh dari racun aneh yang diidapnya.


Yang lebih senang-gembira adalah Permaisuri Chalinda. Tampak dia tersenyum haru memandang putrinya yang terdiam bagai tertidur pulas.


Kini Putri Faniza sudah sembuh dari Racun Candu Kala. Namun bersamaan dengan itu orang yang dicintainya telah hilang dari ingatannya bersama cintanya.


Sungguh kasihan!


Permaisuri Chalinda hanya bisa menerima takdir, tanpa bisa menolak. Mau tidak mau dia harus rela putrinya kehilangan orang yang dicintainya.


Sedangkan Yang Mulia Ratu serba salah menghadapi permasalahan ini. Dia senang adiknya bisa sembuh lagi. Tapi tidak senang ingatan adiknya hilang, meski hati kecilnya berharap adiknya tidak mencintai Dhafin....


"Dhafin, berapa lama putriku siuman?" tanya Permaisuri Chalinda terselip kekhawatiran dari pertanyaannya.

__ADS_1


"Tenang saja, Bibi Permaisuri," sahut Dhafin tahu akan kekhawatiran permaisuri cantik itu, "keadaan Tuan Putri seperti layaknya orang tidur. Mungkin sore nanti dia sudah bisa bangun."


Mendengar ucapan Dhafin itu Permaisuri Chalinda jadi lega dan kini yakin sepenuhnya kalau putrinya memang benar-benar sudah sembuh.


Sementara Selir Heliana kembali bertanya setelah teringat sesuatu.


"Bagaimana kamu bisa yakin kalau cucuku terkena Racun Candu Kala, Dhafin?"


Dhafin tidak langsung menjawab pertanyaan itu, melainkan menatap Selir Heliana dengan ekspresi bagai seseorang melihat orang tak dikenal.


Menyadari hal itu Selir Heliana langsung memperkenalkan namanya serta nama 2 Bunda Istana dan 2 Tetua Istana. Setelah itu dia berkata.


"Adapun yang lainnya aku rasa kamu sudah mengenalnya."


"Tapi hamba belum mengenal Yang Mulia Ratu, Yang Mulia," kata Dhafin sambil memandang Yang Mulia Ratu yang seketika melengos begitu Dhafin menatapnya.


Jelas hati Yang Mulia Ratu kaget akan ucapan Dhafin itu. Dan dia khawatir kalau Selir Heliana memberitahukan siapa dirinya kepada Dhafin. Namun hatinya lega begitu mendengar jawaban Selir Heliana yang bijak.


"Kalau hal itu kamu tanyakan saja nanti padanya. Kamu jawab saja pertanyaanku tadi."


"Memang antara Racun Candu Kala dengan Racun Madu Kala nyaris tidak ada perbedaan," ungkap Dhafin seolah tahu makna pertanyaan Selir Heliana tadi.


Dhafin menduga bahwa Selir Heliana mengetahui sedikit tentang kedua racun itu. Makanya dia langsung berucap ucapan seperti itu.


Sedangkan ucapannya itu sukses membuat semua orang selain Selir Heliana terkejut heran bercampur bingung. Belum juga mereka tahu apa itu Racun Candu Kala, malah Dhafin memunculkan nama racun baru.


Namun Dhafin seperti tahu akan keadaan orang-orang yang ada di ruangan ini. Maka dia menjelaskan tentang sifat-sifat dan keadaan orang yang terkena kedua racun itu yang ternyata nyaris sama. Tapi tidak secara rinci.


Intinya kedua racun itu terkena pada seseorang yang sedang kasmaran. Dan keduanya merupakan racun mematikan yang membunuh korbannya secara perlahan-lahan.


"...Adapun perbedaan antara keduanya yang dapat kita lihat dengan mata terletak pada bintik-bintik yang terlihat pada kulit korban yang terkena kedua racun itu," lanjutnya.


"Kalau Racun Candu Kala, terdapat 2 bintik-bintik pada kulit korban," lanjut Dhafin lagi, "hitam dan kuning pucat. Sedangkan pada Racun Madu Kala hanya terdapat bintik-bintik warna kuning gelap."


★☆★☆


Dhafin jelas tidak akan menjelaskan secara rinci tentang kedua racun itu, terutama tentang Racun Candu Kala. Karena hal itu bisa menjadi aib bagi Putri Faniza.


Tanpa dia jelaskan saja orang bisa menyimpulkan bahwa ternyata Putri Faniza memendam cinta terhadap Dhafin. Di luar kesadarannya Putri Faniza langsung mengungkapkan tentang siapa orang yang dia cintai.


Itulah salah satu ciri orang yang terkena Racun Candu Kala. Ketika tidak melihat orang yang dicintainya, dia cuma bisa memendam cinta dan rasa rindu yang sangat hingga dia menjadi candu kerinduan.


Rindu berat ingin bertemu orang yang dicintainya. Ketika melihat orang yang dicintainya, di luar kesadarannya dia langsung mengungkapkan perasaannya itu.


Itulah sehingga dikatakan Racun Candu Kala.


Sedangkan orang yang terkena Racun Madu Kala, dia layaknya orang gila. Gila akan cinta seseorang yang dicintainya. Dia akan selalu merasakan manisnya mencintai orang yang dicintainya itu.


Dan di luar kesadarannya dia akan mengungkapkan rasa cintanya itu meski tidak melihat orang yang dicintainya.


Itulah sehingga dikatakan Racun Madu Kala.


Adapun mengenai Racun Candu Kala, Dhafin sedikit menambahkan bahwa Putri Faniza sudah setahun lamanya terkena racun tersebut.


Tentu saja keterangan Dhafin tersebut membuat orang yang ada di ruangan itu terkejut. Yang lebih terkejut Permaisuri Chalinda. Sungguh dia tidak menyangka kalau putrinya ternyata sudah setahun terkena racun.


Dia benar-benar tidak tahu, bahkan tidak tahu kalau Putri Faniza terkena racun.


Lalu kenapa Putri Faniza bisa bertahan hingga sekarang?


Maka Dhafin menjelaskan bahwa di dalam tubuh Putri Faniza ditanan segel yang fungsinya selain untuk mengunci racun di dalam tubuh Putri Faniza agar tidak mudah disembuhkan, juga berfungsi untuk memperlama reaksi racun itu.


Tujuannya tidak lain adalah agar Putri Faniza lebih lama merasakan penderitaan akibat terkena racun itu.


"Apakah kamu bisa menduga siapa yang meracuni Putri Faniza?" tanya Nyonya Carissa.


"Aku yakin ini kerjaan Putri Rayna Cathrine," sahut Dhafin, "melihat tindakan perebutan kekuasaan yang telah dilakukannya terhadap Kerajaan Amerta."

__ADS_1


Mendengar ucapan Dhafin tersebut membuat Permaisuri Chalinda semakin dendam terhadap wanita jahat itu. Dialah biang mala petaka yang terjadi di Kerajaan Amerta hingga kerajaan itu dan suaminya jatuh di tangannya.


★☆★☆★


__ADS_2