
Dalam beberapa hari ini Istana Kerajaan Amerta terjadi kehebohan. Bukan karena terjadi huru-hara di kotaraja atau di dalam lingkungan istana. Melainkan pihak istana menerima kabar-kabar buruk dari luar kotaraja.
Kabar buruk yang dimaksud di antaranya adalah kabar kekalahan pasukan istana yang dikirim ke wilayah barat daya untuk menumpas pemberontak yang ada di situ.
Namun bukannya pasukan istana itu yang menumpas. Malah mereka yang ditumpas oleh pasukan Ketua Carolus yang bekerja sama dengan 5 ksatria elit Istana Centauri.
Tentu saja berita itu membangkitkan kemurkaan Putri Rayna maupun Raja Adrian.
Belum lenyap kemurkaan mereka, datang lagi susulan kabar kekalahan pasukan istana yang dikirim ke wilayah utara.
Semua pasukan istana yang berjumlah 30.000 lebih personil itu dikabarkan telah tewas dalam pertempuran melawan kelompok pemberontak.
Meski pertempuran itu dilakukan di dua tempat dan waktu yang berbeda. Yang pertama pertempuran dilakukan di tengah hutan yang diduga tidak jauh dari markas pemberontak.
Sedangkan pertempuran ke 2 dilakukan di dekat gerbang perbatasan Kota Everett sebelah utara.
Sebenarnya pasukan istana yang berjumlah 20.000-an personil itu sedianya hendak menyusul pasukan yang pertama dikirim yang berjumlah 10.000 lebih personil.
Namun belum jauh pasukan istana itu meninggalkan gerbang perbatasan Kota Everett, Ketua Anthoniel dan pasukannya serta 5 ksatria elit Istana Centauri telah menyerang mereka secara mendadak.
Sebelum pertempuran tergelar, Brian yang muncul secara tiba-tiba bersama 4 rekannya di hadapan pasukan itu, sempat melakukan dialog dengan Komandan Perang. Tapi cuma sebentar.
Namun dalam dialog yang sebentar itu Brian secara terang-terangan mengatakan siapa dirinya sebenarnya. Dan mengatakan kalau dia dan rekan-rekannya adalah Pasukan Elit Istana Centauri yang akan menggulingkan kekuasaan Putri Rayna.
Tidak lupa memberitahukan kalau mereka telah menumpas pasukan istana yang dikirim pertama.
Mendengar ucapan Brian itu, Komandan Perang langsung tersulut amarahnya. Segera saja dia memerintahkan pasukannya untuk menyerang.
Tak lama berselang Ketua Anthoniel bersama pasukannya telah muncul dengan cepat, setelah 5 ksatria elit Istana Centauri beserta belasan jawara handal mengirimkan serangan berupa ilmu kesaktian.
Sehingga sekitar ribuan pasukan istana yang tewas dalam gebrakan pertama yang mengerikan itu.
Tidak lama kemudian terjadilah pertempuran di tanah lapang yang cukup luas tak jauh dari gerbang perbatasan Kota Everett. Hingga akhirnya pasukan istana telah menderita kekalahan telak.
Jelaslah pasukan istana dapat dikalahkan dengan tanpa kesulitan. Pada gebrakan awal saja mereka sudah disugihi oleh ilmu kesaktian. Berikutnya rata-rata kehebatan pasukan Ketua Anthoniel di atas pasukan istana.
Sementara dari luar arena pertempuran seorang telik sandi mendengar ucapan Brian sebelum pertempuran tadi. Maka begitu melihat kalau pasukan istana bakal kalah dia cepat-cepat pergi ke kotaraja guna melaporkan kejadian yang telah diketahuinya kepada pihak istana.
Tiga hari setelah kejadian itu, pasukan Ketua Anthoniel bersama 5 ksatria elit menyerang Kota Everett. Bukan menyerang penduduknya, melainkan menyerang Prajurit Keamanan Kota yang jumlahnya cuma 8.000 personil.
Tentu saja kemenangan telah diraih oleh pasukan Ketua Anthoniel. Apalagi rata-rata kehebatan Prajurit Keamanan Kota berada di bawah Prajurit Militer Kerajaan.
__ADS_1
Dalam peristiwa penyerangan itu Pejabat Kota Everett dan Kepala Prajurit Keamanan Kota ikut pula terbunuh.
Di tempat yang berbeda juga terjadi penyerangan terhadap salah satu kota di Kerajaan Amerta. Tepatnya di wilayah bagian barat Kerajaan Amerta.
Tentu penyerangan itu dilakukan oleh pasukan Ketua Carolus yang bekerja sama dengan Dhafin Cs.
Sama halnya dengan Kota Everett, Prajurit Keamanan kota itu juga berhasil ditumpas pasukan Ketua Carolus, termasuk Pejabat Kota dan Kepala Keamanan Kota-nya.
Setelah membasmi Prajurit Keamanan Kota, baik pasukan Ketua Anthoniel maupun pasukan Ketua Carolus tidak menduduki kedua kota tersebut.
Malah setelah selesai melakukan serangan, kedua pasukan yang berbeda wilayah itu langsung meninggalkan kota tanpa berlama-lama.
★☆★☆
Semua kabar yang amat mengejutkan itu jelas membuat geger semua pejabat istana. Mereka tidak menyangka pasukan pemberontak bisa sehebat itu. Menumpas pasukan istana dalam waktu yang tidak lama.
Ditambah lagi mereka menghabisi Prajurit Keamanan Kota di dua kota.
Sehingga dalam waktu kurang dari 10 hari Kerajaan Amerta kehilangan pasukan hampir 70.000 personil.
Sementara Putri Rayna maupun Raja Adrian semakin dibuat murka menerima kabar kekalahan beruntun itu. Lebih murka lagi saat mengetahui kalau di tengah-tengah kelompok pemberontak itu ada Brian.
Bahkan Putri Rayna menduga kalau di tengah-tengah kelompok pemberontak yang beraksi di wilayah barat ada Dhafin bersama mereka.
Karena berdasarkan peristiwa pembebasan tahanan di penjara bawah tanah beberapa bulan yang lalu, tokoh sentral dalam pembebasan itu adalah Brian dan Dhafin.
Dan dugaan tersebut pula berdasarkan analisa dari laporan-laporan telik sandi yang mengabarkan jalannya pertempuran.
Maka berdasarkan analisanya dari laporan-laporan itu, dia sudah bisa menyimpulkan sampai di mana tingkat kehebatan kedua kelompok pemberontak itu.
Oleh karena itu, Putri Rayna mengajak Raja Adrian untuk membicarakan masalah ini secara serius. Dia mengajak juga 3 orang pejabat istana yang termasuk orang-orang kepercayaannya.
"Bibi, aku menginginkan untuk menyantroni markas pemberontak yang ada di utara dan di barat daya," kata Raja Adrian dengan nada angkuh. "Aku ingin cepat-cepat membunuh kedua keparat itu."
Hal itu diucapkan setelah terjadi obrolan pembuka di awal pertemuan beberapa saat yang lalu.
"Jangan gegabah, Adrian!" tegur Putri Rayna tegas. "Kedua pemuda itu bukanlah sembarangan."
"Aku tidak takut kepada mereka, Bibi," bantah Raja Adrian masih dengan sikap angkuhnya. "Sekarang kesaktianku sudah bertambah tinggi. Tentu aku bukan lagi tandingan mereka."
"Bisakah sikap angkuhmu itu kamu buang dulu, Adrian?" kata Putri Rayna bernada dingin bercampur sinis.
__ADS_1
"Sekarang waktunya kamu pikirkan masalah ini dengan tenang dan kepala dingin," lanjut Putri Rayna masih bernada menegur sekaligus menggurui. "Bukan dengan sikap angkuhmu dan gegabahmu."
"Ingat! Mereka dan pasukannya telah berhasil merebut Kerajaan Bentala dari tangan Selir Hellen. Itu menandakan kehebatan mereka dan pasukannya tidak bisa dianggap remeh."
Raja Adrian hanya bisa mendengus kesal dalam hati mendengar ocehan wanita yang berpenampilan amat cantik itu. Tapi dia diam juga, tidak membantah lagi.
Sedangkan Pejabat Kepala, Pejabat Keamanan Militer, dan Kepala Ketertiban Umum hanya diam saja. Mereka tidak berani memberi saran apapun kepada raja mereka yang kejam lagi angkuh itu.
"Apa menurutmu kedua bocah itu akan merebut kerajaan ini dari tangan kita juga, Bibi?" tanya Raja Adrian mulai melunak.
Tapi sikap dingin dan angkuhnya tidak lepas dari sikap dan gaya bicaranya, seolah sifat itu sudah mendarah daging dalam dirinya.
"Itu sudah pasti," sahut Putri Rayna dengan yakin.
"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Mulailah kelima orang penting istana itu membahas masalah kedua kelompok pemberontak yang sudah terangan-terangan melakukan perlawanan itu.
Artinya mereka sudah menampakkan pembangkangan terhadap kekuasaan Putri Rayna
Dalam pembicaraan mereka jelas mempertimbangkan dan memperhitungkan kehebatan kedua kelompok pemberontak itu. Artinya mereka tidak boleh menganggap remeh kehebatan kedua kelompok pemberontak itu.
Apalagi di tengah-tengah kedua kelompok pemberontak itu ada 2 ksatria handal yang tidak bisa dianggap remeh alias sebelah mata.
Dan bisa jadi, menurut dugaan Putri Rayna, selain kedua pemuda itu ada rekan-rekan yang lainnya yang juga berada di tengah-tengah kedua kelompok pemberontak itu.
Setelah rapat khusus itu cukup banyak menghabiskan waktu, akhirnya Putri Rayna memutuskan beberapa hal yang harus dilaksanakan.
Di antaranya adalah menghentikan sementara waktu rencana penyerangan terhadap masing-masing kedua kelompok pemberontak itu.
Sampai ada kejelasan mengenai jumlah kekuatan mereka dan mengetahui secara persis letak markas keduanya.
Oleh karena itu, rencana selanjutnya adalah menugaskan pendekar-pendekar istana yang paling jago untuk menyelidiki kedua kelompok pemberontak itu.
Bahkan Putri Rayna Cathrine bukan saja mengirim orang-orang jagonya ke wilayah utara dan barat serta barat daya. Yang mana di wilayah-wilayah itu mereka menduga merupakan markas pemberontak.
Putri Rayna juga menyebar pendekar-pendekar istana ke seluruh wilayah-wilayah bagian unjung Kerajaan Amerta. Misi mereka tidak lain menyelidiki keberadaan kelompok pemberontak.
Berikutnya, segera mengisi kekosongan Prajurit Keamanan Kota atas 2 kota yang berhasil ditumpas oleh kelompok pemberontak. Bahkan menempatkan juga pasukan militer.
Sekaligus juga menambah personil pasukan pada kota yang ada di wilayah timur dan wilayah selatan. Kedua kota tersebut memang terletak dekat ujung kedua wilayah itu.
__ADS_1
Selanjutnya Putri Rayna menetapkan tentang beberapa agenda dan rancangan-rancangan yang akan dilakukan selanjutnya.
★☆★☆★