
Sementara itu pertarungan antara Dhafin melawan Aziel masih tetap berlangsung, bahkan semakin seru. Dan pertarungan masih pada jurus ke dua.
Pada satu kesempatan di tengah ritme pertarungan yang cepat, di tengah pengerahan jurus-jurus aneh yang lihai dan lincah....
Dengan gerakan amat cepat Aziel melesat ke depan. Telapak tangan kanannya yang berisi energi sakti berhawa dingin ikut bergerak melayang ke arah dada Dhafin.
Namun secepat serangan itu datang, lebih cepat lagi Dhafin melentingkan tubuhnya ke udara. Maka telapak tangan yang berisi energi sakti yang dilambari tenaga dalam tinggi itu hanya lewat di bawah kaki Dhafin.
Karena serangan berhawa dingin itu tidak mengena sasaran utama, maka angin serangannya terus meluncur mencari sasaran lain. Dan dengan telak angin serangan berhawa dingin itu menghantam pohon 7-8 tombak di depan Aziel.
Pohon yang tidak punya salah apa-apa itu, bukan hanya bergetar, bahkan bergoyang cukup hebat dan sebagian daunnya berguguran. Dan seketika pohon itu tampak basah bagai terkena embun.
Ketika tubuh Dhafin melenting di udara bersalto satu kali sambil melintirkan tubuh. Maka dia mendarat di tanah dengan posisi membelakangi Aziel yang juga membelakanginya.
Saat mendarat di tanah cuma ujung kaki kirinya saja yang menyentuh tanah. Tepatnya menutul tanah. Kemudian tubuhnya melenting satu hasta ke udara seraya melayangkan kaki kanannya.
Kaki kanan itu menyabet dengan cepat ke arah kepala sebelah kiri Aziel. Sedangkan Aziel tidak sempat lagi membalikkan badan. Karena kalau itu dia lakukan tendangan menyabet itu akan mengenai kepalanya.
Dengan cepat diangkat tangan kirinya menangkis tendangan menyabet itu. Tapi rupanya Dhafin menggunakan tenaga tangkisan itu untuk tetap melayang.
Hampir bersamaan menarik kaki kanannya, kaki kiri Dhafin bergerak melayang hendak menyabet kepala sebelah kanan Aziel.
Semua serangan yang dilancarkan Dhafin datangnya demikian cepat, membuat Aziel harus berpikir dan bergerak lebih cepat lagi. Padahal kalau dia menyadari yang dilawan itu adalah sistem serangannya sendiri.
Tangan kanan Aziel yang telapaknya tadi melakukan serangan, baru turun sedikit harus cepat digerakkan ke samping menangkis tendangan sabetan Dhafin.
Tak!
Masih menggunakan tenaga tangkisan tubuh Dhafin tetap melayang di udara. Seraya menarik serangan, kaki kanannya menyodok ke arah tengkuk Aziel.
Aziel tidak melihat serangan dan tidak ada kesempatan untuk melihat. Tapi dia tahu ada angin tajam membelai tengkuknya, pertanda serangan Dhafin mengarah kesitu.
Sebelum serangan itu datang, tidak mau mengambil risiko dengan cepat Aziel melompat ke depan. Maka kaki kanan Dhafin cuma menyodok angin.
Sementara Aziel setelah melompat, melakukan jungkir balik dengan kedua telapak tangannya menyentuh tanah. Melintirkan tubuhnya sedikit.
Lalu tubuhnya yang tadi melenting mendarat manis di tanah dengan posisi menghadap Dhafin yang juga sudah menghadap ke arahnya.
Adegan pertarungan ini merupakan adegan hebat yang cukup memukau. Dua anak itu bertarung dengan saling membelakangi.
Yang satu menyerang tanpa melihat target serangan. Sedangkan yang satunya menangkis serangan dengan tepat meski tanpa melihat serangan. Benar-benar hebat! Bertarung dengan saling membelakangi.
★☆★☆
Sementara itu di atas sebuah pohon besar dan rindang, kurang lebih 11-12 tombak dari area pertarungan, tampak dua orang berbeda jenis dan usia tengah menyaksikan pertarungan. Lebih tepatnya mengintai.
Pengintai yang satu seorang pemuda tampan berusia 20-an tahun. Rambutnya panjang sebatas punggung yang ditata dengan rapi dan indah. Dia berbusana kependekaran berwarna hitam. Bersenjata pedang tersampir di pinggang sebelah kiri.
Yang satunya seorang gadis kecil nan cantik berusia 10 tahun. Berambut panjang sepinggang sebagian dikuncir di belakang atas kepalanya. Berpakaian ringkas lengan panjang warna merah. Kasutnya dari kulit tinggi hingga di bawah lutut juga warna merah.
"Benar-benar bocah yang hebat," gumam pemuda berpakaian hitam memuji. "Masih usia kanak-kanak ilmu mereka sudah sehebat itu."
"Hebat apanya, Paman Rainer," leceh si gadis bernada sinis. "Baru ilmu segitu kamu sudah memujinya."
"Tuan Putri! Aku rasa semua anak-anak itu memiliki tenaga dalam yang tidak bisa diremehkan," kata pemuda yang dipanggil Rainer tak menggubris ucapan gadis kecil yang tidak penting itu.
"...Bahkan aku menduga mereka sudah punya energi sakti seperti anak berbaju hitam itu," lanjut Rainer.
"Maksudmu kamu ingin mengusulkan kepada Yang Mulia Ayahanda untuk ditangkap lalu dijadikan Pasukan Khusus, begitu?" tebak gadis yang dipanggil Tuan Putri. Nadanya juga masih sinis.
"Yaaah seperti itulah," sahut Rainer seperti enggan mengaku.
"Aku tidak setuju kalau semua, Paman Rainer," kata Tuan Putri tidak sepakat alias setengah menolak.
"Ah, aku cuma mengusulkan, Tuan Putri," kata Rainer buru-buru. "Adapun pelaksanaanya bukan saat-saat sekarang ini."
__ADS_1
Gadis berwajah judes itu terdiam, tidak menanggapi ucapan Rainer. Dia kembali mengamati jalannya pertarungan dengan seksama. Begitu juga dengan Rainer.
Sementara itu pertarungan sepertinya sebentar lagi menyelesaikan jurus ke 4.
Pada satu adegan pertarungan di akhir jurus ke 4 Dhafin dan Aziel tampak sama-sama melenting ke depan seraya mengangsurkan kedua telapak tangan mereka yang berisi energi sakti ke depan.
Begitu masing-masing mereka sudah berada dalam jangkauan serangan, kedua telapak tangan mereka bertemu pada satu titik pertengahan. Sehinnga....
Duaaarrr!!!
Ledakan cukup keras bak hendak memecahkan gendang telinga seketika terdengar. Bumi sedikit berguncang di sekitar pertarungan.
Menciptakan gelombang ledakan yang menyebar ke segala arah. Membuat rumah papan disitu bergetar cukup hebat.
Tiga anak kecil yang menonton tidak sibuk merasa kaget akibat ledakan itu. Namun mereka sibuk menghalangi pandangan dari debu yang tersapu ke udara akibat gelombang ledakan.
Yang terkejut hanya Rainer. Tapi lebih terkejut lagi Tuan Putri. Sampai-sampai sepasang mata indahnya membulat besar saking terkejutnya. Tidak menyangka tenaga sakti kedua petarung itu sudah sehebat itu.
Sementara Dhafin dan Aziel terlontar secara bersamaan ke belakang sejauh 2 tombak lebih. Namun masing-masing mereka cepat menguasai diri. Berjumpalitan beberapa kali di udara. Lalu mendarat dengan lunak di tanah.
Tampak wajah kedua bocah itu sedikit tegang. Namun tidak lama sudah kembali normal seperti biasa.
Cuma beberapa saat Aziel beristirahat. Setelah itu dia melesat dengan cepat ke depan, kembali melakukan serangan yang mematikan.
Sedangkan Dhafin tidak mau lagi menanti serangan tiba. Dengan cepat dia melesat pula menyongsong serangan. Tak lama kemudian pertarungan kembali berlangsung. Kali ini berlanjut pada jurus yang ke tiga.
Pada pertarungan jurus ke 5 ini Dhafin menaikkan satu tingkat sistem serangannya. Sedangkan Aziel sepertinya tidak ada perubahan pada sistem serangan. Yang berubah hanya pada jurusnya saja.
Sebenarnya jurusnya kali ini tergolong lihai dan hebat dari jurus-jurus sebelumnya. Tapi sistem serangannya tidak berubah, tak ada artinya bagi Dhafin.
Maka pada jurus ke 5 ini Aziel tidak bisa bertahan lama. Serangan-serangan Dhafin kali ini membuatnya kelabakan. Sehingga baru setengah pertarungan berlangsung dia sudah terdesak.
Meskipun dia berusaha agar tetap tenang dalam bertarung, masih juga dia terdesak hebat.
★☆★☆
Kekalahannya karena yang dihadapi adalah Dhafin yang tingkat kehebatannya masih berada 2 tingkat di atasnya.
Hingga suatu ketika....
Aziel terpaksa lagi harus mengangkat tangan kirinya menangkis tendangan kaki kanan Dhafin yang mengarah ke samping kepalanya.
Tak!
"Ukh!"
Sudah tangannya masih ngilu, kini bertambah ngilu dan kram akibat menangkis serangan Dhafin yang kesekian kalinya hingga membuatnya meringis kecil.
Sementara Dhafin tidak menghentikan serangan. Belum lama kaki kanannya berpijak ke tanah, kaki kirinya sudah melayang mengirimkan tendangan menyabet ke arah kepala sebelah kanan Aziel.
Dan terpaksa lagi Aziel mengangkat tangan kanannya yang masih ngilu hendak menangkis serangan itu. Tapi sungguh dia kecele berat.
Tendangan itu tiba-tiba berhenti, lalu meliuk dan tiba-tiba berubah menohok ke arah dada. Dan Aziel sudah tidak ada lagi kesempatan menangkis. Cuma terkejut yang dia sempat. Sehingga....
Dughk!
"Akh...!"
Tendangan itu telak dan keras menghantam Dada Aziel hingga dia mengeluh tertahan. Maka tubuhnya terjajar ke belakang beberapa langkah.
Rupanya Dhafin tidak berhenti menyerang. Dengan cepat dia melesat ke arah Aziel yang masih terjajar sambil melayangkan telapak tangan kanannya.
Begitu sudah berada dalam jangkauan serangan, telapak tangan yang berisi tenaga dalam tinggi itu langsung bergerak menghantam dada Aziel yang lowong.
Bughk!
__ADS_1
"Aaakh...!"
Begitu keras dan telaknya telapak tangan kanan Dhafin membobol dada Aziel sehingga membuat bocah jangkung itu bukan lagi terjajar, melainkan terlempar ke belakang hampir tiga tombak sambil menjerit tertahan.
Kemudian tubuhnya jatuh dengan keras lagi mengenaskan ke tanah berdebu. Terseret beberapa langkah lalu terdiam. Tapi tak lama dia segera bangkit terduduk, duduk bersila.
Menggerak-gerakkan kedua telapak tangannya di depan dada dengan gerakan tertentu. Tak lama kedua telapak tangannya merapat di depan dadanya.
Energi murni di dalam tubuhnya langsung bereaksi memulihkan kondisi tubuhnya serta rasa sesak di dadanya yang bagai dihimpit batu besar. Sakitnya lumayan sakit.
Sementara itu Dhafin, melihat Aziel memulihkan kondisi, segera menghampiri. Dengan gerak kilat dia sudah sampai di dekat Aziel lima langkah. Lalu melangkah lebih dekat lagi setelah mengambil obat pil sebutir dari balik bajunya.
"Saudara Aziel! Minumlah obat pemulihan tenaga ini agar kondisimu cepat stabil!" Dhafin mengangsurkan telapak tangannya yang terbuka ke arah Aziel ketika berada kurang dari dua langkah di depannya.
Aziel segera membuka matanya menghentikan semedi. Memandang Dhafin sejenak. Sorot mata serta ekspresi wajahnya sukar ditebak, dingin bagai es.
Lalu dia menggerakkan matanya memandang obat pil di atas telapak tangan Dhafin yang terbuka. Lalu diambil terus ditelan tanpa berkata apa-apa.
Sedangkan Dhafin hendak meninggalkannya begitu obat sudah terambil. Namun belum juga kakinya bergerak seketika dia merandek.
Sepasang matanya tampak melirik ke arah belakang Aziel, tepatnya ke arah Tuan Putri dan Rainer yang masih nangkring di atas dahan besar.
Seketika dia melakukan gerakan aneh yang membuat Aziel merasa heran tapi tidak melakukan apa-apa. Keenan dan Kelvin ikut-ikutan heran. Tidak terkecuali Rainer dan Tuan Putri yang tidak pernah lepas memandang Dhafin.
Sedangkan Brian bukan kelakuan Dhafin yang aneh itu yang membuatnya heran. Dia tahu Dhafin hendak mengerahkan kekuatan ghaibnya yang sudah tergabung dengan kekuatan batin. Tapi dia heran Dhafin tujukan kepada siapa perbuatannya itu.
★☆★☆
Kepala Dhafin tertunduk sedikit dan mata terpejam. Kedua telapak tangannya melakukan gerakan-gerakan tertentu di depan dadanya.
Tak lama kemudian, kedua tangannya bergerak turun ke samping dengan telapak tangan terbuka lebar dan menghadap langit. Bersamaan dengan itu kepalanya terangkat agak mendongak ke langit, tapi kedua matanya tetap terpejam rapat.
"Paman Rainer! Apa yang hendak dilakukan anak muda itu?" Tuan Putri tidak tahan untuk mengungkapkan keheranannya.
"Aku tidak tahu pasti, Tuan Putri," sahut Rainer. "Yang jelas dia hendak mengerahkan kekuatan ghaibnya."
"Kekuatan ghaib?!" Tuan Putri makin terkejut heran. "Kalau begitu dia adalah penyihir!"
Belum sempat Rainer menanggapi keterkejutan Tuan Putri, seketika dia langsung terkejut karena merasakan sesuatu yang aneh berputar-putar di sekeliling tubuhnya .
Belum sempat menyadari apa yang terjadi, sesuatu yang berputar-putar itu langsung melilit tubuhnya seperti ular besar dari kaki hingga badan berikut kedua tangannya.
Tuan Putri belum melihat keanehan yang terjadi pada pengawalnya itu. Tapi begitu mendengar Rainer menjerit tegang, seketika dia menoleh. Dan tidak sampai dua helaan napas dia langsung terkejut.
Tampak olehnya Rainer bergerak-gerak kaku seperti ada sesuatu yang mengikat sekujur tubuhnya dengan erat dan kuat. Wajahnya yang memerah sudah menegang. Tampak Rainer berusaha untuk tidak menjerit lagi.
"Ada apa, Paman Rainer?" tanya Tuan Putri tidak mengerti di sela keterkejutannya. "Apa yang terjadi padamu?"
"Anak... itu...," sahut Rainer bagai mendesis karena susah berbicara. "Dia... mengirimkan kekuatan... ghaibnya kepadaku...."
Tanpa keduanya sadari rupanya Dhafin mengirimkan kekuatan ghaibnya pula pada pangkal dahan yang menjadi pijakan Rainer dan Tuan Putri.
Pangkal dahan itu seperti tercekal tangan raksasa. Dan begitu Dhafin mengkeremus tangan kirinya dengan kuat, pangkal dahan itu langsung hancur remuk bagai kerupuk.
Kejadian selanjutnya sudah bisa dibayangkan....
"Aaa...."
Tuan Putri langsung menjerit histeris begitu tubuhnya terjatuh begitu saja karena dahan pijakannya sudah patah. Dan Rainer meski tidak sampai menjerit tapi semakin terkejut ngeri karena tubuhnya ikut pula jatuh dengan cepat ke bawah.
Jeritan histeris Tuan Putri itu terang saja didengar dengan jelas oleh Brian dan keempat kawannya. Aziel yang sudah berdiri dan tentu sudah pulih langsung melesat ke sumber suara. Diikuti oleh tiga orang anak.
Sedangkan Dhafin, setelah melepas kekuatan ghaibnya ikut melesat pula ke sumber suara.
★☆★☆★
__ADS_1