Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 83 MENANGKAP PIMPINAN PARA PENGEPUNG


__ADS_3

Jelas-jelas 5 ujung pedang menusuk tubuh Dhafin di 5 tempat; jidat, dada kiri kanan, leher sebelah kiri, dan pinggang sebelah kanan.


Namun yang merasakan 5 tusukan maut itu adalah lelaki berambut keriting. Sehingga dia menjerit amat keras melengking hingga ke langit.


"Aaa...!!!"


Tampak 5 tusukan benda tajam membekas di 5 bagian tubuhnya sesuai yang ditusuk di tubuh Dhafin hingga merembeskan darah segar.


Kontan saja kedua temannya terkejut heran bukan main sekaligus kebingungan kenapa bisa terjadi demikian. Belum hilang keterkejutan mereka, si rambut keriting seketika rebah ke belakang bagai papan jatuh.


Sementara itu Dhafin, melihat kelima penyerangnya juga terkejut bukan main dan tampak kebingungan, tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan gerakan cepat dia merebut pedang salah seorang penyerang.


Lalu dengan gerakan yang lebih cepat lagi dia mengelilingi kelima penyerangnya sambil mengayunkan pedang di tangannya berulang kali; menebas, menyabet dan menusuk tubuh-tubuh 5 lawannya yang dalam keadaan terlambat menyadarinya.


Craaasss!!! Craaasss!!!


Breeesss!!!


Craaab!!!


"Aaa...!!!"


"Aaakh...!!!"


Kembali terdengar jeritan kematian saling susul menyusul. Ditingkahi 5 tubuh bertumbangan dengan bersimbah darah. Kembali tanah di tempat itu dibasahi oleh darah.


Ada yang lehernya putus, ada yang dada dan perutnya robek panjang dan besar. Yang terakhir dadanya tertusuk tembus hingga ke punggung.


Sementara Kayshila terus saja mengamuk habis-habisan membantai orang-orang bertopeng hitam yang menyerangnya dengan menggunakan pedang lawannya yang tadi berhasil dirampas.


Dia tidak menggunakan pedang pusakanya dalam membasmi anggota gerombolan itu. Baginya sudah cukup menggunakan pedang rampasan tanpa harus menggunakan pedang pusakanya.


Dia tidak memberi ampun lagi pada orang-orang bertopeng hitam itu karena saking gemasnya. Guru dan saudara-saudara seperguruannya telah dibantai oleh mereka. Siapakah yang tidak merasa dendam?


Maka tidak butuh waktu lama sudah banyak Gerombolan Pedang Tengkorak yang bertumbangan bersimbah darah. Yang tinggal cuma belasan orang yang kini masih mengeroyok Kayshila.


Kelihatannya memang Kayshila dikeroyok. Tapi kenyataannya dia yang mendominasi pertarungan. Dan tinggal menunggu waktu saja lawan-lawannya itu akan menyusul kawannya yang sudah mampus duluan.


Sementara itu, si rambut gondrong dan si rambut pendek masih terperangah melihat kenyataan yang ada. Melihat lelaki berambut keriting mati dengan cara aneh. Puluhan anak buah mereka seakan tidak ada artinya melawan amukan Kayshila.


Sepasang kekasih ini ternyata diluar ekspektasi mereka dalam menilai kehebatannya pikir mereka.


"Tuan-tuan, jangan kelamaan bengongnya, nanti bisa mati mendadak loh," kata Dhafin bernada santai tapi jelas ucapan itu melecehkan mereka.


Dua lelaki itu kembali terkejut seakan tersentak dari lamunan. Lalu sama-sama kembali menatap Dhafin yang sudah berdiri santai di tempatnya.


"Jangan gembira dulu, Bocah, sebelum melawan kami!" hardik lelaki berambut gondrong.


Kemudian dia dan kawanya hendak bergerak menyerang Dhafin. Tapi belum juga kaki mereka bergeser dalam selangkah, seketika masing-masing mereka dilingkupi semacam hawa padat tak berwujud.


Tentu saja mereka kembali terkejut heran bukan main. Permainan apa lagi yang dimainkan oleh Dhafin ini?


Selagi mereka masih menerka-nerka apa yang terjadi pada diri mereka, hawa padat itu langsung melilit mereka dengan kuat. Sehingga tubuh mereka menyatu bagai terikat sekujur tubuh.


Membuat mereka sampai sesak napas bercampur kesakitan yang amat sangat karena sekujur tubuh mereka terasa bagai terlilit ular besar.


Tampak lelaki berambut gondrong rebah ke belakang sedikit ke samping kanan bagai papan jatuh. Dia jatuh bukan karena nyawanya sudah hilang. Tapi karena hilang keseimbangan.


Sedangkan lelaki berambut pendek masih merasakan kesakitan yang amat sangat karena sekujur tubuhnya terasa remuk. Mau berteriak tidak bisa. Karena seakan tercekat seperti tercekik oleh tangan yang besar. Tak lama kemudian dia menahan penderitaan....


Kraaak!!! Kraaak!!!


Kreeek!!!

__ADS_1


Terdengar suara-suara mengerikan dari tulang-tulang di sekujur tubuhnya yang berpatahan. Berikut tulang lehernya ikut remuk. Seketika saja mulutnya yang menganga lebar memuntahkan darah kental yang cukup banyak.


Kemudian dia jatuh lemas begitu saja karena semua tulangnya sudah remuk. Dia mati dalam keadaan mata masih melotot dan mulut yang belepotan darah masih menganga. Sungguh kemampusan yang mengerikan!


Perlu diketahui, keanehan yang terjadi pada kedua lelaki itu akibat Dhafin telah mengerahkan tenaga batinnya yang sudah mencapai taraf sempurna kepada mereka.


Sementara lelaki berambut gondrong belumlah mati. Dia cuma terkapar diam tak berkutik karena sekujur tubuhnya masih dalam pengaruh tenaga batin Dhafin. Tampak dia sudah kepayahan. Mau berteriak saja sudah tak mampu.


★☆★☆


Sementara Kayshila terus saja meliuk-liuk lincah di antara kepungan orang-orang bertopeng hitam yang kini tinggal 8 orang. Pedang rampasannya terus terayun-ayun dengan cepat dan lincah menghantam pedang-pedang lawannya.


Tak lama kemudian, kembali pedang di tangan kanannya menggorok leher lawannya hingga hampir putus. Terus pedang itu terayun dengan cepat lagi menebas tangan lawan yang memegang pedang. Pedang masih terayun dan terus menebas lehernya hingga putus.


Pedang di tangan Kayshila terus saja terayun-ayun dengan cepat dan lincah. Tahu-tahu satu per satu lawannya bertumbangan ke tanah dengan bersimbah darah.


Tujuh orang bertopeng hitam sudah terkapar lagi menjadi mayat. Kemampusan mereka tidak kalah tragisnya dengan teman-temannya yang lain.


Kini lawan terakhir sedang dieksekusi oleh Kayshila. Kedua tangan orang itu sudah terputus. Sementara pedang di tangan Kayshila masih terus terayun; merobek dada merobek lambung.


Terakhir ujung pedang itu menusuk leher orang itu hingga tembus ke tengkuknya. Sehingga jeritannya berubah seperti raungan kerbau yang sekarat.


Belum lama Kayshila melepas genggaman pedangnya, orang bertopeng itu langsung jatuh menggelosor ke tanah. Begitu terbaring di tanah tubuhnya sudah tak bergerak lagi karena nyawanya sudah putus.


Sejenak Kayshila melayangkan pandangan matanya yang masih menyorot tajam ke sekitarnya. Di berbagai tempat tergeletak puluhan mayat orang-orang bertopeng hitam.


Begitu sepasang mata indahnya menangkap wujud Dhafin yang juga tengah memandangnya sambil tersenyum, dia langsung menghampiri kekasihnya itu. Saat itu Dhafin tengah berdiri di dekat ujung kaki lelaki rambut gondrong.


"Kenapa yang ini belum mampus juga, Kanda?" tanya Kayshila begitu melihat lelaki itu masih hidup saat sampai di dekat Dhafin sebelah kiri.


"Tenang saja," kata Dhafin agak keras sambil menatap lelaki itu, "sebentar lagi dia akan menyusul temannya. Tapi sebelumnya dia mati kita korek dulu info terkini tentang Kerajaan Amerta darinya."


Dhafin sengaja mengeraskan sedikit suaranya agar mudah di dengar oleh 2 pengintai yang tengah bersembunyi di suatu tempat sekitar belasan tombak dari tempat Dhafin dan Kayshila berdiri.


Dhafin sudah mengetahui permainan kelompok penjahat ini sejak kecil. Setiap aksi mereka pasti mengikutsertakan pasukan pengintai di tempat tersembunyi. Gunanya jelas untuk memantau aksi kelompoknya dalam melaksanakan tugas, gagal atau berhasil.


"Oh baguslah kalau begitu," kata Kayshila menanggapi. "Setidaknya orang ini tahu banyak tentang keadaan dan situasi kerajaan saat ini."


"Phuih! Kalian tidak bakalan mendapat apapun dariku!" dengus si rambut gondrong bernada dingin dengan mata menyorot tajam sambil menyemburkan ludahnya.


"O ya, benar kamu tidak bakalan memberi informasi?" kata Dhafin dengan mimik berpura-pura terkejut. "Kita lihat sampai di mana ketahananmu menerima siksaan."


"Hahaha...! Walau kalian menyiksaku sampai mati sekalipun, tidak bakalan kalian mendapat apa-apa dariku!" dengus orang itu sambil tertawa menyebalkan.


"Baiklah kalau begitu," kata Dhafin masih dengan gaya tenangnya.


"Kamu mau apakan orang ini, Kanda?" tanya Kayshila penasaran juga apa yang akan dilakukan Dhafin.


"Kamu tenang saja! Lihat apa yang aku lakukan!"


Lalu Dhafin mengangkat tangan kanannya sedikit dengan telapak yang sudah terbuka. Sepasang matanya yang tetap membinarkan ketenangan dan keteduhan menatap lelaki berambut gondrong, lalu berkata.


"Pasang telingamu baik-baik, Tuan! Lalu dengarkan apa yang akan terjadi!"


Si lelaki gondrong hanya medelikkan matanya saja mendengar ucapan Dhafin. Tapi hatinya penasaran dan deg-degan juga apa yang akan dilakukan Dhafin.


Namun belum lama dia memasang telinganya dan Dhafin memutar ke dalam telapak tangannya sambil menekuk jerijinya, terdengar dari kejauhan 2 suara jeritan kesakitan yang hampir bersamaan.


"Aaa...!!!"


"Akh...!!!"


Bukan saja si rambut gondrong yang terkejut setengah mati hingga hampir keluar biji matanya, Kayshila juga terkejut bukan main. Sampai-sampai dia menatap Dhafin dengan penasaran.

__ADS_1


"Kamu sudah dengar 2 suara jeritan itu, Tuan?" kata Dhafin masih dengan mede tanangnya. "Itu adalah jeritan 2 kawanmu yang tengah mengintai ke sini. Iya 'kan?"


Tidak bisa tertakar lagi bagaimana rasa terkejutnya lelaki berambut gondrong itu. Dua temannya yang sedang mengintai dapat juga diketahuinya.


Sampai dimanakah kehebatan orang ini sampai tidak bisa terpikirkan oleh orang lain?


★☆★☆


"Perhatikan jemariku ini, Tuan, sambil dengarkan nasib kawanmu yang ada di sana!"


Tanpa sadar lelaki itu memperhatikan jeriji Dhafin yang menekuk perlahan-lahan. Belum lama telinganya sudah mendengar jeritan-jeritan kedua kawannya yang semakin memilukan.


Sementara tangan Dhafin terus menekuk ke dalam dengan perlahan-lahan. Bersamaan masih terdengar 2 jeritan yang saling sahut-sahutan. Tapi lama kelamaan 2 suara jeritan itu semakin mengecil dan mengecil.


Sedangkan lelaki berambut gondrong dan Kayshila masih terus menatap jeriji Dhafin tanpa berkedip.


Dan begitu Dhafin mengkeremus jerijinya dengan cepat dan kuat, lelaki berambut gondrong tampak kaget. Bersamaan tak terdengar lagi suara jeritan sama sekali. Tapi tak lama terdengar suara seperti benda berat dan besar terjatuh ke tanah.


"Apa yang terjadi pada kedua kawanku?" tanya si rambut gondrong tanpa sadar bernada kasar.


"Dua kawanmu sudah mati dengan tulang-tulang remuk!" kata Dhafin masih tenang.


Dhafin tidak menghiraukan lagi lelaki berambut gondrong yang lantas memaki-maki panjang pendek itu begitu mendengar nasib kedua kawannya. Dia lalu menoleh pada Kayshila yang masih bingung akan yang dilakukan kekasihnya barusan.


"Ayo kita tinggalkan tempat ini!" ajaknya.


"Orang itu bagaimana?" tanya Kayshila tidak mengerti.


"Kita bawa serta. Terlalu beresiko mengorek keterangan darinya di tempat terbuka seperti ini."


"Jadi kamu punya cara lain untuk membuatnya bicara?" tanya Kayshila makin penasaran akan ilmu yang dimiliki kekasihnya ini.


"Ya begitulah."


"Kamu yakin dia akan bicara?"


"Pasti dia akan bicara."


Kayshila menatap Dhafin lekat-lekat sejenak. Lalu dia mengulum senyum yang termanis yang dia punya. Lalu berkata dengan nada ceria.


"Aku semakin ingin mengikutimu ke manapun kamu pergi, Kanda. Aku semakin penasaran ingin menyaksikan ilmu unik apa lagi yang akan kamu munculkan."


Dhafin hanya tertawa saja menanggapi ucapan Kayshila barusan. Lalu tak lama dia mengajaknya lagi untuk tinggalkan tempat ini.


"Ayo!"


"Caranya bagaimana?"


Lalu Dhafin memberi tahu cara mereka pergi dari sini sambil membawa lelaki berambut gondrong itu. Yaitu dengan cara berteleportasi.


Kalau ilmu teleportasi Kayshila sudah menguasai. Tapi Dhafin mau berteleportasi ke mana dia belum tahu. Lalu Dhafin memberi tahu kalau mereka akan berteleportasi ke tempat yang pernah Dhafin kunjungi yang masih di Kerajaan Amerta.


Tidak lama kemudian, Dhafin dan Kayshila sudah berada di sisi kanan kiri lelaki itu dengan posisi berdiri melutut.


Sebelumnya Dhafin menotok titik suaranya agar tidak ngoceh terus. Sementara sekujur tubuhnya selain leher ke atas tidak bisa bergerkak karena masih dalam pengaruh tenaga batin Dhafin.


Kedua tangan Kayshila berada di kedua pundak Dhafin. Sedangkan tangan kanan Dhafin berada di pundak kiri Kayshila. Sementara tangan kirinya berada di dada lelaki berambut gondrong.


Beberapa saat kemudian, seketika sekujur tubuh Kayshila terbungkus sinar merah. Sedangkan sekujur tubuh Dhafin dan lelaki itu terselubung sinar putih.


Lalu kejap berikut kedua sinar itu lenyap seketika bagai di telan waktu. Bersamaan hilangnya Dhafin dan Kayshila serta lelaki berambut gondrong.


Tempat itu kembali sunyi. Hanya semilir angin bertiup pelan membawa aroma bau anyir darah yang memualkan.

__ADS_1


Sementara mayat-mayat hitam masih terkapar diam di tempatnya masing-masing. Seakan menanti dengan setia hewan-hewan buas yang akan menyantap mereka.


★☆★☆★


__ADS_2