
"...Apakah Yang Mulia akan menanggalkan pula sebagai calon penguasa 3 kerajaan?" tanya Gibson harap-harap cemas. Nada suaranya tidak terdengar tenang.
"Aku harus menjawab bagaimana jika kalian semua sudah tahu?" kata Dhafin seperti bingung harus bicara apa.
Apa yang Gibson khawatirkan selama beberapa hari ini telah terjawab dengan ucapan Dhafin barusan. Ucapan itu memang seperti bertanya. Tapi ucapan itu adalah jawaban dari pertanyaannya.
Dhafin memang tidak bersedia atau menolak menjadi penguasa di Kerajaan Negeri Tabir Ghaib, terkhusus di Istana Centauri.
Kecurigaan sekaligus kekhawatiran tersebut pernah Gibson bicarakan bersama Hendry. Dan ternyata Hendry merasakan kekhawatiran yang sama. Bahkan Hendry mengatakan dengan rasa menyesal sekaligus kecewa.
"Yang Mulia adalah orang yang pantas menjadi penguasa, tapi sayang beliau tidak ingin menjadi penguasa...."
Ternyata kekhawatiran Gibson dan Hendry itu pula terjadi pada Brian, Aziel, Keenan, dan sepertinya semua ksatria Istana Centauri yang ikut bersama Dhafin mengemban misi di Kerajaan Amerta ini.
Bahkan Keenan dan Aziel pernah membicarakan hal itu di tengah mereka menjalankan tugas. Dan Aziel masih sempat berkata seperti berpesan.
"Kita harus mencari cara agar Yang Mulia tetap mau menjadi penguasa...."
Dengan tidak bersedianya Dhafin menjadi raja di Kerajaan Bentala sudah menjadi suatu kecurigaan bagi mereka. Meskipun Dhafin beralasan kalau hal itu sudah merupakan takdir Sang Penguasa Langit.
Dan mereka memang percaya akan hal itu. Dan percaya pula kalau takdir menentukan bahwa Pangeran Revan yang menjadi Raja Kerajaan Bentala.
Dengan kehebatan Dhafin menyegel ingatan seseorang membuat masing-masing mereka seakan bersepakat tentang suatu hal, bahwa tentu Dhafin memiliki kehebatan yang lebih hebat dari itu untuk melaksanakan niatnya.
Dia tidak ingin menjadi penguasa. Itu artinya suatu saat dia akan meninggalkan mereka semua tanpa penguasa yang sejati....
Seketika Gibson menyungkur ke bawah berlutut di atas tanah. Brian, Aziel, dan semua ksatria elit Istana Centauri menyusul tidak perlu lama.
Jarrel Cs, Marlon Cs serta 60 ksatria tangguh tidak begitu paham apa yang terjadi sebelumnya. Namum satu hal yang mereka tangkap dari momen ini bahwa Dhafin tidak bersedia menjadi penguasa 3 kerajaan.
Tanpa banyak pikir mereka semua langsung menyungkur berlutut di atas tanah hampir bersamaan, sebagai bentuk permohonan agar Dhafin membatalkan niatnya itu.
Perbuatan itu pula sesuai apa yang diinginkan oleh 9 ksatria elit Istana Centauri.
Sedangkan Dhafin, melihat perbuatan mereka semua di luar dugaannya, terang saja membuatnya amat terkejut bukan main.
"Hei, apa yang kalian lakukan?!" seru Dhafin bernada kaget. "Bangunlah! Tidak pantas kalian semua melakukan hal itu kepadaku!"
Namun tidak seorang pun yang bangkit berdiri demi menghirau permintaan Dhafin yang bernada perintah itu. Malah Gibson, setelah memanggil pedangnya, lalu dengan cepat salah satu sisi tajam pedangnya di letakkan di lehernya.
Aksi gila Gibson ini juga dilakukan oleh Brian, Aziel dan 6 ksatria elit Istana Centauri lainnya. Bahkan diikuti pula oleh Jarrel Cs, Marlon Cs, serta 60 ksatria tangguh tanpa banyak pertimbangan, tanpa bertanya dahulu.
"Hei! Hentikan perbuatan kalian!"
Dhafin semakin kaget akan perbuatan gila mereka itu. Tidak dia menyangka kalau mereka bisa sejauh itu melakukan kenekatan.
Aksi yang dilakukan oleh kesembilan rekannya saja sudah membuatnya senam jantung. Ini malah para ksatria lainnya ikut-ikutan pula.
__ADS_1
Sehingga pemandangan seperti ini menjadikan suasana berubah mengerikan, berubah menjadi horor.
Dhafin telah paham betul apa maksud di balik aksi gila mereka itu. Yaitu memaksa dirinya agar tidak menolak menjadi penguasa.
Kalau sudah begitu dia harus berbuat apa?
★☆★☆
"Apalagi lagi artinya kehidupan bagi kami," kata Gibson bernada memelas, "kalau Yang Mulia tidak mau lagi menjadi pemimpin kami dan akan meninggalkan kami."
"Siapa yang bilang kalau aku meninggalkan kalian?" kata Dhafin seolah menjelaskan. "Aku memang tidak menginginkan menjadi penguasa Istana Centauri. Tapi bukan berarti aku meninggalkan kalian."
"Yang Mulia mengatakan kalau menjadi penguasa 3 kerajaan merupakan takdir yang sudah ditentukan," kata Brian seolah mengingatkan. "Apakah Yang Mulia hendak menentang takdir?"
"Sebenarnya aku masih belum yakin kalau aku ditakdirkan menjadi penguasa 3 kerajaan," ungkap Dhafin. "Aku ingin menenangkan diri dulu setelah urusan merebut Kerajaan Amerta dan Kerajaan Lengkara sudah selesai."
"Itu artinya Yang Mulia akan meninggalkan kami yang tanpa penguasa sejati," kata Aziel bernada duka. Baru kali ini nada suaranya bisa berubah.
"Pangeran Aziel!" Dhafin menoleh pada pemuda es batu itu. "Kamu adalah calon penguasa sejati Kerajaan Lengkara. Tenang saja, aku akan tetap membantumu sekuat tenaga merebut kembali kerajaannya."
"Dan kamu, Brian!" Dhafin beralih menoleh pada Brian. "Sebentar lagi kerajaan ini akan kita rebut, dan kamu akan menjadi penguasanya menggantikan Yang Mulia Raja Darian."
"Sepertinya Yang Mulia tetap pada pendirian Yang Mulia," kata Brian mulai bernada lain, "dan tidak memperdulikan nyawa kami yang kami pertaruhkan agar Yang Mulia tetap menjadi penguasa kami."
"Baiklah kalau begitu...."
Bahkan, apa sebenarnya yang dipikirkan oleh mereka, Jarrel Cs, Marlon Cs serta 60 ksatria malah mengikuti juga hingga pada detik ini.
Sementara Dhafin, sepasang matanya hampir tak pernah lepas mengamati pedang-pedang yang siap menggorok leher-leher para ksatria itu.
Kalau dia tidak lekas memberikan keputusan yang cepat dan tepat, tentu saja sebentar lagi dia akan melihat mayat-mayat para ksatria tangguh akan tergeletak di tempat ini. Oleh karena itu....
"Baik! Baik! Aku akan memenuhi permintaan kalian!" seru Dhafin dengan cepat dan cukup keras. "Hentikan perbuatan kalian!"
Seketika saja seruan Dhafin membuat pedang-pedang yang tadinya hendak menggorok leher-leher mereka, kini dengan cepat berhenti. Setelah itu Gibson segera berkata bagai memerintah menuntut sumpah pada Dhafin.
"Bersumpahlah untuk tetap menjadi penguasa sejati bagi kami dan tidak akan pernah meninggalkan kami, Yang Mulia!"
Karena mereka tetap menempelkan mata pedang mereka di leher masing-masing, Dhafin tidak punya pilihan lain selain memenuhi permintaan mereka. Karena kalau dia tetap ngotot mempertahankan pendirian, mereka benar-benar bunuh diri. Sungguh miris!
Setelah berkata bahwa akan memenuhi permintaan para ksatria itu, Dhafin mengangkat tangan kanannya ke depan sejajar wajah. Tampak telapaknya terbuka cukup lebar.
Kemudian jari telunjuk kirinya menggores dengan kuat telapak tangan kanannya bagian dalam. Sehingga menggoreskan luka agak panjang dan langsung mengalirkan darahnya. Lalu darah itu jatuh menetes ke atas tanah berumput.
Setelah mengepalkan telapak tangannya cukup kuat, lalu Dhafin berseru cukup keras dan lantang sambil menghadap ke arah para ksatria yang masih berlutut.
"Dengarkan oleh kalian semua! Aku, Pangeran Ghavin Aldebaran, bersumpah demi Penguasa Langit akan menjadi pemimpin kalian selamanya!"
__ADS_1
Begitu Dhafin selesai mengucapkan sumpah, seketika kilat langsung menyambar beberapa kali di penghujung senja, lalu disusul dengan suara salakan petir yang cukup keras menggelegar.
Begitu hebatnya sumpah yang diucapkan Dhafin itu sampai berpengaruh pada alam. Hal itu menandakan kalau Dhafin benar-benar tulus mengucapkan sumpah.
Tidak sampai menunggu lama semua ksatria itu, dengan cepat menyarungkan pedang masing-masing, lalu menggores telapak tangan mereka tanpa ragu.
Sehingga mengalirlah darah cukup banyak, lalu menetes jatuh menimpa tanah berumput di tempat itu, di sebelah selatan puncak Bukit Kanaya.
Setelah itu, mereka semua mengepalkan telapak tangan mereka itu, lalu di angkat ke atas tinggi-tinggi. Sementara darah mereka masih terus mengalir.
Kemudian terdengarlah seruan mereka cukup keras dan lantang menyatakan sumpah setia kepada Dhafin hingga akhir hayat mereka, menyerahkan jiwa dan raga mereka sepenuhnya demi kesetiaan mereka.
Setelah itu, tidak butuh waktu lama kilat kembali menyambar beberapa kali, lalu disambut dengan suara salakan-salakan petir yang cukup menggelegar hingga mampu memekakkan telinga.
Sedangkan Dhafin, melihat sumpah setia mereka itu yang begitu tulus, jelas amat terharu dibuatnya. Sehingga tak bisa dia menahan kalau matanya berkaca-kaca.
Dia merasa yakin kalau sumpah darah yang mereka lakukan amatlah tulus. Dan Sang Penguasa Langit pasti telah menerima sumpah setia mereka.
Perlu diketahui kalau sumpah darah ini memang biasa dilakukan oleh para ksatria untuk menyatakan ksediaannya mengampu suatu jabatan atau menyatakan kesetiaan.
Sementara di barisan 50 ksatria tangguh, ada seorang gadis cantik, salah satu ksatria tangguh, yang tidak sanggup menahan derai air matanya.
Dia menangis bukan karena menyesal menyatakan sumpah setia. Namun dia menangis karena bahagia bisa mengambil sumpah setia kepada seorang pemuda yang sudah diidolakan sejak kecil.
Dia sudah bertekad di dalam hati akan menyatakan kesetiaannya kepada Dhafin. Bahkan dia rela menjadi pelayan atau budaknya demi kesetiaannya itu kepada sang idola.
Perlu diketahui bahwa gadis cantik itu adalah salah satu peserta Turnamen Beladiri Anak Bangsawan waktu dulu. Dia termasuk kelompok Tim Orian Louise sekaligus sepupu pemuda yang sudah menjadi salah satu ksatria elit Istana Centauri itu.
Gadis itulah yang pernah menjadi lawan tanding Dhafin di babak penyisihan.
★☆★☆
Setelah ritual pernyataan sumpah selesai, setelah Dhafin diperkenalkan pada 6 ksatria yang tadi ikut bersama Brian, berikut beberapa hal masih terkait dengan masalah kepemimpinan, Dhafin mulai membahas langkah selanjutnya tentang misi yang akan dilaksanakan.
Ketika itu hari sudah memasuki waktu malam. Namun orang-orang itu seakan tanpa mengenal waktu, mereka terus saja mengadakan perundingan.
Ada satu informasi penting yang didapatkan oleh Tim Brian saat dalam menjalankan tugas. Informasi itu adalah adanya pergerakan pasukan Kerajaan Lengkara yang tengah menuju sebuah tempat.
Tempat yang dimaksud adalah Bukit Tolucan. Maksud pasukan kerajaan itu menuju ke bukit itu tidak lain ingin menyerang pasukan oposisi yang bermarkas di balik bukit tersebut.
Mendengar informasi ini Dhafin langsung menanggapinya dengan serius. Masalahnya markas atau kampung yang ada di balik bukit itu adalah markas Putri Athalia, salah satu calon istrinya.
Maka Dhafin segera memberi tahu kalau dia tahu tempat yang akan diserang oleh pasukan Kerajaan Lengkara itu, karena dia pernah ke sana. Lalu menerangkan secara singkat mengenai tempat tersebut.
Setelah itu mereka berencana akan ke sana keesokan harinya setelah menyinggahi para ksatria tangguh yang masih berada ujung tenggara Kerajaan Amerta.
★☆★☆★
__ADS_1