
Setelah selesai mengadakan pertemuan dengan Pangeran Revan di Kampung Naraya, Jessica beserta Freya dan Daniela memutuskan untuk kembali ke Istana Centauri malam itu juga.
Jessica benar-benar tidak tahu dan tidak menyadari kalau kepergiannya yang terlalu cepat itu, ada seseorang yang hatinya kecewa.
Tapi memang Jessica belum bisa memikirkan lelaki manapun, walau setampan bagaimana pun dia, hatinya masih tetap terisi sang tabib kecil.
Pergi ke Istana Centauri yang berada di Negeri Tabir Ghaib tidak bisa menggunakan ilmu teleportasi. Karena sesuai namanya Istana Centauri memang berada di dalam tabir ghaib yang tidak bisa ditembus oleh apapun.
Satu-satunya jalan untuk bisa pergi ke Istana Centauri harus melalui jalur yang khusus dibuat oleh pendiri awal Istana Centauri, Selir Heliana Arawinda. Yaitu melalui sebuah pintu ghaib yang dinamakan GERBANG CAHAYA.
Sementara Jessica, selain mempunyai ilmu teleportasi, dia juga sudah diajarkan bagaimana caranya keluar masuk Istana Centauri dengan menggunakan Gerbang Cahaya.
Setelah melakukan ritual pemanggilan Gerbang Cahaya dan pintu ghaib bercahaya itu muncul, maka masuklah Jessica dan kedua rekan sedivisinya.
Singkat cerita, Jenderal Jessica telah melaporkan mengenai perihal pergerakan pasukan istana yang hendak menyerang perkampungan sebelah utara kepada Yang Mulia Ratu Agung.
Juga menceritakan secara singkat tentang kondisi terkini perkampungan sebelah utara karena Yang Mulia Ratu Agung menanyakannya.
Setelah itu diadakan rapat khusus yang cuma dihadiri oleh para elit Istana Centauri, selain Selir Heliana Arawinda. Karena wanita yang sudah berumur 60-an itu tidak mau lagi disibukkan urusan pemerintahan Istana Centauri.
Setelah menghabiskan waktu kurang dari setengah hari pertemuan khusus itu usai sudah. Dan telah menghasilkan beberapa keputusan.
Di antaranya yaitu pasukan yang akan maju berperang nanti untuk sementara adalah Pasukan Khusus Kelas 2 berjumlah 200 personil. Dilengkapi dengan 2 Kepala Regu dan 1 Danpasus (Komandan Pasukan Khusus).
Pasukan Khusus Istana Centauri terdiri dari 3 kelompok besar atau kelas.
Pasukan Khusus Kelas 1, yaitu pasukan senior Istana Centauri atau pasukan perintis. Mereka berjumlah sekitar 600 personil, 6 Kepala Regu dan 1 Danpasus. Nama lain pasukan mereka adalah Pasukan Mawar Merah.
Pasukan Khusus Kelas 2, yaitu pasukan junior atau pasukan generasi ke 2 yang baru bergabung dalam kurun waktu ±8 tahun ini. Mereka berjumlah sekitar 1200 personil. Dan terbagi lagi menjadi 2 kelompok umur.
Kelompok pertama disebut Pasukan Mawar Kuning. Pasukan Khusus ini berpersonilkan pasukan junior yang umurnya kisaran 18-20 tahun. Mereka berjumlah sekitar 800 personil, 8 Kepala Regu dan 1 Danpasus.
Kelompok ke 2 disebut Pasukan Mawar Biru. Pasukan ini berpersonilkan pasukan junior yang umurnya kisaran 21-25 tahun. Mereka berjumlah 400 personil, 4 Kepala Regu dan 1 Danpasus.
Pasukan Khusus Kelas 3, yaitu pasukan junior yang kehebatannya setingkat di bawah Pasukan Khusus Kelas 2. Mereka berjumlah sekitar 1000 personil. Dan juga terbagi menjadi 2 kelompok umur.
Kelompok pertama disebut Pasukan Mawar Putih. Pasukan ini berpersonilkan pasukan junior yang umurnya kiisaran 18-20 tahun. Mereka berjumlah 600 personil, 6 Kepala Regu dan 1 Danpasus.
Kelompok ke 2 disebut Pasukan Mawar Jingga. Pasukan ini berpersonilkan pasukan junior yang umurnya kisaran 21-25 tahun. Mereka berjumlah 400 personil, 4 Kepala Regu dan 1 Danpasus.
Dan Pasukan Khusus Kelas 2 yang ikut berperang adalah Pasukan Mawar Kuning. Dan Danpasus-nya bernama Jenderal Abila Lesya.
Ikut pula orang-orang pilihan Istana Centauri, atau lebih tepatnya jawara-jawara Istana Centauri. Jumlah yang diikutsertakan cuma 20 orang dari sekian banyak jawara Istana Centauri.
Adapun Jenderal Jessica tetap ikut bersama 15 personil pasukannya yang tergabung dalam Pasukan Divisi Penyelidik.
Perlu diketahui, Pasukan Divisi Penyelidik merupakan salah satu pasukan elit yang dipunyai Istana Centauri. Personilnya cuma berjumlah 300-an orang. Semuanya dari pasukan junior yang umurnya kisaran 18-20 tahun.
Personil yang tergabung di dalamnya adalah orang-orang yang memang benar-benar terpilih, sama seperti yang tergabung dalam Pasukan Khusus. Dan kehebatan personilnya hampir setara dengan jawara Istana Centauri.
Maka pada senja harinya Pasukan Istana Centauri diberangkatkan ke Kampung Naraya melalui jalur Gerbang Cahaya.
★☆★☆
Sebenarnya Yang Mulia Ratu Agung ingin ikut juga berperang bersama pasukannya. Namun dengan segala hormatnya 2 Bunda Istana Centauri dan 12 Tetua Istana Centauri menahannya.
Alasannya perang ini masihlah perang kecil, belum perang besar. Belum pantas bagi Yang Mulia Ratu Agung untuk ikut serta dahulu.
__ADS_1
Tapi Ratu Agung Aurellia beralasan bahwa dia ingin melihat perkampungan di ujung sebelah utara itu dari dekat, terkhusus Kampung Naraya.
Karena Jenderal Jessica melaporkan padanya kalau Pangeran Revan ingin menjadikan perkampungan sebelah utara sebagai basis cadangan. Makanya dia beralasan ingin melihat langsung perkampungan itu, apakah pantas dijadikan basis atau tidak.
Namun tetap saja 14 dewan tertinggi Istana Centauri tidak mengijinkan untuk Ratu Agung Aurellia ikut serta.
"Kalau cuma itu alasanmu," tutur Putri Clarabelle dengan lemah lembut, "kamu bisa mewakilkannya kepada salah satu Pengawal Pribadi-mu, tidak perlu harus kamu yang terjun langsung."
"Kamu bisa mengutus Jenderal Ariesha kalau kamu mau," sambung Putri Richelle.
Meskipun agak kecewa juga, tapi dia cukup gembira kalau Jenderal Ariesha yang diutus menyurvei kampung itu. Setidaknya cukup mewakili alasan sebenarnya kenapa dia mau meninjau secara langsung tempat yang diajukan Pangeran Revan untuk dijadikan sebagai basis cadangan.
Alasan yang sesungguhnya adalah dia penasaran dengan Kampung Naraya ketika dia menanyakan secara spesifik kepada Jenderal Jessica.
Dia pernah mendengar Jenderal Ariesha memberitahukan kepadanya tentang sebuah tempat yang ada jurangnya di mana Dhafin jatuh di situ.
Dan dia juga pernah bertanya secara langsung kepada Dhafin tentang nama tempat tersebut. Meski Dhafin tidak menyebutkannya namanya, tapi Dhafin menyebutkan keadaan tempat tersebut cukup medetail.
Jurang di mana Dhafin jatuh tidak terlalu jauh dari sebuah kampung yang berada di dataran tinggi. Ratu Agung Aurellia masih mengingat penuturan Dhafin tentang lokasi atau tempat tersebut.
Sama seperti dia selalu mengingat akan sang pujaan hatinya itu. Dan dia akan tetap terus mengingatnya jangan sampai terlupakan. Mengingat akan wajah tampan dan senyumannya yang menawan.
Membayangkan bagaimana wajah Dhafin ketika sudah dewasa yang tentu lebih tampan lagi. Agar ketika pertama kali melihat ketika Dhafin sudah dewasa, dia langsung tahu kalau yang dilihatnya itu adalah Dhafin.
Tentunya saat ini Dhafin sudah dewasa. Dia tahu pasti Dhafin sekarang sudah berumur 20 tahun. Dia semakin penasaran melihat wajah Dhafin dewasa. Dan rasa rindunya kepada Dhafin sudah tidak terbendungkan lagi.
Ada suatu perasaan aneh yang terus bergejolak di dalam dirinya, yang dia rasa sesuatu itu bukanlah sekedar perasaan suka yang biasa.
Ketika dia mengungkapkan tentang perasaannya itu kepada perempuan tua yang sudah dinggap nenek, Selir Heliana, maka sang selir langsung tahu kalau perasaan itu adalah CINTA.
Ratu Agung telah jatuh cinta. Ratu Agung telah mencintai seseorang. Seseorang itu tidak lain adalah Dhafin.
Tapi entah di mana Dhafin sekarang dia tidak tahu lagi.
Ketika kakaknya dan Kelvin datang ke Istana Centauri mendampingi Pangeran Nelson, membuat Yang Mulia Ratu Agung terkejut heran.
Tidak terkecuali 4 Pengawal Pribadi-nya; Ariesha, Jovita (Namira), Keysha (Naifa),dan Grania yang kesemuanya berpangkat Jenderal.
Setelah selesai mengadakan pertemuan dengan para petinggi Istana Centauri, Ratu Agung langsung menanyakan kenapa mereka berdua bisa bergabung dengan Pasukan Jubah Merah dan
Terus, di mana Dhafin sekarang? Juga di mana Aziel dan Keenan? Kenapa mereka bisa terpisah?
Tapi dia bertanyanya bukan di tempat rapat, melainkan di kediaman pribadinya, di dekat bangunan utama Istana Centauri. Yang menaninya ketika itu cuma 4 Pengawal Pribadi-nya.
Maka Brian menceritakan bagaimana dia dan Kelvin bisa berpisah dengan Dhafin dan 2 rekan yang lainnya; Aziel dan Keenan.
(Untuk lebih jelasnya mengapa mereka sampai berpisah silahkan menengok kembali BAB 61 TAHUN KEHILANGAN DAN TERPISAH-****PISAH****!).
Setelah mendengar cerita Brian dan Kelvin tersebut barulah kelima gadis cantik itu mengerti duduk persoalannya.
Mereka tidak menyangka kalau kedua pemuda tampan yang karakternya hampir mirip itu ternyata dulunya juga korban penangkapan Pasukan Jubah Merah yang ternyata sekarang termasuk bagian dari pasukan tersebut.
Nah sekarang, mendengar Dhafin menghilang secara Ghaib begitu, perasaan Yang Mulia Ratu Agung berubah menjadi rasa khawatir yang sangat.
Tidak kalah dengan kecemasan yang dirasakan oleh Ariesha. Karena Dhafin adalah kakaknya meski kakak angkat.
Sedangkan Jovita dan Keysha, meski juga khawatir terhadap Dhafin, tapi hati mereka lebih khawatir pada pembimbing mereka dulu. Yaitu Aziel dan Keenan.
__ADS_1
Sedangkan Grania, karena rasa kesetiakawanannya, dia mengkhawatirkan keberadaan mereka semua. Hatinya tidak bertitik berat pada salah satu dari mereka.
★☆★☆
Pasukan Istana Centauri yang berjumlah 200 personil lebih telah tiba di Kampung Naraya pada malam hari. Dan para penduduk Kampung Naraya menyambut mereka dengan sukacita.
Dan ternyata siangnya Pasukan Jubah Merah dari Markas Centaurus telah tiba duluan. Mereka berjumlah 100 personil berserta belasan jawara Markas Centaurus.
Sebenarnya para penduduk heran juga terhadap semua pasukan itu. Mereka berdatangan ke kampung ini dengan cepat. Dari mana mereka datang para penduduk sama sekali tidak bisa mengetahui.
Pangeran Revan dan pasukannya hanya memberi tahu kepada para penduduk kalau semua pasukan itu berasal dari tempat yang amat jauh, tanpa meyebut nama tempatnya.
Namun para penduduk tidak terlalu memaksa mereka untuk memberitahukannya. Mereka tetap menyambut ramah para pasukan dan menjamu mereka dengan sebaik-baiknya.
Beberapa hari ke depan para penduduk Kampung Naraya harus sibuk melayani semua pasukan yang melindungi kampung mereka itu. Tapi mereka dengan senang hati melakukannya.
Sedangkan para penduduk dari 3 kampung lainnya, sikap mereka dingin-dingin saja ketika mengetahui kedatangan para pasukan itu. Sepertinya mereka sudah terhasut oleh kepala kampung masing-masing.
Dan lebih parahnya lagi, ketika Pangeran Revan dan beberapa rekannya menghimbau semua penduduk 3 kampung di bawah Kampung Naraya untuk mengungsi ke Kampung Naraya, tak ada satu pun penduduk yang mengindahkan himbauan itu.
"Wajar kalau para penduduk menurut saja kepada kepala kampung mereka," komentar Jenderal Ariesha ketika para petinggi pasukan mengadakan rapat keesokan harinya. "Meskipun mereka terancam bahaya sebenarnya."
"Tapi, bukan berarti kita mengabaikan mereka bukan?" lanjutnya.
"Itulah salah satu permasalahan yang akan kita bicarakan sekarang, Jenderal Ariesha," kata Pangeran Revan.
"Mungkin ada baiknya kita minta pendapat Tetua Darius terlebih dahulu," kata Jenderal Jessica mengusulkan. "Bagaimana pandangan beliau terhadap masalah ini?"
"Bagaimana, Tetua Darius?" tanya Pangeran Revan sambil memandang orang tua yang juga diikutkan dalam rapat ini. "Tuan punya pendapat?"
"Sebenarnya saya menjadi kesal juga atas sikap keras kepala dari 3 kepala kampung di bawah dan menghasut para penduduknya agar tidak mau mengungsi," kata Tetua Darius dengan santun.
"Akan tetapi saya amat berharap kepada kalian semua untuk tetap menolong para penduduk dari amukan para prajurit istana," lanjutnya.
"Saya sama sekali tidak mengerti tentang ilmu perang," lanjutnya lagi. "Maka saya menyerahkan segala sesuatu mengenai hal ini kepada kalian semua."
"Baiklah, Tetua Darius," kata Pangeran Revan menanggapi. "Permintaan tuan kami terima dengan baik."
Lalu dia berkata sambil memandang seluruh peserta rapat.
"Berarti kita sepakati bahwa kita tetap menolong seluruh penduduk kampung bawah."
"Apakah Tuan Revan yakin kalau pasukan istana akan menyasar penduduk bawah juga selain penduduk di sini?" tanya Ariesha.
"Kami merasa yakin kalau pasukan istana pasti juga akan menyasar para penduduk 3 kampung lainnya, Nona Ariesha," Brian yang menjawab sambil menatap lekat pada wajah cantik Ariesha.
Dari sejak kecil hingga sekarang dia menyukai gadis itu. Namun sikap yang ditunjukkan gadis itu kepadanya tidak lebih dari sekedar teman.
Lagi pula sebenarnya dia belum pernah mengungkapkan perasaannya kepada Ariesha. Hanya sekedar menatap saja kepada sang gadis. Tapi tatapannya itu seakan sebagai ungkapan tentang perasaannya kepada si gadis.
Namun sampai sekarang kenapa Ariesha belum merespon juga? Dia yakin Ariesha pasti mengerti arti tatapannya.
"Kalau begitu," kata Ariesha tanpa melihat ke arah Brian, "kita harus sepakat untuk tetap menolong penduduk kampung bawah."
Setelah itu mereka terus membicarakan mengenai teknis atau metode dalam menolong para penduduk. Setelah mereka menyepakati tentang teknisnya di lapangan bagaimana menolong para penduduk mereka beralih membicarakan permasalahan berikutnya.
Para petinggi pasukan itu terus saja berdiskusi. Membicarakan bagaimana siasat dan strategi yang tepat ketika perang melawan pasukan istana.
__ADS_1
Bagaimana ketika perang nanti tanpa menghancurkan fasilitas bangunan para penduduk.
★☆★☆