Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 38 PENGAKUAN CINTA DHAFIN DAN ARIESHA


__ADS_3

Malam itu di gedung kediaman Jenderal Felix....


Malam berselimut gelap namun tampak begitu indah. Langit cerah, nyaris tak ada awan yang menggantung. Gemintang bertaburan di atas cakrawala, memendarkan cahaya yang gemerlap.


Betapa malam ini begitu indah....


Tampak sebuah bangunan berbentuk panggung berukuran kecil setinggi empat tombak. Letaknya di samping kanan Pavilium Pelangi, kamar Ariesha.


Panjang dan lebar panggung segi empat itu sama, sekitar satu tombak lebih. Dan di keempat sudutnya terdapat lentera yang tergantung.


Di atas panggung tinggi berpagar keliling itu tampak Ariesha dan Dhafin tengah duduk santai di atas kursi bersandar dan panjang. Jarak duduk mereka begitu dekat, begitu rapat.


Sambil menikmati malam yang syahdu, menyaksikan langit yang bertabur bintang, kedua insan kecil itu saling berbincang-bincang ringan.


"Kanda! Apakah kamu tidak mau lagi berteman dengan Tuan Putri?" tanya Ariesha setelah terdiam beberapa saat. Sebelumnya mereka telah melakukan obrolan pembuka.


Semenjak hari dimana Dhafin selesai menyembuhkan Putri Aurellia hingga sekarang, dia maupun Dhafin belum pernah lagi mengobrol soal Putri Aurellia.


Karena semenjak hari itu hingga sekarang Dhafin tidak pernah bertanya kepadanya tentang Putri Aurellia. Entah itu bertanya kabar atau masalah besar yang tengah dihadapi bidadari kecil itu. Atau apalah....


Sikap Dhafin itu seakan-akan tidak pernah mengenal Putri Aurellia. Atau setidaknya tidak menghiraukan lagi. Dia tahu kalau waktu itu kandanya kecewa terhadap bidadari kecil itu karena masih meragukan kandanya untuk membantu mengatasi permasalahannya.


Sementara dia juga untuk memancing pembicaraan soal Putri Aurellia tidak semudah itu. Tidak bisa secara sambil lalu membicarakannya. Perlu waktu yang khusus.


Dia hendak membicarakan masalah Putri Aurellia yang sudah diceritakan semuanya padanya kepada Dhafin. Dan baru sekarang punya kesempatan.


Karena di samping kandanya seolah tidak perduli lagi dengan Putri Aurellia, belakangan ini juga jarang di rumah kalau siang hari. Apalagi teman lelakinya sudah banyak.


"Sebaiknya kamu memikirkan bagaimana kesiapanmu nanti di acara seleksi penerimaan calon prajurit," kata Dhafin seperti enggan membicarakan tentang Aurellia. "Tidak usah dulu memikirkan yang tidak penting."


Membicarakan tentang gadis yang sudah dijadikannya laksana bidadari kecil tidak penting baginya? Apakah sebegitu bencinya Dhafin kepada Putri Aurellia sehingga seolah tidak mau menghiraukan lagi?


"A-apakah kamu... membenci Tuan Putri, Kanda?" tanya Ariesha dengan suara agak pelan dan hati-hati. Sepasang mata indahnya menatap lekat pada wajah kandanya.


Di wajah tampan itu dia melihat betapa tenang dan teduhnya wajah itu laksana air telaga yang diam.


"Kamu ini aneh," kata Dhafin masih dengan suara lemah lembut. "Tadi menanyakan soal pertemanan. Sekarang kamu malah bertanya soal rasa benci. Maksudmu apa?"


"Aku melihat kamu sepertinya tidak perduli lagi dengan Tuan Putri," Ariesha masih terus menatap wajah teduh itu.


"Dia tidak percaya padaku, buat apa aku memikirkannya?" nada suara Dhafin berubah agak datar, pertanda menekan emosinya. "Tidak ada hal mendasar yang membuatku harus perduli padanya."


"Tuan Putri bukan tidak percaya padamu, Kanda," Ariesha berusaha untuk menepis anggapan salah Dhafin. "Hanya saja... dia belum terlalu mengenalmu."


"Aku sudah melakukan hal besar dalam hidupnya," suara Dhafin sudah berubah datar, tapi masih dalam intonasi yang rendah. "Apakah hal itu belum cukup untuk mengenalkan tentang siapa aku padanya?"


★☆★☆


Ariesha tahu Dhafin tidak bermaksud menyombongkan diri dengan ucapannya itu. Dan apa yang diucapkannya itu memang benar. Dhafin telah melakukan hal besar dalam hidup Putri Aurellia. Hal itu diakui sendiri oleh sang putri.


"Asal kamu tahu," kata Dhafin yang kini suaranya tidak datar lagi setelah terdiam sebentar. Suaranya kembali kalem. "Jika dia masih tetap dalam penyakit kulitnya itu, tidak ada setahun lagi dia akan bunuh diri."


Ariesha langsung terkejut mendengar pernyataan Dhafin barusan. Hatinya membenarkan sepenuhnya ucapan itu. Karena memang Aurellia sudah dua kali melakukan percobaan bunuh diri.


Kalau tidak cepat digagalkan oleh Namira, Putri Aurellia belum tentu hidup hingga sekarang. Dan sejak percobaan bunuh diri yang ke dua, Namira hampir tidak pernah lepas menjaga Putri Aurellia.


"Ucapanmu benar, Kanda," desah Ariesha setelah beralih menatap langit kelam. "Tuan Putri sudah dua kali mencoba bunuh diri...."


Namun dengan kesembuhannya sekarang, Putri Aurellia sudah tidak memikirkan untuk mencoba bunuh diri lagi. Meski hatinya masih tetap berduka.


Tapi setelah dia menceritakan masalah besarnya kepada Ariesha dan Grania, setidaknya beban pikiran dan rasa sedih di dalam hatinya sedikit berkurang.


Menceritakan tentang masalah pribadi kepada sahabat karib bukanlah aib. Setidaknya sedikit mengurangi beban masalah, meski tidak bisa memberi solusi.


Seperti halnya pada Ariesha maupun Grania. Putri Aurellia sudah menceritakan masalah besarnya kepada mereka, tapi mereka tidak bisa berbuat banyak selain hanya bisa menasihati saja.


Seandainya Putri Aurellia menceritakan langsung kepada Dhafin, bukan saja Dhafin bisa memberikan solusi, bahkan memecahkan masalahnya. Karena inti masalahnya adalah Yang Mulia.


Setelah mendengar ucapan Ariesha barusan, Dhafin menoleh sebentar padanya. Lalu kembali memandang langit.


Ucapan Ariesha itu tidak membuatnya terkejut. Karena memang sudah dia perkirakan. Dan tidak berminat untuk mengomentarinya.


"Kanda! Tuan Putri merasa bersalah kepadamu," kata Ariesha sambil kembali memandang Dhafin. Ingin tahu reaksi kandanya dengan ucapan pancingan itu.


"Aku merasa tidak berbuat apa-apa," kata Dhafin seolah menghindar. "Kenapa harus merasa bersalah segala?"

__ADS_1


"Tuan Putri menduga kamu kecewa akibat dia belum mau cerita tentang masalahnya kepadamu," kata Ariesha menjelaskan. "Itulah makanya kenapa Tuan Putri merasa bersalah."


"Ditambah lagi sikapmu sebelum meninggalkannya seolah menganggap Tuan Putri bukan temanmu lagi," lanjutnya.


"Lantas kenapa dia tidak mau cerita waktu itu," kata Dhafin menyayangkan, "yang akhirnya dia merasa bersalah segala?"


"Lagipula dia yang menganggapku bukan temannya," lanjutnya. "Aku hanya mengikuti kemauannya saja."


"Aku semakin merasa kamu membenci Tuan Putri, Kanda," kata Ariesha menuduh.


"Bukankah tak ada alasan aku membencinya?"


"Kamu kecewa padanya karena tidak mau langsung cerita tentang masalahnya kepadamu waktu itu."


"Kecewa bukan alasan untuk membenci."


"Terus kenapa kamu tidak perduli lagi padanya?"


"Kamu sudah tahu jawabannya."


"Sekarang dia sudah percaya kepadamu seutuhnya. Apa lagi alasanmu untuk tidak perduli padanya? Apakah karena terlambat mempercayaimu?"


Seketika Dhafin menoleh pada Ariesha. Dan menatapnya cukup lama. Binar matanya serta raut wajahnya menunjukkan keheranan.


Kenapa Ariesha seperti ngotot sekali agar dia perduli sama Putri Aurellia? Apa maksudnya? Apakah Ariesha ingin menyandingkannya dengan bidadari kecil itu? Apakah Ariesha tidak menyadari kalau sebenarnya....


★☆★☆


Sedangkan Ariesha, dipandang seperti itu semakin menatap Dhafin lekat-lekat seraya tersenyum-senyum. Lalu sambil membelalakkan mata indahnya dia berkata.


"Iya, benar. Aku ingin menyandingkanmu dengan Tuan Putri. Apa kamu keberatan?"


Dhafin lantas terkejut. Kenapa dia terlambat menyadari kalau Ariesha juga bisa membaca pikiran orang? Cepat-cepat dia melengos, kembali menatap langit.


Melihat ekspresi Dhafin itu Ariesha langsung tertawa cekikikan sambil membekap mulutnya dengan telapak tangan kanannya.


"Jaga ucapanmu, Ariesha!" kata Dhafin memperingatkan.


"Apa yang salah dengan ucapanku, Kanda?" tanya Ariesha sambil masih tersenyum lebar, tapi tidak cekikikan. "Atau kamu merasa tak pantas bersanding dengan Tuan Putri?"


"Tapi kalau boleh jujur apa kamu menyukainya?"


"Kamu sudah tahu jawabannya."


"Aku bisa menebak pikiranmu, tapi tidak bisa hatimu."


"Tidak ada alasan aku menyukainya," sahut Dhafin dengan santai, tanpa ada tekanan.


Memang dia tidak menyukai Tuan Putri, meskipun cantik bagai bidadari. Dia tidak mau mengisi wanita lain di dalam hatinya selain wanita yang dia sukai.


"Tuan Putri bukan cuma berwajah cantik, Kanda, tapi juga berperangai mulia serta baik hati. Bukankah semua itu merupakan alasan untuk menyukainya?"


"Aku harap kamu tidak memaksaku untuk menggandakan rasa sayangku kepada gadis lain selain dirimu, Ariesha."


Mendengar ucapan yang tulus itu hati Ariesha begitu tersentuh karena terharu. Senyumnya kini berganti menjadi senyum bahagia. Perlahan dia menyandarkan kepalanya ke pundak kiri Dhafin sambil merangkul tangan kirinya.


"Disayangi olehmu merupakan anugrah terindah dalam hidupku, Kanda," ungkap Ariesha penuh kelembutan. "Aku amat beruntung disayangi oleh pria sebaik kamu...."


"Aku berharap kasih sayangmu itu kepadaku akan tetap abadi hingga aku atau kamu mati."


"Itu sudah pasti, Ariesha," kata Dhafin dengan tulus seraya tersenyum manis.


"Tapi, Kanda..., aku harap kasih sayangmu itu kepadaku... hanya sebatas kasih sayang seorang kakak kepada adiknya. Tidak boleh lebih."


"Kenapa kamu berkata begitu, Ariesha?" tanya Dhafin terkejut heran tidak mengerti.


"Terus terang... aku tidak bisa menyukaimu lebih dari seorang kakak, Kanda," ungkap Ariesha lagi.


"Karena...," lanjutnya, "aku merasa tidak pantas menguasai hatimu hanya menyukai diriku seorang, tanpa hatimu itu terisi oleh gadis lain."


"Ucapanmu sungguh melantur, Ariesha. Berhentilah berkata yang tidak-tidak!"


"Dengarkan aku, Kanda! Ini ucapan tulus dariku. Sungguh!"


Ucapan Ariesha tersebut seolah ungkapan sebuah sumpah. Dhafin menyayangkan kenapa Ariesha terlalu cepat mengungkapkannya sekarang. Apakah dia sudah yakin ucapannya itu kelak tidak akan berubah?

__ADS_1


Kenapa tidak ditangguhkan dulu, menunggu dia dewasa baru diungkapkan? Siapa tahu dengan berjalannya waktu dia menyayangi Dhafin seutuhnya tanpa mengorbankan perasaannya.


"Kenapa kamu korbankan perasaanmu?" tanya Dhafin tidak mengerti.


"Karena aku menyayangimu, Kanda," sahut Ariesha bernada mantap. "Makanya itu, aku ingin kamu menyukai juga gadis lain selain diriku...."


"Kamu menyukai gadis lain itu sebagai istrimu dan kamu menyukaiku sebagai adikmu."


"Aku sengaja sedari sekarang mengatakannya kepadamu, agar kamu tidak berusaha menyukaiku melebihi dari seorang adik. Karena aku tidak menginginkannya."


"Apa kamu sudah yakin dengan ucapanmu itu?"


"Aku akan senantiasa berusaha meyakinkan hatiku setiap saat, Kanda."


Dhafin merundukkan kepalanya ke samping kiri. Lalu mengecup pucuk kepala Ariesha dengan lembut penuh kasih sayang. Dan Ariesha meresapi kecupan itu dengan senyum bahagia.


★☆★☆


"Kanda! Tuan Putri sudah menceritakan masalahnya padaku dan Grania," kata Ariesha memecah kebisuan yang cukup terlalu lama. "Apakah kamu ingin mendengarnya?"


Dhafin terdiam sejenak, tak langsung menjawab. Tapi tak lama terdengar dia berkata tanpa menoleh.


"Kalau mau cerita, cerita saja. Aku akan mendengarkan."


Ariesha tidak lantas berkata dengan segera. Seketika dia majukan wajahnya ke pipi kiri Dhafin. Tepatnya memajukan bibirnya.


Terus mengecup pipi Dhafin agak cepat. Kemudian kembali bersandar di pundak Dhafin sambil tersenyum. Hatinya amat senang kandanya seperti kembali perduli kepada Tuan Putri.


Dhafin yang menerima serangan itu diam saja. Ariesha biasa melakukan hal itu kalau lagi bermanjaria begini.


"Kamu mau cerita apa tidak sih? Malah mencium orang!" kata Dhafin setengah menggerutu.


"Kamu 'kan kandaku," kata Ariesha merajuk manja. "Apa salah seorang adik mencium kakaknya?"


Dhafin melirik sebentar gadis kecil itu, lalu kembali menatap langit. Tanpa mengomentari sikap manja Ariesha. Tanpa menunjukkan ekspresi apapun.


Sedangkan Ariesha masih tetap bersandar di pundak Dhafin. Tanpa melihat sikap Dhafin. Tapi tak lama dia berkata bernada tanya.


"Kamu mau aku cerita dari mana?"


"Kenapa Tuan Putri dikeluarkan dari istana dan menganggap dirinya bukan lagi keluarga istana?"


Ariesha mengangkat kepalanya dari pundak kiri Dhafin. Terus duduk bersandar di sandaran kursi sambil memandang langit, dan berkata.


"Kejadiannya bermula ketika Tuan Putri dituduh telah membunuh bundanya, permaisuri yang lama pada lima tahun yang lalu...."


"Sejak saat itu dia dikucilkan dari keluarga istana karena Yang Mulia melarang semua keluarga istana untuk mengunjunginya...."


Dhafin terkejut tidak percaya mendengar ucapan Ariesha barusan. Tuan Putri dituduh telah membunuh ibunya sendiri? Apakah benar demikian?


"Dua tahun kemudian Tuan Putri terkena penyakit kulit. Tapi Yang Mulia malah menuduhnya sebagai kutukan akibat dari kedurhakaan Tuan Putri karena telah membunuh bundanya sendiri...."


"Maka saat itu juga Yang Mulia mengeluarkannya dari istana. Lalu menyebar tuduhan bahwa sebab Tuan Putri diusir dari istana karena terkena kutukan."


"Apa benar Tuan Putri telah membunuh bundanya?" tanya Dhafin menyelidik.


"Tidak benar," kata Ariesha mantap. "Tuan Putri berani bersumpah kalau dia benar-benar tidak membunuh bundanya...."


"Waktu itu dia melihat bundanya tergeletak tanpa nyawa di atas pembaringannya dalam keadaan dada bundanya tertancap pisau...."


"Tuan Putri menggenggam pisau itu hendak mencabutnya. Bersamaan Yang Mulia masuk kamar dan melihat Tuan Putri masih menggenggam pisau. Akhirnya keluarlah tuduhan kalau Tuan Putri telah membunuh bundanya."


"Pasti sebelumnya ada yang telah membunuh permaisuri," gumam Dhafin. "Tapi kenapa Yang Mulia tidak menyelidiki kasus itu? Malah menuduh putrinya sebagai pembunuh."


"Itulah yang membuat Tuan Putri kecewa terhadap Yang Mulia sehingga Tuan Putri membencinya sampai sekarang. Apalagi Yang Mulia tidak memperdulikannya lagi semenjak peristiwa itu hingga sekarang."


Pantas saja Dhafin melihat kebencian dalam diri Putri Aurellia. Ternyata disebabkan oleh perbuatan Yang Mulia yang menurutnya tidak adil terhadapnya.


Dhafin tidak bisa menyalahkan sikap Putri Aurellia terhadap Yang Mulia sepenuhnya. Menurutnya hal itu adalah wajar.


Namun di sisi lain, dia merasa ada yang aneh dari sikap Yang Mulia terhadap Putri Aurellia. Mengingat, prilaku Yang Mulia yang begitu mulia serta arif bijaksana.


Mana mungkin orang yang bersifat begitu bisa berbuat tidak adil terhadap darah dagingnya sendiri?


Malam semakin larut. Dingin semakin menyelimuti. Namun kakak beradik itu masih betah menikmati suasana malam sambil terus berbincang-bincang.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2