
Waktu terus bergulir, mentari terus merangkak menggapai ufuk barat. Sinarnya sudah tak garang lagi seperti siang tadi, sudah berubah hangat penuh kedamaian.
Kala itu sore hari menjelang senja....
Tampak sepasang muda-mudi tengah berjalan agak cepat menuju sebuah jurang batu yang maha dalam. Di belakang punggung mereka sudah tertinggal hamparan hutan sekitar seratusan tombak lebih jauhnya.
Yang melangkah sebelah kiri adalah pemuda tampan berpakaian panjang warna hitam. Kepalanya yang berambut panjang diikat ke belakang berhiaskan topi menyerupai camping juga warna hitam.
Dia bersenjatakan pedang bermata tunggal sedikit melengkung yang warangka dan gagang pedangnya juga berwarna hitam. Pedangnya itu terselip di sabuk sebelah kirinya. Pemuda itu tak lain adalah Brian Darel.
Di sebelah kanan Brian adalah seorang gadis amat cantik laksana bidadari berpakaian rangkap. Pakaian luarnya berupa kain panjang hingga ke bawah betis dan cukup tebal berwarna biru laut.
Bagian depannya terbelah dari pinggang hingga terus ke bawah alias tak berkancing. Lengannya panjang tidak terlalu lebar.
Terlilit sabuk dari logam berwarna kuning keemasan. Di bagian tengah depan sabuk itu terdapat ukiran burung phoenix. Di dada sebelah kirinya juga terdapat rajutan burung phoenix berwarna keemasan.
Rambutnya tebal panjang lurus sepinggang dengan sebagian disanggul indah di belakang atas kepalanya. Berarnelkan sebentuk mainan pedang dari batu giok. Berikatkan pita dari sutra halus sewarna dengan baju luarnya.
Gadis itu bersenjatakan pedang yang agak lebar yang sekarang tergenggam di tangan kanannya.
Perlu diketahui, model seragam berpakaian seperti itu menandakan orangnya merupakan para pengawal Ratu Agung; Pengawal Khusus dan Pengawal Pribadi.
Cuma sedikit perbedaan saja, yaitu warna pakaian luar dan lencana bintang yang terpasang di kedua pundak.
Dan gadis cantik itu adalah salah satu dari Pengawal Pribadi Ratu Agung. Ditandai dengan terdapatnya lencana bintang 4 di kedua pundaknya. Dia tidak lain adalah Jenderal Ariesha Divya.
Dia datang ke Kampung Naraya ini selain untuk berperang, juga melaksanakan tugas yang dititahkan Yang Mulia Ratu Agung. Yaitu meninjau sebuah tempat di bagian barat Kampung Naraya yang terdapat jurang maha dalam.
Tempat itu di duga ada kemiripan dengan lokasi di mana Dhafin pernah mengalami musibah yang hampir merenggut nyawanya. Yaitu jatuh ke dalam jurang.
"Ariesha! Sebenarnya kamu mau ke mana sih?" tanya Brian mulai heran melihat Ariesha berlari kecil menuju jurang yang tidak jauh lagi di depan mereka.
Sepanjang jalan dari Kampung Naraya tadi mereka cuma ngobrol biasa. Membincangkan tentang Brian belajar di Markas Centaurus dan bagaimana suasana yang ada di sana.
Begitu juga dengan Ariesha, menceritakan bagaimana dia belajar dengan giat di Istana Centauri sehingga dia bisa terpilih sebagai salah Pengawal Pribadi Ratu Agung.
Sebelumnya Ariesha juga menceritakan bagaimana dia, Ratu Agung dan yang lain bisa dibawa ke Istana Centauri. Dan tidak kalah pentingnya juga tentang bagaimana ceritanya Ratu Agung Aurellia bisa diangkat menjadi Ratu Agung di Istana Centauri.
Sewaktu Brian berada di Istana Centauri waktunya cukup singkat. Jadi dia tidak sempat menanyakan hal itu kepada adiknya, Ratu Agung Aurellia.
Itu yang mereka bincangkan sepanjang perjalanan. Dan hal lain yang cuma obrolan biasa.
Brian belum ada satu kata pun membicarakan tentang ungkapan perasaannya kepada Ariesha. Bahkan ucapan ke arah situ pun belum ada.
Sedangkan Ariesha juga bersikap seolah masa bodoh dengan perasaan Brian yang sudah diisyaratkan lewat pandangan mata.
Dan baru saja tadi dia hendak mengucapkan sesuatu, Ariesha sudah melangkah amat cepat, bahkan berlari.
★☆★☆
"Ayo, Kak Brian! Keburu malam," ajak Ariesha sambil terus berlari kecil.
"Sebenarnya kamu mau apa ke jurang itu?" tanya Brian makin heran sambil terus mengikuti Ariesha.
"Nanti aku ceritakan."
Tidak lama kemudian sepasang muda-mudi itu sudah sampai di dekat mulut jurang. Ariesha melongok ke mulut jurang yang maha dalam itu. Sedangkan Brian menatap matahari sore yang semakin jatuh di ufuk barat.
""Sebenarnya kamu cari apa di sini, Ariesha?" tanya Brian setelah puas memandang ufuk barat.
Dia bertanya begitu sambil menengok pada Ariesha yang masih saja melongok ke dasar jurang. Tak ada yang bisa dilihat ke dalamnya selain hanya pekatnya kegelapan. Ditambah lagi kabut yang menghitam.
"Apa kamu pernah mendengar cerita kandaku kalau dia pernah jatuh ke dalam jurang?" Ariesha malah bertanya. Sepasang mata indahnya kini sudah beralih menatap ufuk barat yang berpanorama indah.
"Dia belum pernah cerita begitu kepadaku," sahut Brian mengaku. "Aku juga tidak pernah bertanya karena tidak terpikirkan. Apa memang dia pernah jatuh ke jurang?"
"Ya, Kanda Dhafin pernah jatuh ke jurang," tutur Ariesha mengungkapkan. "Tapi dapat diselamatkan oleh seseorang yang akhirnya menjadi gurunya."
"Apa kamu menduga dia jatuh ke jurang ini?" tebak Brian yang sekarang mengerti mengapa Ariesha mengajaknya ke mari.
"Kepastiannya hanya Kanda Dhafin yang tahu," kata Ariesha tidak berani memastikan. "Hanya saja tempat yang pernah dia ceritakan mirip dengan tempat ini."
__ADS_1
"Berarti dia tidak menyebut nama tempatnya kepadamu," kata Brian menebak pasti.
"Kanda tidak mau bilang meski aku yakin dia masih ingat. Kanda hanya menyebut ciri-ciri tempatnya saja."
"Di sini juga pernah ada seorang bocah 5 tahun terjatuh," kata Brian seakan bergumam. "Kalau begitu aku menduga sesuatu."
"Menduga apa?" tanya Ariesha langsung. "Siapa yang pernah jatuh ke jurang ini juga?"
"Kira-kira hampir 20 tahun yang lalu...."
Lantas Brian menceritakan tentang sebuah peristiwa yang pernah terjadi di Kampung Naraya kepada Ariesha. Yaitu kisah tentang seorang nyonya muda dan anak kecil yang pernah tinggal selama 5 tahun di Kampung Naraya.
(Untuk mengetahui cerita lebih rincinya, silahkan membaca kembali BAK 71 PERTEMUAN DENGAN 4 KEPALA KAMPUNG 1!)
Di ujung ceritanya Brian menuturkan bahwa bocah 5 tahun itu adalah pangeran yang hilang yang selama ini masih dalam pencarian.
Setelah selesai menceritakan peristiwa itu, Brian lantas berkata bernada menduga.
"Setelah mencocokkan ceritamu dengan peristiwa yang pernah terjadi di tempat ini, aku menduga kalau bocah 5 tahun yang pernah jatuh ke jurang ini adalah Dhafin."
"Kalau begitu Kanda Dhafin termasuk keturunan Yang Mulia Raja Neshfal," tebak Ariesha dengan suara agak bergetar saking terkejutnya.
"Aku belum bisa memastikan apakah Dhafin merupakan pangeran dari keturunan Yang Mulia Raja Neshfal yang hilang itu atau bukan...," kata Brian berhati-hati.
"Hanya saja Pangeran Revan sudah memastikan kalau bocah 5 tahun yang pernah jatuh ke jurang ini adalah kakaknya yang selama ini mereka cari," lanjutnya.
Bulu kuduk Ariesha kembali meremang mendengar ucapan Brian barusan.
Kalau memang Dhafin adalah pangeran yang hilang yang selama ini dicari-cari, maka sungguh dia tidak menyangka kalau selama ini dia bersama dengan seorang pangeran. Bahkan Dhafin sudah menjadi bagian dari keluarganya.
★☆★☆
"Kak Brian. Aku mohon padamu kejadian ini cukup kita dulu yang tahu ya," pinta Ariesha memohon. "Kamu jangan dulu mengatakannya kepada Pangeran Revan."
"Kepastian kalau Dhafin adalah pangeran yang hilang belumlah nyata, baru sekedar dugaan, Ariesha," kata Brian. "Aku mana mungkin mengatakannya kepada Pangeran Revan tentang hal yang belum pasti."
"Bagaimana kalau Kanda Dhafin memang benar-benar pangeran yang hilang itu, Kak?" tanya Ariesha bernada seolah menguji. "Apa kamu baru akan menceritakannya?"
"Jawab saja, Kak, tidak usah menebak-nebak."
"Asal kamu tahu, Ariesha," kata Brian sambil menatap mentari sore yang bersinar lembut, "sejak awal aku berkawan dengan kakakmu yang aneh itu, aku sudah tahu kalau dia tengah menyembunyikan rahasia tentang dirinya dan masa lalunya."
"Bahkan aku menduga nama yang dia pakai sekarang adalah nama samaran, bukan nama aslinya," lanjutnya.
Tepat! Benar-benar jitu tebakan pemuda serba hitam itu. Dia menggabungkan antara analisa dengan firasat, sehingga menghasilkan tebakan yang tepat.
"Tapi aku tidak pernah bertanya atau mengusik tentang masa lalunya. Kamu tahu kenapa, Ariesha?"
"Kenapa, Kak?"
"Karena aku menghargai pendiriannya."
Sungguh! Ariesha benar-benar terharu mendengar semua ucapan Brian barusan. Dia tidak menyangka kalau Brian begitu dalam memahami seorang Dhafin ketimbang dirinya.
"Kalau toh suatu saat aku tahu secara pasti dia itu adalah pangeran yang hilang, tetap aku tidak akan menceritakan kepada siapa pun."
"Tanpa terkecuali?" tanya Ariesha ingin tahu.
"Tanpa terkecuali," tandas Brian dengan tegas.
"Kenapa kamu tetap tidak mau menceritakannya?" tanya Ariesha seakan menguji lagi.
"Aku yakin Dhafin menyembunyikan jati dirinya, pasti punya tujuan besar," kata Brian menduga kuat.
"Aku tidak mau merusak tujuan itu dengan mencampuri urusannya tanpa persetujuannya," lanjutnya.
Ariesha menatap Brian dengan lekat. Dia semakin terharu akan kesetiakawanan Brian terhadap kakak angkatnya.
"Terima kasih, Kak," kata Ariesha dengan tulus. "Aku tak menyangka kamu memahami kanda dengan begitu mendalam. Sekali lagi terima kasih, Kak."
"Sudahlah, simpan saja pujianmu itu," kata Brian merasa jengah dengan pujian Ariesha.
__ADS_1
"Sebenarnya aku ingin bicara padamu," kata Brian sambil terus menatap panorama jingga di ufuk barat.
Ucapan Brian itu bernada agak pelan seolah ragu untuk mengucapkan. Dan di saat telah meniatkan hendak mengungkapkan perasaannya, hatinya seketika gugup. Malah dia tidak berani memandang Ariesha sekarang.
"Bukankah sejak tadi kita sedang bicara?" kata Ariesha seperti bercanda. Tapi tidak ada gelagat kalau dia sedang bercanda.
"Tentang hal lain," kata Brian melengkapi ucapannya.
Nada ucapannya sedikit parau dan agak bergetar. Namun sekuat tenaga dia berusaha menguasai kegugupannya.
"Tentang apa?" tanya Ariesha yang kembali menatap Brian.
Belum lama menatap dia sudah merasakan ada keanehan pada ekspresi wajah tampan Brian. Dan dia juga baru menyadari kalau nada suara Brian agak lain.
Brian tidak lantas menjawab pertanyaan Ariesha. Pemuda itu terdiam saja sambil terus menatap senja. Tapi siapa yang tahu kalau dia berusaha mengumpulkan puing-puing keberaniannya untuk mengungkapkan perasaannya.
Ternyata lebih mudah dia mendebat orang daripada mengungkapkan perasaannya kepada gadis yang disukainya. Lidahnya seketika kaku tidak bisa bicara.
★☆★☆
"Kamu mau bicara tentang apa, Kak Brian?" tanya Ariesha heran sambil mengernyitkan kedua alisnya. "Kenapa kamu tiba-tiba diam begitu?"
Aduh gadis ini! Kenapa dia tidak memahami gelagat? Atau dia sengaja bercanda, tapi mampu menyembunyikannya?
"Apa kita pulang saja? Jangan-jangan kamu masuk angin."
"Aku ingin bicara kepadamu tentang hubungan kita," kata Brian tiba-tiba lancar tapi terdengar lucu. Karena diucapkan dengan tergesa-gesa dan dipaksa.
"Hihihi, kamu ini kenapa sih?" kata Ariesha sambil tertawa cekikikan. "Tingkahmu kok tiba-tiba lucu begitu?"
"Aku serius, Ariesha," kata Brian sedikit menekan suaranya. "Tidak sedang bercanda."
"Memang kenapa dengan hubungan kita?" tanya Ariesha setelah selesai menahan kelucuannya. "Bukankah kita selama ini baik-baik saja? Meski kita sekarang berjauhan tempatnya, tapi aku tetap menjadi temanmu. Kamu tenang saja, Kak Brian."
"Tapi aku menginginkan hubungan kita melebihi dari sekedar teman," kata Brian mulai berani. Tapi belum berani menatap Ariesha.
"Maksudmu?" kata Ariesha benar-benar terkejut. Dia tidak mau dan tidak berani menerka-nerka ucapan Brian itu.
"Aku sudah lama menyukaimu," Brian makin berani dan ucapannya mulai lancar. "Sejak kita masih kecil dulu. Apakah kamu tidak memahaminya?"
Dengan perlahan Ariesha beralih menatap senja. Perasaannya kini menjadi lain saat mendengar Brian telah mengungkapkan rasa suka terhadapnya. Lalu terdengar dia berucap bernada agak pelan.
"Apa kamu serius dengan ucapanmu itu?"
Dengan berani Brian menghadap Ariesha. Lalu dengan berani pula memegang kedua pundak gadis cantik itu tapi dengan lembut. Perlahan memutar agar menghadapnya.
Kemudian menatap wajah cantik Ariesha dengan lekat. Lalu berkata dengan penuh penghayatan.
"Tatap aku baik-baik! Apa aku kelihatan bermain-main?"
Ariesha menatap lekat-lekat pada wajah tampan itu yang memang menunjukkan keseriusan. Menatap bola mata lelaki gagah itu yang tajam namun menyiratkan kelembutan dan sifat kasih yang dalam.
"Aku ingin menjadi kekasihmu, Ariesha. Aku serius."
"Apakah aku pantas menjadi kekasihmu?" kata Ariesha masih menatap Brian. "Kamu seorang pangeran, sedangkan aku cuma bangsawan biasa."
"Terus menurutmu siapa yang pantas menjadi kekasihku?"
"Masih banyak gadis yang lebih cantik dari aku, Kak Brian. Atau kalau kamu mau kamu bisa menengok ke Istana Centauri. Di sana banyak sekali gadis yang cantik-cantik dan yang lebih baik dari aku."
Kedua telapak tangan Brian kini turun menggenggam erat kedua lengan atas Ariesha masih dengan lembut. Sedangkan Ariesha diam saja. Sepasang mata indahnya masih menatap Brian.
"Dengar! Tidak ada yang pantas menjadi kekasihku selain dirimu, Ariesha," kata Brian dengan sepenuh hati. "Kamu harus percaya itu."
Sekali lagi Ariesha menatap lekat-lekat wajah Brian. Tetap dia dapatkan kesungguhan akan ucapan pemuda itu dari ekspresi wajahnya dan tatapan bola matanya. Tapi....
Perlahan Ariesha mengalihkan tatapannya melengos ke lain arah. Terus berkata.
"Maaf, Kak Brian, aku belum bisa menjawabnya sekarang. Karena ini terlalu terburu-buru buatku. Maafkan aku."
★☆★☆★
__ADS_1