Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 86 SATU KAMAR DI PENGINAPAN


__ADS_3

Malam baru saja menenggelamkan seluruh Kota Denver. Kegelapan telah membungkus sebagian pelosok kota. Angin malam mulai berhembus menyebar hawa dingin.


Saat ini Dhafin dan Kayshila tengah makan malam di salah satu kedai yang merangkap penginapan di sudut kota.


Setelah beristirahat sebentar di Bukit Kanaya, mereka segera turun ke kampung. Setelah itu langsung ke kota. Dan ketika malam telah tiba mereka baru sampai di kota. Dan begitu sampai mereka langsung mencari rumah makan karena mereka telah lapar.


Tampak mereka begitu tenang dan santai menyantap makanan pesanan mereka. Tapi telinga dipertajam demi mendengar kasak-kusuk 3 orang pengunjung kedai yang tengah makan di salah satu sudut kedai.


"Baru 3 tahun Yang Mulia Adrian memerintah negeri ini sudah seperti neraka," omel seorang lelaki berambut pendek mengeluh.


"Belum ada 7 tahun kita hidup dengan pajak yang ringan, kini mulai lagi dengan pajak yang mencekik leher," sambung temannya yang berbaju hijau, berikat kepala dari kain tebal warna hitam.


Suara mereka dipelankan seolah takut ada yang mendengar.


"Hati-hati kalian bicara," kata lelaki kumis tipis berwajah lonjong mengingatkan juga dengan suara pelan. "Kalau omongan kalian didengar Prajurit Keamanan, kalian bisa langsung dipenggal di tempat."


Dua lelaki itu segera melirik ke pintu masuk selepas mendengar ucapan teman mereka itu, ingin memastikan kalau tidak ada Prajurit Keamanan.


"Sampai sekarang aku masih heran sebenarnya Tuan Putri Agung ke mana ya?" kata lelaki berambut pendek setelah agak lama terdiam. Masih bersuara pelan. "Apa diculik terus dibunuh ya?"


""Sepertinya begitu," kata lelaki berikat kepala sepakat. "Buktinya Istana Kejora miliknya ikut dihancurkan pada waktu diculik 8 tahun yang lalu."


"Apa sudah dibunuh oleh Yang Mulia Bunda Suri Rayna waktu 8 tahun yang lalu barangkali ya?" kata lelaki rambut pendek lagi.


"Kalau sudah dibunuh oleh Yang Mulia Bunda Suri," bantah lelaki kumis tipis, "mana mungkin sampai sekarang dia memasang wara-wara untuk memberitahukan di mana Tuan Putri Agung berada."


"Iya juga ya," kata lelaki berambut pendek sambil angguk-angguk.


"Eh, bukannya masih ada wara-wara yang lain?" kata lelaki berikat kepala seakan mengingatkan.


"Ya kamu benar," kata lelaki kumis tipis, "wara-wara untuk memberitahukan di mana Pangeran Brian dan Tuan Muda Dhafin berada."


"Kira-kira mereka ke mana ya?" tanya lelaki rambut pendek.


"Aku yakin mereka dan ketiga teman mereka pergi berguru ke suatu tempat yang bukan di negeri ini," sahut lelaki kumis tipis sok tahu.


"Aku juga merasa yakin begitu," kata lelaki rambut pendek ikut-ikutan.


"Pasti mereka sekarang sudah menjadi pendekar yang hebat," timpal lelaki berikat kepala seakan sepakat juga.


Lelaki kumis tipis tidak menanggapi lagi. Lelaki berambut pendek tidak berkata lagi. Lelaki berikat kepala ikut diam juga. Sehingga ketiga lelaki itu tak ada lagi yang bersuara.


Tak lama kemudian, mereka tampak beranjak dari kursi mereka. Setelah menaruh beberapa keping uang logam di meja makan, mereka segera tinggalkan kedai. Tapi sambil berjalan mereka tampak terlibat pembicaraan lagi.

__ADS_1


Sementara Dhafin dan Kayshila sejenak saling pandang. Tapi belum juga mereka saling berbicara. Namun benak mereka jelas memikirkan obrolan 3 orang tadi.


Setelah puas saling pandang mereka lanjutkan makan mereka yang tinggal sedikit. Begitu selesai makan dan membayar, lalu mereka beranjak dari meja makan terus naik ke kamar mereka.


★☆★☆


Sebelumnya tadi Dhafin memberi tahu kepada pemilik kedai untuk disiapkan sebuah kamar karena dia dan Kayshila hendak menginap semalam.


Dhafin mengaku kepada pemilik kedai kalau Kayshila adalah istrinya. Si pemilik kedai tampak percaya saja. Namun Kayshila awalnya terkejut mendengar pengakuan Dhafin kepada pemilik kedai.


Jelas dia deg-degan juga kalau sampai tidur sekamar dengan kekasihnya ini. Soalnya waktu tinggal di gua dulu mereka memang tinggal di satu ruangan gua, tapi tempat tidur mereka berjauhan.


Namun Dhafin menjelaskan kalau dia terpaksa berbuat demikian demi keamanan Kayshila. Situasi yang belum diketahui secara pasti seperti ini membuatnya harus benar-benar menjamin keselamatan Kayshila.


Apalagi Kayshila menjadi incaran Gerombolan Pedang Tengkorak. Yang artinya menjadi incaran Putri Rayna Cathrine juga. Karena bisa jadi dia yang menyuruh menghancurkan perguruan-perguruan beladiri 8 tahun yang lalu, termasuk Perguruan Cadar Ungu.


Mendengar penjelasan Dhafin demikian Kayshila dapat menerimanya. Dan merasa terharu juga karena Dhafin benar-benar memperhatikan keselamatannya.


Dhafin masuk kamar terlebih dahulu, terus memindai keadaan seisi kamar seolah memeriksa keamanannya. Barulah Kayshila diperbolehkan masuk.


Di kamar itu ada 2 pembaringan. Dhafin memilihkan pembaringan yang berjauhan dengan pintu masuk. Sedangkan Kayshila manut saja.


Dan agak lega juga begitu mengetahui ternyata kamar yang dipilih Dhafin yang ada 2 pembaringannya. Jadi dia tidak perlu tidur satu pembaringan dengan Dhafin. Memikirkan hal itu dia menjadi risih sendiri.


"Kamu tetap akan ke kotaraja, Kanda?" tanya Kayshila bernada khawatir. "Kamu juga menjadi incaran orang istana. Apa kamu tidak menyadarinya?"


"Kita ke sana dengan menyamar," kata Dhafin memberi tahu.


Pemuda tampan itu sudah berada di tengah tempat tidurnya dengan posisi bersemedi. Sedangkan Kayshila masih duduk di tepi pembaringan sambil memandang Dhafin yang sepertinya hampir tenggelam dalam semedinya.


"Kanda!" panggil Kayshila bernada setengah merajuk manja.


"Hm," Dhafin cuma bergumam tanpa membuka matanya, apalagi menoleh.


"Aku masih mau ngobrol, jangan tidur dulu," kata Kayshila masih merajuk manja.


"Kamu mau bicara apa?" tanya Dhafin tanpa merubah kondisi. Tanpa menghiraukan kemanjaan Kayshila.


"Aku yakin kamu pasti menyimak semua percakapan 3 orang warga kota tadi. Iya 'kan?"


"Ya."


"Apa yang dimaksud orang tadi Yang Mulia Adrian adalah Pangeran Adrian Carel?" tanya Kayshila ingin memastikan. "Yang mematahkan kakiku dulu?"

__ADS_1


"Ya, dialah orangnya."


"Kenapa bisa Pangeran Adrian yang menjadi penguasa, sedangkan yang menaklukkan kerajaan ini adalah Putri Rayna Cathrine?" tanya Kayshila jelas bernada heran.


"Aku menduga Pangeran Adrian sudah dalam kekuasaan Putri Rayna Cathrine. Apalagi Pangeran Adrian memiliki tabiat iblis yang jelas disukai oleh Putri Rayna Cathrine."


"Siapa yang kira-kira mencarimu, Kanda? Pangeran Adrian yang sekarang sudah jadi raja? Atau Putri Rayna Cathrine juga mencarimu?"


"Aku rasa Pangeran Adrian yang lebih antusias mencariku. Tiada lain karena dia amat dendam kepadaku. Apalagi aku pernah melenyapkan semua ilmu beladiri dan kesaktiannya."


"Kapan itu terjadi, Kanda?" Kayshila sedikit terkejut. Dia baru tahu kalau Dhafin pernah melenyapkan ilmu pangeran angkuh itu.


"Setelah dia mematahkan kakimu."


Kayshila mengangguk-angguk setelah mengetahuinya. Waktu itu dia tidak melihat peristiwanya saat Dhafin datang menolongnya sekaligus melenyapkan ilmu Pangeran Adrian. Karena waktu itu dia sudah pingsan.


Dia hanya mendengar cerita dari Nona Fariza, temannya waktu itu kalau Dhafin sudah membuat Pangeran Adrian terlempar dari atas panggung.


Adalah wajar kalau Pangeran Adrian amat mendendam kepada Dhafin yang pernah mempermalukannya di depan umum. Dan sebenarnya saat pertama kali berjumpa dengan Dhafin, Pangeran Adrian sudah menunjukkan permusuhan dengannya.


"Kanda! Apa kamu bisa menduga siapa kira-kira yang menculik Putri Agung?" tanya Kayshila teringat tentang nasib Putri Agung Aurellia.


"Di benakku cuma ada 2 kelompok yang mungkin menculiknya."


"Siapa mereka, Kanda?"


"Kelompok pertama adalah orang-orangnya Raja Bastian. Karena orang itu lagi gencar-gencarnya mencari bocah sakti untuk dijadikan pasukan khusus...."


"Eh, bukankah Raja Bastian ada hubungan kerja sama dengan Putri Rayna Cathrine? Kenapa dia mau ikut campur dengan menculik Putri Agung Aurellia?"


"Antara sesama iblis dengan iblis, tidak ada kerja sama yang musni dan jujur, Kayshila. Kamu harus tahu itu. Itulah hukum tak tertulis yang berlaku di antara mereka."


Kayshila tercenung sejenak memikirkan penjelasan Dhafin barusan. Setelah itu dia bertanya lagi.


"Kelompok yang ke 2 siapa, Kanda?"


"Kelompok ke 2 kemungkinan yang melakukannya adalah Pasukan Jubah Merah."


Kayshila jelas tidak tahu siapa itu Pasukan Jubah Merah. Itupun dia mendengar nama itu disebutkan oleh Dhafin saat pernah bercerita kalau kelompok itu hampir saja menangkap mereka.


Kemudian obrolan berlanjut pada hal-hal yang akan mereka lakukan ketika sudah berada di kotaraja. Termasuk rencana penyamaan yang akan mereka lakukan.


Setelah puas berbincang dengan cukup lama, akhirnya Kayshila baru mau tidur. Sedangkan Dhafin terus melanjutkan semedinya yang tadi sempat diganggu oleh Kayshila.

__ADS_1


★☆★☆


__ADS_2