Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 57 TURNAMEN BELADIRI ANAK BANGSAWAN Part.10: NONA FARIZA DAN GIBSON


__ADS_3

Sungguh suatu hal yang tidak disangka sama sekali kalau tim yang berhasil lolos tidak ada satu pun dari anak yang masuk dalam 10 besar anak bangsawan terhebat.


Bahkan keempat tim yang berhasil lolos ke babak semifinal merupakan tim campuran. Artinya dalam 1 tim personilnya tidak semua bangsawan. Bahkan cuma 2 anak bangsawan pada masing-masing tim itu.


Adapun mengenai Tim Brian Darel, orang-orang hanya mengenal 2 anak bangsawan pada personil tim itu yaitu Pangeran Brian dan Tuan Muda Dhafin Damian. Sedangkan 3 personil lainnya tidak banyak yang mengenal.


Dan Brian pula memberitahukan kepada panitia hakim juri kalau 3 temannya itu dari kalangan orang biasa. Padahal sesungguhnya mereka dari kalangan bangsawan juga.


Turnamen beladiri dari kalangan anak-anak sudah dimulai. Kali ini sudah masuk pada babak semifinal.


Anggota dari Tim Fariza Luna dengan anggota Tim Pangeran Nevan bertarung di arena 1. Bersamaan pula personil Tim Brian Darel dengan personil Tim Ervin Devian bertarung di arena 2.


Perlu diketahui, semakin pertandingan masuk pada babak besar, pertandingan semakin seru dan sengit. Membuat para penonton semakin tertarik untuk menyaksikannya. Karena para petarung yang berkompetisi merupakan petarung yang sudah tersaring akan kehebatannya.


Tanpa terasa putaran demi putaran pertandingan telah terlewati....


Kehebatan para personil Tim Fariza Luna memang perlu diacungkan jempol. Meski semua personilnya anak perempuan, namun mereka bukanlah tim yang lemah.


Bayangkan saja 3x pertarungan dalam 3 putaran mereka menang terus menerus. Barulah pertarungan putaran ke 4 Dareen Ardiaz mampu mengimbangi perlawanan gadis bercadar yang kemarin kakinya patah. Hingga waktu habis pertarungan tetap berimbang.


Sementara pada Tim Brian Darel, pertarungan Keenan dan Kelvin imbang melawan personil Tim Ervin Devian. Barulah mereka memperoleh kemenangan ketika giliran Aziel yang bertarung. Itupun dia menang saat waktu pertandingan hampir habis.


Dan pada pertarungan Brian pula dia menang melawan anggota unggulan Tim Ervin Devian meskipun pula durasi pertarungan hampir habis.


Dengan kemenangan 2x itu Tim Brian Darel berhasil lolos ke babak final melawan Tim Fariza Luna yang juga menang 3x berturut-turut dalam 3 putaran.


Sekarang pertarungan yang berlangsung adalah personil yang paling diunggulkan dalam timnya.


Pada Tim Fariza Luna yaitu sang ketua sendiri melawan personil paling jago dalam Tim Pangeran Nevan, yaitu Gibson Kyler. Dan pada Tim Ervin Devian juga sang ketuanya melawan personil Tim Brian Darel yang paling dijagokan, yaitu Dhafin.


Pertarungan putaran ke 5 ini bukan pertarungan penentu. Hanya saja para penonton dan siapa pun yang menyaksikan 2 pertarungan ini ingin melihat siapa yang paling hebat di antara masing-masing mereka.


Dan ternyata pertarungan sudah berlangsung lebih dari sepenanakan nasi Dhafin dapat mengalahkan Ketua Tim Ervin Devian. Dan kemenangannya itu langsung disambut tepuk tangan dan sorak gembira yang begitu meriah dari para penonton.


Sedangkan Putri Aurellia amat senang sekali menyaksikan kemenangan orang yang sudah mulai akrab dengannya itu. Senyum kegembiraan selalu tersungging di bibir manisnya meski tak ada yang melihat.


Sementara Putri Faniza tak usah dibilang lagi. Girangnya minta ampun melihat idolanya menang.


Sementara itu, pertarungan di arena 1 masih berlangsung. Belum ada tanda-tanda siapa yang menang siapa yang kalah dari kedua anak yang bertarung itu. Padahal durasi pertandingan hampir habis.


Hingga suatu ketika di penghujung pertarungan, Nona Fariza melayangkan tendangan miring kaki kanan ke wajah Gibson Kyler. Namun dengan sigap dan cepat Gibson mengangkat tangan kiri menangkis tendangan itu.


Bersamaan waktunya telapak tangan kanan Gibson yang jerijinya membentuk cakar dengan cepat dan tanpa terduga mengarah ke wajah Nona Fariza yang mengenakan cadar.


Kejadian itu begitu cepat berlangsung. Nona Fariza tidak sempat menghindari atau menangkis. Sehingga jeriji Gibson dengan mudah merenggut cadarnya.


★☆★☆


Maka tampaklah seraut wajah yang cantik dengan ekspresi terkejut. Tapi tak lama wajah itu mengelam dan sedikit bersemu merah. Sepasang mata indahnya melotot tajam. Menandakan si pemilik wajah cantik itu menahan amarah sekaligus malu.


Sebenarnya kalau Gibson mengerahkan jurus mautnya itu secara sungguhan, tentulah wajah Nona Fariza akan tercakar. Namun Gibson masih dapat menahan jurusnya. Sebagai gantinya terpaksa dia merenggut cadar si gadis.


Demi melihat wajah yang demikian cantiknya, bocah berumur 12 tahun itu sempat terkesima juga.


Tapi pemandangan indah itu tidak berlangsung lama. Karena dengan gerakan cepat Nona Fariza langsung mengambil cadar cadangan dari balik bajunya, dan terus mengenakannya.


Namun wajah cantiknya sudah sempat dilihat oleh banyak orang. Dan hilanglah anggapan sebagian orang yang mengira wajah Nona Fariza ditutup karena buruk.


Selepas mengenakan cadar, Nona Fariza hendak melakukan serangan. Namun baru saja kaki kanannya terangkat hendak mendupak wajah Gibson, gong tanda berakhirnya pertandingan berbunyi.


Tapi kaki kanan Nona Fariza tetap saja naik ke wajah Gibson. Sedangkan si bocah tetap diam saja, tidak menangkis atau menghindar. Seolah dia pasrah menerima tendangan Nona Fariza.

__ADS_1


"Tahan!"


Terdengar seruan cukup keras dari hakim wasit sambil buru-buru naik ke atas arena.


Sementara tendangan Nona Fariza terlanjur naik. Tapi begitu mendengar seruan hakim wasit, tendangan itu tak sampai dikenakan ke wajah Gibson. Tapak kaki Nona Fariza hanya berjarak sekitar 3 jari dari wajah Gibson. Sedangkan Gibson tetap tak bergeming sedikit pun.


Tak lama Nona Fariza segera menurunkan kakinya. Sementara hakim wasit menanyakan kepada anggota hakim juri mengenai keputusan pertarungan antara Nona Fariza melawan Gibson Kyler.


Hakim juri menjelaskan kalau pemenangnya adalah Gibson Kyler. Serangan terakhir Gibson dianggap poin. Dan juga Nona Fariza melanggar peraturan, yaitu dia tetap menyerang meski waktu sudah habis.


Maka hakim wasit menyatakan Gibson Kyler sebagai pemenangnya, yaitu menang poin. Lalu hakim wasit menyuruh kedua anak itu turun panggung. Setelah itu dia turun panggung.


Hampir bersamaan Nona Fariza dengan gerakan cepat bergegas turun panggung. Tanpa perduli kalau cadarnya masih ada di tangan Gibson. Tanpa perduli kalau Gibson mengikutinya pula.


"Nona, tunggu!" cegat Gibson ketika mereka sudah berada di bawah panggung.


Nona Fariza segera berhenti. Lalu balikkan badan, terus menatap Gibson dengan tajam. Amarahnya masih tergambar di wajahnya.


"Ada apa kamu memanggilku, Saudara Gibson?" kata Nona Fariza bernada ketus dan datar.


"Maaf, Nona, saya tidak bermaksud mengganggu," kata Gibson bernada kalem, bersikap santun dan sopan. "Saya hanya ingin mengembalikan cadar Nona."


"Bukankah kamu menginginkannya?" kata Nona Fariza tetap judes. "Ya buat kamu saja."


"Maaf, Nona. Saya tahu Nona tidak senang dengan perbuatan saya tadi," Gibson masih tetap santun. "Namun saya terpaksa melakukannya agar serangan saya tidak mengenai wajah Nona. Oleh karena itu saya minta maaf."


"Huh! Itu alasan kamu saja! Bukankah kamu ingin melihat wajahku karena mengira wajahku jelek? Terus kamu ingin mempermalukanku di hadapan orang banyak. Iya 'kan?"


"Nona sudah salah sangka," tetap saja Gibson yang baik hati tidak tersinggung dengan perlakuan Nona Fariza yang tidak bersahabat itu. "Sama sekali saya tidak bermaksud begitu. Saya anak rendahan ini mana berani berbuat kurang ajar kepada gadis bangsawan seperti Nona."


"Kamu bilang tidak berani kurang ajar. Tapi kamu sudah membuka cadarku di depan umum. Apa kamu anggap perbuatan itu bukan suatu kekurang ajaran?"


"Maaf, Nona. Sekali lagi saya minta maaf. Saya terpaksa melakukannya demi melindungi wajah cantik Nona."


Namun buru-buru Nona Fariza cepat menguasai perasaannya. Dia harus tetap menjaga sikap anggunnya. Tidak boleh terpengaruh dengan sanjungan bocah tampan berkulit sawo matang itu.


Melihat Nona Fariza terdiam Gibson menyodorkan secarik kain cadar yang kini sudah di tangan kanannya kepada si empunya seraya berkata.


"Ini cadar Nona saya kembalikan."


Nona Fariza melirik cadarnya di tangan Gibson sebentar. Lalu kembali menatap Gibson dengan tajam seolah masih menunjukkan kemarahannya. Namun sebenarnya dia cukup menikmati kebersamaan dengan bocah tampan yang sesuai tipenya ini.


Sikap Gibson begitu sopan dan ramah. Tutur bahasanya tenang dan santun. Wajahnya yang tampan memancarkan keteduhan dan kearifan. Tidak bisa dia pungkiri hatinya cukup nyaman bersama bocah tampan ini.


Tapi kalau berlama-lama berada di dekatnya, bisa-bisa hatinya lumer juga dan bisa-bisa perasaannya makin terbawa hanyut.


"Nanti kamu kembalikan kalau suasana hatiku sudah baik," kilahnya masih bersikap datar.


Padahal hatinya mengatakan, "aku harap kamu mau menyimpan cadar yang berhasil kamu rebut dariku itu. Anggap saja sebagai kenang-kenangan pertemuan kita."


Apa maksud gadis itu berkata demikian? Apakah dia sudah menyukai bocah dari kalangan orang biasa itu? Kalau itu terjadi, tentu dia menentang adat bangsawan.


Lalu dia berbalik meninggalkan Gibson yang bingung atas ucapan si nona. Sementara Gibson hendak mencegat. Tapi diurungkan, karena pikirnya percuma saja.


Dibiarkan saja Nona Fariza meninggalkannya. Dia cuma memandangnya sebentar. Setelah itu dia kembali ke kampnya setelah memasukkan cadar Nona Fariza ke balik bajunya.


Sementara Nona Fariza, begitu sampai campnya, teman-temannya langsung mengiterogasinya.


"Apa yang kamu bicarakan dengan Gibson, Fariza?"


"Tidak ada hal yang penting," jawabnya malas.

__ADS_1


"Kamu tidak mengambil lagi cadarmu yang direbutnya. Apa maksudmu?"


"Tidak ada maksud apa-apa. Udah ah. Ayo kita pulang!"


Dia mengajak pulang karena pertandingan hari ini sudah berakhir sementara. Besok dilanjutkan lagi.


Tanpa menunggu persetujuan teman-temannya, Nona Fariza beranjak duluan. Akhirnya keempat temannya mengikuti. Tapi masih mencandai Nona Fariza.


Namun Nona Fariza bersikap anteng-anteng saja, seolah tidak terpengaruh candaan teman-temannya.


★☆★☆


Tanpa terasa pertandingan sudah masuk pada hari ke 13 atau babak final. Para petarung sudah mulai menunjukkan kehebatannya di arena 1. Dan sepertinya pertarungan ini merupakan pertarungan yang paling seru dan menarik.


Sementara Yang Mulia dan keempat istrinya serta anak-anaknya masih tetap setia menonton turnamen ini. Dan tetap dijaga ketat oleh para pasukan khusus.


Pertarungan pertama Kelvin dari Tim Brian Darel melawan salah seorang personil dari Tim Fariza Luna.


Di awal pertarungan hingga sudah menghabiskan waktu sepenanakan nasi Kelvin belum juga dapat mengalahkan lawannya. Begitu juga gadis bercadar lawannya itu masih susah untuk menumbangkan Kelvin.


Suatu ketika tahu-tahu Kelvin berada di depan gadis bercadar. Tentu saja dia agak sulit untuk menyerang. Namun bukan berarti dia mudah dikalahkan.


Meski tidak melihat lawannya, Kelvin masih mampu menangkis semua serangan gadis bercadar. Bahkan bisa membalas serangan dengan tendangan belakang meski tidak sering.


Hingga suatu adegan gadis bercadar melayangkan tendangan kanan lurus ke tengkuk Kelvin. Tapi sebelum serangan itu sampai ke tujuan, seketika Kelvin melenting ke atas dengan cepat.


Lalu berjumpalitan 1x. Saat kepalanya masih di bawah dengan cepat telapak tangan kirinya mengarah ke wajah gadis bercadar.


Sedangkan gadis bercadar yang cepat menyadari segera menggerakkan tangan kirinya hendak menampik telapak tangan Kelvin.


Namun gerakannya kedahuluan dengan gerakan telapak tangan Kelvin yang begitu cepat. Sehingga cadarnya terenggut tanpa bisa dipertahankan. Kemudian Kelvin bergulir ke belakang lawannya.


Baru saja kaki Kelvin mendarat ke lantai, gadis yang cadarnya sudah terlepas langsung memutar badan seraya mengirimkan tendangan lurus ke dada Kelvin.


Namun Kelvin bisa mengantisipasi. Seraya mundur 1 langkah ke belakang, kepalan kanannya dilayangkan dengan cepat menghantam tapak kaki si gadis yang ternyata berwajah cantik.


Plaaak!


Cukup keras hantaman kepalan Kelvin, membuat gadis itu terjajar 3 langkah ke belakang. Namun dia cepat menguasai diri dan baik-baik saja.


Dan begitu posisinya sudah mantap, seolah tak menghirau cadarnya yang sudah terlepas, dia kembali menyerang Kelvin dengan hebat. Namun Kelvin bisa menggagalkan semua serangan gadis itu.


Hingga habis waktu kedua petarung cilik itu belum ada yang berhasil menyarangkan serangan masing-masing mereka ke tubuh lawannya, kecuali perenggutan cadar si gadis oleh Kelvin tadi.


Dan perbuatan Kelvin itu dinyatakan poin oleh panitia hakim juri. Maka Kelvin sebagai pemenang dalam putaran pertama ini meski menang poin.


Begitu hakim wasit selesai mengumumkan pemenangnya, Kelvin mengangsurkan tangannya yang menggenggam kain cadar ke pemiliknya. Senyum usilnya terkembang di bibirnya.


Sementara si gadis, dengan wajah garang tapi tetap cantik, dengan mata melotot tajam yang berbinar semakin indah menatap Kelvin dengan kemarahan yang sangat.


Dengan agak kasar dia mengambil cadarnya di tangan Kelvin. Setelah mengenakan cadar kembali, lalu berbalik tinggalkan Kelvin yang seketika dibuat bingung dengan sikap aneh gadis itu.


Gadis itu jelas dilihatnya marah karena perbuatannya merenggut cadarnya. Tapi tidak ada sepatah pun terucap dari bibir tipis si gadis. Membuat Kelvin penasaran. Apakah gadis itu bisu?


Baru saja kaki Kelvin bergerak selangkah hendak menyusul si gadis yang sudah melompat turun, Brian menegurnya, menyuruhnya turun. Dengan terpaksa dia urungkan niat, lalu turun dari panggung. Tapi rasa penasarannya masih mengganggu pikirannya.


Pertarungan kembali berlanjut. Putaran berikut giliran Keenan yang bertarung. Tapi sebelum pertarungan dimulai, lawannya memperingatkannya agar jangan usil seperti Kelvin.


Keenan hanya tersenyum, tapi mengindahkan peringatan orang.


Pertarungan mereka pula tidak kalah seru dan sengitnya dengan pertarungan sebelumnya. Namun hingga habis waktu pertarungan kedua bocah itu berimbang. Dan Keenan tidak melakukan keusilan seperti Kelvin.

__ADS_1


★☆★☆


__ADS_2