
Dua sosok kecil berkelebat amat cepat bagai hantu malam gentayangan. Gelapnya malam bukan penghalang bagi sosok tubuh kecil mereka yang terus berkelebat menuruni lereng Bukit Kanaya. Dinginnya hawa malam ditambah kabut tebal tidak membawa pengaruh bagi mereka.
Kurang lebih satu kali penanakan nasi dua sosok kecil itu sudah menyusuri kaki Bukit Kanaya. Tapi baru beberapa tombak tubuh mereka berkelebat, seketika sosok berpakaian panjang warna merah gelap merandek. Otomatis sosok berpakaian ringkas warna biru ikut merandek pula.
Segera sosok kecil berbaju biru menatap kawannya yang di sebelahnya. Isyarat matanya seolah bertanya kenapa berhenti tiba-tiba?
Lalu sosok kecil berbaju merah menunjuk dengan jari telunjuk kanannya ke sebuah pohon besar tidak jauh di samping mereka. Isyarat itu sebagai ajakan kepada kawannya agar mereka menaiki pohon besar itu.
Tanpa menunggu persetujuan kawannya, sosok berbaju merah segera melesat ke pohon yang ditunjuknya tadi. Tanpa berhenti, dia langsung melenting indah ke atas pohon. Kakinya menotok dahan dua kali lalu hinggap di dahan yang cukup tinggi dan cukup besar.
Sosok berbaju biru, meski belum mengerti apa maksud kawannya itu mengikutinya juga. Melakukan hal yang sama hingga dia hinggap di dahan yang sama dengan kawannya.
"Ada apa, Dhafin?" tanya sosok berbaju biru tidak bisa menahan rasa penasarannya. "Kok tiba-tiba berbuat aneh begini? Apa kamu kebelet buang hajat? Apa kamu mau buang dari atas pohon?"
"Kamu ngoceh terus, Brian," sungut sosok berbaju merah yang ternyata Tuan Muda Dhafin. "Diamlah dulu! Pasang telingamu baik-baik!"
Sosok berbaju biru yang ternyata Pangeran Brian Darel segera menajamkan telinganya mendenarkan secara seksama apa yang dimaksud Dhafin. Atau apa yang telah terjadi.
Baru beberapa helaan nafas menajamkan telinga, dia sudah mendengar apa yang dimaksud Dhafin. Sayup-sayup dia mendengar sesuatu menghentak-hentak tanah dengan cepat dan keras. Seperti suara tapal kuda yang berjumlah lebih dari satu.
"Apa yang kamu dengar?" tanya Dhafin seolah menguji ketajaman pendengaran Brian.
"Seperti suara kaki kuda," sahut Brian bergumam sambil menatap ke satu arah tertentu.
"Ada berapa?"
"Aku tidak tahu pastinya berapa. Yang jelas lebih dari satu."
"Aku juga menduga begitu. Paling tidak ada tiga atau empat orang yang mengendarai kuda."
Mereka diam lagi mendengar lebih cermat kuda-kuda itu mengarah ke mana. Namun lama kelamaan suara-suara kaki kuda itu semakin jelas mengarah ke tempat mereka.
"Kuda-kuda itu mengarah ke mari," bisik Brian.
Sejenak Dhafin menatap Brian yang juga menatapnya. Lalu sama-sama memandang ke satu arah di samping mereka.
Meski keadaan alam berselimut gelap, namun berkat ketajaman penglihatan mereka yang sudah terlatih, samar-samar mereka melihat beberapa sosok gelap tengah menuju kemari.
Lama kelamaan sosok-sosok gelap itu semakin jelas. Maka tampaklah meski agak samar empat orang lelaki yang mengendarai kuda dengan agak kencang.
Dan benar apa yang diduga Brian. Empat pengendara kuda itu menuju ke tempat mereka. Begitu belasan tombak lagi mereka sampai di pohon besar tempat Dhafin dan Brian nangkring, laju kuda keempat lelaki itu agak diperlambat. Karena jalur yang mereka lalui sekarang cukup tidak bersahabat. Bisa dilalui kuda tapi tidak bisa kencang.
Makin lama keempat pengendara kuda itu makin mendekati pohon. Bersamaan itu pula semakin jelas siapa mereka adanya. Dan ternyata mereka adalah....
__ADS_1
★☆★☆
"Tiga pejabat istana dan Pejabat Kota Denver....!" desis kedua bocah itu bersamaan.
Kedua bocah itu langsung saling bertatapan pertanda terkejut heran bukan main. Tiga pejabat istana dan Pejabat Kota Denver datang ke hutan terpencil seperti ini dan malam-malam lagi. Apa tujuan mereka sebenarnya? Apakah melakukan kunjungan dinas di tengah hutan nan gelap seperti ini?
Lantas, dua bocah itu juga kenapa bisa berada di tempat terpencil dan malam-malam seperti ini?
Dua bocah itu sebenarnya baru turun dari puncak Bukit Kanaya, tepatnya dari tempat Brian biasa menyendiri. Karena Dhafin memaksa bocah santai itu untuk kembali ke kotaraja meski belum saatnya yang diinginkan oleh Brian.
Brian sebenarnya masih ingin tinggal di kediaman sunyinya itu. Acara penerimaan calon pengawal masih 12 hari lagi. Maunya dia nanti tinggal 4 hari lagi baru mau turun. Namun Dhafin tetap memaksanya. Kalau tidak mau ikut dia akan menyeretnya. Terpaksa Brian ikut juga.
Siapa sangka di tengah perjalanan mereka bertemu empat orang pejabat. Kecurigaan langsung mendominasi pikiran mereka mengenai tujuan empat pejabat itu ke hutan ini.
Tidak lama kemudian, empat pejabat itu telah melintasi jalur di bawah pohon dimana Brian dan Dhafin berada di atasnya. Dan kedua bocah itu semakin jelas melihat siapa ketiga pejabat istana itu. Salah satu di antara mereka ada Pejabat Keegen. Yang duanya adalah Pejabat Perdagangan dan Pejabat Urusan Pajak.
Kecurigaan Dhafin terhadap Pejabat Keegen terlibat dalam rencana pemberontakan semakin kuat dengan keberadaan pejabat itu di hutan ini. Dhafin hampir yakin kalau tujuan mereka datang ke tempat terpencil seperti ini pastinya hendak mengadakan pertemuan rahasia dengan seseorang.
Empat pejabat itu terus melajukan kuda mereka meski sudah melewati pohon yang dijadikan tempat pengintaian Dhafin dan Brian. Tapi begitu sudah cukup menjaga jarak aman, Dhafin dan Brian mengikuti mereka dari atas pohon.
Kalau soal ilmu meringankan tubuh mereka sudah tidak diragukan lagi. Melompat dengan mantap dari satu pohon ke pohon yang lain bukan halangan bagi mereka.
Tak lama kemudian, empat pejabat itu berhenti di sebuah tempat terbuka. Sepertinya tempat itu dijadikan tempat pertemuan dengan seseorang yang belum muncul di situ. Terbukti, begitu turun dari kuda mereka langsung mengedarkan pandangan ke segara arah seperti mencari seseorang.
Setelah cukup lama menanti yang sudah hampir bosan, seketika berkelebat dari atas sebuah pohon sosok bayangan hitam. Saking cepatnya gerakan sosok bayangan hitam itu, tahu-tahu dia sudah berdiri tidak jauh dari empat pejabat itu.
Kemunculan sosok serba hitam itu yang begitu tiba-tiba terang saja membuat empat pejabat itu terkejut bukan main. Hampir saja jantung mereka copot dibuatnya. Nyatanya mereka memang tidak punya kepandaian apa-apa selain kecerdasan dan kepintaran otak busuk mereka.
Dari tempat Dhafin dan Brian bersembunyi cukup jelas melihat sosok serba hitam itu yang ternyata seorang lelaki berambut panjang. Di balik punggungnya tersampir pedang bergagang kepala tengkorak.
Di dada kiri lelaki itu seperti terdapat rajutan. Begitu mereka menajamkan mata, mereka dapat melihat jelas rajutan bergambar dua pedang bersilang warna putih. Di atas bagian tengahnya juga terdapat rajutan bergambar kepala tengkorak warna merah.
★☆★☆
"Kenapa setiap kali kamu muncul selalu saja bikin kaget, Wakil Ketua Galen," sungut Pejabat Kota Denver kesal.
"Langsung saja, Pejabat Ketua," kata lelaki serba hitam yang ternyata Wakil Ketua Galen bernada dingin, tanpa perduli sungutan Pejabat Kota Denver. "Apa Raja Darian Cashel sudah mati?"
Dari ciri-cirinya, Wakil Ketua Galen ini ternyata termasuk kelompok pembunuh bayaran, tepatnya Gerombolan Pedang Tengkorak. Dan Galen ini adalah Wakil Ketua-nya yang diutus berhubungan dengan para pejabat Kerajaan Amerta yang berkhianat.
"Terjadi perubahan yang tidak disangka-sangka," kata Pejabat Keegen yang sudah tenang kembali.
"Perubahan bagaimana maksudmu? Apa dia belum mati?"
__ADS_1
"Jangankan mengharapkan dia mati," kata Pejabat Keegen bernada sinis. "Bahkan sekarang dia sudah sembuh."
"Tidak mungkin!" bantah Waka Galen keras.
"Huh! Tidak mungkin bagaimana?" sinis Pejabat Perdagangan seraya mendengus. "Nyatanya memang demikian. Racun aneh yang kalian berikan tidak bisa membunuh Yang Mulia."
"Perlu kalian ketahui tidak ada lagi orangnya di dunia ini yang menguasai energi inti penyembuh," Waka Galen masih berkeras dengan anggapannya. "Racun Mayat Beku diciptakan tanpa obat penyembuh...."
"...Racun itu hanya bisa disembuhkan dengan dua kekuatan energi inti," lanjutnya, "energi inti penyembuh dan energi inti panas. Energi inti panas memang masih ada yang menguasainya di zaman ini. Sedangkan energi inti penyembuh sudah mati sejak ratusan tahun yang lalu...."
"...Kalau masih ada yang menguasai di zaman ini, hal itu tidak masuk akal."
"Aku rasa bukan kalian yang menciptakan takdir," sarkas Pejabat Keegen seraya tersenyum sinis. "Nyatanya takdir membuat racun yang kalian banggakan itu tidak berguna."
"Kalau bukan karena ada perjanjian antara kami dengan para pengkhianat seperti kalian," geram Waka Galen bernada dingin, "sudah aku bunuh kalian semua malam ini!"
Ucapan yang mengandung ancaman itu langsung membuat nyali keempat pejabat itu ciut. Jelas ancaman itu bukan ancaman kosong.
Mereka cukup tahu siapa Waka Galen ini. Kekejamannya sudah mereka kenal. Kalau dia bilang bunuh, maka hal itu akan terjadi. Makanya mereka tidak berani mempermainkan lelaki dingin itu lagi.
Mereka tadi itu sebenarnya masih dilanda kekalutan bercampur kekesalan akibat Raja Darian belum juga mati. Malah sekarang sudah sembuh. Siapa yang menyembuhkan masih juga mengganggu pikiran mereka. Seakan kesembuhan raja itu alamat gagalnya rencana mereka yang sudah diatur bertahun-tahun.
"Maafkan atas ketidak sopanan teman-temanku, Wakil Ketua," kata Pejabat Urusan Pajak mencoba meredam amarah Waka Galen. "Maklumlah, kami masih kalut dan kesal akibat raja belum juga mati. Aku harap kamu bisa mengerti keadaan kami saat ini."
"Sekarang apa rencana kalian?" tanya Waka Galen langsung.
"Sekarang bukan saatnya lagi main racun," kata Pejabat Urusan Pajak mengemukakan rencana baru. "Saatnya kita main keras. Terpaksa kita harus membunuh raja dengan cara kasar. Dan melakukan pergerakan setelahnya."
"Bukankah rencana itu lebih tepat," kata Waka Galen seolah mendukung. "Kalian cepat membunuh raja kalian lebih baik. Kalian cepat dapat tahta, kami cepat dapat uang."
"Di mana pasukanmu sekarang?" tanya Pejabat Urusan Pajak. Kali ini dia yang mengambil alih perwakilan berbicara.
"15 mil sebelah tenggara dari sini...," sahut Waka Galen tanpa ragu dan curiga.
Kemudian mereka membicarakan tentang strategi yang jitu dalam rencana membunuh raja. Mereka juga membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Kapan pelaksanaannya. Jika berubah apa yang harus dilakukan.
Mereka membicarakan semuanya malam ini. Karena malam ini pertemuan terakhir di tempat ini. Sedangkan apa yang semua mereka rencanakan itu direkam dengan baik oleh kedua bocah itu. Bahkan sampai mereka bubar, kedua bocah itu belum juga disadari keberadaannya.
Keempat pejabat itu merencanakan untuk membunuh Raja Darian Cashel. Namun Dhafin dan Brian malah berencana untuk membekuk keempat pejabat pengkhianat itu. Apalagi rencana itu tidak sulit bagi mereka.
Ya, tidak sulit bagi Dhafin dan Brian yang sudah mempunyai ilmu yang lumayan tinggi untuk membekuk empat pejabat yang tidak punya kemampuan apa-apa selain punya mulut yang hanya pintar bicara.
★☆★☆
__ADS_1