
Sejenak Dhafin menatap Raniya dengan tajam. Gadis cantik itu telah melanggar instruksinya tentu saja dia marah, hatinya kesal. Namun kemarahannya itu tidak ditampakkan di raut wajah tampannya.
Raniya telah melanggar rencana yang sudah diatur, menyerang salah satu pendekar istana. Padahal bukan dia yang ditugaskan melainkan Agra.
Barusan tadi Marlon, kandanya telah mengomelinya panjang pendek akibat pelanggarannya itu. Ditambah lagi Naura yang kesal juga karena Raniya tidak mengikuti aturan. Tentu hal itu tambah menyulitkan mereka mendapat izin dari Dhafin agar diluaskan ikut.
Sedangkan Raniya, sudah Marlon dan Naura mengomeli dan memarahinya, ditambah lagi Dhafin menatapnya sedemikian rupa, membuatnya jengkel juga. Bukannya merasa bersalah.
"Kenapa kamu menatapku begitu, Tuan Muda?" dengus Raniya bernada ketus-sinis. "Apa ada yang salah padaku?"
"Raniya!" delik Naura yang berada di sampingnya dengan menekan nada suaranya. "Bukannya kamu minta maaf malah pura-pura tidak sadar kalau Tuan Muda menegurmu."
"Apa karena aku berbuat begitu lantas sudah dianggap melakukan kesalahan besar?" dengus Raniya masih ngotot.
"Raniya!" delik Marlon kesal.
Pedang Kilat, Agra dan ksatria Ketua Carolus yang lain juga kesal atas sikap Raniya itu. Bukannya merasa bersalah dan minta maaf, malah tetap mempertahankan egonya. Dasar gadis keras kepala!
Sementara Zafer hanya diam saja seakan tidak menghiraukan. Gibson cuma geleng-geleng kepala. Sedangkan Hendry maupun Veron cuma bisa memandang heran atas sikap gadis itu.
"Apa sebenarnya rencana Nona mengikuti kami, Nona Raniya?" tanya Dhafin tetap lembut nada suaranya. Tapi jelas itu adalah teguran atas sikap Raniya itu.
"Aku sudah bilang aku dan Naura ingin bergabung dengan timmu," sahut Raniya masih ketus. "Kami ingin membantu perjuangan kalian. Masak perlu aku ulangi lagi?"
"Apa dengan melanggar rencana yang sudah saya atur, itu yang Nona sebut membantu?" kata Dhafin masih kalem.
Ekspresi wajahnya juga tidak menggurat kemarahan, padahal sesungguhnya dia marah. Gibson dan Zafer yang sudah mengenal karakternya telah menyadari hal itu.
Sementara para ksatria yang lain diam saja, membiarkan Raniya didakwai oleh Dhafin. Tidak terkecuali Marlon yang makin kesal atas sikap Raniya itu.
"Cuma lantaran aku sedikit menyimpang dari aturanmu saja, kamu sudah besar-besarkan, Tuan Muda," Raniya masih ngotot, seolah enggan merasa bersalah.
"Aku bisa menjalankan tugas dengan baik," lanjutnya. "Aku bisa mengalahkan lawanku tadi, bahkan membunuhnya sekalian pun bisa."
"Atau... jangan-jangan kamu memang meremehkan kehebatanku dengan sengaja mencari-cari alasan? Biar kesannya aku tidak layak menjadi anggota timmu."
Dhafin terdiam sejenak memandang ekspresi wajah cantik si gadis yang tampak judes. Dia makin curiga kalau Raniya punya niat terselubung sehingga ngotot ingin ikut dalam timnya.
★☆★☆
Setelah agak lama merenung, lalu berkata bernada kalem, tenang, dan tetap santun.
"Saya tidak meremehkan kehebatan Nona. Tapi Nona melakukan sesuatu di luar prosedur, itu yang menjadi poinnya."
"Katanya Nona ingin ikut dalam tim. Tapi baru melangkah saja Nona sudah melanggar instruksi. Bagaimana saya bisa meluaskan Nona ikut kalau begitu?"
Mendengar penuturan Dhafin barusan Raniya segera menahan ucapan yang hendak membantah lagi. Entah pikiran apa yang merasukinya seketika dia tersadar akan kesalahannya.
Dia mengutuki dirinya kenapa berlaku kasar kepada Dhafin. Sudah dirinya yang salah kenapa dia yang ngotot. Akhirnya timbul penyesalan di dalam dirinya akan sikap membandelnya itu.
__ADS_1
Sejenak Raniya menentramkan hatinya dengan menghela napas cukup dalam, lalu menghembuskan dengan perlahan. Kemudian dia berkata bernada lembut penuh penyesalan.
"Tuan Muda, aku mengakui kesalahan dan meminta maaf yang sedalam-dalamnya. Aku berjanji tidak akan mengulanginya di kemudian hari dan aku berjanji akan patuh kepadamu."
Dhafin hanya diam saja mendengar pengakuan Raniya barusan. Tapi bibirnya kini tersungging senyum tipis seakan sebagai tanggapan atas pengakuan itu.
"Kami boleh ikut 'kan dalam timmu, Tuan Muda?" kata Naura bernada hati-hati, harap-harap cemas.
Dia maupun Raniya tentunya amat berharap Dhafin dapat meluaskan mereka untuk ikut dalam Tim Dhafin. Dan berharap pula Dhafin tidak terlalu mempermasalahkan pelanggaran Raniya tadi. Apalagi Raniya sudah berjanji untuk mematuhi Dhafin.
"Maaf, saya tidak bisa meluaskan untuk kalian ikut serta," kata Dhafin penuh bijaksana. "Kalian bukan tim yang terpilih dan juga tidak mendapat izin dari Ketua Carolus."
Jelas terpancar kekecewaan di raut wajah kedua gadis cantik itu, sekaligus rasa tidak puas atas keputusan Dhafin.
Namun Naura dapat memahami keputusan Dhafin tersebut. Mereka tidak terpilih dalam tim. Apalagi tidak mendapat izin langsung dari Ketua Carolus. Dua hal mendasar yang membuat Dhafin tidak bisa mengambil keputusan lain pikir Naura.
Sedangkan Raniya berusaha untuk tidak ngotot lagi dengan bersikap berontak. Dia berusaha sekuat tenaga berdamai dengan perasaannya. Tapi....
"Apakah karena pelanggaran yang aku buat tadi sehingga kamu tidak mau meluaskan kami untuk ikut?" kata Raniya masih berusaha mengemukakan ketidak puasannya tapi dengan lembut terkesan memelas.
"Sebenarnya, meskipun Nona tidak melanggar, tetap saya tidak berani meluaskan kalian ikut," kata Dhafin tetap pada pendirian, "dengan alasan yang sudah saya sebutkan tadi."
"Dan saya semakin yakin dengan keputusan saya dengan pelanggaran yang Nona lakukan," lanjut Dhafin.
"Lagipula saya belum begitu yakin kalau kedepannya Nona akan patuh kepada aturan saya. Mohon dimengerti."
"Raniya, sudah!" tegur Marlon cepat mencegat Raniya yang hendak berkata lagi. "Sebaiknya kamu dan Naura pulang sekarang!"
Sedangkan Dhafin bukan tidak mengerti akan perasaan yang dialami Raniya dan tentunya Naura juga. Tapi dia tidak mau mengambil resiko terlalu jauh dengan memberi izin mereka untuk ikut dalam timnya.
Dia sudah memperkirakan akan banyak bahaya dan aral rintang yang dihadapi selama dalam menjalankan misi. Dia khawatir kedua gadis itu tidak sanggup menghadapi itu semua.
Di samping itu pula tentu konsentrasi mereka akan terbagi demi melindungi kedua gadis itu ketika dalam bahaya.
Di samping itu pula dia begitu menghormati Ketua Carolus dan istrinya, Nyonya Garvita. Dia tidak mau melancangi kedudukan keduanya dengan serampangan memberi izin kepada Raniya dan Naura ikut ke dalam timnya.
★☆★☆
"Sepertinya kita sudah terlalu lama di sini," kata Dhafin selanjutnya.
Maka dia mulai menjelaskan secara global dulu tugas apa saja yang harus dilakukan oleh timnya. Terutama melaksanakan beberapa misi sesuai informasi yang didapat dari sang pemimpin tadi.
Lalu Dhafin membagi timnya menjadi dua kelompok. Yaitu kelompoknya yang terdiri dari dia sendiri, Zafer, Pedang Kilat dan 2 ksatria Ketua Carolus. Sedangkan kelompok ke 2 terdiri dari Gibson, Marlon, Hendry, Veron, dan Agra.
Setelah itu dia menjelaskan apa saja tugas yang akan dikerjakan dan akan ke mana saja target operasi yang akan dituju.
Setelah menginstruksikan beberapa hal selanjutnya, mereka meninggalkan tempat itu menuju ke dua tempat yang berbeda. Meninggalkan Raniya dan Naura yang masih berada di tempat itu.
Sebelum pergi, Marlon sempat memperingatkan lagi agar mereka segera pulang. Dan juga Raniya sempat memaksa untuk mengikuti kelompok Dhafin. Tapi cepat dicegat oleh Naura.
__ADS_1
"Sebaiknya kita pulang saja, Raniya," anjur Naura, "takutnya ketua mencari kita."
Raniya tidak segera menanggapi. Sejenak dia menatap kepergian kelompok Dhafin dan mengamati ke arah mana mereka menuju. Lalu dia menghadap Naura, terus berkata bernada memerintah.
"Sebaiknya kamu saja yang pulang! Aku akan tetap mengikuti ke mana Tuan Muda pergi. Kamu katakan saja yang sejujurnya bahwa aku mengikuti Tuan Muda Dhafin kalau ayah dan bundaku mencariku."
"Kamu katakan juga bahwa aku akan bertanggung jawab atas tindakan yang aku lakukan."
"Tidak bisa!" tolak Naura tegas. "Kalau kamu tidak pulang aku tidak akan pulang juga. Lagipula aku tidak mau disalahkan atas tindakanmu itu...."
"Naura, mengertilah," kata Raniya seperti memohon. "Aku tidak mau melibatkan kamu terlalu jauh dalam urusan pribadiku ini. Terlalu banyak resiko yang akan kita hadapi. Aku takut kamu kenapa-napa. Pulanglah!"
"Kamu sudah tahu kalau akan menghadapi bahaya, tapi kenapa kamu malah nekad menerjangnya?" kata Naura jelas menegur.
"Aku sudah bilang padamu kalau aku menyukai Kak Dhafin," ungkap Raniya. "Makanya aku ingin menunjukkan kepadanya kalau aku adalah wanita hebat dan pantas menjadi kekasihnya."
"Aku ingin selalu mendampinginya dan membantu perjuangannya dalam merebut Kerajaan Amerta ini," lanjutnya.
Saat mengucapkan kalimat-kalimat itu sepasang bibir ranumnya tersenyum penuh bahagia serta berkhayal menjadi kekasih Dhafin. Dasar gadis halu!
"Aku juga sudah bilang padamu kalau pikiranmu itu adalah pikiran gila," sengit Naura mulai kesal. "Kamu terlalu berkhayal terlampau tinggi."
"Seorang pemuda berparas tampan dan berkharisma tinggi seperti Tuan Muda tentulah sudah punya kekasih," Naura meski kesal tapi tak bosan mengingatkan. "Kamu harus menyadari poin itu."
"Aku belum yakin Kak Dhafin sudah punya kekasih kalau belum melihatnya secara langsung," tanggap Naura dengan santai dan masih tersenyum ceria.
"Kalaupun sudah punya kekasih," lanjutnya, "sebelum pendeta mengalungkan bunga pernikahan pada kedua mempelai, aku akan terus memperjuangkan cintaku ini kepada Kak Dhafin."
"Kamu memang sudah menjadi gadis gila!" makin sengit makin kesal Naura mengingatkan. "Itu sama saja kamu perebut kekasih orang. Sejak kapan kamu punya pikiran jahat ingin merusak hubungan orang."
"Terus aku harus bagaimana, Naura?" nada suara dan ekspresi Raniya langsung berubah menjadi sedih sekaligus bimbang.
"Lupakan cinta gilamu terhadap Tuan Muda!" saran Naura tapi seperti sebuah keharusan.
"Aku tidak bisa," nada suara Raniya makin pilu. "Aku sudah terlanjur menyukai Kak Dhafin, sudah terlanjur jatuh cinta sejak aku pertama kali melihatnya...."
"Hhh, terserah kamu lah," kata Naura sudah jengah.
"Sekarang kamu pulang, Naura! Aku akan menyusul Kak Dhafin," pinta Raniya sekaligus perintah.
"Tidak mau, pokoknya tidak mau!" tolak Naura sengit. "Kalau kamu tidak pulang, aku juga tidak bakalan pulang."
"Ini urusan pribadiku, Naura," Raniya masih memberi pengertian. "Aku tidak mau melibatkan kamu."
"Aku ini sahabatmu, Raniya. Meski aku tidak setuju dengan maksud gilamu itu, tapi aku tidak mungkin membiarkan kamu sendiri dalam menghadapi bahaya...."
Terus saja kedua gadis cantik itu saling berdebat tentang siapa yang pulang atau siapa yang pergi hingga cukup lama.
Namun pada akhirnya mereka memutuskan untuk sama-sama menguntit ke mana kelompok Dhafin pergi.
__ADS_1
Mereka juga telah mendengar dengan jelas ke mana saja kelompok Dhafin akan menuju.
★☆★☆★