
Setelah menentramkan dan menetralkan hati dan perasaannya yang tadi sempat terbawa hanyut dalam kesedihan dan kedukaan di makam Paman Killian sekeluarga, Putri Lavina Aneska kembali ke halaman depan. Kedua pengawalnya tetap mengikuti.
Begitu dia dan kedua pengawalnya sampai di halaman depan, ternyata Dhafin masih ada di situ. Di depan pintu sambil bersandar di salah satu gawang pintu. Kedua tangannya masih bersedekap. Kepalanya masih tertunduk menatap tanah.
Meski Dhafin masih bersikap acuh padanya, tapi Putri Lavina masih tetap bersabar menghadapinya. Sedari kecil dia mengenal pemuda itu bersikap seperti itu.
Tapi setidaknya hatinya cukup senang karena masih bisa bertemu dengan pemuda idaman hatinya itu.
Beda halnya dengan Anggie Bellen. Dia amat muak dengan sikap Dhafin yang menurutnya tidak sopan itu. Tapi dia tidak bisa mendamprat Dhafin karena takut akan kemarahan junjungannya kepadanya.
Sedangkan Fanny Cassia masih saja menikmati wajah tampan Dhafin. Dia benar-benar terpesona dengan pemuda berkarakter seperti Dhafin ini.
Meskipun sikapnya dingin tapi penuh ketenangan yang sempurna. Sorot matanya yang tajam itu membinarkan keteduhan dan kelembutan. Alangkah indahnya hidupmu kalau bisa memiliki pemuda itu.
"Boleh saya bertanya, Tuan Putri?" tanya Dhafin tanpa menoleh.
Sedangkan Putri Lavina yang sebenarnya hendak berkata sesuatu, ucapannya langsung diubah jadi pertanyaan.
"Mau tanya apa, Kak?"
"Apakah Tuan Putri tahu kenapa Pejabat Choman sampai tega membunuh keponakannya sendiri?"
"Apa paman tidak sempat memberitahu?" Putri Lavina malah balik bertanya.
"Ya," sahut Dhafin singkat.
"Pasti pejabat cabul itu memaksa paman untuk kembali ke kotaraja," ungkap Putri Lavina menerangkan. "Tapi paman tidak mau...."
"Mungkin karena amarahnya sudah tak tertahan lagi," lanjutnya, "karena berkali-kali diajak tetap tidak mau, akhirnya pejabat cabul itu membunuhnya."
Dhafin tidak bertanya lagi, bahkan terdiam bagai tercenung. Sedangkan Putri Lavina masih menatapnya dalam diam seolah menanti Dhafin berbicara lagi.
Tapi baru saja dia hendak bicara segera diurungkan. Karena melihat Dhafin menurunkan tangannya, lalu melangkah hendak tinggalkan tempat ini begitu saja.
Tentu saja Putri Lavina agak panik bercampur kesal. Dia langsung mengejar Dhafin, lalu memegang tangannya menahan langkah pemuda tampan itu. Lalu bertanya dengan nada kesal-kesal manja.
"Mau ke mana? Kok kamu meninggalkan aku begitu saja?"
"Maaf, Tuan Putri, saya masih ada urusan," sahut Dhafin bernada kalem dan tenang. "Kalau Tuan Putri masih mau di sini, silahkan! Saya mau pergi."
"Mau ke mana? Ikut aku dulu ke kotaraja!"
"Saya orang Amerta, Tuan Putri," kata Dhafin berusaha beralasan agar tidak bersama Putri Lavina. "Berlama-lama di negeri orang akan membahayakan keselamatan saya."
"Tenang saja, aku akan menjamin keselamatanmu selama di sini," kata Putri Lavina masih membujuk. "Aku juga mengajakmu ke kotaraja untuk suatu urusan besar."
"Urusan apa?" tanya Dhafin seakan ingin tahu.
"Nanti di kotaraja baru aku kasih tahu," kata Putri Lavina seolah ingin membuat Dhafin penasaran.
Tangannya masih memegang erat pergelangan bawah Dhafin, bahkan sekarang kedua-duanya tangannya memegang. Meski begitu erat tapi lembut.
"Maaf, kalau Tuan Putri tidak mau memberi tahu itu urusan Tuan Putri," kata Dhafin tidak tertarik dengan teka teki putri angkuh itu. "Saya harus pergi. Tolong lepaskan pegangan Tuan Putri!"
"Baik, aku akan kasih tahu," kata Putri Lavina mengalah. "Tapi kamu jangan pergi ya, ikut aku ke kotaraja!"
"Maaf, Tuan Putri, urusan saya menyangkut keselamatan seseorang," kata mencoba memberi pengertian. "Jadi saya harap Tuan Putri tidak merintangi."
"Urusanku juga termasuk keselamatan seseorang," kata Putri Lavina akhirnya berterus terang, "yaitu keselamatan bundaku."
"Apakah Tuan Putri tidak bergurau?" tanya Dhafin yang kali ini menatap mata sang putri seolah ingin mencari kejujuran dari sorot matanya.
"Aku tidak bergurau. Bundaku sedang sakit, bahkan sakit parah."
Dhafin masih menatap mata indah Putri Lavina, dan menemukan kejujuran dari binar matanya. Bahkan mata indah itu berkaca-kaca. Wajah cantik yang tadi menguarkan keangkuhan, kini berselimut kesedihan.
★☆★☆
"Bukankah banyak tabib handal di istana?" kata Dhafin masih berusaha mencari alasan agar bisa pergi secara halus. "Kenapa Tuan Putri malah meminta saya untuk menyembuhkan bunda Tuan Putri?"
"Aku minta maaf dulu sempat meragukan kehebatanmu," kata Putri Lavina tulus bukan merayu. "Tapi saat kamu berhasil menyembuhkan penyakitku, aku baru sadar kalau kamu ternyata adalah orang yang hebat."
__ADS_1
"Tapi... aku belum sempat mengucapkan terima kasih, kamu sudah pergi...."
Ucapan Putri Lavina ini menjadikan Anggie dan Fanny baru tersadar kalau ternyata antara Putri Lavina dengan Dhafin pernah ada perjumpaan.
Mereka terlalu sibuk dengan perasaan masing-masing. Sehingga sempat luput menyadari kalau sebenarnya sejak awal percakapan kedua insan itu adalah percakapan orang yang sudah saling kenal.
"Aku minta maaf atas perlakuanku dulu yang pernah membuatmu sakit hati," kata Putri Lavina tulus.
"Maaf, Tuan Putri, saya harus pergi sekarang," kata Dhafin seolah tidak menggubris permintaan maaf Putri Lavina. "Tolong lepaskan tangan saya!"
"Kamu tidak mau ikut aku ke kotaraja?" kata Putri Lavina mulai sedikit bernada lain suaranya. "Kamu tidak mau mengobati ibuku?"
Pegangannya pada lengan Dhafin makin dipererat seolah takut kalau Dhafin memaksa untuk melepaskan.
"Apakah Tuan Putri tahu penyakit apa yang diderita bunda Tuan Putri?" tanya Dhafin setelah terdiam beberapa saat.
"Aku tidak tahu nama penyakitnya," sahut Putri Lavina mengaku. "Tapi seperti penyakit kulit. Seluruh tubuh bunda seperti terkena luka yang berair dan berbau amat busuk."
"Apa tabib istana tidak memberi tahu Tuan Putri?" tanya Dhafin seperti menyelidik.
"Mereka bilang hanya penyakit kulit biasa," kata Putri Lavina menggeram seperti kesal terhadap tabib istana yang mengobati bundanya. "Tapi nyatanya bundaku belum sembuh juga hingga sekarang."
"Sudah berapa lama bunda Tuan Putri mengidap penyakit itu?" tanya Dhafin seperti sudah punya dugaan tentang penyakit yang diderita bunda Putri Lavina.
"Sudah 3 tahun lebih," sahut Putri Lavina setelah berpikir sebentar.
"Apa dada bunda Tuan Putri sudah terasa sakit?" tanya Dhafin seakan menebak.
Anggie dan Fanny terkejut atas tebakan Dhafin yang tepat itu. Mereka mulai bertanya-tanya apakah pemuda itu seorang tabib juga?
"Belakangan ini iya," sahut Putri Lavina dengan wajah mulai ceria karena Dhafin seperti sudah tahu penyakit bundanya. "Kamu tahu penyakit bundaku?"
"Sudah berapa lama?" tanya Dhafin tidak menggubris pertanyaan Putri Lavina.
"Kira-kira sudah 2-3 bulanan ini."
"Kamu tahu bundaku terkena penyakit apa?" Putri Lavina mengulang pertanyaannya.
"Bunda Tuan Putri terkena racun," kata Dhafin menduga kuat.
Waktu masih kecil saja pemuda tampan itu sudah memiliki ilmu ketabiban yang hebat, bahkan bisa menyembuhkan racun aneh. Apalagi sekarang, tentu ilmu ketabibannya lebih mempuni lagi.
Sedangkan Anggie cuma terkejut heran. Kesannya seperti tidak percaya.
Cuma sedikit bertanya Dhafin sudah bisa menentukan kalau Selir Ashana Bellanca, bunda Putri Lavina terkena racun. Bukankah hal ini sesuatu yang aneh?
Tabib istana saja harus memeriksa secara serius baru bisa menentukan penyakit yang diderita Selir Ashana Bellanca.
Sementara Fanny yang sudah tergila-gila akan ketampanan Dhafin percaya saja apa yang dikatakan Dhafin.
★☆★☆
"Racun apa, Kak Dhafin?" tanya Putri Lavina ingin tahu.
"Nanti saya periksa dulu secara terperinci baru saya akan beri tahu," kata Dhafin tidak bermaksud membuat teka teki. "Tapi tidak sekarang. Tunggu saya selesai mengurus urusan saya dulu, baru saya akan ke kotaraja menemui Tuan Putri."
"Kenapa tidak sekarang saja, Kak Dhafin?" kata Putri Lavina mulai memaksa dan mulai menajam nada suaranya. "Bagaimana kalau bundaku kenapa-napa?"
"Bunda Tuan Putri tidak akan kenapa-napa dalam beberapa waktu ke depan asal tidak terlalu bersedih atau berduka," kata Dhafin masih sabar memberi pengertian.
"Apakah lebih penting urusanmu itu daripada keselamatan bundaku?" kata Putri Lavina bernada dingin bercampur ketus.
Sepasang matanya kini menatap tajam membinarkan kekesalannya. Dia mulai tidak sabar menghadapi sikap Dhafin yang tidak menggubrisnya.
"Maaf, Tuan Putri, kalau Tuan Putri mau mengikuti aturan saya, saya bisa mengobati bunda Tuan Putri," kata Dhafin tetap pada pendiriannya. "Tapi kalau Tuan Putri tidak mau mengikuti aturan, maaf saya tidak bisa membantu Tuan Putri."
"Kamu yang harus mengikuti aturanku, Kak Dhafin!" kata Putri Lavina agak membentak. Dan ucapannya itu jelas memaksa.
"Tolong lepaskan lengan saya, Tuan Putri!" pinta Dhafin masih bersikap lunak dan tenang.
"Tidak mau! Kamu harus mengikuti aku ke kotaraja!"
__ADS_1
Dhafin menatap tajam sejenak pada Putri Lavina. Lalu dia mengalirkan energi panas ke lengannya. Dan tidak butuh waktu lama Putri Lavina seketika merasakan panas pada telapak tangannya.
Genggaman Putri Lavina spontan terlepas. Bersamaan dengan terdengar dia menjerit kecil karena terkejut sambil mundur 2 langkah ke belakang.
Kejadian itu jelas membuat heran bercampur curiga kedua pengawalnya dan semua Pengawal Khusus-nya. Maka mereka semua langsung menghunus pedang. Dan tidak butuh waktu lama 50 Pengawal Khusus sudah mengepung Dhafin.
Dhafin memandang sebentar 50 pasukan yang mengepungnya itu dengan sikap tenang. Lalu menatap Putri Lavina yang mundur bersama 2 pengawalnya. Membiarkan Dhafin berada di tengah kepungan.
"Tuan Putri, tolong singkirkan pasukan Tuan Putri!" kata Dhafin masih bernada lunak dan bersikap tenang. "Saya tidak mau ada kekerasan di sini."
"Kamu pikir kamu itu siapa hah?" kata Putri Lavina dengan nada angkuh. "Dari tadi kamu meremehkanku, aku masih bisa bersabar. Tapi kamu malah melunjak."
"Maaf, kamu yang memaksaku bertindak kasar!" lanjutnya.
"Sekali lagi, Tuan Putri. Tolong singkirkan pasukan Tuan Putri!" Dhafin masih memberi kesempatan.
"Apa kamu sudah menyerah?" kata Putri Lavina bernada meremehkan. "Kalau begitu ikut aku ke kotaraja, maka aku jamin nyawamu selamat."
"Tapi kalau kamu masih keras kepala," lanjutnya, "aku tidak menjamin nyawamu bisa kembali ke negerimu."
"Kamu sungguh meremehkan aku, Tuan Putri," kata Dhafin seketika suaranya bernada dingin menyeramkan.
★☆★☆
Seketika Dhafin mengangkat tangan kanannya ke depan dengan telapak terbuka dan jeriji terkembang. Setelah itu terjadilah keanehan yang menakjubkan.
Seketika muncul gelombang hawa padat tak berwujud di sekeliling 50 Pengawal Khusus itu. Lalu berputar-putar di sekitar mereka. Sehingga membuat 50 pasukan itu seperti terobang-ambing oleh ombak di lautan. Sedangkan mereka semua terkejut heran bercampur ngeri.
Tentu saja Putri Lavina dan kedua pengawalnya terkejut bukan main hingga mereka tercengang melihat kejadian aneh itu. Sampai-sampai mereka tidak bisa berbuat apa-apa beberapa saat lamanya.
Sementara itu Dhafin menunjukkan lagi atraksi berikutnya. Telapak tangannya yang menghadap ke langit disentak sedikit ke atas. Maka semua pedang 50 pasukan itu terlepas dari genggaman.
Lalu semua pedang itu terangkat ke udara setinggi 7 hasta. Dan ketika Dhafin mengepalkan telapak tangannya dengan kuat dan cepat, semua pedang itu langsung hancur berkeping-keping laksana kaca yang pecah.
Sementara 50 pasukan itu sudah mulai sempoyongan seperti orang mabuk. Tak lama kemudian, sudah ada beberapa orang yang tumbang karena sudah puyeng.
Lalu satu persatu mereka tumbang karena sudah mabuk berat. Dan akhirnya mereka semua tumbang tanpa ada sisa. Kemudian gelombang dahsyat tak berwujud itu hilang bagai meresap ke dalam bumi.
Putri Lavina dan kedua pengawalnya masih tercengang campur terkesima akan peristiwa itu. Dengan mudah Dhafin menumbangkan 50 pasukan itu tanpa ada sisa.
"Satu yang kamu harus ingat, Tuan Putri," kata Dhafin bernada dingin menyeramkan, "jangan pernah meremehkan aku."
Kemudian telapak tangan kirinya yang terbungkus sinar putih menepuk pelan dadanya. Kejap berikut seluruh tubuhnya terbungkus sinar putih dengan cepat.
Lalu sinar putih itu hilang seketika bersamaan Dhafin ikut lenyap bagai ditelan oleh waktu.
Sementara Putri Lavina masih saja terdiam di tempatnya. Matanya yang indah membulat menatap tak berkedip ke tempat di mana tadi Dhafin berdiri. Binaran matanya memancarkan rasa tidak percaya akan apa yang terjadi barusan.
Dia tidak menyangka Dhafin memiliki kehebatan yang mengagumkan seperti itu. Dia pikir Dhafin cuma tahu ilmu ketabiban. Tahu-tahu Dhafin telah menumbangkan pasukannya dengan mudah.
Dia pikir bisa menangkap Dhafin dengan mudah. Dengan pikiran itu dia pikir bisa membawa Dhafin secara paksa ke kotaraja. Namun dia bisanya cuma berpikir.
Hingga akhirnya dia menyesal sendiri akan perbuatannya itu. Barusan tadi dia minta maaf, kenapa dia berbuat kesalahan lagi?
Dhafin tidak memaafkannya masih untung. Bagaimana kalau Dhafin tidak mau menolong ibunya juga karena kesalahannya itu?
Keselamatan ibunya bergantung pada Dhafin sekarang. Karena dia yakin Dhafin bisa menyembuhkannya.
Tapi sekarang nasi sudah menjadi bubur....
Dia hanya bisa menyesal sekarang. Seharusnya tadi dia menuruti saja aturan Dhafin. Toh Dhafin mengatakan kalau bundanya tidak apa-apa dalam beberapa waktu ke depan.
Namun keegoisan dan keangkuhannya telah menghancurkan semuanya. Hingga akhirnya dia cuma bisa menyesali nasibnya.....
"Maafkan aku...."
Putri Lavina langsung jatuh terduduk. Air matanya seketika jatuh begitu saja membasahi pipi halusnya.
Kenapa dia menangis?
Apakah karena dia sudah mencintai Dhafin, terus membuat pemuda itu membencinya lagi?
__ADS_1
Atau karena menangisi nasib bundanya? Dia sudah menemukan tabib yang bisa menyembuhkan bundanya, tapi tabib itu malah meninggalkannya karena keegoisan dan keangkuhannya....
★☆★☆★