Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 196 NEGOSIASI PANGERAN ARZAN DENGAN PANGERAN GHAVIN


__ADS_3

Matahari cukup bersinar terik siang ini, membuat siapa saja tidak betah berlama-lama di luar rumah.


Akan tetapi cuaca yang tak bersahabat itu tidak membawa pengaruh bagi serombongan besar orang-orang yang berseragam prajurit militer. Dilihat dari seragam mereka tampak jelas kalau mereka adalah pasukan elit istana.


Ya, mereka memang tak lain adalah Pasukan Elit Kerajaan Bentala yang telah mengawal pengevakuasian keluarga Raja Ghanim. Mereka berjumlah sekitar 1.000 orang. Ditambah dengan 10 kepala regu pasukan.


Tidak ada yang berkuda dari rombongan itu, semuanya berjalan kaki. Kecuali 2 istri dan 2 putri Raja Ghanim. Masing-masing mereka diusung oleh tandu tertutup yang dipikul oleh masing-masing 4 orang pasukan elit.


Berjalan paling depan adalah Pangeran Arzan dan Pangeran Cullen serta pengawal-pengawal mereka. Di belakangnya berjalan berjajar 10 kepala regu pasukan.


Sedangkan tandu kedua istri dan kedua putri Raja Ghanim diusung secara berderet di tengah pasukan. Ada 2 pelayan yang berjalan mengiringi di masing-masing tandu itu.


Adapun Pengawal Pribadi mereka tidak diikut sertakan. Karena diperbantukan untuk mempertahankan istana. Hal ini berdasarkan keputusan Bunda Suri Hellen. Meskipun sempat ditentang oleh Raja Ghanim.


Sementara di belakang keempat tandu itu terdapat beberapa buah peti cukup besar yang dipikul oleh 2 orang yang posisinya juga secara berderet.


Setelah sekian lama rombongan itu menempuh perjalanan di areal terbuka, akhirnya mereka memasuki hutan yang cukup rimbun. Begitu sudah memasuki pertengahan hutan, rombongan itu memutuskan untuk beristirahat.


Sementara kepala regu, setelah mengatur penjagaan di areal hutan, mereka juga beristirahat bersama yang lain dengan duduk bersandar di bawah pohon.


Sedangkan Pangeran Arzan menghampiri kedua bundanya yang tampak murung dan kuyu. Melihat dan menanyakan keadaan mereka yang dijawab seadanya oleh kedua wanita itu. Bahkan nada bicaranya berkesan tidak bergairah.


Setelah berpesan kepada kedua wanita itu agar jangan terlalu berpikir yang tidak-tidak, lalu pemuda tampan itu menghampiri tandu adik kandungnya yang berada di deretan ke 3.


Namun sang adik yang hingga sekarang masih dalam keadaan galau berat, kesal dan marah tidak mau diganggu ataupun diajak bicara. Tampak matanya sedikit sembap karena habis menangis. Menangisi nasibnya yang malang.


Pangeran Arzan tidak mau mengganggu dulu adiknya itu. Akhirnya dia menghampiri adiknya seayah yang berada di tandu deretan belakang.


Namun dia baru sampai di depan tandu, Putri Ilona Manda sudah keluar dari tandunya. Tentu saja membuat Pangeran Arzan terkejut.


"Kenapa kamu keluar, Ilona?"


"Kanda, kenapa nasib kita jadi begini?" keluhnya sambil memegang kedua tangan kakaknya itu. Matanya tampak berair digenangi air mata. Pipinya yang putih mulus sudah dibasahi oleh air mata.


"Sabarlah, Ilona! Semuanya akan baik-baik saja," kata Pangeran Arzan bernada lembut berusaha menasehati.


"Baik-baik saja bagaimana, Kanda?" protesnya dengan tangis yang ditahan. "Semenjak kedatangan si Dhafin itu semuanya menjadi berantakan seperti ini. Aku benar-benar benci dan dendam kepada pemuda sialan itu!"


"Sudahlah! Tidak usah kamu memikirkan hal itu," kata Pangeran Arzan masih membujuk agar adiknya itu bisa tenang. "Biar kami yang memikirkannya. Kamu tenang saja."


"Sekarang kamu masuk dalam tandumu...!"


Setelah dibujuk dengan lemah lembut akhirnya Putri Ilona bisa sedikit tenang dan masuk kembali ke dalam tandu. Kemudian Pangeran Arzan kembali ke lini depan, di mana Pangeran Cullen, 3 pengawal serta 5 kepala regu berkumpul sambil berbincang-bincang.


★☆★☆


Belum lama Pangeran Arzan duduk bersama rekan-rekannya, seketika datang salah seorang personel pasukan elit dengan tergopoh-gopoh. Lalu dia berlutut menyembah hormat di dekat Pangeran Arzan.


"Ampun, Yang Mulia."


"Ada apa?" tanya Pangeran Arzan setelah menghadap orang itu.


"Melaporkan! Ada ribuan pasukan pemberontak mendatangi tempat ini!"


Langsung saja suasana menjadi gempar. Kedua istri dan kedua putri Raja Ghanim langsung didera ketakutan hebat. Suasana horor langsung menghantui mereka. Sehingga membuat mereka menjadi panik dan gelisah.


Sedangkan Pangeran Arzan dengan cepat memerintahkan para kepala regu untuk mengatur pasukannya dengan siaga tempur.


"Dari mana mereka tahu kalau kita berada di sini?" tanya Pangeran Cullen penuh keheranan.


"Itu tidak penting," kata Pangeran Arzan kepada adiknya itu. "Sekarang kamu persiapkan dirimu untuk menghadapi mereka."


Setelah itu Pangeran Arzan kembali ke 4 tandu itu. Tapi kali ini memperingatkan penghuni tandu agar jangan keluar dari tandu, apalagi mengintip keluar. Dan berusaha menenangkan mereka.

__ADS_1


Kemudian memerintahkan para pasukan yang menjaga tandu-tandu, agar mereka menjaga tandu masing-masing dengan ketat. Jangan sampai kecolongan.


Belum lama pasukan elit itu mempersiapkan diri untuk bersiaga perang, pasukan pemberontak yang dimaksud semakin mendekati area peristirahatan mereka. Dan pasukan pemberontak itu tidak lain adalah para ksatria elit Istana Centauri.


Jumlah mereka mencapai ribuan, lebih banyak dari jumlah pasukan elit. Dan kedatangan mereka dari segala penjuru. Dengan kata lain para ksatria elit mengepung pasukan elit Istana Kerajaan Bentala.


Melihat kenyataan yang mengerikan itu, Pangeran Arzan dan Pangeran Cullen serta seluruh rekan dan pasukannya dibuat terkejut bukan main. Sampai-sampai mereka hanya terperangah menyaksikan pasukan yang begitu banyak yang semakin mendekat itu.


Hingga tidak lama kemudian, semua ksatria elit yang berjumlah sekitar 3000 orang itu telah berhenti sekitar 7-8 tombak dari Pangeran Arzan dan pasukannya.


Posisi mereka membentuk lingkaran bagai cincin mengelilingi, lebih tepatnya mengepung Pangeran Arzan dan pasukannya.


Semua ksatria elit itu adalah laki-laki. Kecuali 3 gadis cantik; yaitu Putri Kayshila, Putri Athalia dan Putri Arcelia. Dan 2 pengawal cantik itu berdiri di belakang Dhafin.


Selain Dhafin dan 3 gadis cantik, juga ada Pangeran Revan, Aziel, Keenan dan Gibson serta beberapa ksatria elit andalan lainnya.


Tampak Dhafin alias Pangeran Ghavin, Pangeran Revan dan Putri Kayshila maju ke depan sekitar 2 tombak. Tentu Putri Athalia dan Putri Arcelia juga ikut maju dan terus berposisi di belakang Dhafin.


Entah seperti sepakat Pangeran Arzan dan Pangeran Cullen ikut maju ke depan sekitar hampir 2 tombak. Jadi jarak antara keempat pangeran keturunan Raja Neshfal itu cukuplah dekat.


Sejenak Dhafin mengamati 4 tandu yang ada di belakang kedua saudara sepupunya itu. Sedangkan Pangeran Revan maupun Putri Kayshila menatap kedua sepupu mereka dengan tajam.


Terutama Pangeran Revan menatap tajam Pangeran Cullen yang juga dibalas dengan tatapan tidak kalah tajamnya.


"Sebaiknya kamu menyerah saja, Pangeran Arzan," kata Dhafin seolah menawarkan, "jika tidak ingin terjadi perang saudara. Suruh semua pasukanmu meletakkan senjata dan menyerah tanpa syarat!"


"Hahaha! Seenak bacotmu menyuruh kami menyerah, Sialan!" kata Pangeran Cullen seraya tertawa penuh amarah. "Apa kamu pikir dengan pasukanmu yang banyak itu kami takut hah?"


"Siapa kalian sebenarnya?" tanya Pangeran Arzan bernada tenang seolah tidak menggubris hardikan adiknya. "Apa maksud ucapanmu jika tidak ingin terjadi perang saudara?"


"Aku adalah Pangeran Ghavin, putra Pangeran Ghazam, kakak seayah dari ayah kalian," kata Dhafin menjelaskan. "Dan di samping kanan kiriku ini adalah kedua adikku seayah; Pangeran Revan dan Putri Kayshila."


"Apa kamu sudah mengerti maksud ucapanku, Pangeran Arzan?" tanya Dhafin melanjutkan.


★☆★☆


Sedangkan Pangeran Cullen juga terkejut mendengar pengakuan Dhafin itu. Sampai-sampai dia yang hendak mendamprat lagi segera diurungkan.


"Kalau begitu," kata Pangeran Arzan setelah agak lama terdiam, "karena kita masih saudara, biarkan aku membawa kedua bundaku dan ketiga saudaraku pergi dari kerajaan ini. Kami tidak akan mengusik kalian kalau kalian membiarkan kami pergi."


Pangeran Cullen yang hendak mengomentari ucapan negosiasi kakaknya, segera diurungkan karena terdengar Putri Kayshila berkata mendahuluinya. Ucapannya bernada sinis bercampur ketus mengandung ejekan.


"Ternyata kamu pandai bicara juga, Pangeran Arzan. Begitu cepatnya kamu mengakui kalau kita ternyata masih satu keluarga demi untuk menyelamatkan pihakmu sendiri...."


"Biar aku beritahu kepadamu, Pangeran," lanjut Kayshila masih bernada sinis dan ketus, "kalian tidak akan bisa lagi meninggalkan tempat ini seenak jidat kalian!"


"Tidak perlu kamu mengancam segala, Gadis Keparat!" berang Pangeran Cullen langsung naik emosinya. "Kami tidak takut meski kalian berjumlah banyak!"


"O..., kalau begitu buktikan kalau kamu memang tidak takut, Pemuda Sialan!" tantang Putri Kayshila sambil tersenyum sinis.


Setelah mendamprat keras, Pangeran Cullen mencabut dengan cepat pedangnya hendak menyerang. Sedangkan Kayshila juga tidak mau kalah.


Sekarang dia sudah menggenggam pedangnya yang memancarkan sinar merah setelah memanggilnya. Dia juga sudah bersiap hendak menyerang Pangeran Cullen.


Namun belum juga kedua saudara sepupu itu bergerak maju saling serang, sudah terdengar seruan Pangeran Arzan dan Dhafin secara bersamaan cukup keras.


"Berhenti, Cullen!"


"Tahan, Kayshila!"


Jelas kedua seruan itu didengar oleh kedua istri dan kedua putri Raja Ghanim, sehingga membuat mereka terkejut. Entah apa yang terjadi di luar mereka tidak berani untuk mengintip.


Sementara Kayshila maupun Pangeran Cullen, demi mendengar seruan bernada tegas itu mereka tidak jadi saling serang.

__ADS_1


Putri Kayshila tidak melakukan protes atas seruan Dhafin yang menahannya untuk menyerang. Dan pedangnya pun dikembalikan di sarungnya yang terletak di punggungnya.


Sedangkan Pangeran Cullen, meski tidak jadi menyerang, tapi dia segera menatap Pangeran Arzan dengan tajam sebagai bentuk protesnya. Baru saja dia hendak memuntahkan rasa ketidak puasannya, Pangeran Arzan sudah berkata bernada perintah.


"Sarungkan pedangmu, Cullan!"


"Apa kamu mau menyerah...."


"Sarungkan pedangmu kataku!"


Beberapa helaan napas Pangeran Cullen masih menatap tidak puas kepada kakaknya. Tapi akhirnya pedangnya disarungkan juga di pinggang sebelah kirinya setelah mendengus kesal.


Setelah melihat adiknya sudah menyarungkan pedangnya, Pangeran Arzan kembali memandang ke depan, ke arah Dhafin.


Tapi baru saja memandang Dhafin, pemuda berpakaian panjang warna biru itu sudah berkata mengandung tanya.


"Kamu cuma membawa 2 bundamu. Bukankah seharusnya ada 3 orang?"


"Maaf, Pangeran Ghavin," kata Pangeran Arzan meski bernada datar tapi bersikap santun, "Bunda Caltha sudah dieksekusi mati oleh Nenenda Hellen dengan tuduhan telah membatu pemberontak...."


★☆★☆


Mendengar berita itu tentu saja membuat Dhafin dan kedua saudaranya serta rekan-rekannya yang lain terkejut bukan main.


Mereka tahu siapa Selir Caltha Fiona, yaitu bundanya Putri Evelyne yang sudah cukup akrab dengan mereka semua. Mendengar berita kematian bunda sang putri, jelas mereka merasa terpukul dan berduka. Apalagi kematiannya itu disebabkan oleh hal yang tidak masuk akal.


Kayshila hendak mengomentari ucapan Pangeran Arzan sebagai bentuk protes kalau tuduhan mereka terhadap Selir Caltha tidak benar. Dan hendak meluruskan kata pemberontak yang diucapkan Pangeran Arzan.


Namun Pangeran Revan cepat mencegahnya dan menyuruhnya agar tetap diam. Biarkan kanda mereka yang berbicara.


Sementara Dhafin, setelah menenangkan perasaannya yang sempat berduka atas kematian Selir Caltha, dia kembali berkata kepada Pangeran Arzan dengan nada tenang.


"Rupanya Selir Hellen sudah demikian takutnya akan kekalahan sehingga bertindak serampangan, membunuh menantunya tanpa sebab yang pasti."


"Maaf, Pangeran Ghavin," kata Pangeran Arzan dengan gaya yang belum berubah, "tindakan Nenenda Hellen bukan urusan kami. Kami hanyalah orang yang patuh kepada beliau."


Mendengar ucapan Pangeran Arzan itu Putri Kayshila semakin emosi. Namun dia masih sanggup menahan amarah demi menghormati Dhafin.


"Sekarang aku minta kepadamu," lanjut Pangeran Arzan, "agar membiarkan kami pergi tanpa dihalangi."


"Sayang sekali dengan terpaksa aku tidak bisa memenuhi permintaanmu itu," kata Dhafin mengimbangi kesantunan sepupunya. "Karena Selir Hellen tidak mengindahkan peringatanku tempo hari."


"Tempo hari aku sudah memberi kesempatan kepada kalian untuk meninggalkan istana," lanjutnya. "Tapi Selir Hellen dengan kesombongannya tidak mengindahkan peringatanku. Aku minta maaf kalau kalian terkena imbas kesombongan nenek kalian."


"Pangeran Ghavin, kehendak Nenenda Hellen tidak ada yang bisa menentangnya," kata Pangeran Arzan masih mencoba bernegosiasi. "Sedangkan kami hanyalah orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya."


"Kami hanya bisa patuh semua kehendaknya tanpa berani membantah meskipun dengan terpaksa."


"Sekarang, demi jalinan kekerabatan di antara kita, biarkan aku dan pasukanku pergi membawa kedua bunda dan adik-adikku."


"Sekarang kamu hanya punya dua pilihan, Pangeran Arzan," kata Dhafin seolah tidak menggubris permohonan Pangeran Arzan, "kamu dan semua pasukanmu menyerah atau kalian semua memilih mati di sini."


Mendengar ucapan mengerikan Dhafin yang jelas dan tegas itu, membuat kedua istri Raja Ghanim semakin ketakutan. Tidak terkecuali Putri Ardella.


Sedangkan Putri Ilona, entah setan mana yang merasuki dirinya, seketika dia keluar dari dalam tandunya. Wajah cantiknya yang sudah tampak kusut dipenuhi kemarahan berpadu dengan keberanian yang menggelora.


Dengan langkah lebar dan cepat dia berjalan menuju ke arah Dhafin setelah mencabut pedang salah seorang pasukan penjaganya. Dengan kedua tangannya dia menggenggam pedang itu yang sedianya hendak menebas Dhafin.


Semua orang yang melihatnya hanya bisa melongo akan perbuatan nekatnya itu. Namun mereka hanya bisa diam seolah tidak bisa berbuat apa-apa. Yang sibuk hanya kedua pelayannya yang terus memanggil-manggilnya sambil berusaha menahannya.


Namun Putri Ilona tidak memperdulikan apapun dan siapa pun. Dia terus saja melangkah lebar dan cepat. Kedua kakaknya dilewati begitu saja karena mereka sama seperti yang lain, hanya bisa terkesima tanpa bisa berbuat apa-apa.


Sementara Dhafin memperingatkan kepada semua rekan-rekannya agar tidak melakukan apapun.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2