
Kampung Naraya yang damai...
Senja tua menelungkupi Kampung Narara. Membuat mayapada semakin temaram dan sebentar lagi akan berubah menjadi hitam kelam.
Sinar mentari semakin redup. Sedangkan jasadnya sudah tenggelam di balik cakrawala barat.
Tampak Gibson terbaring diam di atas dipan di sebuah kamar sederhana. Kamar yang agak kecil itu diterangi sebuah pelita yang menempel di tembok kamar.
Sejak dia dikirim ke kampung ini oleh Dhafin melalui teleportasi, yaitu pada dini hari menjelang subuh hingga menjelang malam begini dia belum sadarkan diri.
Kondisinya cukup kritis dan memprihatinkan. Begitu banyak luka sayatan dan tusukan di tubuhnya membuatnya banyak kehilangan darah. Sehingga membuatnya amat lemah, nyaris tak bisa bergerak.
Gibson jelas belum menyadari kenapa Dhafin bisa mengirimnya ke Kampung Naraya. Yang jelas awal dia muncul di kampung ini pada hari menjelang subuh.
Dia muncul dalam keadaan tidak sadarkan diri di depan rumah penduduk tidak terlalu besar yang terletak di ujung kampung. Kebetulan yang menghuni rumah itu Brian, Kelvin, Wilson, dan Orian Louise. Pemilik aslinya semuanya sudah tewas waktu tragedi berdarah tempo hari.
Sebelum kemunculan Gibson yang cukup menghebohkan, pada malam hari muncul secara tiba-tiba rombongan Permaisuri Chalinda. Termasuk di dalamnya Kayshila dan Fariza.
Kemunculan mereka itu jelas membuat heboh seisi kampung. Dan membuat Brian terkejut bukan main. Dia melihat 4 bundanya saja muncul secara tiba-tiba di sini sudah membuatnya kaget setengah mati. Apalagi keadaan mereka semua yang sungguh memprihatinkan.
Belum hilang kegemparan akibat kemunculan rombongan Permaisuri Chalinda, muncul lagi rombongan Pangeran Nevan yang cuma 4 orang; dia, Dylan Ruben dan 2 putra Raja Darian yang lainnya.
Kemunculan 4 orang itu yang secara tiba-tiba pula makin membuat heboh Kampung Naraya di malam itu. Brian dan Pangeran Revan belum sempat bertanya banyak kepada kedua rombongan yang datang tidak bersamaan itu.
Hanya saja Permaisuri Chalinda mengungkapkan sedikit mengenai keadaan Kerajaan Amerta yang sudah direbut oleh Putri Rayna Cathrine. Dan Kerajaan Amerta saat ini dipimpin oleh Raja Adrian.
Dan yang membawa mereka ke sini adalah Dhafin dan Gibson. Begitu juga dengan rombongan Pangeran Nevan, dua pemuda itu juga yang membawa mereka ke sini.
Bagaimana nasib kedua pemuda itu Brian dan Pangeran Revan tidak bertanya dulu. Karena kondisi kesehatan kedua rombongan itu cukup memprihatinkan. Dan mereka segera dicarikan tempat tinggal yang layak demi kesembuhan mereka.
Selama 3 tahun dalam penjara mereka tidak mendapat makanan yang layak apalagi bergizi. Belum lagi rombongan Pangeran Nevan mengalami penyiksaan yang membuat luka-luka di tubuh mereka tidak kunjung sembuh. Karena diobati secara asal-asalan.
Kebetulan pada Pasukan Jubah Merah ada beberapa orang yang telah belajar ilmu ketabiban. Maka mereka langsung menangani penyakit rombongan Pangeran Nevan dengan serius.
Sedangkan pada pasukan Istana Centauri, sebagian besar sudah pulang ke istana, termasuk Yang Mulia Ratu dan para pengawalnya. Yang tinggal cuma beberapa gelintir saja. Dan tidak ada tim kesehatannya.
Jadi yang diandalkan cuma Kayshila yang memang mengerti tentang ilmu ketabiban. Akhirnya dia yang bertanggung jawab mengenai perawatan penyakit rombongan Permaisuri Chalinda. Tentunya dibantu oleh Fariza dan beberapa gadis lainnya.
Begitu Brian, Kelvin, Wilson dan Orian telah pulang ke rumah mereka setelah rapat dengan Pangeran Revan hingga hampir subuh, mereka menemukan Gibson terkapar di depan pintu masuk dalam keadaan pingsan.
Maka heboh lagi suasana di kampung itu setelah kehebohan sebelumnya belum hilang. Gibson ditemukan dalam keadaan banyak luka di tubuhnya siapa yang tidak kaget kalau begitu.
Dengan segera Gibson langsung dirawat di rumah yang khusus. Karena dia kondisinya amat parah, butuh tempat sendiri untuk merawatnya. Tim kesehatan langsung beroperasi dengan cepat mengurus luka-luka yang hampir memenuhi sekujur tubuhnya.
Karena Gibson banyak kekurangan darah, maka malam itu juga segera dicarikan darah yang cocok dengan golongan darahnya dan langsung dilakukan transfusi darah. Kebetulan golongan darahnya tidak susah.
Akhirnya masalah kekurangan darah sudah teratasi. Namun bukan berarti Gibson lewat dari masa kritis. Sehingga sampai hampir malam tiba dia belum juga sadarkan diri.
Melihat kondisi Gibson yang begitu mengenaskan jelas membuat Fariza syok berat terus amat bersedih, sehingga membuatnya mengeluarkan air mata.
Mulai ditanganinya kondisi Gibson hingga sekarang, Fariza tidak pernah meninggalkannya. Gadis berbaju ungu itu tetap setia menemani sang pujaan hati.
Sementara Raisha, mendengar musibah yang menimpa Gibson, dia juga langsung syok berat. Rasa sedih berbalut duka seketika memenuhi hatinya.
Semalam dia masih melihatnya dalam keadaan bugar. Kenapa tiba-tiba dikabarkan terkena musibah? Apakah yang terjadi?
★☆★☆
Sedangkan Nyonya Brianna, tidak usah dibilang lagi betapa terpukulnya dirinya mendengar musibah yang menimpa Gibson.
Kalau tidak ingat dia berada di mana, kalau tidak ingat dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, ingin rasanya dia melihat kondisi pemuda itu. Merawatnya hingga sembuh.
Namun dia masih bisa menekan perasaannya itu. Meskipun tidak sanggup menahan kesedihannya yang tersalur melalui air matanya.
__ADS_1
Selir Zeline yang sekamar dengan Nyonya Brianna tidak dapat berbuat banyak melihat kesedihan yang dialami oleh kakaknya itu.
Dia tahu masalah yang tengah dihadapi oleh kakaknya. Dan dia tahu apa hubungan kakaknya dengan Gibson.
Saat ini dia hanya bisa memeluk Nyonya Brianna untuk mengurangi kesedihannya. Hanya bisa menyabarkan hatinya agar tetap kuat menghadapi kenyataan. Dan sama-sama berdoa agar Gibson bisa melewati masa kritisnya.
Sementara yang terjadi dengan Kayshila maupun Faniza lain lagi.
Melihat kondisi Gibson yang begitu mengenaskan, Kayshila langsung terbayang akan nasib kekasihnya yang tidak-tidak. Kalau kondisi Gibson demikian, bagaimana dengan kondisi Dhafin?
Sampai malam begini Gibson belum juga sadar. Membuat gadis cantik itu harap-harap cemas. Karena nasib Dhafin bergantung pada kabar yang akan diberitahukan oleh Gibson. Tapi Gibson belum sadar juga.
Sedangkan Faniza, apa yang dipikirkan Kayshila, begitu pula yang dipikirkannya tentang nasib Dhafin, pemuda yang sudah mengisi relung hatinya yang terdalam.
Amat sulit baginya untuk memikirkan kalau Dhafin baik-baik saja jika memikirkan nasib yang menimpa Gibson. Karena mereka malam itu masih bersama-sama.
Namun dia terus berdoa agar Dhafin selamat dari marabahaya.
★☆★☆
Tok! Tok! Tok!
Fariza menolehkan wajahnya yang masih berbalut sedih ke arah pintu kamar. Telinganya masih sempat mendengar ketukan dari luar kamar 3x.
"Siapa?" tanyanya dengan nada parau karena banyak menangis.
"Aku, Jenderal Jovita," sahut suara halus dan lembut dari luar kamar. "Yang Mulia Ratu ingin masuk."
Dengan langkah cepat Fariza langsung menghampiri pintu. Begitu sampai lantas membukanya lebar-lebar. Dan memang di luar kamar ada Yang Mulia Ratu dan kedua Pengawal Pribadi-nya; Jenderal Jovita dan Jenderal Keysha. Kayshila juga ada.
Sedangkan Jenderal Ariesha dan Jenderal Grania jelas menemui ibu mereka. Sudah 8 tahun tidak bertemu pastinya mereka kangen berat.
Peristiwa yang terjadi semalam dan dini hari menjelang subuh baru siang tadi dilaporkan ke Istana Centauri. Dan yang menjadi utusan untuk melaporkan peristiwa ini adalah Jenderal Jessica yang biasanya sering berada di Kampung Naraya.
Setelah selesai pertemuan Yang Mulia Ratu langsung ke Kampung Naraya. Sekalian Pangeran Nelson ikut. Karena dia ingin melihat rombongan dari Kerajaan Amerta yang katanya terkena musibah menurut laporan Jenderal Jessica.
Begitu tiba di kampung Naraya Yang Mulia Ratu langsung menuju ke mari. Belum bertemu siapa pun termasuk keempat istri ayahandanya.
Fariza langsung mempersilahkan Yang Mulia Ratu masuk beserta kedua pengawalnya dan Kayshila. Sedangkan Pengawal Khusus Ratu menunggu di luar kamar.
"Hamba memohon kepada Yang Mulia untuk menyembuhkan Kak Gibson," mohon Fariza seraya berlutut di hadapan Yang Mulia Ratu. Air matanya kembali tertumpah.
"Tenanglah, Kak Fariza! Aku akan berusaha menyembuhkan Saudara Gibson," kata Yang Mulia Ratu penuh kelembutan. Lalu dia menyuruh Fariza berdiri.
Setelah Fariza berdiri, Yang Mulia Ratu melangkah lebih mendekat ke tepi pembaringan Gibson. Sejenak ditatapnya Gibson yang masih terbaring diam. Kalau tidak terlihat dadanya turun naik mungkin dikira kalau dia sudah mati.
Setelah itu dia meminta tolong kepada Kayshila untuk menyingkap selimut Gibson setengah badan. Setelah itu dia duduk di kursi yang terletak di dekat tepi pembaringan.
Kemudian dia melakukan beberapa kali gerakan telapak tangan di depan dadanya. Begitu kedua telapak tangannya telah terbungkus sinar kuning bening, lalu ditempelkan di atas dada dan perut Gibson.
Begitu kedua telapak tangan Yang Mulia Ratu menempel di badan Gibson, sinar kuning bening yang memancar dari kedua telapak tangannya sedikit demi sedikit merambat ke tubuh Gibson. Hingga akhirnya sinar kuning bening itu menyelimuti seluruh tubuh Gibson.
Belum lama hal itu berlangsung, seketika kejadian ajaib terjadi. Luka-luka di sekujur tubuh Gibson mulai mengering dan mengering. Hingga akhirnya lenyap sama sekali di sekujur tubuhnya bagai tak pernah luka sama sekali.
Melihat hal itu sebenarnya membuat heran bagi Kayshila maupun Fariza. Lebih tepatnya mereka takjub. Dan Kayshila kembali mengingat Dhafin karena Dhafin juga memiliki ilmu penyembuhan seperti itu.
Setelah mengobati luka-luka hampir di sekujur tubuh Gibson, Yang Mulia Ratu menyalurkan energi murni ke seluruh tubuh Gibson untuk membangkitkan lagi tenaganya yang masih lemah.
Kurang lebih sepenanakan nasi Yang Mulia Ratu melakukan hal itu, sekujur tubuh Gibson mulai mengencang dan seperti sudah teraliri tenaga dalam.
Hingga akhirnya dia siuman dan hampir saja dia tersentak bangun kalau tidak dicegat oleh Yang Mulia Ratu. Tapi seketika kengerian langsung terlukis di wajah tampannya tanpa dapat dicegat.
"Tuan Muda!" cetusnya bernada terkejut bercampur ketakutan. "Tuan Muda! Di mana kamu, Tuan Muda?"
__ADS_1
Pikiran Gibson masih belum pulih betul. Saat ini dia merasa seperti masih berada di kerumunan pasukan istana yang mengeroyok dia dan Dhafin.
Keadaannya seperti orang yang kerasukan iblis. Sepasang matanya nyalang menatap keadaan sekitar sambil terus memanggil....
"Tuan Muda! Tuan Muda! di mana kamu, Tuan Muda?"
Tentu saja keadaan Gibson yang seperti orang gila itu membuat heran semua gadis yang ada di situ. Termasuk Yang Mulia Ratu yang sudah beranjak berdiri di depan kedua pengawalnya.
Fariza cepat-cepat membenahi selimut Gibson sambil menyuruhnya agar menenangkan pikirannya. Memeluk sang pujaan hati biar hatinya menjadi tenang.
Dan memang Gibson sekarang sedikit tenang setelah ditenangkan oleh Fariza.
Kayshila segera menuang air ke dalam gelas. Lalu menyerahkan kepada Fariza. Dan Fariza meminumkannya kepada Gibson yang ditandasnya hingga habis.
"Keysha, apa Saudara Gibson kerasukan?" tanya Yang Mulia Ratu sambil terus menatap Gibson yang masih belum sepenuhnya tenang.
"Tidak, Yang Mulia," sahut penyihir cantik itu. "Dia cuma mengalami gangguan pikiran sebentar akibat peristiwa hebat yang menimpanya."
Yang Mulia Ratu tidak bertanya lagi. Dan yang lainnya juga terdiam. Yang bersuara cuma Fariza yang masih menenangkan pikiran Gibson.
"Tenanglah, Kak. Semuanya akan baik-baik saja. Kakak sekarang sudah sembuh. Kakak bisa menceritakan apa yang terjadi."
Perlahan demi perlahan keadaan kejiwaan Gibson mulai membaik. Melihat hal itu Fariza menjadi senang dan perlahan melepaskan pelukannya pada pemuda itu.
Sedangkan Gibson menatap Fariza dengan tatapan miris sambil bertanya.
"Apakah kamu, Nona Fariza?"
"Ya, aku Fariza, temanmu," sahut Fariza sambil tersenyum haru melihat Gibson sudah bisa berbicara normal.
"Aku berada di mana sekarang? Di mana Tuan Muda?"
"Kamu berada di Kampung Naraya," sahut Fariza dengan hati-hati. "Kamu datang ke sini seorang diri."
Lalu Gibson memperhatikan kedua tangannya yang masih terbalut perban. Terus dibukanya perban di kedua tangannya dan tak didapati lagi luka sayatan dan tusukan di situ. Lantas dia bertanya.
"Siapa yang menyembuhkanku, Nona Fariza?"
"Yang Mulia Ratu," sahut Fariza.
Gibson sejenak memperhatikan gadis-gadis yang ada di kamar ini. Baru dia sadari ternyata bukan cuma Fariza yang ada di kamar ini. Begitu matanya tertumbuk pada Kayshila air matanya langsung keluar begitu saja.
Tentu saja membuat Fariza kembali bersedih melihat Gibson menangis seakan turut merasakan kesedihannya.
"Maafkan aku, Nona Kayshila," ucapnya bernada pilu, "aku tidak bisa menjaga Tuan Muda."
"A... apa maksud bicaramu?" tanya Kayshila terkejut bukan main. Dadanya seketika berdebar-debar kencang.
"Apa yang terjadi dengan Kanda, Kak Gibson?"
Gibson tidak menjawab. Dia malah memandang Yang Mulia Ratu, terus berkata dengan nada yang makin pilu. Sementara air matanya terus mengalir.
"Kenapa Yang Mulia menyembuhkan hamba? Kenapa Yang Mulia tidak membiarkan hamba mati saja? Itu lebih baik bagi hamba daripada hamba melihat nasib tragis Tuan Muda."
"Tenanglah, Kak, tenanglah! Semua akan baik-baik saja. Setelah ini kita akan menyelamatkan Tuan Muda."
Fariza kembali membujuk Gibson yang terus menangis seakan meratapi nasib Dhafin yang entah bagaimana kabarnya.
"Tidak, Nona Fariza, tidak. Kamu tidak berada di tengah ribuan pasukan. Sementara aku dan Tuan Muda berada di tengah ribuan pasukan itu. Bagaimana kamu bilang Tuan Muda baik-baik saja?'
"Dari tadi kamu menyebut Tuan Muda," kata Yang Mulia Ratu dibuat heran. "Siapa Tuan Muda?"
"Dhafin, Yang Mulia," sahut Fariza agak pelan.
__ADS_1
★☆★☆★