Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 105 KABAR PUTRI FANIZA ELVIRA TERKENA RACUN


__ADS_3

Ke manakah perginya Dhafin?


Rupanya setelah berhasil menghindari Putri Lavina yang memaksanya ke kotaraja, melalui jalur teleportasi dia melesat langsung ke Kerajaan Amerta.


Dia melesat langsung ke sebuah hutan sekitar 1 mil di belakang rumah Chafik yang terletak di pinggir kotaraja.


Terakhir dia, Kayshila, Gibson dan Fariza meninggalkan rumah itu beberapa hari yang lalu sebelum mereka berhasil masuk ke dalam penjara bawah tanah.


Dia tidak melakukan apa-apa dulu selain hanya duduk termenung di bawah pohon cukup besar di hutan itu. Memikirkan tentang Kayshila yang ternyata adalah adiknya sendiri, tepatnya adik tirinya.


Kuat dugaannya kalau Kayshila sudah menemui Pangeran Nelson dan menanyakan tentang jati dirinya. Dan pastinya Pangeran Nelson menerangkan kepada Kayshila siapa keluarganya.


Mengetahui siapa keluarganya yang lain Kayshila jelas amat bahagia sekali. Tapi bagaimana kalau dia telah menyadari bahwa sebenarnya pemuda yang dijadikan kekasih adalah kakaknya?


Dhafin tak sanggup membayangkan bagaimana perasaan Kayshila saat ini. Mungkin di satu sisi dia bahagia. Tapi di sisi lain apakah bisa menjamin kalau dia tidak sakit hati?


Sekian lama mereka bersama dan sudah menjalin hubungan menjadi sepasang kekasih. Namun di saat-saat puncak cinta mereka yang sedangkan mekar, di saat itu juga mereka harus menghentikan hubungan itu.


Karena ternyata mereka adalah saudara, saudara tiri.


Dhafin menghempaskan napasnya kuat-kuat seakan membuang semua kegalauannya. Sejenak ditenteramkan hatinya agar kembali tenang. Lalu dia berdiri sambil menatap langit.


Dia berusaha sekuat tenaga untuk menerima kenyataan ini yang pasti penuh hikmah. Setelah urusannya selesai dia akan menemui Kayshila dan memberi pengertian kepada adiknya itu untuk menerima kenyataan.


Sekali lagi dihembuskan napasnya. Tapi kali ini agak pelan dan agak halus. Lalu dia melangkah menuju ke arah rumah Chafik. Sambil melangkah pendengaran dan penglihatannya dipertajam.


Setelah Raja Adrian gagal menangkap dirinya, jelas raja angkuh itu lebih mengoptimalkan penjagaan si seantero Kerajaan Amerta, terkhusus di kotaraja.


Apalagi kalau Raja Adrian dan Putri Rayna tahu bahwa sebagian besar tahanan mereka sudah berhasil dibebaskan.


Dan sekarang bersisa tahanan inti, yaitu Raja Darian Cashel. Tentu penjagaan di penjara bawah tanah lebih dan lebih diperketat lagi. Sehingga besar kemungkinan untuk masuk seperti tempo hari.


Begitu kurang dari 100 tombak lagi sampai di rumah Chafik, seketika Dhafin berhenti. Didongakkan kepalanya sedikit sambil mengedarkan pandangan seperti mencari pohon yang hendak dipanjati.


Tak lama dia melenting ke sebuah pohon cukup besar di sebelah kiri depannya. Menapaki beberapa dahan besar, lalu berhenti di salah satu dahan.


Kemudian duduk bersila sambil menggerak-gerakkan kedua telapak tangannya dengan gerakan tertentu menerapkan ilmu Pelacak Aura Sukma sekaligus menerapkan ilmu pendengaran jarak jauh.


"Hm, rupanya mereka sudah di sini," gumamnya bagai bicara sendiri setelah selesai menerapkan ilmu itu.


Setelah itu dia berdiri dan menghadap ke satu arah. Lalu melenting dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Hingga akhirnya dia sudah dekat dengan rumah Chafik bagian belakang sekitar 15 tombak.


Baru saja dia melenting turun ke bawah, beberapa pemuda tampan yang sebayanya telah keluar dari pintu belakang rumah Chafik. Gerakan mereka begitu cepat dan ringan.


Awalnya mereka langsung memasang sikap waspada saat melihat Dhafin. Tapi begitu mengetahui kalau yang mereka lihat adalah orang sendiri, mereka langsung bersikap rileks.


Pemuda-pemuda tampan itu ternyata adalah Brian, Aziel, Keenan, Kelvin, Gibson, dan Chafik si tuan rumah.


★☆★☆


Tentu saja para pemuda itu amat senang sekali ketika masing-masing mereka dapat bertemu lagi dalam keadaan tidak kurang suatu apa. Baik Dhafin maupun keenam pemuda tampan itu.


Terutama Gibson yang paling senang. Terakhir dia berpisah dengan Dhafin dalam keadaan mereka sama-sama terluka parah.


Begitu melihat Pangeran Pusat dalam keadaan baik-baik saja, rasa gembiranya tak bisa dilukiskan. Sama juga halnya apa yang dirasakan oleh Dhafin.


Setelah mereka selesai melakukan kegiatan sebagaimana layaknya orang yang kembali saling jumpa, mereka masuk ke dalam rumah.


Tidak perlu mereka bertanya ke mana Dhafin selama 8 tahun ini karena Gibson sudah bercerita. Dan Dhafin tak bertanya ke mana Brian, Kelvin dan Chafik menghilang selama itu karena Gibson sudah menceritakan.


Yang Dhafin tanyakan ke mana menghilangnya Aziel dan Keenan. Maka kedua pangeran itu menceritakan ke mana saja mereka terpesat setelah mereka menghilang waktu 8 tahun yang lalu.


Sedangkan yang mereka tanyakan kepada Dhafin ke mana dia pergi setelah peristiwa pengepungan di halaman penjara bawah tanah?


Maka Dhafin menceritakan seadanya ke mana dia pergi setelah peristiwa itu. Jelas dia tidak bercerita secara rinci.

__ADS_1


Termasuk tidak menceritakan pertemuannya dengan Putri Lavina. Termasuk tidak menceritakan pertemuannya dengan Paman Killian. Yang mana dari pertemuan itu dia tahu secara pasti kalau Kayshila adalah adiknya.


Giliran Dhafin bertanya tentang kondisi kesehatan rombongan Permaisuri Chalinda dan rombongan Pangeran Nevan.


Brian menjelaskan kalau kondisi kesehatan sebagian besar mereka tidak terlalu buruk. Apalagi sekarang mereka mungkin mereka hampir sehat secara prima.


Kecuali beberapa orang seperti rombongan Pangeran Nevan yang kesemuanya mengalami luka yang cukup parah. Tapi sudah ditangani secara baik.


Akan tetapi ilmu beladiri serta kesaktian mereka tersegel. Termasuk pula yang tersegel adalah Putri Raisha, meski kondisi kesehatannya dikategorikan baik.


Akan tetapi ada salah satu rombongan yang cukup parah kesehatannya, yaitu Putri Faniza. Menurut Kayshila, lengkapnya sekarang Putri Kayshila kalau Putri Faniza terkena racun.


"Terkena racun?" Dhafin langsung terkejut mendengarnya. "Racun apa?"


"Nona Kayshila belum tahu," sahut Brian menerangkan. "Katanya kamu yang bisa tahu Faniza terkena racun apa."


"Sudah berapa lama Tuan Putri terkena racun?" tanya Dhafin antusias.


"Menurut keterangan Nona Kayshila kalau Faniza tidak begitu tahu kapan dia terkena racun," terang Brian lagi. "Hanya saja dalam 3 bulan terakhir di penjara Faniza mulai merasakan aneh pada dirinya...."


"Kepalanya sering pusing dan terasa sakit," lanjut Brian. "Dadanya juga terasa sakit dan akhir-akhir ini lebih sering sesak napas."


"Ada gejala lain selain itu?" kejar Dhafin. "Misalnya pada tubuhnya?"


"Kata Nona Kayshila terdapat bintik-bintik hitam dan kuning di tubuhnya sebesar biji gandum," sahut Brian lagi.


"Tuan Putri Faniza terkena racun apa, Pangeran Pusat?" tanya Keenan ingin tahu sekali.


"Aku belum bisa memastikan terkena racun apa sebelum memeriksa lebih teliti," sahut Dhafin mengakui. "Tapi aku sudah bisa menduga-duga Tuan Putri Faniza terkena racun apa."


★☆★☆


Sejenak Dhafin terdiam seperti termenung memikirkan penyakit yang diderita Putri Faniza Elvira. Sementara yang lain tak ada juga yang berbicara seakan menunggu Dhafin berbicara atau bertanya.


"Di mana Tuan Putri dan Kayshila sekarang?" tanya Dhafin lagi memecah kebisuan.


"Di mana itu Istana Centauri?" tanya Dhafin merasa aneh.


"Di sebuah lembah yang dinamakan Negeri Tabir Ghaib," sahut Brian.


Dhafin makin heran bercampur bingung mengenai tempat itu. Tapi dia tidak mau terlalu memikirkannya. Yang penting ada yang mengantarkannya.


"Antarkan aku ke sana!" pintanya.


"Apa racun yang diidap Tuan Putri Faniza sudah begitu parah, Pangeran Pusat," tanya Aziel ikut-ikutan memanggil julukan Dhafin, "sehingga tidak bisa ditunda?"


"Apa tidak menunggu pembebasan Yang Mulia Raja dulu baru kita ke Istana Centauri?" tanya Brian seakan mengusulkan.


"Kalau sudah muncul bintik-bintik kuning di tubuh Tuan Putri, itu artinya penyakitnya sudah tergolong parah," kata Dhafin menerangkan. "Aku takut tidak cepat menolong Tuan Putri, penyakit yang dideritanya semakin parah."


"Bagaimana dengan Yang Mulia Raja?" tanya Aziel bagai ingin meminta saran Dhafin.


"Kamar tahanan Yang Mulia disegel memakai segel Jaring Langit," kata Dhafin menerangkan. "Cuma ada 2 cara baru segel itu bisa dibuka."


"Cara yang satu aku sudah beritahu mereka, Tuan Muda," kata Gibson memberi tahu. "Tapi cara yang satunya kamu belum kasi tahu."


"Cara lain untuk bisa membuka Segel Jaring Langit yaitu dengan menggunakan Panah Cakra Langit."


"Di mana kita bisa dapatkan panah itu?" tanya Kelvin yang baru bersuara.


"Itu bukan panah biasa," ungkap Dhafin menerangkan. "Panah itu terbentuk dari hasil olahan energi sakti. Dan tidak sembarang orang yang mempunyai energi sakti semacam itu."


"Kalau begitu amat susah kita mendapatkan orang yang memiliki energi sakti seperti itu," gumam Kelvin seperti menggerutu.


"Tuan Putri Aurellia memiliki energi sakti seperti itu," ungkap Dhafin. "Waktu dia masih kecil dulu aku sudah membetuk dasar Panah Cakra Langit dalam salah satu energi saktinya."

__ADS_1


Semua pemuda tampan di ruangan depan itu tampak menerbitkan beberapa ekspresi di wajah mereka saat mendengar penuturan Dhafin barusan.


Jelas mereka gembira saat mendengar kalau ternyata Putri Aurellia atau Yang Mulia Ratu memiliki energi sakti yang bisa membentuk Panah Cakra Langit.


Tapi di sisi lain telinga mereka merasa aneh mendengar Dhafin menyebut junjungan mereka sebagai Tuan Putri Aurellia. Padahal Putri Aurellia sudah menjadi Yang Mulia Ratu Agung di Istana Centauri.


Namun mereka segera tersadar kalau Dhafin jelas belum tahu bahwa Putri Aurellia sudah menjadi Ratu Agung Istana Centauri, junjungan mereka.


Chafik yang sedari tadi cuma diam saja hendak angkat bicara. Dan Brian bisa menduga apa yang hendak dikatakan pemuda lugu itu. Makanya Brian langsung mendahuluinya berbicara.


"Sepertinya pembebasan terhadap Yang Mulia kita tunda dulu untuk sementara. Begitu menurutmu 'kan, Pangeran Pusat?"


"Di mana Tuan Putri Aurellia sekarang?" tanya Dhafin tak menggubris ucapan Brian. "Apa kalian tahu dia berada di mana?"


"Katanya kamu ingin segera mengobati Faniza, Pangeran Pusat," kata Brian seolah mengingatkan sekaligus mengalihkan perhatian. "Malah kamu bertanya Aurellia berada di mana."


Chafik terkejut mendengar Brian menyebut junjungan mereka tanpa ada embel-embel Yang Mulia. Meskipun Brian adalah adik Yang Mulia Ratu, tetap tidak diperkenankan menyebut Yang Mulia Ratu dengan sebutan biasa. Dia sebenarnya ingin menegur tapi tidak berani.


★☆★☆


"Aku merasa kalian menyembunyikan sesuatu dariku," gumam Dhafin seraya menatap semua orang yang ada di ruangan depan ini.


Tapi semua pemuda yang ditatap itu tidak ada yang berbicara satu pun. Lalu Dhafin kembali menatap Chafik dan bertanya.


"Kamu tahu di mana Tuan Putri Aurellia, Chafik?"


Bukannya menjawab pertanyaan, malah Chafik sedikit terlonjak kaget. Membuat Dhafin semakin curiga.


"Kamu dari dulu tidak berubah, Dhafin," omel Kelvin bernada kesal. "Selalu saja membuat orang merasa was-was. Tidak bisakah kamu membuat orang tenang dengan tidak menebak-nebak seperti itu?"


"Brian," Dhafin beralih pada Brian, tanpa peduli ocehan Kelvin.


"Sudahlah," kata Brian seolah menghindar, "ayo kita segera ke Istana Centauri!"


"Kamu belum menjawab pertanyaanku," kata Dhafin memaksa.


"Nanti juga kamu akan ketemu di sana," akhir Brian membuka sedikit kunci jawaban.


"Apa dia juga korban penculikan?" tebak Dhafin.


"Iya...!" kata Kelvin agak membentak saking kesalnya.


"Tuan Muda," kata Gibson seolah mengingatkan. "Tidak sedikit yang tahu kalau kamu sudah menjalin asmara dengan Nona Kayshila. Sementara Nona Kayshila juga berada di tempat yang sama di mana Tuan Putri berada."


"Apakah Tuan Muda hendak mengumpulkan 2 wanita?" lanjutnya.


"Nanti kamu akan tahu jawabannya di sana," sahut Dhafin enteng seraya tersenyum.


"Pangeran," kata Keenan seolah menyindir Brian, "apakah kamu rela Pangeran Pusat menduakan Tuan Putri?"


"Bukankah hal yang lumrah seorang pangeran memiliki lebih dari satu istri?" kata Brian tidak termakan sindiran itu.


"Apakah kamu setuju dengan perkataan Pangeran, Aziel?" Keenan beralih pada manusia es itu.


"Aku tidak punya hak mencampuri urusan asmara Pangeran Pusat," kata Aziel bersikap bijak tapi bernada dingin. "Dia mau memiliki berapa istri itu urusannya."


"Oh, rupanya aku salah bertanya," kata Keenan berlagak menyesal.


"Terang saja kamu mendukung perbuatan pemuda aneh ini, karena kamu juga seorang pangeran," sungut Kelvin menggerutu. "Dasar kampret!"


"Ha ha ha...!"


Dhafin malah tertawa mendengar ucapan-ucapan mereka. Tak lama Brian menyusul, lalu Keenan dan Gibson. Sedangkan Kelvin cuma bersungut-sungut. Aziel cuma diam saja, tidak menunjukkan ekspresi apapun.


Sementara Chafik tetap diam saja, tidak ikut tertawa. Tapi dia cuma tersenyum, tersenyum takut-takut.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, mereka meninggalkan tempat itu melalui jalur teleportasi. Karena Brian mengintruksikan untuk singgah di Kampung Naraya terlebih dahulu.


★☆★☆★


__ADS_2