Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 122 CINTAILAH PANGERAN REVAN, KARENA DIA PANTAS UNTUKMU


__ADS_3

Dipeluk di depan umum seperti begini, lebih dari itu dipeluk oleh seorang gadis cantik, jelas membuat Dhafin terkejut dan sempat sedikit gugup.


Terkejut karena belum pernah dipeluk oleh gadis ini. Gugup karena gadis itu memeluknya sambil menangis. Apa tanggapan orang nanti kalau melihat terhadap dirinya?


Beruntungnya orang-orang tidak terlalu memperhatikan begitu diedarkan pandangannya ke sekitarnya. Kalaupun sempat melihat cuma sebentar saja. Seolah kejadian seperti ini hal yang sudah biasa.


Hal itu membuatnya tenang dan bisa cepat kendalikan kegugupannya. Sehingga dia biarkan saja gadis cantik ini memeluknya. Malah secara refleks pula dia ikut memeluk Jessica.


"Nona, sadarlah, ini tempat umum," kata Dhafin bernada lembut dan pelan agar gadis itu tidak terkejut.


"Tidak baik dilihat orang," lanjutnya. "Nanti orang salah sangka saya membuat Nona menangis."


Ucapan Dhafin begitu lembut dan pelan, tapi sempat membuat Jessica terkejut. Buru-buru dia melepaskan pelukannya pada Dhafin. Terus menghapus air matanya dengan ujung lengan bajunya.


Untuk beberapa saat dia tidak berani memandang Dhafin yang masih memandangnya dengan senyum tenang. Dia malah menghadap ke arah lain seraya tertunduk.


Rasa malu seketika meyergapnya. Kenapa dia seperti gadis tidak tahu malu? Memeluk pemuda yang bukan kekasih apalagi suami di depan umum.


Tapi, sungguh dia tidak bisa menahan gejolak perasaannya. Rasa rindu yang terpendam dalam hatinya. Akhirnya dia refleks memeluk Dhafin.


Sungguh tidak tahu malu kutuknya dalam hati.


"Apa kamu baik-baik saja, Nona Aliesha?" tanya Dhafin bernada kalem sambil tersenyum santun.


"Aku... aku baik-baik saja," sahut Jessica sedikit gugup karena masih malu. Wajahnya pun masih tertunduk, belum berani memandang Dhafin.


"Apa... apa kamu masih marah padaku?" tanya Jessica setelah itu. Dia memandang takut-takut bercampur malu-malu pada Dhafin.


"Apakah saya pernah marah kepada Nona?" Dhafin mengernyit alis berlagak heran. Seolah dia lupa pernah meninggalkan gadis itu dengan sikap marah.


"Aku minta maaf karena pernah menghinamu," kata Jessica bernada menyesal, "sehingga membuatmu sakit hati dan membenciku. Lalu kamu meninggalkanku begitu saja karena marah kepadaku."


"Rupanya Nona masih mengingat kejadian masa lalu," kata Dhafin bernada setengah mendesah.


Yang Mulia Ratu yang masih berdiri di balkon rumah penginapan, kini menjadi yakin kalau Dhafin mengenal bawahannya itu setelah mendengar percakapan itu.


Tadinya dia sudah berprasangka yang macam-macam terhadap hubungan mereka berdua. Namun begitu melihat sikap Dhafin seperti menjaga jarak dengan Jessica, hatinya sedikit mulai tenang, tapi belum dikatakan aman.


Dia bisa dikatakan sudah mengenal pribadi Dhafin. Sikap yang ditunjukkan pemuda itu kepada Jessica hanyalah seperti seorang kenalan atau hanya sekedar teman.

__ADS_1


"Jelas aku masih mengingatnya, Kak Dhafin...," kata Jessica menggantung ucapannya.


Dia sengaja berbuat begitu untuk memancing reaksi Dhafin karena telah memanggilnya kakak, bahkan menyebut namanya.


Namun dia tidak melihat reaksi apapun di wajah tampan itu apalagi terkejut. Malah sikap Dhafin masih tenang dan tersenyum ramah.


Merasa pancingannya tidak berhasil, Jessica melanjutkan ucapannya.


"...Karena bagiku hal itu penting agar aku selalu mengingat kesalahanku dan memperbaikinya. Agar kelak ketika berjumpa denganmu, aku mudah minta maaf."


"Kejadian masa lalu tidak usah diingat-ingat lagi, Nona, cukup dijadikan pelajaran saja," ucap Dhafin bijaksana.


"Tapi kamu memaafkan kesalahanku 'kan?" Jessica ingin ketegasan yang jelas kalau Dhafin benar-benar memaafkan kesalahannya.


"Ya," Dhafin hanya menjawab singkat.


Tapi sudah cukup bagi Jessica, yang penting ada jawaban tegas.


★☆★☆


"Kak Dhafin, kenapa kamu tidak heran kalau aku bisa mengetahui namamu?" tanya Jessica akhirnya menyerah sendiri setelah agak lama terdiam.


Dia menunggu Dhafin bertanya padanya dari mana dia mengetahui nama pemuda itu. Tapi dia sendiri yang tidak sabar.


"Panggil saja namaku Jessica, Kak," kata Jessica cepat memperbaiki panggilan Dhafin akan namanya.


Karena tidak ingin berpanjang lebar Dhafin menuruti saja.


"Nona Jessica, boleh saya meminta sesuatu pada Nona?"


"Boleh, mau minta apa?" kata Jessica seraya tersenyum penuh arti.


"Saya harap Nona tidak lagi mengingat-ingat tentang saya dan perjumpaan kita waktu dulu," kata Dhafin masih bernada tenang tapi tampak serius.


"Kenapa aku tidak boleh mengingat tentang dirimu?" tanya Jessica heran sekaligus sedih. "Apakah itu artinya aku tidak boleh mencintaimu?"


Dari sorot mata dan gerak-gerik yang ditunjukkan Jessica, Dhafin sudah bisa membaca kalau gadis itu menyukainya. Apalagi barusan dia sudah menyatakan perasaannya itu meski dalam bentuk pertanyaan.


"Nona menjatuhkan pilihan cinta kepada orang yang salah," kata Dhafin masih bersikap tenang nan santun. Tapi sekarang dia tidak lagi menatap Jessica, melainkan ke arah lain.

__ADS_1


"Salahnya di mana?" kejar Jessica makin sedih.


"Saya cuma orang biasa, sementara Nona adalah seorang putri bangsawan. Jadi Nona tidak pantas menjatuhkan pilihan cinta kepada orang seperti saya."


Mendengar percakapan Dhafin dengan Jessica sampai di situ, Yang Mulia Ratu sedikit demi sedikit merasa tenang. Hatinya makin mendekati titik aman. Ternyata Dhafin tidak menaruh hati pada Jessica.


Sedangkan Jovita, Keysha dan Ariesha merasa senang saat mengetahui ternyata Dhafin tidak menaruh hati pada Jessica. Terutama pada Ariesha.


"Aku sudah menjadi warga Istana Centauri," Jessica masih berusaha menjelaskan. "Jadi sekarang aku bukan lagi seorang bangsawan. Aku sekarang sama denganmu."


"Di mana pun Nona berada, status sebagai bangsawan tidak akan pernah hilang dari Nona."


"Atau apakah... sudah ada gadis lain yang mengisi hatimu," tanya Jessica ingin tahu, "sehingga kamu menolakku?"


Sementara Yang Mulia Ratu, Jessica yang bertanya dia yang berdebar jantungnya. Hatinya ingin sekali mengetahui apa jawaban Dhafin.


"Maaf, Nona, itu urusan pribadi saya," kata Dhafin tegas dan masih berlaku santun. "Yang jelas, saya meminta kepada Nona untuk menuruti permintaan saya tadi."


"Apakah... apakah aku terlalu buruk untuk kamu cintai?" kata Jessica belum menyerah.


"Nona lebih pantas mendapatkan pangeran daripada saya," kata Dhafin mencoba melontarkan sebuah dugaan. "Dialah yang pantas Nona cintai, karena dia amat mencintai Nona."


Dhafin sampai bisa berkata seperti itu bukan tanpa alasan.


Sewaktu dia bersama Pangeran Revan, dia melihat keadaan pangeran itu layaknya seperti orang yang sedang kasmaran.


Meski Pangeran Revan tidak mengatakan kepada siapa dia jatuh hati, tapi Dhafin dapat melihat kalau Pangeran Revan sedang bersedih karena pujaan hatinya belum menerima cintanya.


Dhafin mencoba meraba-raba tentang siapa gadis cantik yang membuat sang pangeran hingga tertarik hatinya. Sementara menurut pengakuan pangeran sendiri kalau dia belum pernah keluar dari Kampung Naraya.


Sedangkan Pangeran Revan jelas pernah pergi ke Istana Centauri yang gudangnya gadis-gadis cantik. Pastilah gadis yang membuatnya jatuh hati jelas salah seorang dari warga Istana Centauri.


Dan Jessica mengaku sebagai warga Istana Centauri. Maka Dhafin mencoba melontarkan dugaannya kepada Jessica.


"Dari mana kamu tahu kalau Pangeran Revan menyukaiku?" tanya Jessica terkejut heran tidak menyangka kalau Dhafin sudah mengetahui tentang hal itu.


Padahal tanpa sadar dia membantu Dhafin yang sebenarnya cuma menduga secara acak saja. Dan ternyata dugaan Dhafin yang cuma meraba-raba itu disempurnakan sendiri oleh Jessica yang langsung menyebut nama tanpa disadari.


Sedangkan Dhafin merasa gembira dalam hati pancingannya berhasil.

__ADS_1


"Pangeran Revan adalah seorang pangeran yang baik," kata Dhafin seolah tak menggubris pertanyaan Jessica "Saya menyarankan agar Nona menerima saja cintanya. Apalagi dia mencintai Nona...."


★☆★☆★


__ADS_2