Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 210 PERIZINAN PALSU RANIYA


__ADS_3

Putri Rayna dan Raja Adrian telah selesai menyusun agenda-agenda dan rancangan-rancangan untuk menghadapi para pemberontak.


Sementara itu baik Dhafin Cs maupun Brian Cs juga telah selesai merundingkan beberapa hal bersama para tetua di markas yang mereka masih berada sekarang.


Di antaranya adalah penghentian sementara penyerangan terhadap pasukan istana. Juga jangan ada satu pun dari anggota markas yang berkeliaran jauh di luar markas. Meskipun itu ke perkampungan.


Baik Dhafin maupun Brian punya firasat kalau Putri Rayna tidak bakalan mengirim pasukan istana untuk menyerang markas Ketua Anthoniel maupun markas Ketua Carolus untuk sementara waktu.


Karena dari gelagat yang ada dan beberapa keterangan dari Ketua Anthoniel maupun Ketua Carolus, pihak istana belum mengetahui secara persis letak masing-masing kedua markas yang mereka sebut sebagai pemberontak.


Salah satu bukti adalah pasukan istana menyerang ke wilayah yang cukup melenceng dari lokasi markas kedua kelompok itu yang sebenarnya.


Kalau begitu kenapa bisa terjadi pertempuran di tempat yang telah terjadi pertempuran di situ?


Meskipun cukup jauh dari lokasi markas, akan tetapi kedua kelompok tersebut masih dapat mengetahui adanya pergerakan pasukan istana. Sehingga singkat cerita terjadilah pertempuran di tempat tersebut.


Oleh karena itu, yang Putri Rayna lakukan sekarang adalah mengirim orang-orang hebatnya untuk menyelidiki keberadaan kedua markas tersebut.


Dugaan atau firasat Dhafin maupun Brian ini sesuai apa yang diduga oleh para tetua masing-masing kelompok.


Akan tetapi, meskipun anggota masing-masing dari kedua kelompok tersebut dilarang berkeliaran untuk sementara waktu, bukan berarti sama sekali tidak ada pergerakan untuk mencari info-info tentang pasukan istana.


Kalau Dhafin Cs maupun Brian Cs memang sudah menjadi misi mereka sebelumnya, yaitu mengadakan patroli di Kerajaan Amerta ini untuk mencari info-info penting dan menjalin kerja sama dengan kelompok-kelompok oposisi yang ada di kerajaan ini.


Adapun dari pasukan Ketua Anthoniel maupun pasukan Ketua Carolus, dipilihlah pendekar-pendekar paling hebat dari masing-masing kedua kelompok tersebut. Pendekar yang tidak hanya menguasai ilmu bela diri dan tenaga dalam, tapi juga punya tenaga sakti yang tinggi.


Yang terpilih itu akan menemani Dhafin Cs maupun Brian Cs mengemban misi di Kerajaan Amerta.


Setelah diadakan penyeleksian, ternyata cukup banyak pendekar-pendekar sakti masing-masing di kedua kelompok tersebut.


Namun yang dipilih untuk mengemban misi rahasia, dari kelompok Ketua Anthoniel cuma 6 orang. Semuanya laki-laki dan mereka termasuk yang paling tangguh. Dua orang di antara mereka adalah Jarrel dan Andro.


Sebenarnya Sheila memaksa untuk ikut dalam misi tersebut. Namun Ketua Anthoniel dan Jarrel jelas tidak mengizinkan. Sheila belum memenuhi syarat untuk bisa ikut dalam misi tersebut.


"Misi ini amat berbahaya, Sheila," kata Jarrel menasehati. "Kita di sana bukan bersenang-senang, tapi berjuang dengan maut."


"Kalau kamu memaksa ikut," lanjutnya, "bisa-bisa kamu cuma mempersulit kerja tim. Bisa-bisa kamu malah mendapat musibah di sana."


"Kandamu benar, Sheila," Ketua Anthoniel ikut menasehati. "Kamu tidak boleh ikut dalam misi yang berbahaya ini."


"Aku tahu kamu ingin ikut agar kamu bisa bersama-sama Tuan Wilson," kata Ketua Anthoniel selanjutnya. "Tapi kamu harus menyadari kalau kamu memaksa ingin ikut, takutnya kamu bisa menyulitkan kerja Tuan Wilson."


"Karena, jika kamu dalam bahaya tidak mungkin Tuan Wilson diam saja. Itu artinya kamu memecah konsentrasi Tuan Wilson dalam bertugas. Bisa jadi kamu malah membuatnya celaka juga."


Terpaksa Sheila mengikuti nasehat paman dan kandanya. Padahal dia sudah membayangkan betapa indahnya berdua bersama sang pujaan hati dalam mengemban tugas bersama-sama, mengarungi aral rintang dan bahaya bersama-sama.


Aduh Nona Sheila ini! Dia pikir mengarungi bahaya itu merupakan suatu hal yang menyenangkan. Dasar dia belum banyak pengalaman dalam mengembara.


★☆★☆


Sedangkan dari kelompok Ketua Carolus yang terpilih untuk mengemban misi tersebut awalnya cuma 5 orang.


Namun begitu Dhafin dan 9 rekannya sudah menuruni bukit dan telah sampai di suatu tempat di kaki bukit, tiba-tiba dua orang gadis cantik langsung mencegat perjalanan mereka.

__ADS_1


Tentu saja mereka awalnya terkejut. Namun begitu mengetahui siapa kedua gadis itu keterkejutan mereka berubah menjadi rasa heran. Kenapa kedua gadis itu mencegat mereka?


Kedua gadis cantik itu adalah Raniya, putri bungsu Ketua Carolus dan Naura, teman akrab Raniya. Kedua gadis itu termasuk jawara elit yang dimiliki Ketua Carolus.


Memang patut diakui kalau pasukan Ketua Carolus tidak sedikit dari kalangan pendekar-pendekar tangguh pilih tanding. Sehingga banyak di antara mereka yang dapat memenuhi syarat untuk ikut dalam misi yang dicanangkan oleh Dhafin.


Termasuk kedua gadis itu, memang memenuhi syarat untuk mengemban misi yang dicanangkan oleh Dhafin. Akan tetapi mereka tidak terpilih.


Keberadaan keduanya di tempat seperti ini, apalagi mencegat perjalanan mereka, jelas mengundang kecurigaan pada 10 pemuda tampan itu.


Apalagi salah seorang pemuda yang bernama Marlon, putra ke 2 Ketua Carolus. Keberadaan adiknya dan sahabatnya itu jelas membuatnya amat curiga.


Dan Dhafin kuat menduga kalau kedua gadis cantik itu ingin ikut bersama mereka. Meskipun tidak ada gelagat kalau keduanya ingin ikut saat pemilihan kemarin.


"Raniya, Naura! Mengapa kalian berada di sini?" tanya Marlon bernada heran. "Apa ada pesan dari ayah?"


Raniya tidak lantas menjawab pertanyaan kandanya. Dia malah mengerling beberapa helaan napas pada Dhafin yang tidak memandangnya. Pandangannya beralih ke lain arah seolah mengamati keadaan.


Sedangkan Naura juga memilih diam. Tapi sepasang mata indahnya terkadang melirik pada Zafer si Tudung Hitam.


Tapi si wajah dingin itu saat ini tengah menundukkan kepada sambil bersedekap. Sikapnya begitu tenang, diam bagai patung.


"Iya," sahut Raniya setelah beberapa saat mendiamkan pertanyaan kandanya.


"Pesan apa?" tanya Marlon cepat.


Entah kenapa dia makin curiga dengan nada ucapan dan sikap adiknya itu.


Semalam Raniya sempat merengek kepada ayahnya untuk ikut dalam tim. Tapi ayahnya jelas tidak setuju, lebih-lebih ibunya. Dan pula Marlon amat tidak setuju dengan tegas.


"Ayah dan bunda sudah membolehkan aku untuk ikut kalian," ucap Raniya dengan santai sambil kembali melirik Dhafin. "Naura juga dibolehkan ikut."


Mendengar jawaban enteng Raniya barusan jelas 10 orang pemuda yang ada di situ dibuat kaget. Sampai-sampai Dhafin menoleh cepat pada gadis itu dan memandang tidak mengerti.


Apa yang direncanakan gadis ini sebenarnya? Dhafin jelas mengetahui kalau gadis itu berbohong.


"Tidak mungkin!" bantah Marlon cepat penuh rasa tidak percaya. "Ayah maupun bunda tidak mungkin mengizinkan kalian ikut. Kalian tidak terpilih. Kalian harus mengerti akan hal itu."


"Kenapa kamu tidak percaya omongan adikmu sendiri, Kak Marlon?" Naura tidak bisa berdiam lama untuk tak bicara.


"Jelas aku tidak percaya," kata Marlon tegas, "karena Ketua dan Wakil Ketua 2 dengan tegas melarang Raniya untuk ikut. Apalagi kamu."


"Kalau kamu tidak percaya," kata Raniya mencoba ingin menunjukkan bukti, "silahkan kamu naik kembali ke markas dan tanyakan sendiri kepada ayah."


Naik kembali ke markas?


Menempuh perjalanan ke markas tidak terlalu susah bagi mereka orang-orang sakti. Tapi mereka sudah keluar untuk menjalankan misi. Akankah harus kembali ke markas hanya karena untuk kedua gadis itu?


★☆★☆


Setelah puas menatap kesal pada Raniya dan Naura, Marlon beralih memandang rekan-rekannya. Bukan rekan-rekan satu kelompoknya, tapi memandang Dhafin Cs. Tatapan matanya jelas meminta pendapat mereka.


Tapi si Tudung Hitam masih saja berdiri diam bagai patung. Gibson tampak menggeleng pelan seolah tidak bisa kasi pendapat.

__ADS_1


Hendry maupun Veron cuma menaikkan kedua bahu pertanda tidak ingin ikut campur atas ulah kedua gadis itu.


Begitu tatapannya beralih pada Dhafin, pemuda tenang itu masih menatap Raniya. Tatapan yang menyorotkan kecurigaan akan maksud Raniya dan Naura ingin ikut.


"Apa salahnya mereka ikut serta, Marlon," celetuk pemuda berpakaian panjang warna merah. Rambutnya panjang sepinggang dikepang satu ke belakang.


"Jika terjadi sesuatu pada mereka," bantah Marlon dengan tegas dan langsung, "apa kamu mau bertanggung jawab, Pedang Kilat?"


"Bukankah kamu sudah dengar kalau Ketua sudah mengizinkan mereka?"


"Aku tidak percaya kalau Ketua mengizinkan mereka."


"Kenapa kamu tidak buktikan saja ucapanku itu?" kata Raniya kesal. "Malah kamu masih berada di sini."


"Sudah!" kata Marlon tidak mau memperpanjang. "Sekarang katakan, apa sebenarnya yang kalian rencanakan?"


"Kami tidak punya rencana pribadi apa-apa," kata Raniya masih berusaha tenang dan santai dalam berbicara. "Kami akan menuruti instruksi Ketua Regu. Bukan begitu, Tuan Muda Dhafin?"


Sambil mengucapkan kalimat terakhirnya, Raniya memandang Dhafin sebentar, lalu beralih ke lain arah dengan agak terburu-buru.


Sepertinya dia tidak tahan berlama-lama menatap mata Dhafin yang menyorot tajam dan aneh kepadanya.


"Nona Raniya, apa Nona sudah mempertimbangkan masak-masak atas kebohongan yang Nona buat?"


Ucapan Dhafin memang terdengar kalem dan tenang, namun mengandung intimidasi.


"Apa maksud ucapanmu, Tuan Muda?" ucapan Raniya terdengar ketus, tapi hatinya terkejut. Sehingga suaranya sedikit bergetar saat berbicara.


"Apa kamu kira aku berbohong?" Raniya masih berusaha menutupi kedoknya.


"Atau karena kamu meremehkan kehebatan kami, Tuan Muda," nimbrung Naura bernada sinis-ketus, "sehingga kamu mengganggap sepertinya kami tidak layak masuk dalam timmu?"


"Sepertinya tidak ada dari kami yang meremehkan kehebatan kalian," kata Dhafin masih tenang. "Namun perizinan palsu yang kalian buat merupakan masalah besar."


Mengajak Dhafin untuk berdebat sama saja membodohi diri sendiri. Setelah Raniya dan Naura agak lama berdebat dengan Dhafin, akhirnya mereka mengakui kalau mereka cuma membuat perijinan palsu.


Namun Raniya dan Naura tidak berputus asa untuk tetap memaksa agar Dhafin, sang Ketua Regu mengizinkan mereka untuk ikut serta. Tapi kesannya seperti merengek.


"Urusan dengan ayahku biar aku yang bertanggung jawab, Tuan Muda," kata Raniya masih membujuk, "asal kamu mengizinkan kami ikut dalam tim kamu."


"Semestinya Nona memahami kalau kita tidak sedang berpesiar atau mencari tempat makanan yang paling enak, Nona Raniya," kata Dhafin seolah mengingatkan. "Kita sedang mengemban misi di mana darah pasti akan tertumpah. Bahkan nyawa taruhannya."


"Kami paham akan hal itu, Tuan Muda," Raniya tidak berputus asa. "Kamu tenang saja, kami akan menjaga diri sebaik mungkin. Tidak perlu khawatir."


"Kamu berkata mudah sekali," cibir Marlon yang sudah kesal. "Namun kenyataannya kalian pasti akan merepotkan tugas kami."


Raniya hendak berkata bermaksud tetap melontarkan bujukannya, namun Dhafin seketika mengangkat tangan kanannya ke depan pertanda mencegah agar Raniya tidak berbicara.


"Bersembunyi!" perintah Dhafin dengan suara pelan tapi jelas.


Setelah itu dia melenting naik ke atas pohon besar tidak jauh dari mereka. Lalu hampir bersamaan yang lain juga ikut melenting ke pohon yang sama.


Termasuk Raniya dan Naura juga ikut-ikutan meski mereka belum mengerti apa yang terjadi.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2