Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 46 MENGUNGKAP PEMBUNUH PERMAISURI MICHELLA


__ADS_3

Mungkin karena benaknya tersibukkan memikirkan Namira, sehingga pikiran Keenan belum terusik akan penampilan Putri Aurellia yang mengenakan cadar.


Ketika pikiran itu telah hadir dalam benaknya, barulah dia bertanya. Awalnya dia bertanya kepada Brian kenapa adiknya memakai cadar? Apa ada masalah dengan wajahnya?


Tapi Brian menyuruhnya bertanya langsung kepada orangnya. Dan saat Keenan bertanya langsung kepada Putri Aurellia, dijawab dengan tegas oleh sang putri.


"Tidak ada masalah dengan wajahku. Hanya saja aku tidak mau mengumbar wajahku kepada sembarang orang."


"Apakah Tuan Putri menganggapku orang lain?" tanya Keenan penasaran dengan pendirian Aurellia. "Aku teman Pangeran Brian, Tuan Putri."


"Maaf, Saudara Keenan. Aku hanya mengijinkan wajahku dilihat oleh 2 orang; Kanda Brian dan lelaki yang aku sayangi."


"Menarik. Pendirianmu benar-benar menarik dan unik."


Keenan hanya bisa memuji pendirian Putri Aurellia yang aneh itu menurutnya. Dia tidak bisa membujuk, bahkan memaksa sekalipun Putri Aurellia untuk membuka cadarnya.


Cuma lelaki yang dia sayangi diijinkan untuk melihat wajahnya. Siapakah lelaki yang beruntung itu?


Syahdan, ketika anak-anak itu telah masuk ke dalam Istana Kejora, Putri Aurellia membawa mereka ke ruangan khusus.


Ruangan itu bersih, tidak terlalu luas. Tidak ada apa-apa di dalam selain beberapa bantalan duduk dan 3 permadani tergulung di pojok ruangan.


Putri Aurellia memberitahukan kalau ruangan ini tempat dia dan Namira bersemedi mendekatkan diri kepada Sang Penguasa Langit. Sedangkan Naifa kadang cuma menemani, tidak ikut bersemedi.


Begitu mereka sudah berada di dalam ruangan itu, tanpa disuruh Naifa langsung menggelar salah satu permadani, terus meletakkan 6 bantal secara terpisah di atasnya. Setelah itu duduklah 6 bocah itu di atas bantalan tersebut.


Tidak lama kemudian, Putri Aurellia bertanya mengenai maksud kedatangan tiga bocah itu ke istananya. Karena Brian belum menjawab saat dia bertanya.


Terus terang, kedatangan Dhafin ke istananya lagi ini sungguh amat menggembirakan bagi Putri Aurellia. Meskipun sebenarnya kalau Dhafin datang secara sengaja seorang diri, tanpa ditemani siapa pun, hal itu lebih menggembirakan lagi baginya.


Dengan begitu dia bisa meluapkan rasa rindunya kepada anak muda tampan itu setelah beberapa hari ini tidak berjumpa, tidak melihat wajah tenangnya, tidak melihat senyumnya yang menawan.


Bayangkan saja belum ada 2 pekan dia tidak bertemu Dhafin, rasa rindunya sudah demikian bergelora dalam dirinya. Bagaimana kalau sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tidak bertemu?


Sebenarnya Putri Aurellia masih sedikit bingung kenapa perasaan rindu sudah mengusik relung hatinya? Apakah karena dia mulai menyukai Dhafin? Bukankah hal itu terlalu dini?


Namun dengan karakteristik Dhafin yang tenang, berjiwa arif-bijaksana, menjunjung tinggi norma-norma sopan santun, mustahil Dhafin datang seorang diri.


Walaupun hanya ingin bertemu saja, tanpa ada hal penting yang ingin dibicarakan mana mungkin juga Dhafin datang seorang diri. Tentu hal itu amat tidak sopan.


Makanya, kedatangan Dhafin ke istananya ini bersama Brian, kakaknya tentu ada masalah penting yang akan dibicarakan. Apalagi tadi Brian sudah mengakuinya.


Ditambah lagi ada bersama mereka seorang anak muda yang memperkenalkan dirinya bernama Keenan. Tentu kunjungan ini bukanlah kunjungan pribadi.


★☆★☆


"Sebenarnya kami datang untuk melanjutkan obrolan yang belum rampung tempo hari," ungkap Brian.


Melanjutkan obrolan yang belum rampung? Yang Putri Aurellia dan Namira pahami dari jawaban Brian tersebut, pembicaraan yang belum selesai yaitu mengenai latar belakang kenapa Putri Aurellia diusir dari lingkungan istana.


Tapi bukankah....


"Apakah kamu belum ceritakan kepada Kak Dhafin?" Putri Aurellia langsung menatap Brian. "Bukankah aku sudah mengijinkanmu?"


"Aku belum cerita sama Dhafin karena dia tidak bertanya," sahut Brian dengan santai. "Lagipula kupikir Nona Ariesha sudah cerita sama dia."


Aurellia lantas beralih memandang Dhafin yang duduk laksana bersemedi. Tatapannya seolah bertanya apakah Ariesha belum cerita kepada Dhafin tentang hal itu?


"Sebenarnya maksud kunjungan aku dan Saudara Keenan ke sini adalah untuk mengungkap siapa pembunuh bunda Tuan Putri sebenarnya," kata Dhafin seakan tak menjawab apa yang dipikirkan Aurellia.

__ADS_1


"Apa Ariesha belum cerita kepadamu...," kata Putri Aurellia terputus.


"Sudah," sahut Dhafin. "Apa yang kamu ceritakan kepadanya dia sudah ceritakan kepadaku. Hanya saja siapa pembunuhnya dia belum cerita kepadaku."


"Aku memang belum cerita karena aku tidak tahu siapa pembunuh bundaku sebenarnya," kata Aurellia mengaku.


"Maaf, Tuan Putri, kalau perbuatanku telah lancang," kata Dhafin meminta kerelaan Aurellia. "Aku telah bercerita kepada Saudara Keenan kalau Yang Mulia Permaisuri yang dulu telah terbunuh secara misterius...."


"...Karena dia mengetahui ilmu sihir," lanjutnya, "dan sudah mempelajari mantra dan ritual untuk mengungkap kejadian yang telah lalu, makanya aku mengajaknya untuk membantuku dalam mengungkap pembunuh Yang Mulia Permaisuri, bundamu yang sebenarnya."


"Hanya sebatas itu yang kamu ceritakan, Kak Dhafin?" tanya Aurellia bernada biasa. Dia sebatas ingin tahu, tanpa bermaksud menyesalkan perbuatan Dhafin tersebut.


Aurellia mulai belajar berpikir secara rasional atas apa yang diperbuat Dhafin. Dia harus yakin dan percaya kalau yang dilakukan Dhafin memang suatu hal yang perlu dan penting. Tanpa mencurigai atau meragukan.


"Ya, hanya itu," sahut Dhafin mengaku.


Keenan tampak mengernyitkan alisnya. Dhafin cuma bercerita padanya kalau bundanya Putri Aurellia telah dibunuh dan pelakunya belum ketahuan. Itu saja.


Tapi dari pertanyaan Putri Aurellia tadi, dia menduga ada cerita lain atau lebih tepatnya ada kejadian lain setelah terbunuhnya permaisuri yang dulu.


Dan... eh, bukankah Putri Aurellia ini dirumorkan terkena penyakit kulit karena kutukan? Kenapa kejadian itu baru mampir di benaknya sekarang?


Mungkin karena pikirannya masih diganggu oleh ketidak munculan Hendry sampai sekarang. Ditambah lagi memikirkan masalah perasaan Putri Cheryl Aurora.


Ditambah lagi turnamen sebentar lagi akan digelar, sementara Dhafin belum berhasil dibujuk sebagai pengganti Hendry.


"Kalau kamu ceritakan tentang peristiwa yang terjadi padaku kepada siapa yang kamu percaya," ungkap Aurellia tulus sambil tersenyum, "aku tidak masalah. Aku sudah percaya padamu...."


"...seutuhnya." Ucapan ini diucapkan di dalam hati.


"Maaf, Tuan Putri," kata Keenan dengan sikap hormat dan santun, "sepertinya ada cerita yang belum disampaikan Saudara Dhafin. Dan bukankah Tuan Putri dirumorkan terkena penyakit kulit karena kutukan?"


"Itu bukan kutukan," sahut Aurellia tanpa ragu. "Itu murni penyakit kulit yang diakibatkan oleh racun. Tapi aku sudah sembuh."


"Kamu saja yang menjelaskan, Kak Dhafin!" pinta Aurellia seraya memandang Dhafin. "Kamu yang lebih paham karena kamu tabibnya."


"Mungkin ada baiknya kamu ceritakan dulu kejadian setelah terbunuh permaisuri."


"Baiklah...."


★☆★☆


Putri Aurellia sudah menceritakan tentang peristiwa yang menimpa dirinya sehingga dikeluarkan dari istana. Dan Dhafin juga telah menjelaskan mengenai racun yang menimpa Putri Aurellia.


Keenan tidak begitu kaget mendengar Dhafin mengetahui tentang racun langka, bahkan bisa menyembuhkannya. Di samping Brian telah memperkenalkan kalau Dhafin adalah seorang tabib, juga menduga kuat bahwa Dhafin adalah seorang bocah sakti. Dan ternyata dugaannya benar.


Yang menjadi persoalan sekarang apa yang terjadi sebelum permaisuri yang dulu terbunuh? Apakah sebelumnya permaisuri dalam keadaan sakit?


Pertanyaan ini sudah terbetik dalam benak Dhafin sejak kemarin-kemarin. Dan pula telah terpikirkan dalam benak Keenan setelah mendengarkan tentang peristiwanya.


"Tuan Putri. Apakah yang terjadi pada permaisuri yang dulu sebelum terbunuh?" Keenan yang bertanya seolah mewakili Dhafin. "Apakah beliau sakit waktu itu?"


"Aku tidak tahu apakah bunda sakit atau tidak, karena aku belum paham waktu itu," ungkap Aurellia mengisahkan. "Saat aku temui beliau sudah meninggal karena tertusuk pisau, tanpa sempat berkata apa-apa kepadaku...."


"...Sebenarnya... sebelumnya kami dilarang menemui bunda," lanjutnya, "dan bunda terus menerus berada di kamarnya tanpa keluar-keluar...."


"...Begitu sebulan lebih berlalu, aku amat merindukan bunda karena sudah lama tidak bertemu. Akhirnya aku memberanikan diri datang ke kamar beliau sendiri. Namun begitu bertemu, bunda sudah terbaring mati di tempat tidurnya dalam keadaan pisau menancap di dadanya...."


"...Tidak lama kemudian Yang Mulia datang bersama yang lainnya dan melihatku pas aku memegang gagang pisau yang masih menancap di dada bunda dan mereka semua langsung menuduhku sebagai pembunuh bundaku...."

__ADS_1


"...Aku tidak mengerti di mana akal mereka waktu itu," suara Aurellia terdengar sedikit parau karena sudah mulai sedih, "aku yang tidak tahu apa-apa kenapa dituduh sebagai pembunuh...."


"Berarti waktu itu permaisuri dalam keadaan sakit," ungkap Dhafin menduga kuat. "Bisa dikatakan sakit parah."


"Benar," kata Keenan sependapat. "Besar kemungkinan waktu itu permaisuri tengah sakit parah."


Brian hanya diam saja, tapi dalam hati sependapat dengan kedua sahabatnya itu. Sedangkan Aurellia berusaha menekan perasaan sedihnya agar tidak menangis. Namun tak urung mata indahnya berkaca-kaca juga.


Sementara Namira dan Naifa membujuk sang putri agar tetap tenang, tidak bersedih lagi.


★☆★☆


Tidak lama kemudian, ritual untuk menguak tabir tentang masa silam akan segera dimulai....


Tampak Aurellia duduk bersila di tengah-tengah tikar permadani. Kedua tangannya terentang lurus ke depan dengan telapak terbuka. Sedangkan di belakangnya duduk bersila Brian seraya menempelkan kedua telapak tangannya di bahu kiri kanan Aurellia.


Di depan Aurellia tampak Dhafin dan Keenan yang juga duduk bersila. Telapak tangan kanan Dhafin yang juga terentang menempel di telapak kanan Aurellia. Sedangkan telapak kiri Keenan menempel di telapak kiri Aurellia. Sementara telapak tangan mereka yang lain menekuk di depan dada mereka.


Tampak wajah Aurellia tegak lurus serta sepasang mata menatap ke depan. Sedangkan kepala Dhafin maupun Keenan sedikit tertunduk. Bibir mereka tampak sedikit bergerak-gerak membaca mantra ghaib.


Tidak lama kemudian, tangan kanan Dhafin menyemburat sinar putih bening berpadu sinar biru dari telapak hingga sikut. Begitu juga dengan Keenan. Tangan kirinya seketika menyemburat sinar putih berpadu sinar biru hingg ke siku.


Kemudian sinar itu ikut membungkus kedua telapak tangan Aurellia. Lalu beberapa helaan napas kemudian sepasang mata Aurellia seketika memancarkan sinar putih berpadu sinar biru bening.


Tidak lama kemudian, tangan kanan Keenan bergerak merentang ke samping. Lalu dari telapak tangan yang terbuka yang memancarkan sinar putih biru bening itu keluar sinar bening tersebut.


Sinar itu terus merambat dan menebar mengambang ke atas udara. Hingga beberapa saat kemudian sinar itu membentuk seperti cermin cahaya bening berbentuk segi empat. Posisinya mengambang tegak lurus. Di pinggir cahaya bening itu diitari cahaya biru.


Namira dan Naifa yang duduk berhadapan dengan cermin aneh itu berjarak 3 langkah, menatap lekat-lekat cahaya aneh itu tanpa berkedip.


Beberapa saat kemudian, mereka mulai melihat bentukan atau gambar samar-samar di dalam cermin bening itu. Lalu lama-lama muncul beberapa gambar dan mulai jelas. Hingga mereka melihat jelas yang terjadi di dalam cermin aneh nan ajaib itu.


Bukan cuma mereka saja yang menyaksikan peristiwa yang terjadi di dalam cermin aneh itu. Aurellia, Dhafin, Brian maupun Keenan ikut menyaksikan.


Tampak seorang bocah kecil yang masih berumur 5 tahun tengah memegang pisau yang tertancap di dada seorang wanita muda yang amat cantik tapi wajahnya pucat.


Aurellia, Namira dan Brian langsung mengenal bocah 5 tahun itu, yaitu Putri Aurellia. Dhafin dan Naifa baru tahu setelah beberapa helaan napas. Sedangkan Keenan tidak kenal bocah itu. Tapi dia yakin itu adalah Aurellia kecil.


Setelah itu, tampak Aurellia kecil bergerak. Pertama-tama kedua tangan Aurellia bergerak melepas gagang pisau. Lalu setelah itu dia tampak bergerak mundur ke arah pintu yang setengah terbuka.


Tak lama dia sudah mencapai pintu dalam keadaan masih mundur sambil matanya menatap wanita cantik nan pucat di atas pembaringan. Lalu tubuhnya keluar dari pintu, dan hampir bersamaan pintu tertutup.


Sedangkan di atas pembaringan, selimut yang tadinya berserahkan di kaki wanita cantik berbaju putih, kini menyelimuti badannya hingga ke dada. Sementara pisau tak ada lagi di dadanya. Dan tampak dadanya bergerak naik turun tapi lemah. Sementara matanya terpejam.


Sepeminum teh berlalu, seketika muncul cahaya hijau pekat di kamar yang luas itu. Tidak lama cahaya pekat itu berubah menjadi sesosok wanita cantik namun berhati jahat. Wanita itu berpakaian panjang warna hijau gelap.


Sambil terkekeh-kekeh menyeramkan dia melangkah gemulai menghampiri wanita cantik yang terbaring di pembaringan. Sambil melangkah tangan kanannya mengambil pisau dari balik bajunya.


Begitu sampai di tepi pembaringan, wanita cantik berbaju hijau langsung menarik selimut yang menyelimuti badan si wanita berbaju putih dan menghempaskannya di kakinya.


Sontak wanita berbaju putih terkejut hingga kedua matanya terbuka, terus memandang wanita jahat berbaju hijau yang sudah berdiri di tepi pembaringan sambil tersenyum menyeringai itu. Sementara pisau di tangan kanannya sudah terangkat tinggi.


"Kanda Rayna...," kejut wanita berbaju putih sambil melirik pisau di tangan wanita berbaju hijau. "Apa... yang kamu mau lakukan...?"


"Bukankah kamu amat tersiksa dengan penyakitmu ini, Michella?" kata wanita bernama Rayna sambil tersenyum menyeringai. "Tenang saja, aku akan mengakhiri penderitaanmu...."


Selesai berkata, pisau yang sudah terangkat tinggi-tinggi langsung ditusukkan ke dada Michella kuat-kuat hingga tembus. Michella yang sudah tidak punya kekuatan lagi tidak bisa lagi menjerit. Yang menjerit....


"Aaa....!!!"

__ADS_1


Yang menjerit malah Aurellia. Dia menjerit bukan karena kesakitan, tapi menjerit meluapkan kemarahannya akibat melihat tindakan bibinya, Putri Rayna Catherine. Apa akibatnya...?


★☆★☆★


__ADS_2