
Tidak membutuhkan waktu yang lama dan tidak menemui aral rintang yang berarti Brian, Aziel, Keenan, Kelvin, dan Wilson telah sampai di sebuah tempat yang disebutkan oleh telik sandi yang sudah mati tadi.
Tempat itu berupa hutan cukup lebat yang ditumbuhi berbagai jenis pohon baik besar maupun kecil. Dan di depan sana menurut telik sandi terdapat lembah yang cukup dalam dan luas.
Namun kalau dari tempat mereka berdiri ini lembah itu tidak begitu kentara karena di sekeliling bibir lembah ditumbuhi pepohonan yang lebat dan cukup rapat.
Kelima pemuda itu terus saja melangkah menuju ke bibir lembah yang ditumbuhi pepohonan yang cukup rapat.
Mereka memang tampak melangkah dengan tenang, tapi siapa sangka mereka menyembunyikan kewaspadaan yang tinggi. Sepasang mata tidak jelalatan memandang sekitarnya yang diselimuti sunyi, tapi telinga begitu awas mendengar setiap pergerakan yang mencurigakan.
Kira-kira belasan tombak lagi mereka akan sampai di rerumpunan pohon yang tumbuh di bibir lembah, seketika mereka langsung melenting tinggi ke udara dengan cepat.
Hampir bersamaan waktunya belasan anak panah melesat dengan cepat di bawah kaki mereka dari arah samping kanan.
Terus, karena tidak mengenai sasaran utama, belasan anak panah itu menancap di beberapa pohon tak jauh di sebelahnya.
Kemudian, begitu kelima ksatria elit itu mendarat turun ke tanah, bersamaan dengan itu sekitar 20-an lelaki muda yang muncul dari atas pohon melesat turun dengan cepat.
Demikian cepatnya gerakan para lelaki muda itu, tahu-tahu telah mengurung kelima pemuda yang sudah mendarat kembali di tanah itu dengan jarak sekitar 4 tombak.
Bukan cuma mengurung, tapi sudah menghunus senjata pedang masing-masing, bersiaga untuk menyerang.
Cuma 3 helaan napas saja Brian, Keenan, Kelvin, maupun Wilson terkejut menyaksikan aksi pengepungan itu. Setelah itu raut wajah tampan mereka kembali seperti biasa, tenang terkesan santai.
Sedangkan Aziel si wajah dingin sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun. Wajahnya dingin-dingin saja sambil menatap dingin orang-orang yang telah mengepung mereka di segala penjuru.
"Wilson, apakah orang-orang ini menyambut kedatangan kita atau mau menangkap kita?" tanya Kelvin dengan nada dan gaya konyolnya.
"Aku berharap mereka menyambut kita, Kelvin," tanggap Wilson bernada konyol pula.
"Menyambut katamu?!" protes Kelvin tapi masih dengan gaya jenakanya. "Mereka semua sudah menghunus pedang seolah-olah mau mencincang kita. Itu yang kamu bilang menyambut?"
"Ah, mereka cuma melakukan suatu kejutan saja," tanggap Wilson masih dengan gaya santainya. "Buktinya kamu sempat terkejut 'kan tadi?"
"Ya ya ya..., kejutan..., benar-benar suatu kejutan," kata Kelvin sambil mengangguk-angguk konyol.
"Tangkap mereka!"
Tiba-tiba seorang lelaki muda yang berada paling depan memerintah dengan nada cukup keras, tidak menggubris celotehan Kelvin dan Wilson barusan. Sikapnya jelas menunjukkan penuh permusuhan.
"Tenang! Kami datang dengan damai!" cegat Brian dengan cepat. "Kami adalah teman seperjuangan dengan kalian."
Sambil berkata begitu refleks Brian maju 2 langkah ke depan. Kedua tangannya dengan telapak terbuka lebar direntangkan ke depan. Maksudnya menahan tindakan para lelaki itu.
"Kamu pikir aku percaya dengan bualanmu itu?" kata lelaki yang sepertinya pimpinannya bernada dingin bercampur sinis. "Segala tipu daya anjing-anjing istana tidak mempan bagi kami!"
"Asal kalian tahu," lanjutnya, "tadi barusan teman kalian dari sini. Tapi kami biarkan saja berbuat sesuai apa yang dia maukan di sini. Setelah itu kami biarkan dia pergi tanpa menangkapnya...."
"Aku menduga dia sudah melapor kepada junjungannya apa yang dia lihat di sini, dan tentunya junjungannya akan mengirimkan pasukan yang banyak untuk menyerang ke tempat ini. Tak tahunya cuma mengirim kalian."
"Apa orang yang Tuan maksud itu adalah orang yang...."
Brian sebenarnya hendak memberitahukan telik sandi yang telah berhasil mereka tangkap dan bunuh tadi. Tapi keburu sang pimpinan sudah menyuruh anak buahnya menyerang mereka lagi.
"Seraaang...!"
__ADS_1
★☆★☆
Tidak ada lagi kesempatan bagi Brian untuk lebih menyakinkan orang-orang itu kalau mereka adalah teman seperjuangan, bukan orang-orang Istana Kerajaan Amerta seperti yang mereka duga. Karena orang-orang itu sudah keburu maju untuk menyerang mereka.
"Ingat! Kamu hanya boleh melumpuhkan mereka, tanpa harus membunuhnya!" pesan Keenan kepada Aziel sebelum mereka maju meladeni serangan.
Aziel tidak menanggapi apa-apa atas peringatan Keenan itu, wajahnya tetap statis. Malah pemuda berwajah dingin itu seketika melenting ke depan dengan amat cepat.
Entah kapan memanggilnya, tahu-tahu di tangan kanannya sudah tergenggam salah satu dari Sepasang Pedang Bulan-nya.
Tidak lama dia sudah bergerak lincah ke sana ke mari menghalau semua serangan yang mengarah padanya.
Sedangkan Keenan tak mau ketinggalan pula. Setelah memanggil Pedang Naga Es-nya, dia ikut menyongsong serangan para lelaki muda itu.
Sementara Brian, Wilson, maupun Kelvin juga tidak punya pilihan lain selain ikut menyongsong serangan. Kalau Brian dan Wilson langsung menggunakan pedang mereka. Sedangkan Kelvin maju menyongsong serangan lawan dengan tangan hampa.
Itu memang kebiasaan dia di awal-awal dia bertarung kalau menghadapi lawan yang tidak terlalu hebat. Dan biasanya kalau menghadapi lawan keroyokan dia memakai senjata lawan setelah melumpuhkannya untuk menghadapi lawan-lawan yang lain.
Sehingga tidak butuh waktu lama, pertempuran kecil di tengah hutan itu telah tergelar. Pertarungan jago-jago bela diri yang kehebatannya di atas rata.
Ya, para lelaki muda itu memang boleh dibilang memiliki kehebatan di atas rata-rata. Gerakan mereka dalam memainkan jurus pedang begitu lincah dan cepat. Menandakan mereka sudah menguasai jurus-jurus yang mereka kerahkan.
Akan tetapi dengan ilmu hanya segitu, dengan jumlah yang cukup banyak pula, mampukah mereka meringkus kelima pemuda lawan mereka itu?
Ternyata tidak semudah apa yang mereka bayangkan. Dan mereka jelas belum tahu siapa yang mereka hadapi.
Kelima pemuda itu adalah para ksatria Istana Centauri yang pilih tanding. Kehebatan mereka sudah tidak diragukan lagi, baik dalam pertempuran maupun dalam pertarungan.
Sehingga pertempuran belum ada sepenanakan nasi berlangsung, beberapa lelaki muda sudah bertumbangan tak sadarkan diri.
Sedangkan Kelvin kini bertarung sudah menggunakan pedang lawannya yang berhasil dilumpuhkan.
Perkiraannya yang dapat melumpuhkan kelima pemuda itu dalam waktu cepat dan mudah ternyata salah besar. Dia terlalu meremehkan kelima pemuda itu sebelumnya.
Segera dia menghunus pedang yang tercantel di sabuk sebelah kirinya. Lalu, setelah menyuruh seorang anak buahnya untuk melapor ke markas tentang kejadian di sini, dia langsung terjun ke dalam pertempuran.
Tanpa tanggung-tanggung dia langsung menyerang Brian yang masih bergerak lincah memainkan pedang bermata tunggalnya, menghalau semua seliweran pedang lawan-lawannya yang mengarah padanya.
Sedangkan Brian, begitu sang pimpinan masuk ke dalam pertempuran, dia harus menambah tingkat kehebatannya. Karena dia tahu lelaki itu pasti memiliki ilmu yang tinggi dibanding para lelaki muda lainnya.
★☆★☆
Sementara pertempuran masih berlangsung sengit, dari balik pepohonan yang tumbuh di bibir lembah seketika muncul 6 orang yang masih tampak muda-muda. Yang seorang tentunya salah satu anak buah sang pimpinan.
Sedangkan 5 orang lainnya merupakan orang-orang yang jelas dari lembah. Tiga di antaranya adalah 3 lelaki muda nan tampan yang berumur di atas 25-an.
Sementara 2 yang lainnya adalah 2 orang gadis cantik yang umurnya masih di bawah 25 tahun. Bahkan salah seorang sepertinya belum genap berusia 20 tahun.
Begitu keluar dari balik pepohonan keenam orang itu langsung berkelebat cepat menuju lokasi pertempuran. Dan begitu kira-kira 10 tombak lagi mereka sampai, gadis berusia 19 tahun lebih berkata kepada salah seorang pemuda yang berbaju biru gelap bernada mengingatkan.
"Bukankah lawan pasukan penjaga itu adalah 5 ksatria dari Istana Centauri, Kanda Jarrel?"
Sambil berkata begitu dia menatap Wilson yang lagi asyik menari-nari dengan pedangnya di antara seliweran pedang-pedang lawan yang mengeroyoknya.
"Kamu benar, Sheila," kata pemuda yang dipanggil Jarrel membenarkan.
__ADS_1
Dan ketika mereka hampir sampai di lokasi pertempuran, Jarrel segera berteriak memerintahkan pimpinan penjaga untuk mundur.
"Hentikan, Chan! Tarik pasukanmu!"
Mendengar teriakan salah seorang junjungannya itu, pimpinan penjaga yang dipanggil Chan langsung memerintahkan pasukannya yang tinggal 10 orang untuk mundur.
Tanpa membantah 10 pasukan penjaga segera melompat mundur ke belakang bersama Chan. Sedangkan 13 orang lainnya tidak bisa ikut mundur karena masih enak-enakan pingsang di tanah.
Sementara Brian dan keempat rekannya juga melenting mundur 2 tombak ke belakang dan berkumpul pada satu tempat.
Tak lama sepasang mata mereka memandang Jarrel yang melangkah cepat menuju ke tempat mereka bersama 4 orang lainnya.
Dan tak butuh waktu lama mereka segera mengenal kelima orang itu yang tempo hari sama-sama berjuang menggulingkan kekuasaan Selir Hellen Gretha.
"Saya minta maaf atas kelancangan pasukan saya terhadap Tuan-tuan," kata Jarrel cepat bernada sopan seraya menjurah hormat. "Mereka memang tidak tahu kalau Tuan-tuan adalah teman seperjuangan."
Baru saja Brian hendak menanggapi permintaan maaf Jarrel itu, Kelvin sudah mendahuluinya berkata dengan gaya santainya.
"Ah, tidak mengapa, Tuan Jarrel, santai saja. Anggap saja tadi itu kita sedang berolah raga."
"Kamu kalau tidak disuruh bicara, tidak usah ngomong!" desis Aziel bernada dingin sambil menatap tajam pada Kelvin.
Kelvin hendak menanggapi teguran Aziel itu, keburu Wilson yang berdiri di belakang bersama Keenan menariknya dan mensejajarkan di samping kirinya.
Maka Kelvin tidak jadi berucap. Dia segera mendelik pada Wilson tapi tidak ngomong apa-apa.
Sementara itu terdengar Brian berkata menanggapi dengan sopan pula permintaan maaf Jarrel tadi.
"Tidak apa-apa, Tuan Jarrel. Kami bisa memaklumi kalau pasukan penjaga itu tidak tahu siapa kami. Bahkan saya salut atas kewaspadaan mereka yang kuat."
"Dan saya juga minta maaf beberapa orang pasukan Tuan terpaksa kami lumpuhkan," lanjutnya.
"Tidak usah merasa bersalah begitu, Pangeran Brian," kata Jarrel yang memang sudah mengenal Brian masih dengan sikap takzim. "Pangeran memang telah berbuat yang semestinya. Yang seharusnya minta maaf adalah kami yang telah berlaku lancang."
"Maaf, Tuan Pangeran," yang berkata adalah Sheila, "kalau boleh tahu ada gerangan apakah Pangeran dan rekan-rekan datang kemari? Apakah ada tugas baru buat kami dari Yang Mulia Raja atau Yang Mulia Ratu?"
Yang Sheila maksud Yang Mulia Raja adalah Pangeran Ghavin alias Dhafin.
Sheila dan Jarrel serta beberapa orang tertentu sudah tahu kalau Dhafin adalah pewaris sah Kerajaan Bentala. Dan mereka memahami Dhafin-lah yang saat ini menjadi raja di Kerajaan Bentala.
Mereka tidak tahu kalau ada perubahan yang mendadak. Karena mereka sudah dibolehkan kembali ke markas mereka sebelum penaklukan Istana Kerajaan Bentala. Jadi mereka belum tahu yang sebenarnya menjadi raja di Bentala adalah Raja Revan, adiknya Pangeran Ghavin.
Sambil berkata Sheila memang menghadap ke Brian. Tapi kerlingan matanya melirik pada Wilson. Sedangkan Wilson juga ternyata tengah memandang ke arah gadis cantik berpakaian merah itu.
Wilson tidak memberikan tanggapan apa-apa atas kerlingan sang bidadari cantik selain hanya tersenyum sedikit saja.
Mereka memang sempat beberapa kali bertegur sapa saat masih sama-sama berjuang tempo hari. Sudah saling mengenal nama masing-masing. Sempat saling ngobrol beberapa kali meski belum sering.
Namun mereka belum saling mengenal begitu dalam. Entah sepasang insan itu saling menyukai atau masing-masing di antara mereka ada rasa, hanya mereka yang tahu.
"Mungkin ada baiknya kita berbicara di markas saja," kata Brian seakan mengusulkan. "Takutnya pembicaraan rahasia kita telah bocor ke mana-mana."
"Oh, kalau begitu kita segera ke markas saja sekarang!" ajak Jarrel langsung tanggap. "Ayo silahkan!"
Tidak lama kemudian Brian dan keempat rekannya meninggalkan tempat itu mengikuti Jarrel dan keempat rekannya pula.
__ADS_1
Sedangkan pasukan penjaga sudah hilang sejak tadi. Kembali ke pos jaga mereka di suatu tempat yang tersembunyi.
★☆★☆★