Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 22 PERTEMUAN KRISTAL UNGU Part. 2: 'RACUN ES MERAH' DAN 'RACUN MAYAT BEKU'


__ADS_3

Beberapa saat lamanya ruang pribadi Raja Darian di Istana Kristal Ungu masih diselimuti kebisuan. Semua yang ada di situ, selain Jenderal Felix, masih memikirkan ucapan Dhafin yang menyatakan kalau dugaan Pendeta Noman salah.


Pendeta Noman menduga kalau racun yang diidap oleh Yang Mulia adalah 'Racun Es Merah'. Hal itu sesuai yang diberitahukan oleh teman Pendeta Noman. Namun Dhafin mengatakan kalau ciri-ciri yang diberitahukan kepada Pendeta Noman bukanlah orang yang terkena 'Racun Es Merah'. Lantas Yang Mulia tekena racun apa?


"Kenapa kamu bisa menduga kalau Yang Mulia bukan terkena 'Racun Es Merah', Dhafin?" Jenderal Myles yang penasaran akal keilmuan Dhafin tidak tahan untuk bertanya.


"Maaf, Tuan Jenderal, itu bukan dugaan tapi kepastian," sanggah Dhafin menegaskan pernyataannya.


Sejenak Jenderal Myles tercekat, tidak bisa langsung bicara saking terkejutnya akan ucapan Dhafin itu. Begitu pula dengan Pendeta Noman dan Jenderal Felix yang duduk di sebelahnya. Sedangkan Yang Mulia langsung bertanya dengan nada penasaran.


"Kenapa kamu bisa seyakin itu kalau aku bukan terkena 'Racun Es Merah'?"


"Perkenankan hamba bertanya terlebih dahulu, Yang Mulia," pinta Dhafin dengan penuh takzim.


"Silahkan!"


"Apakah setelah menggigil hebat saat pertama kali merasa terkena racun Yang Mulia menggigil lagi setelah itu?"


"Tidak," sahut Yang Mulia setelah berpikir sejenak.


"Berarti Yang Mulia bukan terkena racun itu," kata Dhafin pasti. "Orang yang terkena racun itu, di samping dia menderita demam, juga disertai menggigil yang berulang beberapa kali hingga korbannya mati."


Semua yang ada di situ tampak mengangguk-angguk pelan mendengar penjelasan Dhafin barusan. Apa yang dikatannya memang benar, Yang Mulia tidak pernah lagi menggigil setelah menggigil yang pertama. Cuma demam saja.


Lantas Yang Mulia terkena racun apa? Itu langsung ditanyakan Raja Darian kepada Dhafin.


"Yang Mulia terkena 'Racun Mayat Beku'."


Semua yang ada di situ terpekur sejenak setelah mendengar perkataan Dhafin yang jelas tanpa keraguan itu. Termasuk Jenderal Felix yang sebelumnya sudah mendengar Dhafin menyebut racun itu.


Mereka tampak berpikir keras mengenai racun yang disebut Dhafin barusan. Belum lagi 'Racun Es Merah'. Tidak terkecuali Pendeta Noman yang tampak memeras pikiran mengenai dua racun aneh tersebut.


"Kalau begitu teman saya itu salah menduga racun," gumam Pendeta Noman bernada ragu-ragu.


"Belum bisa dikatakan demikian, Paman Pendeta," kata Dhafin dengan santun, seolah tidak berani menyalahkan teman Pendeta Noman. "Karena bisa jadi waktu itu teman paman belum lengkap menyebutkan ciri-ciri orang yang terkena 'Racun Es Merah'."


"Ya, bisa jadi...," gumam Pendeta Noman bernada belum yakin dengan ucapannya.


Kemungkinan memang bisa begitu. Temannya memang tidak banyak menyebutkan ciri-ciri orang terkena 'Racun Es Merah'. Namun ada kemungkinan temannya bisa salah menduga racun. Itulah makanya dia masih ragu. Tapi dia masih ingat temannya menyebutkan cara pengobatannya.


"Apakah paman masih ingat teman paman menyebutkan cara pengobatannya?" baru saja terbetik dalam pikirannya, Dhafin sudah bertanya.


"Teman saya menyebutkan bahwa, jika belum sampai setahun korban sudah diketahui terkena 'Racun Es Merah', pengobatannya cukup dengan pil obat," kata Pendeta Noman mengungkapkan. "Tapi jika sudah lewat setahun, harus dengan menyalurkan dua energi inti ke seluruh peredaran darahnya, yaitu energi inti penyembuh dan energi inti panas."


"Ya, benar, Paman Pendeta," kata Dhafin seolah membenarkan. "Cara seperti itu memang metode pengobatan 'Racun Es Merah'."


"Dan cara seperti itu juga metode pengobatan orang yang terkena 'Racun Mayat Beku'," lanjut Dhafin.


Semua yang ada di ruangan pribadi Raja Darian kembali terdiam memikirkan ucapan Dhafin itu. Pikiran mereka seakan sepakat menduga kalau teman Pendeta Noman bisa saja salah menduga racun. Karena metode pengobatannya sama. Dan ciri-ciri yang disebutkan teman Pendeta Noman itu adalah ciri-ciri yang mendasar.

__ADS_1


★☆★☆


"Jika metode pengobatannya sama, kalau begitu memang benar temanmu itu bisa saja salah menduga racun, Pendeta...," baru saja ucapan itu bergelayut dalam benak mereka Jenderal Felix sudah mengungkapkannya.


"...Hanya saja anak ini," lanjutnya seraya menepuk pelan punggung Dhafin, "tidak berani mengatakan terus terang kalau temanmu salah menduga racun."


"Aku juga berpikir begitu," kata Raja Darian seraya tersenyum. "Tapi, apa benar kalau teman Pendeta Noman salah menduga racun, hanya saja kamu tidak berani mengungkapkannya?"


Dhafin terdiam sejenak, tidak lantas menjawab pertanyaan Yang Mulia yang menurutnya tidak penting. Beberapa saat menatap Yang Mulia, lalu tertunduk diam. Kenapa hal itu harus dibahas? Bukankah yang lebih penting menyembuhkan Yang Mulia?


"Dhafin! Jangan ragu mengatakan sesuatu jika itu penting!" kata Pendeta Noman penuh bijak. "Karena dapat menyebabkan bahaya kalau kamu menahannya, meski sungkan untuk mengungkapkannya."


"Ampun, Yang Mulia. Hamba tidak sampai berpikir demikian," kata Dhafin menjawab pertanyaan Raja Darian. "Lagipula hal itu tidak terlalu penting. Yang terpenting sekarang mengobati Yang Mulia."


"Ya, itu yang terpenting," kata Raja Darian tanpa berpikir apakah Dhafin menguasai energi inti penyembuh dan energi inti panas atau belum. "Kapan kamu memulai?"


"Ampun, Yang Mulia," sela Jenderal Myles cepat sebelum Dhafin menyahuti Yang Mulia. "Mohon ijin untuk berbicara kepada Dhafin."


Sebenarnya Pendeta Noman hendak berbicara juga kepada Dhafin. Tapi sudah kedahuluan Jenderal Myles.


"Hm, silahkan!"


"Anak Muda! Kamu tadi mengatakan kalau metode pengobatan 'Racun Es Merah' dan 'Racun Mayat Beku' sama," kata Jenderal Myles seraya memandang Dhafin. "Berarti ada kesamaan di antara kedua racun itu?"


Itu juga yang mau ditanyakan oleh Pendeta Noman yang hendak berbicara tadi. Sedangkan Yang Mulia seakan baru tersadar kalau dia juga ingin tahu mengenai kedua racun itu. Sementara Jenderal Felix menyimak saja. Apa yang ingin dia tanyakan sudah diwakilkan oleh mereka.


"Hanya saja pengaruh yang tampak di luar tubuh berbeda," lanjutnya. "Kalau pada 'Racun Es Merah' kulit mula-mula tampak berwarna merah aneh samar-samar, setelah itu berubah menjadi merah pucat...."


"...kalau pada 'Racun Mayat Beku' kulit akan berubah pucat perlahan-lahan, setelah itu berubah menjadi putih pucat. Kondisi korban sudah seperti patung lilin...."


"Orang yang terkena salah satu dari kedua racun itu tidak akan segera menyadari," lanjut Dhafin tanpa henti. "Korban akan merasakan pengaruh racun setelah setahun berlalu. Setelah itu korban akan mulai merasakan pengaruh racun, karena racun sudah bekerja di peredaran darah...."


"Siapa yang tahu kalau ternyata racun baru bekerja setelah satu tahun berlalu," gumam Jenderal Myles.


"Berapa lama korban akan bertahan hidup dengan kedua racun itu?" tanya Yang Mulia ingin tahu.


"Setelah diawali dengan demam tinggi dan menggigil hebat pada Racun Es Merah', korban akan bertahan selama setahun. Selama itu korban merasakan demam ringan, kemudian beberapa kali demam tinggi. Setelah itu sering menggigil. Dan saat menjelang kematiannya korban akan menggigil hebat dalam satu hari lima kali. Setelah itu korban akan mati...."


"Sedangkan pada 'Racun Mayat Beku', korban bisa bertahan sedikit lebih lama, yaitu selama kurang lebih dua tahun. Selama setahun korban hanya merasakan demam ringan. Setahun berikutnya mula-mula korban mulai merasakan demam tinggi, kemudian lebih sering. Kemudian dua bulan terakhir korban akan merasakan kedinginan yang hebat. Setelah itu korban mati dalam keadaan tubuhnya sudah membeku seperti kondisi pada Racun Es Merah'."


"Berarti seharusnya sepuluh bulan yang lalu aku sudah mati," gumam Yang Mulia merasa ngeri. "Tapi aku belum pernah merasakan kedinginan hebat."


"Hal itu karena tenaga dalam Yang Mulia yang bisa meredam rasa dingin sehingga tidak sampai kedinginan hebat," kata Dhafin menerangkan.


"Sedangkan Yang Mulia masih bertahan sampai sekarang," lanjutnya, "di samping tenaga dalam Yang Mulia sendiri, juga lantaran mendapat bantuan tenaga dalam dari luar dan obat yang Yang Mulia minum."


"Namun itu semua sifatnya cuma menghambat bekerjanya racun lebih cepat. Bukan menghentikan kerja racun apalagi menyembuhkannya...."


★☆★☆

__ADS_1


Semua orang yang ada di ruangan pribadi Raja Darian itu mendengarkan semua ucapan Dhafin dengan penuh perhatian. Hal itu menandakan bahwa mereka sudah mengakui keilmuan Dhafin dalam ilmu pengobatan. Terutama dalam ilmu racun.


Begitu lugas dan jelas anak itu berbicara, sebagaimana layaknya orang dewasa yang terpelajar berbicara. Begitu rinci anak itu menjelaskan sesuatu, seolah-olah dia cuma membaca saja sesuatu yang dia jelaskan itu.


"Ampun, Yang Mulia, mohon ijin hendak bertanya," kata Dhafin penuh takzim di saat orang-orang yang ada di situ masih terdiam memikirkan semua penuturan Dhafin.


"Ya, silahkan!"


"Apakah kondisi tubuh Yang Mulia dan tenaga dalam Yang Mulia semakin melemah dalam beberapa bulan terakhir ini?" tanya Dhafin melakukan penelitian.


"Ya benar," aku Yang Mulia masih juga agak terkejut meski sudah mengetahui akan keilmuan Dhafin.


"Sudah tiga bulan atau baru dua bulan, Yang Mulia?" tanya Dhafin meneliti lebih dalam.


"Sudah tiga bulan terakhir ini...."


Bukan saja Yang Mulia yang terkejut mendengar tebakan Dhafin yang nyaris tepat itu, semua yang ada di situ langsung terkejut bukan main. Anak masih sekecil ini sudah menguasai ilmunya dengan baik, bahkan dapat melakukan penelitian dengan akurat. Bukankah anak seperti itu adalah bocah ajaib?


"Proses pembekuan darah di dalam tubuh Yang Mulia sudah hampir sempurna," kata Dhafin menjelaskan hasil penelitiannya. "Detak jantung Yang Mulia semakin melemah, tidak lama lagi akan membeku bersama organ lainnya yang teraliri darah...."


"Sekarang Yang Mulia hidup dengan tenaga dalam Yang Mulia sendiri," lanjut Dhafin. "Sedangkan tenaga dalam dari luar sudah tidak ada artinya lagi."


"Apakah keadaan Yang Mulia yang sudah seperti itu masih bisa disembuhkan, Dhafin?" tanya Pendeta Noman harap-harap cemas.


Pertanyaan itu sepertinya hendak diajukan juga oleh yang lainnya, termasuk Raja Darian. Tampak dari sorot mata mereka yang serempak menatap Dhafin.


"Dengan ijin sang Penguasa Langit, saya akan usahakan, Yang Mulia," kata Dhafin penuh ketegasan tanpa ragu. Tanpa bermaksud menyombongkan diri.


"Berarti kamu sudah menguasai tenaga inti panas dan tenaga inti penyembuh, Dhafin?" tanya Jenderal Myles tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


"Saya baru menguasai hingga tingkat ke enam," sahut Dhafin tanpa menyombongkan diri. "Tapi itu sudah cukup dipakai dalam metode pengobatan. Karena saya sudah pernah menyembuhkan orang yang terkena 'Racun Es Merah'."


Semua orang yang ada di situ tampak mengangguk-angguk mendengar penuturan Dhafin itu. Mereka amat percaya apa yang dikatakannya itu. Itu menandakan Yang Mulia masih ada harapan untuk sembuh. Karena metode penyembuhan 'Racun Mayat Beku' sama dengan 'Racun Es Merah'.


"Sekarang apakah hamba sudah bisa memulai mengobati Yang Mulia?" tanya Dhafin yang sebenarnya dari tadi ingin mengobati Yang Mulia.


"Ya, boleh," kata Raja Darian menyetujui sekaligus memutuskan. "Sekarang jangan dulu ada yang bertanya. Biar Dhafin menyelesaikan dulu tugasnya."


Tidak lama kemudian, Dhafin sudah dalam proses melakukan metode penyembuhan, sama seperti waktu dia menyembuhkan Putri Lavina Aneska yang terkena Racun Es Merah'. (silahkan baca BAB 4 MENGOBATI PUTRI ANESKA)


Untuk mengatasi agar Dhafin tidak kehabisan tenaga selama melakukan proses penyembuhan, dia meminta Pendeta Noman agar menyalurkan tenaga dalam ke tubuhnya selama proses penyembuhan.


Pendeta berumur 45 tahunan itu menempelkan kedua telapak tangannya ke punggung Dhafin, menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh Dhafin. Sedangkan kedua telapak tangan Dhafin menempel ke punggung Raja Darian yang tidak memakai baju. Menyalurkan energi inti panas dan energi inti penyembuh.


Yang Mulia kini sudah tidak berbusana lagi. Auratnya ditutupi kain. Memang begitu yang diminta oleh Dhafin, dan Yang Mulia tidak membantah. Tujuannya agar energi inti panas dan energi inti penyembuh merasuk ke dalam tubuh Yang Mulia dengan lancar, tanpa hambatan.


Semetara itu waktu terus bergulir. Waktu sudah menunjukkan sore hari. Sedangkan Dhafin masih dalam proses menyembuhkan Yang Mulia Raja Darian. Sedangkan Pendeta Noman masih setia menyalurkan tenaga dalamnya ke dalam tubuh Dhafin.


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2