
Kayshila memutuskan untuk meninggalkan kampung di mana dia dibesarkan, pergi mengembara bersama Dhafin mengelilingi mayapada. Rumah ibunya dititipkan tetangga untuk menjaganya.
Terlalu banyak kenangan manis bersama ibu angkatnya yang ternyata pelayan ibu kandungnya di kampung itu. Makanya dia memutuskan untuk pergi agar dia tidak terus menerus larut dalam kesedihan dan kedukaan memikirkan kenangan manis itu.
Tidak ada yang dia bawa dari rumah ibunya selain KALUNG TANDA miliknya dan plakat atau lencana identitas ibu kandungnya.
Sebenarnya dia tidak ingin membawa surat ibunya. Dia ingin melenyapkannya saja. Takutnya terjadi yang tidak-tidak di kemudian hari, terus membaca surat ibu kandungnya. Karena keterangan mengenai 2 benda yang dia bawa ada dalam surat itu.
Tapi Dhafin menyarankan agar tetap membawanya. Siapa tahu dikemudian hati bermanfaat. Dan Kayshila manut saja apa kata Dhafin. Dia sudah menyerahkan kepercayaan sepenuhnya kepada kekasihnya itu.
Sedangkan untuk keamanan surat itu serta Kalung Tanda dan lencana identitas ibunya Dhafin mengajarkan mantra penyegel untuk menyimpan ketiga benda itu di suatu tempat, yaitu di ruang dimensi ghaib.
Dasarnya Kayshila memang sudah memiliki energi batin yang boleh dikatakan sempurna, tidak terlalu sulit baginya mempelajari matra penyegel itu. Dan tidak butuh waktu lama dia sudah menguasainya.
Kini dia sudah mengetahui mantra penyegel, baik menyembunyikan benda yang dia inginkan maupun memunculkan kembali.
Sekarang Kayshila menjadi bingung, apakah dia mengajak Dhafin untuk mencari orang yang bernama Pangeran Nelson Adelard dahulu?
Atau mencari Gerombolan Pedang Tengkorak untuk membalaskan dendamnya akibat telah membunuh guru dan saudara-saudara seperguruannya?
Dhafin menasehatkan agar memberantas Gerombolan Pedang Tengkorak jangan disertai dengan niatan dendam. Memberantas mereka dengan niatan karena mereka memang pantas dibasmi akibat perbuatan jahat mereka yang menghilangkan nyawa dengan semena-mena.
"...Jangan merusak niat suci sebuah perjuangan dengan dendam, Kayshila," lanjut Dhafin di ujung nasehatnya, "kamu hanya akan memperoleh kesia-siaan belaka."
"Baiklah, Tuan Pendeta, saya akan menuruti semua nasehat Tuan Pendeta," kata Kayshila.
Dia berkata dengan mimik seolah penuh hormat dan dengan gaya seolah berkhidmat seperti seorang murid di depan pendeta atau seorang guru. Kalau tidak memakai cadar, akan terlihat wajah cantiknya dibuat serius.
"Jangan bercanda," kata Dhafin seolah menegur, "gayamu tidak lucu."
"Hihihi..., siapa yang bercanda, Kanda?" kata Kayshila sambil berusaha menahan tawanya. Tapi yang keluar dari balik cadarnya malah tertawa cekikikannya yang merdu.
Dhafin sekarang sudah bersenang hati karena Kayshila sudah mulai rileks, keadaannya sudah mulai santai dan sudah bisa bercanda dan diajak bercanda.
Kemarin Kayshila masih saja terkungkung dalam kesedihan dan kedukaan dan lebih banyak diam. Tapi Dhafin tidak pernah bosan membujuknya. Dan akhirnya Kayshila kembali seperti biasa, tidak dirundung sedih lagi.
"Tapi serius loh, Kanda," Kayshila masih melanjutkan candaannya, "kamu itu cocoknya jadi pendeta atau penasehat ketimbang jadi pendekar."
"Aku ingin jadi tabib saja," kata Dhafin terus meladeni.
"Begini saja, kamu jadi Tabib Penasehat. Gimana, keren 'kan?"
"Kalau begitu aku jadi ketiganya saja biar kamu puas. Jadi penasehat, jadi pendekar sekaligus jadi tabib. Bukankah begitu lebih keren?"
"Ih, Kanda curang deh," kata Kayshila memberengut manja. "Kok diborong semua. Malah tidak keren tahu!"
"Eh jangan salah paham dulu. Kamu harus tahu kenapa aku ingin menjadi semuanya untuk kamu."
"Kenapa coba?"
"Aku ingin selalu menjadi penasehatmu saat kamu berbuat salah, aku ingin menjadi pendekar di hatimu yang selalu melindungimu dari segala rintangan dan marabahaya...."
"...Dan aku akan selalu menjadi tabib bagimu yang akan menyembuhkan semua penyakitmu."
"Aduuuh... Kandaku ini! Kenapa sekarang sudah bisa berkata seromantis ini ya?"
"Aku tidak sedang merayu, aku serius. Aku memang ingin menjadi begitu untuk kamu."
"Benar, Kanda?" tanya Kayshila seraya menatap wajah tampan Dhafin seolah ingin memastikan apakah Dhafin serius atau cuma menyenangkan hatinya.
"Kapan aku berbohong padamu?" kata Dhafin sambil balas menatap Kayshila.
__ADS_1
Kayshila tersenyum haru mana kala mendapati kalau Dhafin memang benar-benar serius akan ucapannya. Mana hatinya tidak senang kalau begitu?
Dia merasa amat tersanjung diperlakukan begitu istimewa oleh Dhafin. Membuat cintanya kepada Dhafin semakin terus bertambah, dan membuatnya tidak ingin kehilangan akan sang pujaan hatinya itu.
Sepasang kekasih yang sebenarnya terlarang itu terus saja berjalan menyusuri jalan hutan sambil terus ngobrol tentang banyak hal.
Mereka sudah saling mencintai satu sama lain. Tapi kenapa ditakdirkan bersaudara?
★☆★☆
Ketika Dhafin dan Kayshila sampai di sebuah jalan yang di kiri kananya cukup lebat pepohonannya, seketika Dhafin merandek. Terus mengangkat tangan kanannya sebagai isyarat untuk Kayshila agar ikut berhenti.
Firasat Dhafin mengatakan kalau di sekitar sini ada banyak orang yang tengah mengepung dan mengintai mereka.
Sedangkan Kayshila, melihat kekasihnya sudah dalam mode waspada, lantas menajamkan ilmu pelacaknya. Dan didapat kenyataan kalau di balik pepohonan dan semak-semak bersembunyi banyak orang yang tengah mengintai mereka.
"Kamu sudah tahu kalau di sekitar kita ada banyak orang yang bersembunyi?" tanya Dhafin berbisik sambil tak pernah lepas mengawasi keadaan sekitar.
"Iya, Kanda," bisik Kayshila yang juga sudah waspada.
Belum lama Kayshila berkata begitu, seketika bermuculan dari atas dan balik pepohonan serta dari balik semak belukar puluhan sosok berwarna hitam. Mereka berkelebat begitu cepat laksana hantu yang kesiangan.
Saking cepatnya kelebatan sosok-sosok bayangan hitam itu, tahu-tahu mereka sudah mengepung Dhafin dan Kayshila dari segala sisi. Semua mereka berpakaian seragam dan bertopeng warna hitam.
Kecuali 3 orang yang berdiri bagian depan. Mereka memang berpakaian serba hitam tapi tidak memakai topeng.
Dari sulaman gambar tengkorak dan 2 pedang serta pedang mereka yang sudah terhunus yang ujung gagangnya berbentuk kepala tengkorak, sudah dapat dipastikan mereka adalah Gerombolan Pedang Tengkorak.
Kayshila langsung mendidih hatinya ketika mengetahui kalau yang mengepung mereka adalah Gerombolan Pedang Tengkorak. Rasa dendamnya kepada kelompok penjahat itu langsung berkobar.
Kalau tangannya tidak dipegang oleh Dhafin sebagai isyarat untuk bersabar dahulu, dia langsung menerjang mereka tanpa kenal ampun. Untuk sementara sepasang matanya yang menyorot tajam memperhatikan mereka.
"Nona Bercadar! Apakah kamu murid Perguruan Cadar Ungu?" tanya salah seorang yang ada di depan yang berdiri paling tengah. Dia berambut panjang dengan sebagian dikuncir.
"Ya, aku memang pernah menjadi murid di Perguruan Cadar Ungu," sahut Kayshila dengan berani dan bersuara lantang. "Kalian mau apa?"
"Dulu kamu masih bisa lolos Bocah!" kata yang berdiri di sebelah kanan bernada dingin. Dia berambut pendek. "Sekarang tidak ada kesempatan lagi untuk lolos!"
"Kalian pikir aku takut pada kalian hah?" bentak Kayshila tambah berani, malah mulai berang. "Dulu memang aku lari dari kejaran kalian. Tapi sekarang, kalian maju sekalian pun aku tidak takut!"
"Keparat!" maki yang berdiri sebelah kiri menggeram marah. Dia berambut keriting.
Dia hampir menerjang Kayshila kalau tidak dicegat oleh lelaki berambut panjang. Dia hanya menatap tajam pada Kayshila dengan penuh amarah.
"Anak muda! Kalau kamu tidak mau membiarkan nyawamu mati sia-sia di sini, sebaiknya kamu tinggalkan tempat ini!" kata lelaki berambut gondrong bernada tajam sekaligus mengancam. "Tinggalkan Nona Bercadar itu biar kami bunuh!"
"Apakah kamu mengancam, Tuan?" tanya Dhafin dengan nada tenang sambil tersenyum. "Atau... jangan-jangan kalian merasa terancam dengan kehadiranku di sini?"
Ucapan Dhafin yang tenang langsung membuat ketiga pimpinan itu naik pitam. Ucapan itu sama saja meremehkan kemampuan mereka. Hampir saja lelaki di kiri kanan menerkam Dhafin kalau tidak ditahan lelaki berambut gondrong.
"Oh, ternyata tadi aku salah bicara," kata lelaki berambut gondrong seakan meralat bicaranya. Tapi nada ucapannya jelas melecehkan. "Aku ingin memisahkan sepasang kekasih yang ingin mati bersama."
"Bukan kami yang mati, tapi kamilah yang akan membunuh kalian!" dengus Kayshila ketus.
"Rupanya kamu sudah punya nyali juga, Nona Bercadar!" kata lelaki berambut pendek bernada dingin.
Kayshila ingin membalas ucapan lelaki itu, tapi Dhafin langsung menyentuh tangannya. Terpaksa dia diam. Hanya sepasang mata indahnya saja yang menatap tajam sambil mendengus.
"Aku heran pada kalian semua ini," kata Dhafin masih tenang dan santai, "masih siang tapi sudah berani berkeliaran di negeri orang. Nyali kalian ternyata besar juga."
"Apa yang kami takutkan kalau kerajaan ini sudah dikuasai oleh rekan kami, Tuan Putri Rayna Cathrine?" kata lelaki berambut gondrong sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Dhafin tetap tenang.
★☆★☆
Dhafin tidak kaget lagi kalau ternyata Putri Rayna Cathrine telah menguasai Kerajaan Amerta. Karena waktu dulu dia sudah punya firasat kalau Putri Rayna bakal menguasai kerajaan ini. Dan ternyata kejadian.
Yang terkejut adalah Kayshila. Dia tidak menyangka kalau Kerajaan Amerta sudah dikuasai orang lain, bukan lagi Yang Mulia Darian Cashel.
"Tuan Putri Rayna dan Gerombolan Pedang Tengkorak telah berhasil merebut kerajaan ini dari tangan Raja Darian Cashel," kata lelaki berambut gondrong memperjelas. "Sekarang Raja Darian bukan lagi penguasa di sini, melainkan Tuan Putri Rayna. Jelas?"
"O..., pantas kalian berani gentayangan di mana pun di kerajaan ini," kata Dhafin tetap santai. "Rupanya tuan kalian yang menguasai kerajaan ini."
Lalu dia menoleh pada Kayshila dan berkata.
"Nona Bercadar. Sepertinya sampah-sampah ini memang pantas kita basmi, karena mereka ternyata anak buah Putri Rayna. Bagaimana menurutmu?"
"Memang sangat pantas!" kata Kayshila bersemangat. "Bahkan dari tadi sebenarnya!"
"Keparat! Rupanya kalian tidak tahu siapa kami!" bentak lelaki berambut keriting tidak bisa lagi menahan emosi. "Seraaang....!!!"
Tidak menunggu perintah 2x puluhan orang-orang bertopeng hitam langsung menyerang Kayshila dan Dhafin. Sambil bergerak menyerang pedang yang sudah terhunus diayunkan hendak mencincang sepasang kekasih itu.
Rupanya Kayshila yang sudah siap sejak tadi tidak tinggal diam. Kedua telapak tangannya yang sudah dikelilingi puluhan kelopak mawar yang memendarkan cahaya merah langsung dikibaskan ke arah para penyerangnya.
Wuuusss!!! Wuuusss!!!
Swiiing...!!! Swiiing...!!!
Seketika saja puluhan kelopak mawar merah yang sudah mengeras bagai kepingan logam itu langsung melesat dengan amat cepat dan menghantam belasan orang bertopeng hitam tanpa dapat dicegah.
Puluhan kepingan kelopak mawar itu langsung menembus tubuh-tubuh mereka hingga melesak masuk. Hingga sebentar saja sudah terdengar jeritan-jeritan kematian saling susul menyusul. Kemudian disusul bertumbangan tubuh-tubuh hitam ke atas tanah dengan tanpa nyawa.
Sementara Dhafin tidak melakukan gerakan apapun. Dia diam saja di tempatnya sambil menatap lelaki berambut keriting tak berkedip, sambil sedikit menarik senyum, sambil bersedekap. Sedangkan 5 ujung pedang sudah siap menusuk tubuhnya di 5 tempat.
Ketiga pimpinan operasi pembunuhan itu terang saja amat terkejut menyaksikan semua kejadian aneh yang terjadi begitu cepat di depan mata mereka.
Belum hilang keterkejutan mereka menyaksikan aksi mengagumkan sekaligus mengerikan yang ditunjukkan oleh Kayshila, ini ditambah lagi aksi gila yang dilakukan oleh Dhafin. Apa dia mau bunuh diri?
Sementara 5 ujung pedang orang-orang bertopeng hitam tinggal menunggu waktu saja akan mengenai sasaran. Sedangkan Dhafin masih saja diam bagai patung di tempatnya.
Dan akhirnya 5 ujung pedang telah menusuk tubuh Dhafin di 5 tempat tanpa dapat di cegah.
Craaab!
Craaab!
Craaab!
Craaab!
Craaab!
Dua ujung pedang menusuk dada kiri dan kanan. Satu menusuk jidat, yang satu menusuk leher sebelah kiri. Dan ujung pedang yang terakhir menusuk pinggang belakang sebelah kanan.
Maka terdengarlah jeritan memilukan yang amat keras hingga melengking tinggi.
"Aaaa....!!!"
Tenyata lain yang tertusuk lain yang menjerit kematian. Lain tubuh yang tertusuk lain tubuh yang tembus, lain tubuh yang berdarah....
★☆★☆★
__ADS_1