
Pertarungan berlanjut pada putaran ke 3. Aziel duluan naik ke atas arena. Dia berdiri tenang di tempatnya. Tangan bersedekap dan kepalanya yang terselubung kerudung bajunya tertunduk. Matanya juga seolah terpejam.
Tak lama lawannya dari Tim Fariza Luna melenting naik ke panggung. Begitu kakinya sudah menginjak lantai arena dia segera melangkah agak cepat mendekat ke tempat Aziel berdiri.
Begitu 4 langkah lagi sampai di depan Aziel gadis bercadar itu berhenti. Hampir bersamaan gong tanda dimulainya pertandingan berbunyi. Namun kedua bocah yang nyaris seumuran itu belum ada yang saling menyerang.
"Maaf, Saudara Aziel, apakah kamu sudah siap?" tanya si gadis bercadar dengan santun sambil menatap wajah tampan namun tampak dingin itu.
"Silahkan Nona menyerang kapan saja!" kata Aziel seraya mengangkat kepala sedikit dan membuka matanya pula sedikit. "Saya sudah siap sejak tadi."
"Tapi saya melihat kamu sepertinya belum siap bertarung," kata gadis bercadar masih bernada lembut dan santun.
Gadis itu berpikir sikap diamnya Aziel sebagai pertanda kalau dia belum siap bertarung. Karena belum pernah dia melihat sikap Aziel seperti ini dari awal pertarungan.
"Jangan tertipu dengan keadaan seseorang, Nona," kata Aziel bernada bijak. "Orang yang diam itu lebih berbahaya daripada orang yang kelihatan waspada."
Gadis itu terdiam merenung ucapan Aziel barusan. Setelah itu dia segera memasang kuda-kuda lalu berkata.
"Baiklah. Bersiaplah, Saudara Aziel!"
Belum kering nada suaranya, gadis itu seketika melesat ke depan dengan cepat seraya melontarkan tendangan kaki kanan mengarah ke wajah Aziel.
Namun Aziel yang sudah siap dari tadi dengan cepat memiringkan badannya ke kanan seraya mengeser kaki kanannya. Maka tendangan si gadis hanya lewat di samping telinga kirinya.
Namun gadis bercadar tidak kehabisan jurus sampai di situ. Gagal serangan pertama dilanjutkan dengan serangan berikut secara beruntun. Tapi Aziel masih bisa mengatasi semua serangan sengit dari si gadis.
Sementara Aziel sepertinya tidak mau hanya menangkis serangan saja. Begitu mendapat kesempatan bocah berwajah dingin itu menyerang gadis bercadar dengan sengit pula.
Sehingga saling serangan dan saling tangkis silih berganti menambah suasana pertarungan semakin seru.
Tanpa terasa jurus demi jurus telah terlewatkan. Durasi pertandingan sudah lebih dari sepenanakan nasi. Namun pertarungan 2 bocah hampir seumuran itu belum ada tanda-tanda siapa yang bakalan menang.
Hingga suatu ketika di penghujung pertarungan, setelah melewati adegan saling serang dan saling tangkis, telapak tangan kanan Aziel menghantam ke arah dada gadis itu.
Pukulan ini sebenarnya gerakan tipuan. Gadis itu tidak punya pilihan lagi selain harus menangkis dengan tangan kanannya. Setelah itu Aziel akan menendang pinggang gadis itu dengan kaki kiri dan dipastikan kena.
Namun siapa sangka si gadis tidak berbuat sesuai ekspektasi Aziel.
Dia tidak melindungi dadanya yang sudah mulai membukit itu. Telapak tangan kanannya malah dihantamkan ke dada Aziel pula, seolah dia beradu kecepatan siapa yang duluan sampai serangannya.
Jelas saja Aziel terkejut bukan main dengan kenekatan si gadis. Buru-buru dia menarik serangannya kalau tidak mau menyentuh buah dada si gadis. Dan akibatnya serangan si gadis yang masuk.
Dughk!
Cukup keras telapak tangan gadis bercadar menghantam dada Aziel hingga membuatnya terjajar 1 langkah ke belakang.
Namun hal itu ternyata membuat si gadis terkejut seolah baru tersadar akan sesuatu. Hingga membuatnya mematung seraya menatap Aziel dengan ekspresi tidak percaya.
Tak lama kemudian gong tanda berakhirnya pertandingan berbunyi. Hampir bersamaan hakim wasit naik ke arena. Setelah itu dia mengumumkan kalau gadis bercadar sebagai pemenangnya.
Tapi entah kenapa gadis itu malah tidak senang dengan kemenangan itu. Dia merasa bersalah sekaligus menyesal telah memasukkan serangannya tadi. Sementara Aziel malah membatalkan serangan.
Pikirnya tadi Aziel bakal meneruskan serangan. Sehingga daripada dia menangkis serangan Aziel, lebih baik beradu kecepatan saling memasukkan serangan. Dan hasilnya nanti akan berimbang. Tapi tak tahunya Aziel malah membatalkan serangan.
Untuk beberapa saat dia menatap Aziel dengan wajah sedih dan rasa bersalah. Sedangkan Aziel juga menatapnya. Tapi sorot mata Aziel begitu dingin, sama dinginnya dengan raut wajahnya.
Tak lama kemudian, Aziel langsung berbalik dan beranjak turun arena. Namun gadis bercadar masih saja menatap bocah jangkung itu.
Mungkin kalau tidak dipanggil oleh Nona Fariza, si gadis masih betah mematung di atas panggung sambil menatap wajah tampan namun dingin itu. Akhirnya dia turun juga dari panggung. Tapi masih sedih dan merasa bersalah.
__ADS_1
Rupanya gadis bercadar itu belum menyadari kalau Aziel membatalkan serangan karena Aziel menghormatinya sebagai seorang perempuan baik-baik.
★☆★☆
Pertarungan berlanjut pada putaran ke 4.
Tampak Nona Fariza dan Brian sudah berada di atas arena 1 dan sudah saling baku hantam dengan sengit.
Sebenarnya ini bukan giliran Nona Fariza, melainkan giliran gadis yang telah disembuhkan Dhafin. Namun gadis yang sebenarnya paling jago di Tim Fariza Luna itu ingin berduel dengan Dhafin.
Dia memberitahukan kepada Nona Fariza kalau dia bukan sekedar mau berduel dengan Dhafin. Dia ingin ucapkan terima kasih secara pribadi kepada Dhafin yang telah menyembuhkan kakinya yang tempo hari patah akibat bertarung melawan Pangeran Adrian.
Waktu Dhafin dan Putri Aurellia selesai menyembuhkan penyakitnya dan mereka telah meninggalkan penginapan Tim Fariza Luna, gadis itu masih pingsan. Jadi sejak saat itu dia belum sempat mengucapkan terima kasih.
Dua petarung cilik yang seumuran itu masih saling serang dan saling tangkis dengan sengit. Jurus-jurus yang mereka mainkan begitu lincah. Gerakan mereka dalam memainkan jurus begitu cepat.
Pada beberapa jurus yang sudah berlangsung pertarungan masih tampak berimbang. Keduanya masih bisa saling melancarkan serangan dengan aktif.
Namun begitu pertarungan sudah lebih dari sepenanakan nasi Brian baru mulai mendominasi pertarungan. Brian semakin aktif menyerang ketimbang menangkis. Sebaliknya, Nona Fariza semakin banyak menangkis ketimbang menyerang.
Melihat putranya sudah mendesak lawannya, Selir Agung yang tak pernah lepas menonton pertandingan Brian tersenyum sumringah. Dia sudah merasa yakin kalau anak pertamanya itu bakal mengalahkan lawannya.
Dugaan Selir Agung Cassiopea bisa dikatakan benar. Karena memang Nona Fariza sudah terdesak di saat-saat pertandingan hampir selesai.
Namun Nona Fariza tidak berputus asa begitu saja. Dia memang tidak bisa lagi melancarkan serangan. Tapi sedapat mungkin dia tetap bertahan agar serangan Brian yang beruntun tidak sampai bersarang di tubuhnya.
Satu saja serangan Brian berhasil masuk ke tubuhnya, dia dipastikan kalah. Makanya sedapat mungkin dia harus menghalau semua serangan Brian hingga habis waktu. Hanya itu yang bisa dilakukan.
Untuk kesekian kalinya Brian melancarkan serangan beruntun pada Nona Fariza. Namun Nona Fariza masih dapat menangkisnya. Hingga suatu ketika tendangan kaki kanan Brian mengarah ke samping kepada si gadis.
Tapi sebisa dan secepat mungkin dia menghentak tangan kirinya ke atas berusaha menangkis tendangan itu. Tapi siapa sangka Brian segera menarik serangan dengan cepat. Sehingga tangan Nona Fariza terhempas begitu saja karena menangkis angin.
Sementara Nona Fariza tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Tangan kirinya masih terhempas ke samping. Sedangkan tangan kanannya belum lama habis menangkis serangan. Amat terlambat kalau dipakai menangkis serangan Brian. Sehingga dia pasrah saja sambil memejamkan matanya.
Namun dia berharap Brian tidak sampai menghantam wajahnya. Cukup merenggut cadarnya saja untuk memperoleh poin. Dan harapannya itu memang sesuai dengan niat Brian.
Telapak tangan Brian terus meluncur dengan cepat. Semua mata memandang adegan itu tanpa berkedip. Bahkan sebagian besar penonton menahan napas menanti sampainya serangan itu. Namun....
Gooongngng....!
Tinggal 1 jengkal lagi serangan Brian tiba, gong tanda berakhirnya pertarungan telah berbunyi. Kalau Brian tetap meneruskan serangannya, berarti dia kalah karena melanggar peraturan.
Maka seketika dia menghentikan luncuran telapak tangan kanannya tepat di depan wajah Nona Fariza yang masih memejamkan matanya.
Sementara Nona Fariza beberapa helaan napas menunggu serangan Brian tidak sampai-sampai juga, akhirnya dia membuka matanya. Dan yang pertama dia lihat adalah telapak tangan Brian. Namun tak lama Brian menarik kembali telapak tangannya.
Sementara hakim wasit, begitu telah tiba di tengah arena, lantas mengumumkan kalau pertarungan antara Brian dengan Nona Fariza seri.
Maka para penonton langsung menyambutnya dengan tepuk tangan. Bahkan para pendukung Tim Fariza Luna bersorak gembira karena sang ketua tim tidak sampai kalah.
★☆★☆
Kedudukan kedua tim saat ini berimbang. Masing-masing 1x kalah dan 2x seri. Sekarang bersisa pertarungan antara personil yang terjago di timnya; Dhafin dan gadis bercadar yang bernama Kayshila Dellia.
Dan sekarang 2 bocah itu sudah saling berhadapan di arena 1. Sedangkan beberapa helaan napas yang lalu gong tanda dimulainya pertarungan telah berbunyi.
"Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu," tutur Kayshila dengan lembut dan santun. "Mohon maaf, saya yang tidak tahu diri ini baru sempat mengucapkan terima kasih."
"Hal itu sudah berlalu, Nona Kayshila, tidak usah diingat lagi," tutur Dhafin bijak. "Lagi pula yang menolongmu adalah Penguasa Langit. Saya dan teman saya hanyalah perantara saja."
__ADS_1
Sejenak Kayshila terdiam mendengar ucapan Dhafin yang layaknya bagai ucapan pendeta itu. Dan selagi Kayshila tercenung Dhafin kembali berkata bernada tanya.
"Sebelum kita bertarung bolehkah saya menyampaikan sesuatu?"
"Oh silahkan! Apakah itu?"
"Saya harap kamu tidak menyembunyikan kehebatanmu yang sesungguhnya," ucap Dhafin dengan santun. "Karena kali ini saya akan lebih sungguh-sungguh lagi bertarung."
Tentu saja Kayshila terkejut mendengar ucapan Dhafin. Apakah Dhafin telah tahu kalau dia masih punya jurus simpanan yang belum dia gunakan?
"Dari mana kamu tahu...?" tanyanya tidak percaya.
"Sekarang saatnya bertanding, Nona," kata Dhafin seolah memperingatkan dan menegur tapi tetap santun. "Bukan membicarakan atau mengurus hal lain."
"Baiklah. Saya akan menuruti ucapanmu."
Tadi juga Nona Fariza mengingatkannya agar jangan ragu mengeluarkan kehebatannya. Karena lawannya kali ini bukan lawan sembarangan.
Tidak lama kemudian, 2 bocah itu sudah saling baku hantam dengan sengit. Jurus-jurus yang mereka mainkan begitu hebat dan membuat penonton langsung terpukau. Karena jurus-jurus yang mereka gunakan kali ini adalah jurus-jurus terhebat mereka.
Awalnya Dhafin masih mengikuti ritme dan pola serangan Kayshila. Namun begitu pertarungan sudah hampir sepenanakan nasi Dhafin menaikkan sedikit ritme dan pola serangannya.
Hasilnya, dengan sebuah gerakan tipu Dhafin berhasil mengambil arnel yang tersemat di rambut Kayshila yang tertata indah. Lalu dia berjumpalitan beberapa kali ke belakang menjauhi Kayshila.
"Saya sudah mengambil arnelmu, Nona," kata Dhafin seakan mengingatkan sambil menunjukkan arnel milik Kayshila. "Jangan sampai saya mengembalikannya lagi ke tempat semula."
Melihat Dhafin berhasil mengambil arnel Kayshila, Putri Aurellia menunjukkan sikap tidak senang. Lebih tepatnya cemburu. Sehingga membuatnya kesal. Lebih kesal lagi saat melihat Dhafin menyemat arnel itu di kunciran rambutnya sendiri.
Sementara Kayshila terkejut juga melihat Dhafin berhasil mengambil arnelnya. Itu menandakan kalau dia belum maksimal mengeluarkan kehebatannya.
Maka tak mau terlalu larut dalam keterkejutan, dia melesat dengan amat cepat ke arah Dhafin. Lalu menyerang bocah itu dengan sengit.
Dan benar saja. Dia langsung mengeluarkan kehebatannya tanpa tanggung-tanggung. Sehingga Dhafin agak kerepotan juga menghadapi kedahsyatan jurus-jurus Kayshila.
Namun hal itu tidak berlangsung lama. Karena Dhafin sudah bisa mengimbangi ritme dan pola serangan Kayshila.
Dan begitu merasa waktu sebentar lagi akan habis, Dhafin segera meningkatkan ritme dan pola serangannya. Jurusnya segera di rubah.
Maka kehebatannya yang sesungguhnya segera terlihat yang membuat semua orang, termasuk Yang Mulia dibuat terpukau.
Hingga suatu adegan tangan kiri Dhafin menangkap pergelangan tangan kiri Kayshila setelah menangkis serangan si gadis. Hampir bersamaan Dhafin menggeser posisinya ke samping kiri Kayshila agak ke belakang.
Entah kapan kejadiannya, tahu-tahu di tangan kanan Dhafin sudah tergenggam arnel Kayshila. Lalu dengan gerakan amat cepat arnel itu langsung di sematkan di sanggul Kayshila.
Kayshila tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Pegangan Dhafin ke tangannya membuatnya tidak bisa bergerak. Bukan karena pegangan itu begitu kuat, melainkan sentuhan jemari Dhafin membuat jantungnya berdebar. Sehingga kosentrasinya buyar.
Sedangkan Dhafin, setelah berhasil menyemat kembali arnel Kayshila, dia langsung melenting cukup tinggi ke belakang menjauhi si gadis. Berjumpalitan 2x di udara, lalu mendarat dengan indah dan ringan ke lantai.
Tak lama kemudian, gong tanda berakhirnya pertarungan berbunyi. Setelah itu wasit naik ke panggung. Lalu mengumumkan bahwa Dhafin sebagai pemenangnya.
Sekaligus mengumumkan bahwa Tim Brian Darel keluar sebagai juara 1 Turnamen Beladiri Anak Bangsawan. Dan Tim Fariza Luna sebagai juara 2.
Maka seketika saja sorakan kegembiraan dari penonton langsung membahana. Dibarengi dengan tepuk tangan yang begitu meriah.
Lebih meriah lagi sambutan dari para pendukung Tim Brian Darel. Terutama 5 gadis cantik yang selalu setia duduk di kursi pendukung.
Lebih meriah lagi sambutan Putri Aurellia. Kekesalannya tadi telah terobati dengan kemenangan tim bocah tampan yang sudah mulai akrab dengannya itu.
Dia harus menentramkan hatinya agak berpikiran positif atas semua perlakuan Dhafin terhadap Kayshila. Dia harus percaya kalau perlakuan Dhafin itu hanya lantaran Dhafin tidak ingin berbuat kasar kepada perempuan.
__ADS_1
★☆★☆★