Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 138 PERNYATAAN CINTA YANG MENGUNDANG MALAPETAKA


__ADS_3

Karena tidak tahan berdiam lama-lama, meski hatinya masih terasa malu, Yang Mulia Ratu memberanikan diri menoleh pada Dhafin.


Ternyata yang dipandang malah asyik memandangnya pula seolah tengah menonton sebuah pertunjukan. Malah sambil tersenyum.


"Kenapa kamu memandangku seperti itu?" omel Yang Mulia Ratu bernada ketus. "Apa kamu senang melihatku dalam keadaan malu seperti ini?"


"Apa kamu mengejekku karena berpura-pura tidak tahu kepadamu saat aku berperan sebagai ratu? Tidakkah kamu bertanya kepadaku kenapa aku berbuat demikian?"


Dhafin masih diam saja, masih memandang tenang pada Yang Mulia Ratu. Dia belum mau menanggapi ocehan Yang Mulia Ratu.


"Bicara lah, Kak! Apa memang kamu benar-benar mengejekku ya?"


"Hamba tidak tahu berhadapan dengan siapa sekarang," kata Dhafin seolah mencandai Yang Mulia Ratu. "Jadi belum bisa menentukan sikap harus bagaimana."


"Terserah padamu lah kamu berhadapan dengan siapa!" kata Yang Mulia Ratu masih ketus.


Dhafin masih terdiam, belum menanggapi sikap Yang Mulia Ratu yang seolah bersikap judes. Padahal Dhafin tahu kalau bidadari itu cuma berlagak saja. Untuk menutupi rasa malunya karena ketahuan kalau sebenarnya dia adalah Putri Aurellia juga.


Saat berperan sebagai Ratu Agung dia berpura-pura tidak mengenal Dhafin. Tentu dia berbuat begitu punya alasan yang Dhafin sudah bisa menebak alasannya apa.


Tapi sekarang sepertinya Dhafin sudah tahu kalau antara Yang Mulia Ratu dan Putri Aurellia adalah orang yang satu. Hal itu tampak jelas dari pertanyaan Dhafin tadi.


Betapa malunya Yang Mulia Ratu jika mengingat hal itu. Berlagak tidak mengenal Dhafin saat berperan sebagai Yang Mulia Ratu.


"Sebenarnya hamba ingin berbicara dengan Yang Mulia jikalau berkenan," kata Dhafin bernada takzim bersikap santun.


"Bisakah kamu bersikap biasa saja dan ngomong aku kamu-aku kamu saja, Kak Dhafin?" kata Yang Mulia Ratu setengah merengek setengah kesal.


"Kamu 'kan sudah tahu kalau Ratu Agung adalah aku, Putri Aurellia-mu?" lanjutnya. "Kenapa kamu masih berlagak seperti itu?"


"Bukankah kamu yang berlagak?" kata Dhafin masih tersenyum seolah senang melihat tingkah Yang Mulia Ratu seperti itu. "Kamu berpura-pura tidak mengenalku saat berpenampilan sebagai Ratu Agung. Iya tidak?"


"Aku berbuat begitu karena punya alasan," tangkis Yang Mulia Ratu. "Aku takut kamu malah jaga jarak denganku saat tahu kalau aku sudah menjadi Ratu Agung. Sementara kamu hanya mau mendekat sama Putri Aurellia-mu yang seperti dulu. Iya tidak?"


Dhafin hanya bisa diam mendengar ucapan Yang Mulia Ratu itu. Kemarin-kemarin ucapan itu bisa benar. Tapi sekarang-sekarang ini apakah dia masih bisa bertahan menjaga jarak dengan bidadari ciptaannya ini?


"Kamu sendiri, apa tidak merasa kalau selama ini kamu juga berpura-pura, Kak Dhafin?" kata Yang Mulia Ratu hendak membuka jati diri Dhafin.


"Berpura-pura bagaimana?" tanya Dhafin seolah mengelak.


"Bukankah kamu adalah...," kata Yang Mulia terputus seakan tidak berani melanjutkan ucapannya.


Namun matanya yang bening nan indah memberanikan diri menatap Dhafin. Sementara Dhafin juga menatapnya. Bahkan Dhafin sempat terkejut saat Yang Mulia Ratu berkata demikian.


Meskipun terputus tapi Dhafin sudah bisa menebak Yang Mulia Ratu mau bilang apa.


Tapi cuma sesaat. Setelah itu kembali dia bersikap tenang. Akan tetapi Yang Mulia Ratu sempat melihat perubahan sesaat ekspresi Dhafin saat dia berkata begitu.


"Apakah kamu sudah tahu siapa diriku sebenarnya?" tanya Dhafin bernada lembut, setengah mendesah.


Di wajahnya tidak terlihat lagi senyum menawannya. Meski wajah itu tenang, tapi kini mengguratkan kesedihan.


Ya, hatinya kini dirundung kesedihan. Sedih bukan karena Yang Mulia Ratu telah mengetahui tentang jati dirinya. Melainkan sedih karena nasib seakan mempermainkannya.


★☆★☆


Melihat Dhafin menjadi sedih karena mulai menyinggung soal jati dirinya, Yang Mulia Ratu Aurellia jadi merasa bersalah. Sikapnya yang tadi pura-pura judes dan kesal, kini menggetun.


"Kak, aku minta maaf," ucapnya penuh penyesalan. "Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu...."


"Tidak mengapa," ucap Dhafin tetap lembut. Tapi sudah mulai ada aura sedih dari ucapannya.


"Sebenarnya aku ke sini menemuimu dengan maksud hendak memberitahukan siapa diriku sebenarnya," lanjut Dhafin. "Tapi ternyata kamu sudah mengetahuinya."


"Kak, cepat atau lambat jati dirimu pasti akan ketahuan juga," kata Ratu Aurellia seolah mengingatkan. "Meski serapi apapun kamu merahasiakannya."

__ADS_1


"Ya, kamu benar, Yang Mulia...."


"Kak, bisakah kamu memanggil namaku saja? Kumohon!" pinta Ratu Aurellia memohon dengan sangat.


"Baiklah, Aurellia," kata Dhafin sambil tersenyum di tengah kesedihannya.


Ratu Aurellia tersenyum senang mendengar Dhafin meluluskan permintaannya. Senaaang... sekali. Soalnya selama ini Dhafin memanggilnya Tuan Putri. Dan dia sudah membujuk Dhafin agar memanggil namanya saja, tapi Dhafin tetap tidak meluluskan.


"Kamu benar, Aurellia," Dhafin melanjutkan ucapannya yang diputus tadi. "Pada intinya takdir langit pasti akan mengungkap siapa diriku sebenarnya."


"Sekeras apapun aku menentang takdir langit, tetap tidak akan bisa," lanjutnya.


"Kak, bolehkah aku tahu kenapa kamu begitu keras menyembunyikan jati dirimu?" tanya Ratu Aurellia ingin tahu. "Sampai-sampai kamu tidak mau mengaku di depan keluargamu sendiri saat mereka menanyakannya."


"Waktu aku kecil setiap saat aku merasa kalau nyawaku terancam," tutur Dhafin mengungkapkan. "Makanya sebisa mungkin aku menyegel jati diriku rapat-raat."


"Beruntungnya orang-orang sudah meyakini kalau diriku sudah mati akibat jatuh ke dalam jurang," lanjutnya. "Ibaratnya aku ini seperti seorang pangeran, tapi PANGERAN YANG HILANG. Pangeran yang sudah hilang dari bumi."


"Makanya ketika aku muncul kembali di permukaan, aku sudah bertekad tidak ingin menjadi seorang pangeran, karena pangeran dalam diriku sudah mati...."


"Aku ingin menjadi orang biasa yang hidup sederhana. Mencintai orang biasa, bukan nona bangsawan apalagi putri istana...."


Sementara Dhafin bertutur Ratu Aurellia tetap diam saja, tidak ingin menyela sedikitpun. Baru kali ini dia mendengar Dhafin mengeluarkan unek-uneknya seperti itu.


"Akan tetapi keinginan hanyalah sekedar keinginan. Siapa sangka takdir langit menulis perjalanan hidupku tidak sesuai dengan keinginanku. Sungguh sayang...."


"Aku membenci bangsawan, tapi malah aku mengangkat saudara dengan nona bangsawan, bahkan diangkat anak oleh keluarga bangsawan...."


"Aku tidak ingin berhubungan dengan orang-orang istana, tapi malah teman-temanku adalah orang-orang istana. Dasar memang takdirku sudah begini ya...?"


"Kak, mulai sekarang hiduplah sebagai apa adanya seperti air mengalir," kata Ratu Aurellia menasehati. "Tanpa harus berusaha melawan takdir langit."


"Apa yang kamu nasehatkan itu aku sudah menjalaninya," kata Dhafin tanpa membantah. "Tapi aku dibenturkan oleh sebuah permasalahan baru."


"Karena menuruti kata hatiku demi menjalani takdir aku malah makin mencintai seseorang," sahut Dhafin seolah membuat teka teki. "Tapi tanpa sadar aku malah melanggar aturan langit."


Deg!


Hati Ratu Aurellia seketika terkejut seakan dipukul oleh godam dengan keras. Dhafin mencintai seseorang. Siapa?


★☆★☆


"Siapa yang kamu cintai itu, Kak?" tanya Ratu Aurellia jelas sekali nada kecemburuannya.


Dhafin menatap Ratu Aurellia sejenak tanpa menjawab pertanyaan kecemburuannya. Setelah melihat ekspresi kecemburuan Ratu Aurellia, lalu dia malah bertanya.


"Apakah kamu masih mencintaiku?"


"Sampai kapan pun aku tetap mencintaimu," sahut Ratu Aurellia bersungguh-sungguh. "Meskipun kamu meragukan cintaku."


"Sekarang kamu sudah tahu kalau aku adalah Pangeran Agung. Apakah cintamu berubah lantaran sudah tahu siapa diriku?"


"Dari sejak kita masih kecil aku sudah mencintaimu, Kak," tutur Ratu Aurellia mengungkapkan," tanpa memandang asal usulmu. Meskipun aku sudah tahu kalau kamu adalah Pangeran Agung, cintaku padamu tidak berubah."


"Cintaku saat aku mengenal jati dirimu sama seperti cintaku saat aku belum mengenal jati dirimu...."


Dhafin tersenyum haru mendengar ketulusan cinta Aurellia. Dia amat percaya sekali kalau Ratu Aurellia memang benar-benar mencintainya."


"Kamu sendiri bagaimana?" tanya Ratu Aurellia seakan menagih, "apa kamu sudah bisa mencintaiku?"


"Aku bahkan bukan lagi bisa mencintaimu, melainkan malah makin mencintaimu," kata Dhafin tanpa ragu.


Bukan main terkejutnya Ratu Aurellia mendengar pengakuan Dhafin yang tanpa ragu itu, terkejut gembira. Akhirnya Dhafin mengakui kalau pemuda itu ternyata memang mencintai dirinya.


Tapi rasa senangnya belum penuh, karena tadi dia mendengar Dhafin mengucapkan kalau dia makin mencintai seseorang.

__ADS_1


"Tapi ada seseorang yang kamu cintai juga," kata Ratu Aurellia tidak bisa melepas kecemburuannya. "Siapakah dia?"


"Apakah kamu cemburu terhadap dirimu sendiri?"


"Maksudmu seseorang itu adalah aku?" Ratu Aurellia ingin memperjelas.


"Ya."


Bukan main senangnya Ratu Aurellia mendengar hal itu. Sampai-sampai senyum bahagia terukir di bibir merahnya yang berpadu dengan air mata harunya.


Dengan cepat dia melepaskan mahkota indahnya, lalu meletakkan di meja begitu saja. Terus dia menghambur memeluk Dhafin dengan erat sembari menumpahkan air matanya. Air mata bahagia bercampur haru.


Sudah sekian tahun lamanya dia menanti Dhafin menerima cintanya, akhirnya hari ini Dhafin menyatakan cinta kepadanya. Sungguh penantiannya tidak sia-sia.


Bahkan Dhafin mengatakan makin mencintainya. Itu artinya Dhafin sudah lama mencintainya sebenarnya.


Sedangkan Dhafin untuk beberapa saat lamanya dia membiarkan Ratu Aurellia memeluknya. Setelah sudah merasa cukup, Dhafin berkata.


"Aku harap kamu tidak terlalu senang dulu, Aurellia. Aku masih belum selesai bicara."


"Aku tidak mau mendengar apapun dulu saat ini," kata Ratu Aurellia masih memeluk Dhafin. "Bagiku sudah cukup pengakuanmu kalau kamu telah mencintaiku."


"Tapi kamu harus mendengar, karena hal ini penting," kata Dhafin seolah mengingatkan.


Ratu Aurellia yang duduk di samping Dhafin melepas pelukannya. Menyusut air matanya sejenak, lalu menatap Dhafin sambil bertanya.


"Hal penting apa? Apakah maksudmu hal melanggar aturan langit itu?"


"Ya, tentang hal itu."


"Apakah maksudmu mencintaiku melanggar aturan langit?" tanya Ratu Aurellia menebak.


"Ya."


"Melanggar bagaimana maksudmu?" tanya Ratu Aurellia tidak mengerti.


"Guruku telah meramalkan bahwa apabila Pangeran Agung dan Putri Agung menyatu, maka 3 kerajaan besar akan hancur; Kerajaan Bentala, Kerajaan Amerta, dan Kerajaan Lengkara."


"Guruku mengatakan bahwa Pangeran Agung itu adalah aku, sedangkan Putri Agung adalah gadis yang memiliki 7 energi sakti sejak lahir. Berarti itu adalah kamu, Aurellia."


"Tidak, tidak," bantah Ratu Aurellia sambil menggelengkan kepalanya dan kembali menangis. "Gurumu pasti salah meramalkan. Aturan langit tidak begitu. Tidak mungkin aturan langit memisahkan dua pasangan yang saling mencintai."


"Kamu dengar dulu," kata Dhafin berusaha memberi pengertian. "Yang meramalkan kalau kamu menjadi ratu negeri ghaib yang menguasai 3 kerajaan adalah guruku."


"Kamu telah menjadi Ratu Istana Centauri yang nantinya akan menguasai 3 kerajaan itu. Bukankah hal itu terbukti?"


Ratu Aurellia mengeleng-gelengkan kepalanya sebagai penolakan akan apa yang katakan Dhafin. Lalu kembali dia memeluk Dhafin. Sedangkan air matanya semakin deras mengalir.


"Itulah alasannya kenapa aku tidak bisa mencintaimu, Aurellia, meskipun sesungguhnya aku mencintaimu."


"Akan tetapi kalau kita menyatu, memperturutkan perasaan, itu sama saja kita mengundang malapetaka yang besar. Penyatuan cinta kita menyebabkan 3 kerajaan hancur."


"Bisa jadi memang ramalan gurumu benar," kata Ratu Aurellia di tengah isak tangisnya. "Tapi bisa jadi pengertiannya tidak seperti yang kamu uraikan itu."


"Bisa jadi pengertiannya," lanjutnya, "kita sama-sama bersatu menghancurkan para penguasa tidak sah yang telah merebut 3 kerajaan itu dari orang yang berhak."


Dhafin terdiam memikirkan penjelasan masuk akal Ratu Aurellia barusan. Bisa jadi memang demikian. Tapi itu baru sekedar dugaan.


Sementara apa yang diucapkan gurunya begitu jelas bahwa apabila Pangeran Agung dan Putri Agung menyatu, maka 3 kerajaan besar akan hancur.


Dhafin masih membiarkan Ratu Aurellia memeluknya, menumpahkan air matanya dalam pelukannya.


Jelas Ratu Aurellia amat bersedih orang yang dicintainya tidak bisa bersatu dengannya. Kalau dipaksakan bersatu, itu sama saja mengundang malapetaka, 3 kerajaan akan hancur....


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2