Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 197 KEMATIAN TRAGIS PANGERAN ARZAN DAN PANGERAN CULLEN


__ADS_3

Dengan pandangan mata garang, dengan wajah cantik berbalut kemarahan, Putri Ilona terus saja melangkah menuju Dhafin dengan kedua tangan menenteng pedang.


Tanpa perduli kalau dia sudah melewati kedua kakaknya yang hanya bisa menatapnya dengan terkesima. Tanpa peduli kalau kedua pelayannya terus mengekor di belakangnya sambil memanggil-manggilnya.


Sementara Dhafin memperingatkan rekan-rekannya agar jangan melakukan gerakan apapun, tapi tetap bersiaga.


Dia tahu kejadian yang menimpa Pangeran Arzan dan semua pasukannya akibat dari pengaruh sihir Keenan. Pemuda itu menyihir semua pasukan Bunda Suri Hellen itu, sehingga mereka menjadi seperti orang bengong yang hanya mampu menyaksikan aksi nekat Putri Ilona.


Yang tidak terkena sihir Keenan itu cuma Putri Ilona dan kedua pelayannya. Adapun 6 pelayan lainnya ikut terkena sihir pula.


Termasuk yang terkena sihir pula 3 orang yang masih berada di dalam tandu; kedua istri Raja Ghanim dan Putri Ardella.


Sehingga walau mereka melihat aksi Ilona, mereka hanya bisa membiarkan saja tanpa dapat berbuat apa-apa.


Sedangkan sihir yang dilakukan Keenan itu memang sesuai yang sudah mereka rencanakan.


Tampak pemuda itu merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada seraya sedikit merunduk, pertanda dia masih mengerahkan ilmu sihirnya.


Sementara itu Putri Ilona sudah sampai di hadapan Dhafin berjarak 3 langkah. Sepasang matanya menatap Dhafin dengan tajam penuh amarah dan kebencian. Kedua tangannya yang sedikit gemetar masih menggenggam pedang.


Sedangkan Dhafin tetap tenang saja di tempatnya. Dia hanya menatap gadis berambut ombak itu dengan lembut, tanpa permusuhan. Juga tidak ada gelagat dari dirinya kalau dia hendak mencegah tindakan Putri Ilona.


"Kamu pikir siapa dirimu hah?" bentak Putri Ilona cukup keras bernada kasar tapi sedikit bergetar. "Apa kamu dan semua orang-orangmu telah menganggap bahwa yang kalian lakukan terhadap kerajaan ayahandaku adalah baik, Pemberontak Kejam?"


"Asal kamu tahu," lanjutnya, "semenjak kedatanganmu di kotaraja membuat nasib kami menjadi buruk! Kamu adalah manusia pembawa sial bagi kami. Oleh karena itu, manusia sepertimu pantas dibunuh...!"


Dengan agak cepat kedua tangannya yang agak gemetar mengangkat pedang di tangannya tinggi-tinggi di atas kepalanya. Sudah jelas niatnya hendak menebas Dhafin.


Namun belum juga kedua tangannya bergerak mengayun pedang, Dhafin sudah bergerak amat cepat, lalu menotok titik tidur di leher kirinya.


Seketika saja sekujur tubuh Putri Ilona langsung lemas seakan tidak bertenaga. Pedang di tangannya terlepas begitu saja dan jatuh di belakangnya.


Kalau saja Dhafin tidak cepat menangkap tubuhnya, pastilah dia akan jatuh menyusul pedang di tangannya tadi. Hingga tidak lama tampak Dhafin sudah membopong Putri Ilona dengan kedua tangannya.


Sedangkan kedua pelayan sang putri, melihat kejadian yang amat cepat itu, tentu saja terkejut ketakutan bukan main.


"Tuan Putri!" pekik kedua pelayan itu dengan panik.


Namun belum juga mereka sempat melakukan apa-apa, seketika berkelebat 3 ksatria elit dengan amat cepat. Dua orang menuju pada kedua pelayan. Lalu menotok mereka hingga pingsan, terus membopongnya.


Sedangkan seorang berkelebat di hadapan Dhafin. Dan Dhafin tanpa berlama-lama langsung menyerahkan Putri Ilona yang sudah pingsan kepada ksatria elit itu.


Setelah itu Dhafin memerintahkan kepada ketiga ksatria elit itu membawa Putri Ilona dan kedua pelayannya ke basecamp.


Dengan cepat ketiga ksatria elit melaksanakan perintah itu. Dengan ilmu teleportasi mereka sudah tidak tampak lagi di tempat itu.


★☆★☆


Kejadian itu begitu cepat berlangsung. Pangeran Arzan dan orang-orangnnya yang masih terperangah dia hanya bisa melihat beberapa saat saja kejadian itu.


Namun begitu Keenan mencabut sihirnya, tidak lama kemudian keadaan pikiran pasukan Bunda Suri Hellen kembali normal seperti semula.


Dan yang pertama bereaksi atas peristiwa penangkapan Putri Ilona adalah sang kakak kandung, Pangeran Cullen.


"Kalian bawa ke mana adikku?" bentaknya dengan berang. Amarahnya sepertinya sudah tak terbendung lagi.


Sedangkan Pangeran Arzan, yang tadinya masih bersikap tenang, ketika melihat Putri Ilona telah ditangkap, kemarahannya juga tidak bisa ditahan. Wajah tampannya kini langsung berubah dingin.


"Kamu bawa ke mana Dinda Ilona, Pangeran Ghavin?" kata Pangeran Arzan cukup keras bernada dingin. "Kalau sampai terjadi apa-apa dengannya, aku tidak segan lagi bertindak kasar padamu!"

__ADS_1


Mendengar ucapan Pangeran Cullen dan Pangeran Arzan, Selir Riana Mesha paham kalau putrinya telah tertangkap. Tapi bagaimana bisa begitu cepat tertangkap dia belum paham.


Tadi dia juga sempat mendengar suara putrinya seperti berbicara dengan seseorang bernada kasar penuh amarah. Namun dia sempat heran juga kenapa dia tadi seperti orang bengong.


Dan melihat situasi sekarang dia juga tidak berani bertindak gegabah, apalagi keluar dari tandunya.


"Aku masih memberi kesempatan padamu untuk menyerah, Pangeran Arzan," kata Dhafin masih tenang seolah tidak menggubris ucapan bernada ancaman Pangeran Arzan tadi.


"Kami tidak akan tunduk kepada pemberontak busuk macam kalian!" dengus Pangeran Cullen bernada dingin. Amarahnya sudah tak tertahankan lagi. Pangeran Ghavin benar-benar sudah meremehkan mereka.


"Hiyaaa...!"


Berkawal teriakan yang cukup keras Pangeran Cullen melesat ke depan setelah mencabut pedangnya. Tapi Putri Kayshila yang hampir tidak pernah lepas mengamatinya ikut melesat pula ke depan menyongsong serangan Pangeran Cullen.


Entah kapan mengambilnya, tahu-tahu di tangan gadis cantik berpakaian serba merah itu sudah menggenggam Pedang Mawar Merah.


Sedangkan Pangeran Cullen yang sedianya hendak menyerang Dhafin, begitu melihat Putri Kayshila yang maju, terpaksa dia membelokkan serangan. Dan tidak lama kemudian terciptalah pertarungan hebat antara Putri Kayshila melawan Pangeran Cullen.


Sementara Pangeran Arzan jelas tidak ingin menyerah begitu saja kepada kelompok pemberontak.


Maka dengan percaya diri dia perintahkan sekitar 800 pasukan elit beserta 8 Kepala Regu Pasukan untuk menyerang para ksatria elit itu.


Sedangkan yang 200 personil dan 3 Kepala Regu Pasukan dia perintahkan untuk menjaga kedua istri dan putri Raja Ghanim yang masih berada di dalam tandu.


Para ksatria elit yang memang sudah bersiaga tempur sejak tadi, tidak menunggu lama langsung melesat maju balas menyerang kepada pasukan elit kerajaan.


Namun yang maju berperang cuma sekitar 1000 personil. Sedangkan sisanya masih tetap bersiaga mengepung tempat itu seakan tidak membiarkan siapa pun untuk melarikan diri.


Sementara Pangeran Arzan, setelah memerintahkan pasukannya menyerang, dia segera melesat ke arah Dhafin, lalu langsung menyerang. Namun Dhafin tidak tinggal diam. Dia juga balas menyerang sepupunya itu.


Sedangkan Pangeran Revan langsung memilih melawan pengawal sang pangeran, kedua pengawal cantik memilih melawan kedua pengawal Pangeran Cullen. Sementara Gibson, Aziel, Keenan serta 5 ksatria elit andalan melawan 8 Kepala Regu.


Maka tidak membutuhkan waktu yang lama pertempuran antara pasukan Bunda Suri melawan Pasukan Istana Centauri telah tergelar, tanpa ada yang bisa mencegahnya.


★☆★☆


Sepertinya para ksatria elit sudah tahu sampai di mana kehebatan pasukan elit kerajaan. Sehingga mereka tidak terlalu merasa kesulitan menghadapi pasukan itu. Pertempuran baru berlangsung 1 penanakan nasi, para ksatria elit sudah menguasai keadaan.


Maka sebentar saja sudah terdengar jeritan-jeritan kematian saling susul menyusul yang ditingkahi tumbangnya sekitar 100 lebih pasukan elit kerajaan.


Namun tidak lama kemudian menyusul lagi pasukan elit yang bertumbangan bersimbah darah. Sehingga semakin banyak pasukan Selir Hellen yang terkapar menjadi mayat di atas tanah berumput. Dan sungguh kematian mereka begitu mengerikan.


Sementara itu tampak pertarungan antara 2 pengawal cantik Dhafin melawan 2 pengawal Pangeran Cullen masih terus berlangsung. Namun tampaknya kedua pengawal cantik itu sudah berada di atas angin. Mereka sudah mendesak hebat kedua pengawal Pangeran Cullen.


Sudah tidak terhitung pukulan dan tendangan bersarang di tubuh kedua pengawal malang itu. Sementara beberapa sayatan pedang sudah terdapat di beberapa bagian tubuh masing-masing mereka.


Tampak kedua pengawal itu sudah semakin kepayahan sekaligus kewalahan. Sepertinya tinggal menunggu waktu saja kematian akan segera menjemput mereka.


Belum lama hal itu terpikirkan, pedang Putri Arcelia yang bermata tunggal bergerak dengan cepat menebas putus leher lawannya.


Sedangkan pedang Putri Athalia bergerak dua kali, merobek lebar dan panjang dada sang lawan berikut perutnya. Hingga ususnya membusai keluar.


Tidak lama kemudian kedua pengawal malang itu tumbang ke tanah dan seketika menjadi mayat yang mengerikan. Darah segar masih mengalir keluar di tubuh kedua pengawal itu.


Sementara itu pula, Gibson dan 7 rekannya sudah menewaskan 8 orang Kepala Regu. Setelah itu mereka bersama ratusan ksatria elit menyerang pasukan elit yang menjaga 3 tandu. Menyusul kemudian Putri Athalia dan Putri Arcelia setelah menewaskan lawan masing-masing.


Tidak lama kemudian, Pangeran Revan sudah menumbangkan murid senior Guru Grayson itu hingga terkapar tewas dengan mengerikan. Lalu dia menyusul ikut menyerang pasukan elit yang menjaga tandu.


Sedangkan pasukan elit yang menyerang pertama tadi tinggal segelintir saja yang masih hidup. Itupun tinggal menunggu giliran saja mereka akan menyusul yang lain yang sudah menjadi mayat.

__ADS_1


Adapun 6 pelayan wanita, kini sudah terkapar pingsan di dekat tandu junjungan masing-masing. Rupanya mereka tidak sanggup mahan rasa ngeri melihat fenomena mengerikan di sekitar mereka.


Sementara itu pula, pertarungan antara Dhafin melawan Pangeran Arzan dan Putri Kayshila melawan Pangeran Cullen masih terus berlangsung, bahkan semakin sengit.


Namun setelah beberapa saat berlalu, tampak Pangeran Cullen sudah mulai terdesak.


Pangeran Cullen memang memiliki kemampuan bela diri dan kesaktian yang hebat. Apalagi ditunjang dengan gerakannya yang amat cepat laksana kilat.


Tetapi kehebatannya itu tidak berarti bagi Putri Kayshila yang ternyata memiliki kehebatan di atas sepupunya itu.


Hingga beberapa saat kemudian pertarungan berlangsung Pangeran Cullen sudah terdesak hebat. Pedangnya hampir tidak mampu lagi dipegang karena terlalu banyak menangkis tebasan pedang Putri Kayshila.


Hingga akhirnya pedangnya patah menjadi 2 bagian dan terlepas dari genggamannya, lalu jatuh ke bawah lantaran begitu kuatnya tebasan pedang merah Kayshila.


Namun pedang yang bersinar merah bara itu ternyata belum berhenti bergerak. Dengan amat cepat pedang itu berputar, lalu terayun hendak menebas leher Pangeran Cullen yang membuat sang pangeran amat terkejut.


★☆★☆


Buru-buru Pangeran Cullen mendoyongkan tubuhnya ke belakang. Tapi pedang Kayshila ternyata lebih cepat lagi bergerak. Sehingga meski tidak sampai menebas putus, ujung pedangnya masih dapat menggorok leher bagian depan Pangeran Cullen hingga hampir putus.


Sang Pangeran malang itu hanya mampu menjerit tertahan bagai sapi digorok.


Dan begitu Kayshila mendupak dada sang pangeran dengan kaki kiri dengan amat keras, sang pangeran terlempar 2 tombak ke belakang. Dan jatuh terkapar di atas tanah dengan sudah tanpa nyawa.


Sementara itu pula, Dhafin sudah mendesak hebat Pangeran Arzan. Dia kini tidak lagi menggenggam Pedang Akhirat. Karena Pangeran Arzan tidak lagi memegang pedang. Pedang sudah patah beberapa bagian.


Dhafin saat ini hanya melancarkan pukulan dan tendangan di tubuh sang pangeran. Namun begitu sudah membuat Pangeran Arzan babak belur.


Hingga suatu ketika Dhafin memutar tubuhnya sambil melayang 1 hasta. Sementara kaki kanannya juga terangkat, lalu menghantam dengan cukup keras dan telak dada Pangeran Arzan, membuat sang pangeran terlempar ke belakang cukup jauh sambil menjerit tertahan.


Dan begitu tubuhnya menimpa bumi terdengar bunyi gedebuk yang cukup menyedihkan.


Setelah agak lama terdiam, Pangeran Arzan berusaha bangkit meski dengan sudah payah. Hingga akhirnya dia berhasil bangun namun tubuhnya telah limbung.


Tampak darah menetes di sudut bibir kirinya. Sedangkan sepasang matanya yang nanar menatap Dhafin dengan tajam penuh kebencian dan dendam.


"Cukup, Pangeran!" seru Dhafin memperingatkan. "Sebaiknya kamu menyerah saja! Lihat pasukanmu sudah hampir habis!"


"Sampai kapanpun aku tidak akan menyerah kepada pemberontak busuk sepertimu!" dengus Pangeran Arzan menggeram di tengah napasnya yang sedikit tersenggal.


Setelah itu dia menggerak-gerakkan kedua telapak tangannya di depan dada dengan gerakan tertentu dan aneh. Tak lama kemudian kedua telapak tangannya yang saling merenggang dibawa ke pinggang samping kanannya.


Dan di antara kedua telapak tangannya yang merenggang itu terdapat sinar bulat sebesar kepala berwarna kuning kemerahan yang mengandung hawa panas.


"Hentikan, Pangeran! Jangan keras kepala!" seru Dhafin yang sudah jengkel membentak.


Pangeran Arzan tidak perduli peringatan Dhafin. Dengan cepat dan kuat didorong kedua telapak tangannya ke arah Dhafin. Maka melesatlah sinar bulat tadi dengan berkawal hawa yang amat panas.


Lesatannya begitu cepat seakan sukar untuk dihindari.


Namun Dhafin mengangkat telapak tangannya yang sudah terbungkus sinar putih bening ke depan.


Tak lama sinar bulat berwarna kuning kemerahan telah tiba. Bukan tekena Dhafin, melainkan menghantam tembok tak berwujud di depan telapak tangan Dhafin. Lalu sinar itu lenyap seakan tertelan sesuatu.


Namun kejap berikut keluar hawa yang amat dingin tak berwujud dari situ, lalu melesat dengan amat cepat ke arah Pangeran Arzan.


Sedangkan Pangeran Arzan tidak sempat menghindari hawa amat dingin itu. Maka dengan seenaknya hawa dingin itu menghempas tubuhnya hingga terlempar deras ke belakang.


Dia tidak sempat lagi menjerit karena keburu tubuhnya sudah berubah membeku laksana es batu. Dan begitu tubuhnya jatuh menimpa bumi langsung hancur berantakan.

__ADS_1


"Maafkan aku, Pangeran," desah Dhafin penuh sesalan. "Sebenarnya aku tidak ingin membunuhmu. Tapi kamu terlalu memaksa."


★☆★☆★


__ADS_2