Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 123 PERTEMPURAN KECIL DI KOTA ARTHIA


__ADS_3

Jessica masih terbawa oleh alam pikirannya sendiri yang tidak menyangka kalau Dhafin telah mengetahui bahwa Pangeran Revan telah menyukai dirinya.


Padahal menurut dugaannya tidak banyak orang yang tahu tentang hal ini. Apalagi mengingat kalau Dhafin baru sebentar berada di Istana Centauri dan Kampung Naraya.


Tidak mungkin juga Dhafin tahu dari Pangeran Revan sendiri, karena dia yakin Pangeran Revan pasti tidak memberi tahu.


Kalau begitu Dhafin tahu dari mana?


Namun seketika dia baru sadar kalau Dhafin ini sejak kecil memang sudah memiliki ilmu di atas manusia normal. Dia bisa membaca pikiran orang dengan tepat. Dan bisa mengetahui sesuatu layaknya peramal.


Dan barusan Dhafin mengungkapkan kalau dia pantas dengan Pangeran Revan. Seolah-olah pemuda tampan itu menyandingkannya dengan Pangeran Revan.


Sementara Yang Mulia Ratu, mengetahui kalau Pangeran Revan mencintai Jessica, awalnya terkejut. Tapi setelah itu hatinya senang. Apalagi Dhafin seperti menyuruh Jessica untuk menerima cinta Pangeran Revan.


"Dari mana Kak Dhafin tahu kalau Pangeran Revan mencintai Jessica?" Yang Mulia Ratu terusik ingin mengetahui juga. "Apa orang-orang sudah pada tahu?"


"Aku belum mendengar warga Istana Centauri membicarakan berita ini," ungkap Jovita.


"Mungkin Kak Dhafin tahu dari Pangeran Revan sendiri atau teman-teman dekat Pangeran Revan," duga Keysha.


"Aku rasa tidak seperti itu," kata Ariesha menduga lain.


"Maksudmu?" tanya Yang Mulia Ratu.


"Kanda Dhafin tidak diberitahu oleh siapa pun," kata Ariesha menerangkan. "Kanda cuma menebak saja."


Sebenarnya Yang Mulia Ratu hendak bertanya lagi. Tapi terdengar kalau Jessica kembali berkata setelah sempat terdiam tadi.


"Apakah kamu sengaja menyandingkan aku dengan Pangeran Revan untuk menghindar dariku, Kak?" kata makin sedih makin perih.


"Saya tidak bermaksud begitu, Nona."


"Lantas apa?" tanya Jessica seraya memegang kedua lengan Dhafin. "Apakah kamu melarangku mencintaimu? Lalu pura-pura beralasan kalau aku lebih pantas bagi Pangeran Revan."


"Urusan perasaan Nona tidak ada hak bagi saya untuk mencampuri," kata Dhafin tetap tenang dan santun. "Saya hanya mengemukakan sebuah saran yang terbaik bagi Nona, daripada Nona mengharapkan sesuatu yang tidak pasti Nona dapatkan."


Kini jelas sudah. Ucapan Dhafin daripada mengharapkan sesuatu yang tidak pasti merupakan ungkapan Dhafin kalau pemuda tampan itu menolaknya secara halus.


Perlahan dia melepas pegangannya pada lengan Dhafin. Lalu mundur perlahan tapi sepasang matanya yang tergenang air mata masih menatap Dhafin.


Sorotan matanya membinarkan kesedihan dan keperihan hatinya.


Namun baru 3 langkah dia mundur, seketika Dhafin melesat ke arahnya. Lalu tangan kiri Dhafin dengan cepat merangkul pinggangnya dengan erat. Sementara telapak tangan kanannya yang terbuka terangkat ke depan.


Maka 3 buah anak panah yang mengarah ke punggung dan kepala belakang Jessica langsung berhenti di depan telapak tangan kanan Dhafin berjarak 2 jengkal.


Jelas saja perbuatan Dhafin yang tiba-tiba itu membuat Jessica terkejut bukan main. Pelukan Dhafin ini bukan pelukan mencegah agar dia jangan pergi. Pelukan ini pasti untuk melindunginya dari bahaya.


"Tenang, Nona, jangan panik!" kata Dhafin menenangkan.


"Ada apa, Kak?" tanyanya di sela hatinya yang masih bersedih.


"Ada orang yang memanah Nona," Dhafin memberi tahu. "Tapi Nona tetap tenang, jangan panik!"


Jessica lalu menengok ke belakang dan melihat 3 buah anak panah berhenti di depan telapak tangan Dhafin.


Tampak ujung 3 anak panah itu seperti menempel pada tembok tak berwujud di depan telapak tangan Dhafin. Sedangkan pada batangnya diitari lidah-lidah cahaya warna kuning-putih.


Jessica melepaskan pelukan Dhafin pada pinggangnya, lalu memandang ke sekelilingnya. Ternyata mereka sudah dikepung sekitar 100 lebih prajurit militer istana Kerajaan Bentala. Dan di depannya sudah siap sekitar 50 pemanah yang siap memanah.


Namun 3 orang di antara pemanah itu berdiri bagai patung. Mengarahkan busur ke depan namun tidak ada anak panahnya. Sedangkan tangan kanan mereka tampak mengapung di samping kanan.


Sementara itu Yang Mulia Ratu dan ketiga pengawalnya, jelas terkejut melihat Dhafin sudah dikepung oleh pasukan istana. Namun mereka cepat tersadar dan bersiap-siap dari tempat mereka untuk membantu Dhafin.


Sedangkan di tempat lain tampak Gibson yang masih bersama Grania juga melihat Dhafin dan Jessica sudah dikepung. Lalu Gibson segera menyuruh Grania kembali ke tempat Yang Mulia Ratu, sedangkan dia hendak ke tempat Dhafin.

__ADS_1


Dalam situasi begini Grania tidak berani membantah perintah Gibson. Dia kembali ke tempat Yang Mulia Ratu. Sedangkan Gibson pergi ke tempat Dhafin. Keduanya menggunakan ilmu teleportasi.


★☆★☆


Seorang gadis cantik berpakaian indah tampak berada di depan barisan pengepung. Dua orang gadis cantik yang sepertinya Pengawal Pribadi-nya berada di belakang kiri kanannya.


Mereka juga tampak terkejut melihat 3 panah anak buahnya tidak mengenai sasaran, bahkan berhenti di depan telapak tangan Dhafin secara ajaib.


Lebih terkejut lagi 3 anak buahnya yang memanah tadi tiba-tiba terdiam bagai patung. Hal ini membuatnya heran bercampur geram bukan main.


Gadis cantik berwajah angkuh berpakaian indah itu kembali menatap tajam pada Dhafin dan gadis yang bersamanya secara bergantian.


Tapi begitu mengetahui kalau gadis cantik itu ternyata adalah Jessica, seketika dia terkejut. Tidak menyangka bertemu Jessica di Kota Arthia setelah sekian lama gadis itu tidak kelihatan.


Namun tak lama tatapannya beralih pada Dhafin yang segera menurunkan tangannya. Hampir bersamaan 3 anak panah yang menempel di udara seketika terjatuh ke tanah.


Hampir bersamaan pula 3 anak buahnya yang tadi mematung kini dapat bergerak kembali. Terang saja kejadian memukau itu membuatnya terkejut heran.


Rupanya penyebab 3 anak buahnya tidak dapat bergerak disebabkan kekuatan ghaib Dhafin yang mengunci gerak mereka melalui anak panah mereka.


Gadis angkuh yang tak lain adalah Putri Lavina Aneska belum sempat berpikir jauh tentang kejadian itu, dia kembali terkejut atas kemunculan Gibson di samping kanan Dhafin.


Sementara Dhafin dan Jessica cuma melirik sebentar pada Gibson, setelah itu kembali menatap tajam pada Putri Lavina.


Sedangkan Putri Lavina sepertinya tidak mau larut dalam keterkejutan terus. Dia menatap tajam penuh permusuhan pada Jessica.


Ada rasa cemburu di balik sorot mata kebenciannya itu melihat Jessica berdekatan dengan Dhafin. Apalagi tadi dia sempat melihat Jessica dipeluk Dhafin.


"Kak Dhafin! Ikutlah bersamaku ke kotaraja!" kata Putri Lavina dengan gaya angkuhnya. "Tinggalkan gadis sialan itu! Biar pasukanku membunuhnya dengan mudah."


Jelas perkataan Putri Lavina itu meremehkan keberadaan Jessica.


Sebenarnya Jessica terkejut heran juga kenapa Putri Lavina mengetahui nama Dhafin. Padahal waktu mereka bertemu dulu gadis angkuh itu juga tidak mengetahui nama Dhafin.


Namun Jessica tidak mau banyak berpikir dulu dalam situasi seperti ini. Dengan ketus bercampur sinis dia menanggapi ucapan Putri Lavina yang sombong itu.


Sebenarnya Dhafin merasa heran kenapa Putri Lavina tidak bersama Jessica sewaktu bertemu di tempat Paman Killian. Dan kembali dia heran saat Jessica muncul seorang diri saat menemuinya.


Maka keheranannya yang menjadikannya bertanya-tanya sendiri terjawab sudah sekarang. Rupanya mereka sudah saling berseteru sejak kecil. Padahal dulunya mereka adalah sahabat karib.


"Aku tidak berbicara dengan gadis rendahan sepertimu," kata Putri Lavina tidak kalah ketus. "Aku berbicara pada Kak Dhafin. Karena dia sudah berjanji padaku untuk meyembuhkan bundaku."


Bukan saja Jessica yang terkejut mendengar perkataan Putri Lavina barusan, sampai dia menatap Dhafin lekat-lekat. Yang Mulia Ratu dan 4 pengawal cantiknya juga ikut terkejut.


Yang lebih terkejut adalah Yang Mulia Ratu. Belum lagi rasa herannya melihat Putri Lavina dengan Dhafin seperti sudah saling kenal. Kini dia mendengar gadis itu berkata kalau Dhafin sudah berjanji padanya akan menyembuhkan bunda gadis angkuh itu.


Seakan tahu arti tatapan mata Jessica, Dhafin langsung berkata kepadanya dengan tenang, tanpa gugup.


"Saya memang sudah berjanji pada Putri Lavina untuk menyembuhkan ibunya, Nona."


"Apakah kalian sudah pernah bertemu?" tanya Jessica ingin sekali tahu.


"Ya, di sebuah kampung."


"Apakah kamu akan memenuhi panggilannya?" kejar Jessica.


"Saya sudah berjanji, Nona. Maka saya harus menepatinya."


"Gadis angkuh itu tidak seperti dulu lagi, Kak Dhafin," kata Jessica berusaha memperingatkan. "Sekarang dia sudah menjadi putri sombong yang memiliki sifat yang jahat. Aku khawatir dia cuma menjebakmu."


Dhafin mendekatkan wajahnya ke telinga Jessica, lalu berbisik.


"Tenanglah, Nona, jangan khawatir. Sebaiknya Nona kembali ke markas untuk melaporkan pada Pangeran Revan kalau saya akan ke kotaraja bersama Putri Lavina."


"Tapi...."

__ADS_1


"Tolong jangan membantah dulu," kata Dhafin cepat memotong ucapan Jessica dengan masih berbisik. "Sampaikan kepada Pangeran Revan agar mengirim pasukan hebatnya untuk menyusul saya ke kotaraja."


Setelah berkata begitu, dengan cepat Dhafin menempelkan telapak tangannya ke belakang Jessica. Beberapa kejap berikut Jessica langsung terbungkus sinar putih. Lalu tak lama sinar putih itu lenyap bersama tubuh Jessica.


★☆★☆


Putri Lavina tidak terlalu memusingkan kepergian Jessica dengan cara aneh.


Tapi kedua pengawalnya seperti sibuk dengan pikiran masing-masing. Hal ini tampak dari cahaya mata mereka saat menatap Dhafin dan Gibson.


Fanny sibuk berandai-andai sambil terus menatap Dhafin. Sedangkan Anggie sibuk memikirkan bagaimana cara memikat Gibson. Sepertinya Gibson adalah tipe pemuda yang disukai Anggie.


Sementara Yang Mulia Ratu sibuk dengan pikirannya sendiri tentang hal-hal baru yang diketahuinya hari ini yang terjadi pada Dhafin.


"Apa kamu sudah siap ikut denganku ke kotaraja, Kak Dhafin?" tanya Putri Lavina masih dengan nada angkuhnya.


Dhafin tidak langsung menjawab. Dia melirik sebentar pada Gibson yang berdiri di samping kanannya. Pemuda itu semenjak muncul cuma dia saja. Tapi tampak sikapnya begitu waspada. Matanya tidak lepas memandang 50 pemanah yang siap membidik anak panahnya.


"Saya akan ke kotaraja bersama Tuan Putri saja," kata Dhafin seolah mengajukan penawaran. "Tidak bersama pasukan Tuan Putri."


Sebenarnya Anggie ingin mendamprat Dhafin saat Dhafin selesai berkata demikian. Namun karena sudah diberi tahu kalau dia tidak boleh ikut berbicara, maka dia berusaha mengunci mulutnya yang gatal untuk berbicara.


"Kamu tidak berhak mengajukan penawaran, Kak Dhafin," kata Putri Lavina bernada ketus sinis. "Hari ini juga kamu harus ikut aku ke kotaraja, mau atau tidak mau."


"Kalau begitu saya bersama sahabat saya ini yang akan ke kotaraja sendiri, tanpa ditemani Tuan Putri."


"Jangan memancing amarahku, Kak Dhafin!" berang Tuan Putri sudah mulai emosi. "Aku tinggal memerintahkan pasukanku ini untuk membunuh kalian kalau aku mau."


"Kalau begitu perintahkanlah mereka menyerang kami biar mereka cepat mati!" Gibson yang berkata dengan nada datar bercampur dingin. Kedengarannya begitu mengerikan.


"Keparat!" Putri Lavina tidak sanggup lagi menahan amarahnya yang sudah mencapai ubun-ubun. "Panah mereka!"


Pasukan pemanah yang berjumlah 50 orang yang sudah siap sejak tadi, tanpa menunggu perintah 2x mereka serempak melepas anak panah dari busurnya.


Maka 50 anak panah langsung meluncur dengan cepat ke arah kedua pemuda yang masih berdiri tenang itu.


Namun begitu 50 anak panah itu hampir sampai ke mereka, Dhafin langsung maju satu langkah. Lalu dengan cepat dan kuat mengibaskan telapak tangan kanannya dari kiri ke kanan.


Seketika menghempas gelombang angin panas yang cukup dahsyat dan langsung menghalau 50 anak panah yang sudah hampir sampai itu.


Maka ketika 50 anak panah mengenai gelombang angin panas itu, langsung hancur berantakan. Sementara gelombang angin panas itu terus melesat dengan cepat ke depan.


Saking cepatnya lesatan gelombang angin panas itu, para pasukan pemanah dan sebagian prajurit militer belum sempat menghindar. Sehingga gelombang dahsyat itu menghantam mereka tanpa kenal ampun hingga mereka terhempas ke belalang bagai daun kering.


Jeritan-jeritan kematian saling susul mengiringi hempasan tubuh mereka. Lalu terjatuh ke tanah begitu saja bagai sampah tak berguna.


Untung saja di sekitar pertempuran sudah tak ada lagi para penduduk. Rupanyan mereka langsung lari bersembunyi begitu melihat pasukan istana datang ke tempat ini.


Hal itu memang seperti kebiasaan mereka, jika melihat pasukan istana mereka langsung lari selamatkan diri.


Sedangkan Putri Lavina sudah lebih dulu diselamatkan oleh kedua pengawalnya sebelum serangan dahsyat itu datang. Dia cukup jauh di evakuasi dari lokasi pertempuran.


Sementara pasukan yang berada di belakang Dhafin, melihat pertempuran sudah dimulai, mereka serempak langsung menyerang Gibson dan Dhafin.


Namun naasnya mereka segera disambut oleh Gibson.


Dengan cepat Gibson menyentak dengan cepat dan kuat telapak tangannya ke depan. Maka keluarlah dari telapak tangannya itu ratusan kepingan-kepingan cahaya berbentuk daun kecil warna kuning-putih.


Kepingan-kepingan seperti logam bercahaya itu tanpa ampun menghantam semua prajurit militer yang menyerang. Maka sebentar saja jeritan-jeritan kematian sudah terdengar lagi saling susul menyusul.


Ditingkahi tumbangnya para prajurit militer ke tanah. Tampak tubuh-tubuh mereka berlubang ditembusi oleh beberapa kepingan cahaya berbentuk daun.


Sepasang mata Putri Lavina membulat besar melihat semua pasukannya telah mati tanpa ada yang sisa. Bahkan dalam waktu yang amat singkat.


Cuma 2 orang saja, tapi dalam satu gebrakan mampu membunuh 100 lebih pasukan militer.

__ADS_1


Sebenarnya mereka ini manusia atau siluman?


★☆★☆★


__ADS_2