
Matahari bersinar amat terik di siang itu seakan hendak membakar seluruh mayapada. Orang-orang biasanya lebih senang tinggal di dalam rumah atau di bawah terduhan.
Namun fenomena yang terjadi di siang bolong itu sungguh membuat hati terbakar seakan hendak mengalahkan panasnya mentari.
Siang yang seharusnya waktu untuk istirahat atau berteduh dari terik mentari, kini berubah menjadi gaduh. Suara jeritan-jeritan kematian berpadu menjadi satu dengan jeritan histeris serta rintihan memilukan. Belum lagi ditingkahi suara teriakan kemarahan.
Sekitar ±100 prajurit serta belasan pendekar istana kerajaan tengah mengadakan pesta darah di sebuah perkampungan di pinggir Kota Bahir di Wilayah Utara Kerajaan Bentala.
Para prajurit dan pendekar istana itu menganiaya para penduduk dengan begitu sadis dan kejam. Membantai mereka tanpa pandang bulu. Orang tua, orang muda, anak kecil, laki-laki, perempuan, semuanya dilibas.
Ditambah lagi mereka menghancurkan rumah-rumah para penduduk, bahkan membakarnya.
Dilihat dari seragam yang dikenakan, dapat diketahui kalau mereka merupakan prajurit militer Kerajaan Bentala.
Dan fenomena menggeramkan seperti itu merupakan hal biasa dilakoni oleh prajurit dan pendekar bejat istana Kerajaan Bentala. Sehingga mereka begitu asyik menikmati perbuatan biadab mereka.
Di tengah jerit tangis dan histeris para penduduk, beberapa di antara prajurit militer dan pendekar istana tampak tertawa terbahak-bahak sambil berteriak-teriak.
"Hahaha...! Ayo, bantai semua para pemberontak ini!"
"Ayo bunuh merah!"
"Bakar! Bakar! Hahaha...!"
Namun ternyata di atara para penduduk itu ada juga yang mengadakan perlawanan. Kebanyakan di atara mereka orang-orang muda.
Mereka memang masih bisa melawan satu dua orang prajurit. Tapi begitu mereka dikeroyok akhirnya mereka terbantai juga.
Apalagi menghadapi para pendekar istana yang memiliki kehebatan di atas rata-rata. Perlawanan mereka jelas tidak ada artinya. Hampir tak ada bedanya dengan mereka menyerahkan nyawa.
Darah sudah menggenang di mana-mana. Mayat-mayat bergelimpangan tak tentu arah. Sebagian rumah telah hancur, sebagiannya telah dilahap si jago merah.
Benar-benar fenomena di perkampungan itu sungguh mengerikan sekaligus mengenaskan.
Akan tetapi, di tengah dahsyatnya kekacauan itu, seketika bermunculan sosok-sosok serba merah dengan berkelebat amat cepat. Belum ada yang menyadari kehadiran mereka, tahu-tahu mereka telah menyerang para prajurit militer dan para pendekar istana.
Sehingga sebentar saja sudah terdengar jeritan kematian. Bukan saja jeritan para penduduk yang terbantai, tapi juga jeritan kematian para prajurit.
Terang saja 5 prajurit dan 4 pendekar istana yang sejak tadi cuma berkoar-koar sambil tertawa-tawa, kini langsung terdiam, berganti dengan ketercengangan yang sangat.
Belum juga mereka mengetahui siapa sosok-sosok serba merah itu, kembali terdengar jeritan kematian beberapa prajurit. Ditambah lagi jeritan 3 orang pendekar istana.
"Serang orang-orang serba merah itu!" teriak salah seorang dari mereka begitu tersadar.
"Bunuh orang-orang serba merah!" perintah salah seorang pendekar istana.
Tanpa ada yang membantah, para prajurit militer dan belasan pendekar istana yang tadi asyik bermain dengan nyawa penduduk, kini serempak menyerang sosok-sosok serba merah yang belum jelas siapa mereka. Karena mereka semua ternyata memakai masker.
Dan untuk sementara para penduduk aman. Tidak ada lagi prajurit atau pendekar istana yang membantai mereka. Tapi bukan berarti nyawa mereka masih aman. Ketakutan masih terlukis di wajah-wajah duka mereka.
★☆★☆
Belum lama kemunculan sosok-sosok merah, muncul lagi sosok-sosok serba biru dari arah lain dan langsung menyerang para prajurit militer dan pendekar istana.
Jadi, kini ada dua kubu yang menyerang prajurit militer dan pendekar istana. Entah 2 kubu itu kelompok yang berbeda atau sama. Yang jelas mereka kompak menyerang orang-orang biadab dari istana.
Dan sepertinya para prajurit militer bukanlah tandingan para penyerang misterius itu. Mereka terlalu tangguh bagi para prajurit itu. Sehingga pertempuran belum sampai sepenanakan nasi separuh dari mereka sudah terbantai.
Sementara para pendekar istana bertarung mati-matian melawan kedua kubu itu. Tapi toh akhirnya beberapa di antara mereka sudah tumbang bersimbah darah. Hal itu menandakan mereka juga bukan tandingan sosok-sosok penyerang misterius itu.
__ADS_1
Melihat kenyataan yang ada, 5 prajurit yang sepertinya pimpinan regu dan 4 pendekar istana semakin dibuat terkejut-kejut.
Belum juga mereka mengetahui siapa sosok-sosok serba merah dan sosok-sosok berambut panjang, anak buah mereka dalam waktu singkat sudah separuh dihabisi.
Orang-orang serba merah tidak diketahui laki wanitanya karena mereka semua memakai masker. Sedangkan kelompok yang datang belakangan semuanya gadis-gadis cantik berambut panjang. Tapi toh juga belum diketahui siapa mereka sebenarnya.
Dan belum juga 9 orang istana itu sempat melakukan sesuatu, seketika dari belakang mereka muncul 9 sosok bayangan. Dan 9 sosok bayangan itu berkelebat amat cepat, tahu-tahu sudah dekat di belalang 9 orang istana.
Salah seorang yang berpakaian hijau membekap mulut salah seorang prajurit kepada regu itu. Lalu dengan cepat pula tangan yang memegang pisau besar menggorok leher si prajurit hingga hampir putus.
Dua orang yang lain mengayunkan pedang ke 2 prajurit kepala regu. Dan 2 prajurit itu tidak sempat menyadari apalagi menghindar. Maka leher mereka langsung putus terbabat pedang.
Dua prajurit yang lain, yang satu lehernya juga terbabat pedang hingga putus, sedangkan yang satunya tertusuk pedang hingga tembus ke dada kirinya.
Semua kejadian itu begitu cepat berlangsung, nyaris tak ada yang menyadari. Sehingga 4 prajurit langsung tumbang tanpa sempat mengeluarkan suara.
Sedangkan yang tertusuk belakangnya hingga tembus sempat menjerit setinggi langit. Begitu pedang dicabut oleh pemiliknya, terus mendupak belakang prajurit itu, si prajurit masih sempat menjerit kecil.
Begitu tubuhnya terjatuh dengan keras ke tanah sudah tak bergerak-gerak lagi. Pertanda dia sudah mati sewaktu terlontar di udara tadi.
Sementara 4 pendekar istana masih sempat menyadari adanya serangan masing-masing dari belakang mereka. Tapi naas, yang seorang tak sempat menghindar.
Belum sempat dia bergerak ke depan, pedang si penyerang lebih dahulu sampai ke lehernya. Hingga akhirnya lehernya putus, kepalanya langsung menggelinding. Menyusul tubuhnya menggelosor jatuh. Tanpa sempat menjerit.
Sedangkan 2 dari pendekar istana itu sempat molompat ke depan dengan cepat. Sehingga mereka lolos dari tebasan pedang penyerangnya.
Sementara yang satu sebenarnya hampir berhasil melompat. Namun ujung pedang si penyerang seketika memanjang. Dan ujung pedang itu langsung menusuk belakang pendekar istana itu hingga tembus ke dadanya.
Terang saja orang itu langsung menjerit setinggi langit. Setelah itu dia ambruk ke tanah. Darah langsung merembes dari luka bekas tusukannya, di depan dan di belakang. Meregang nyawa sebentar, setelah itu diam selamanya.
★☆★☆
Begitu berhasil menghindari serangan, 2 pendekar bejat itu langsung menghunus pedang masing-masing, terus balas menyerang kepada 2 sosok yang menyerang mereka tadi.
Maka untuk beberapa saat lamanya 2 pendekar istana masih mampu menghadapi lawannya masing-masing. Namun pertarungan itu tidak sampai 2 jurus. Mereka telah tumbang dengan bersimbah darah.
Pendekar istana yang satu perutnya robek hingga ususnya membusai keluar. Berikut dadanya terluka memanjang dan besar. Tak lama dia jatuh ke tanah dengan darah terus mengalir dari lukanya. Meregang nyawa sebentar. Setelah itu diam selamanya.
Sedangkan yang satu mati dengan sungguh mengerikan lagi. Lehernya putus berikut kedua tangannya. Menyusul pinggangnya. Hingga dia jatuh dalam keadaan sebagian tubuhnya terpisah-pisah bagai batang pisang yang dipotong-potong.
Sementara itu pertempuran terus berlangsung. Namun sepertinya sebentar lagi akan berakhir. Para prajurit yang tersisa tinggal sedikit lagi. Sedangkan para pendekar istana sudah terbantai semua.
Sementara 9 sosok yang telah membantai 9 pimpinan regu tadi kini telah berkumpul. Mereka semua ternyata 9 pemuda tampan yang memiliki kesaktian yang tinggi. Hal itu terlihat dari aura di wajah mereka. Kini pedang mereka sudah tersampir di warangka masing-masing.
"Sepertinya Pasukan Istana Centauri sudah diluaskan berkeliaran, Revan," gumam salah seorang yang berbaju lengan pendek agak ketat warna hijau. Gayanya begitu santai dalam berbicara.
Pemuda berambut lurus sedikit panjang itu tak pernah lepas memperhatikan aksi hebat belasan sosok serba biru itu dalam menghabisi para prajurit istana.
"Apakah itu artinya pertempuran sudah dimulai, Brian?" tanya pemuda berjubah merah berwajah dingin bercampur duka yang dipanggil Pangeran Revan kepada pemuda tampan di samping kanannya, bukan pemuda yang bergumam tadi.
"Yang Mulia Ratu Agung sudah mengijinkan pasukannya keluar dari Istana Centauri," sahut pemuda berjubah serta bercamping hitam yang dipanggil Brian, "apalagi kalau bukan pertempuran telah dimulai, Revan?"
Pangeran Revan tidak berkata lagi. Dia maupun yang lainnya terus memperhatikan pertempuran yang sepertinya tinggal menunggu saat saja akan berakhir. Karena prajurit istana tinggal beberapa gelintir saja.
Dan tak lama setelah itu, semua prajurit istana telah tumbang dengan bersimbah darah. Mayat mereka tumpang tindik tak tentu arah. Bahkan tak sedikit dari mereka mati dengan sebagian tubuh terpisah-pisah.
Sungguh, cukup rumit melukiskan fenomena mengerikan sekaligus mengenaskan yang ada di kampung cukup terpencil itu.
Pertempuran memang sudah berakhir. Tak terdengar lagi denting suara senjata beradu. Tak terdengar lagi suara jeritan kematian. Tak terdengar lagi suara teriakan pertempuran. Seharusnya suasana sudah berubah sunyi.
__ADS_1
Namun siapa yang bisa menahan ratap tangis para penduduk yang kehilangan keluarganya?
Di beberapa tempat masih terdengar ratap tangis yang begitu memilukan. Menangisi ayah ibunya yang telah mati, menangisi anaknya, menangisi istrinya, menangisi suaminya, menangisi....
Rupanya kematian seluruh prajurit istana dan pendekar bejat belum bisa membayar kesedihan yang mendalam di dalam hati para penduduk itu.
Melihat fenomena yang menggiris hati itu, Pangeran Revan ikut merasakan duka yang mendalam. Nuraninya benar-benar mengutuk tindakan biadab para prajurit dan pendekar istana yang membantai penduduk yang tak berdosa itu. Dan dendamnya kepada orang-orang istana semakin berkarat.
★☆★☆
Setelah Pangeran Revan memerintahkan semua pemuda berjubah dan bermasker merah mengatur sekaligus membantu para penduduk dalam menata kembali dan mengamankan kampung, dia dan 8 orang yang bersamanya melangkah menghampiri 15 gadis cantik seba biru yang berdiri di seberang jalan kampung.
Begitu Pangeran Revan dan 8 rekannya 2 tombak lagi sampai di tempat 15 gadis cantik itu mereka berhenti. Tapi untuk beberapa saat lamanya belum ada di antara mereka memulai untuk bicara. Hanya saling tatap antara satu sama lain.
Dan momen ini terjadi tatap menatap antar Pangeran Revan dengan gadis cantik yang berdiri agak ke depan dan paling tengah.
Dalam benak gadis cantik berpakaian keren itu seperti pernah melihat Pangeran Revan. Meski belum tahu namanya, tapi wajah dingin berpadu dengan duka itu mengingatkannya pada seorang tabib kecil yang pernah dia temuai.
Waktu itu orang yang dijumpainya tidak mau menyebutkan namanya. Hingga sampai sekarang dia tidak tahu. Dia hanya ingat kalau orang yang dijumpainya itu berwajah mirip Pangeran Revan.
Apakah orang yang dulu dijumpainya itu adalah Pangeran Revan ini? Tapi hati nuraninya membantah. Karena Pangeran Revan belum pernah diketahui keluar markas kecuali sekarang ini.
Dan dilihat dari penampilannya, sepertinya gadis cantik berpakaian keren ala pimpinan pasukan itu merupakan pimpinan dari pasukan wanita di belakangnya.
"Atas bantuan kalian kami ucapkan terima kasih," kata Pangeran Revan memulai pembicaraan seraya menjura hormat.
Meski ucapannya agak dingin dan sedikit kaku, namun tertutupi dengan kesopanannya.
"Apakah kalian Pasukan Jubah Merah?" gadis pimpinan pasukan malah bertanya.
"Benar," sahut Pangeran Revan masih bersuara dingin tapi sopan. "Kami memang Pasukan Jubah Merah."
"Sesama pasukan yang masih di bawah satu pimpinan sudah seharusnya saling tolong menolong dalam menumpas musuh-musuhnya," kata gadis cantik itu lagi menandaskan.
"Ya, nona benar," tanggap Pangeran Revan.
"Saya bernama Revan, Komandan 2 Pasukan Jubah Merah," kata Pangeran Revan memperkenalkan diri. "Dan yang bersama saya ini rekan-rekan yang tergabung dalam Pasukan Jubah Merah."
"Perkenalkan, nama saya Jenderal Jessica, Komandan 2 Penyelidik Rahasia Istana Centauri," kata gadis cantik yang juga ikut memperkenalkan diri. "Dan teman-teman di belakang saya ini adalah Pasukan Istana."
"Kebetulan kami bertemu dengan Pangeran Revan disini," kata gadis yang ternyata Jenderal Jessica selanjutnya.
"Apakah ada pesan dari Istana Centauri?" tebak Pangeran Revan.
"Benar, Pangeran. Langsung dari Yang Mulia Ratu Agung."
"Kalau begitu, mungkin ada baiknya kita bicarakan hal ini di rumah Kepala Kampung," kata Pangeran Revan menawarkan.
"Baiklah, kami menuruti Pangeran," kata Jenderal Jessica setuju dengan sikap penuh kesopanan.
Perlu diketahui bahwa Jessica yang sekarang berbeda dengan Jessica waktu masa kecil yang sifatnya terkadang bertingkah bar-bar.
Sekarang sifatnya berubah elegan dan penuh sopan santun. Gaya bicaranya begitu tenang penuh keanggunan. Jadi sangat pantas kalau dia ditunjuk menjadi salah satu komandan pasukan dengan sifat mulianya itu.
Tak berapa lama rombongan Pangeran Revan dan rombongan Jenderal Jessica meninggalkan tempat itu menuju rumah Kepala Kampung.
Sementara para penduduk yang dibantu Pasukan Jubah Merah yang berjumlah 25 orang masih sibuk menata kembali kampung ini yang diketahui ternyata bernama Kampung Naraya.
Letak kampung ini cukup terpencil dari kampung lainnya yang ada di sebelah utara Kota Bahir.
__ADS_1
★☆★☆★